
Lany begitu senang saat dokter mengatakan jika dirinya sudah boleh pulang dengan syarat tidak boleh banyak pikiran dan harus mengurangi aktivitas yang melelahkan. Kata dokter Susi, usia kehamilan muda masih begitu lemah dan rentan. Bahkan ia sempat enggan saat dokter memintanya untuk menggunakan kursi roda sampai parkiran. Ia benar-benar merasa dirinya seperti orang yang sakit keras, meski begitu ia tetap melakukannya berkat paksaan Andra.
Dan perasaan dongkol karena diperlakukan seperti orang yang begitu tidak berdaya itu lenyap saat Andra menyodorkan selembar foto hasil USG yang semalam sempat ia tolak karena perasaan marah serta kecewa lebih mendominasi.
“Nih, kamu belum sempat lihat dia kan?!" Andra memberikan gambar berukuran kecil itu saat baru keluar dari ruang rawat.
Ia meraih gambar tersebut, matanya tiba-tiba panas saat memandang satu titik kecil di dalamnya. Jemari lentiknya bergerak mengusapnya bersamaan dengan tangan kiri mengusap perut yang katanya sedang dihuni kehidupan baru di dalam sana. Malaikat kecil yang dititipkan Allah, Ia beruntung bisa diberikan amanat yang luar biasa ini.
Tak terasa air matanya lolos seketika. Ia tak perduli pada tatapan heran orang-orang yang berada di sepanjang koridor saat Andra mulai mendorong kursi roda, membawanya keluar. Hatinya berdenyut tak karuan menatap gambar itu saat berbagai tanya mengusik hatinya. Benarkah ia akan segera menjadi seorang ibu? Benarkah Allah telah menitipkan kehidupan baru di rahimnya? Sungguh ia tak menyangka jika saat ini akan tiba secepat ini.
Dalam hati, Lany sama sekali tak menyesal membuat keputusan untuk memilih memaafkan Andra dan berusaha percaya serta menerima semua masa lalu suaminya itu. Aku mau sama kamu, sekarang dan selamanya! Apapun rintangannya, aku siap asal itu sama kamu. Batinnya seraya menyebut nama Andra dalam angan tertingginya.
Jemari Lany tergerak mengusap lelehan air mata yang makin perlahan mereda, ia bahagia segera menjadi seorang ibu dari janin yang di kandungnya. Benih dari Alandra, orang yang sama sekali tak pernah terlintas dipikirannya, dengan tak terduga menjadi takdir mengejutkan di hidupnya.
Bukankah seharusnya ia bahagia, tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan karena Andra benar-benar menjadi miliknya dengan utuh, dalam hubungan yang terikat ini mereka memiliki sesuatu yang tidak pernah Andra miliki bersama perempuan lain. Entah itu Riana atau perempuan manapun.
“Tuh dek, mama semalam jahat ya sama kamu. Dia malah nyambut kamu sambil marah-marah!” Cicit Andra dengan senyum tertahan. Ia yang tak ingin Lany sedih, mencoba untuk menghiburnya.
Suara lalu lalang orang dengan kesibukannya masing-masing menjadi suara khas yang menghiasi pendengaran di seantero lobby. Namun suara Andra barusan lebih mengganggu pendengaran Lany, membuat ia melayangkan pukulan kecil pada perut sixpack sang suami.
“Diem Andra!" Seru Lany, tangannya tergerak menyusut air mata dan cairan di hidungnya yang hampir meleleh. Ia bahagia sekaligus terharu, kehadiran malaikat kecil di perutnya itu merupakan sebuah anugerah luar biasa yang Allah berikan.
“Galaknya kapan berkurang sih, neng? Udah mau jadi ibu loh, jangan galak-galak, nanti anaknya takut!" Seru Andra, mencoba mencairkan suasana. Ia memang begitu berharap agar kegalakan Lany bisa berkurang seperti beberapa waktu lalu, sebelum kesalah pahaman ini terjadi.
“Hmmmnt,” Mendengar ucapan Andra, Lany langsung mendongak menatap wajah teduh yang selalu membuat hatinya berdesir aneh. Kata-kata Andra barusan seakan menyadarkan ia akan sikapnya yang memang selalu ketus, sedangkan Andra selalu bisa menghadapinya dengan penuh kelembutan.
“Maaf ya! Nanti aku usahain kurangin galaknya, kamu pasti kadang capek kan menghadapi sikap ku yang seperti in!” Selorohnya, dengan tangan yang tergerak mengusap lengan Andra.
Ucapan Lany membuat Andra menepikan kursi roda di teras rumah sakit. Siang itu cuaca yang agak terik membuat mata harus agak sedikit menyipit saat pantulan cahaya matahari dari jejeran kendaraan yang terparkir menjadi partner terbaik saat siang.
Perlahan Andra melangkah dan berjongkok di hadapan Lany. Lagi-lagi wajah itu mengulas senyum terbaiknya dengan jemari yang mulai menyusup di pipi sampai tengkuk Lany. Andra memang tipe pria yang kadang cuek tapi penuh kelembutan.
__ADS_1
“Jangan ngomong begitu! Aku nggak bermaksud apa-apa.”
“Aku sama sekali nggak merasa capek hadapin sikap kamu. Setiap orang punya karakter, neng, mungkin karakter kamu emang begini dan aku akan berusaha mengerti.” Senyum Andra selalu saja berhasil menjadi senyuman terfavoritnya. Ia selalu merasa tenang setiap kali wajah teduh itu menatapnya begitu dalam. Bahkan kini tangan Andra tergerak meraih tangan Lany dan menggenggam tangannya dengan erat.
"Tapi, kalau kamu mau berubah aku ikut senang, aku hargai itu.” Andra mengecup punggung tangannya membuat rasa haru itu kian membuncah, “Kita perbaiki diri bareng-bareng ya, aku juga masih banyak kurangnya kok.”
Obrolan singkat namun penuh makna itu harus berakhir saat Andra harus beranjak untuk mengeluarkan mobil dari barisan mobil yang terparkir.
“Tunggu bentar, ya. Mau ambil mobil dulu biar kamu lebih gampang masuk.” Tangan Andra tergerak mengusap kepala Lany sebelum benar-benar melangkah, tangan yang saling menggenggam itu seakan enggan berpisah meski hanya sesaat.
Senyum bahagia itu terus terulas saat melihat Andra mulai hilang diantara jejeran mobil yang terparkir. Tangannya kembali tergerak mengusap kehidupan baru di dalam perutnya. Dalam hati Lany berjanji, jika ia akan menyayangi anaknya setulus hati. Ia akan memberikan seluruh kasih sayang yang selama ini tak pernah ia dapatkan. Besar harapannya agar Andra juga bisa menjadi Ayah yang baik bagi anak mereka nantinya agar tak bernasib sama seperti dirinya.
Tumbuhlah dengan sehat, nak! Mama dan Papa akan menunggumu. Sampai ketemu nanti saat waktunya tiba. Harus kuat ya sayang! Insyaallah kamu akan Punya keluarga yang utuh. Punya Papa yang luar biasa baik dan bertanggung jawab. Kelak Mama akan ceritain bagaimana baiknya Papa Andra. Mama senang Allah pertemuin kami sampai kamu bisa hadir diantara kami, nak.. We are loving you! Batinnya seraya terus mengelus perut yang masih datar itu.
Bersamaan dengan itu, Ia kembali tersenyum saat sebuah mobil yang dikenalinya berhenti tepat di depan emperan teras. Andra keluar dengan senyuman yang selalu bisa mengalihkan dunianya.
“Udah siap pulang??” Pertanyaan itu hanya mampu Lany jawab dengan anggukan.
“Jaga kesehatan ya, kalau nggak ada halangan besok kita ketemu Mami, Papi dan semua keluarga.” Ucapan itu bersamaan dengan kursi roda yang kembali tergerak ke arah mobil.
“Makasih, ya!"
“Gak di bawa pulang nih, kursi rodanya?"
“Nggak Mas, sampai sini aja!"
Sekali lagi Andra mengucapkan terimakasih kemudian benar-benar masuk ke mobil dan melaju pergi.
Begitu tiba di apartemen, Andra langsung merangkul Lany menuju lantai dimana unit mereka berada, dibantu Novi yang siang itu menyempatkan diri demi bertemu Lany. Ia ikut berbahagia mendengar kabar baik dari Andra.
“Selamat ya, bu Lan. Aku ikut senang!” Ujar Novi dengan wajah yang begitu exitid.
“Makasih ya, mbak. Semoga mbak Novi juga dapat kabar bahagia." Ujar Lany setelah Andra dan Novi berhasil membawanya duduk di sofa terlebih dulu.
__ADS_1
Namun ucapan Lany itu membuat Andra dan Novi saling pandang, beberapa saat kemudian terdengar gelak tawa dari keduanya. Yang mana membuat Lany menatap heran.
“Kabar bahagia gimana ya maksudnya, bu?" Tanya Novi dengan kening mengkerut. Matanya beberapa kali melirik Andra yang masih mengulum senyum meledek.
Lany menghela napas, tangannya meraih bantal sofa dan menyelipkannya di belakang pinggang sebagai sandaran, ia merasa begitu lega bisa kembali menghirup udara bebas. “Ya kabar bahagia, mbak Nov juga bisa segera hamil." Celetuk Lany dengan ekspresi acuh, khasnya.
“Hamil gimana, bu? Nikah aja belum." Seloroh Novi, ia yang memang jomblowati hanya bisa mengelus dada mendengar ucapan Lany yang membuatnya tersentil. Bagaimana bisa hamil kalau belum menikah?
Sedangkan Andra, ia malah terkekeh membuat Lany menatapnya sambil mencebik. Seolah mengisyaratkan, “Ini orang kenapa? perasaan ketawa mulu, apa yang lucu coba?"
“Novi ini jomblo, Lan. Dia belum punya gebetan!" Seru Andra yang mana membuat Novi hanya bisa menghela napas menerima kenyataan.
“Aih, masa cantik-cantik gini jomblo. Nggak mungkin lah!" Celetuk Lany menatap tak percaya. Tentu saja, jika melihat penampilan Novi yang diatas kategori, mustahil jika ia seorang Single. Pasti banyak laki-laki yang mengejarnya.
Melihat Novi yang hanya menggaruk tengkuknya, membuat Lany berbalik menatap Andra.
“Nggak kok, dia udah punya calon” Sahut Andra, yang mana langsung membuat Novi balik terkekeh.
“Udah ah, kok malahjadi bahas saya sih.” Ucap Novi seraya menyiapkan dua kreser berisi makanan untuk makan siang juga makan malam nanti.
Begitu Novi pamit untuk kembali ke kantor. Andra langsung membawa Lany ke kamar setelah makan siang dengan makanan yang Novi bawa tadi. Seketika Andra berubah menjadi suami yang siaga, mengurus semua kebutuhan Lany dengan baik sesuai perintah dokter. Walaupun tanpa perintah dokter dia memang sudah memperlakukan Lany dengan baik.
“Minum dulu, kata dokter harus rutin!" Andra menyodorkan tiga butir obat beserta segelas air.
“Hmmnt kayak orang sakit parah aja aku." Gerutu Lany, meski begitu tangannya tetap tergerak meneguk obat yang Andra beri.
“Nggak boleh gitu!" Jemari Andra tergerak mengusap kepala Lany. “Jangan ngeluh, dalam diri kamu ada kehidupan yang bergantung sama tubuh kamu. Dia bakal sehat kalau kamu juga sehat.”
Mata Andra berbinar bahagia saat Lany langsung menunduk dengan jemari yang tergerak mengelus perutnya. Ada perasaan berdebar setiap kali melihat pemandangan ini. Entah bagaimana cara mengungkapkan perasaan bahagianya mengingat sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.
...****************...
Next Episode, kita ke rumah mertua❤️
__ADS_1
Nih, buat yg kangen sama AndraLany🍂