My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 91 [Untukmu Aku Akan Bertahan]


__ADS_3

Sore itu, Andra baru saja melakukan pertemuan antar direksi dan komisaris. Pertemuan kali ini merupakan rapat umum pemegang saham tahunan yang mana memang diselanggarakan setiap tahun sekali.


Andra yang menjabat sebagai Direktur di salah satu anak usaha BuminTara Group tentu tak bisa melewatkan pertemuan tersebut. Dan begitu selesai, Andra keluar paling akhir setelah beberapa orang berjas yang lebih tua darinya keluar lebih dulu, salah satunya ada Papi dan Opa.


“Andra, kamu sekalian ikut sama kami saja!" Opa dan Papi menghentikan langkah demi untuk berbicara pada Andra.


“Nggak bisa Opa, soalnya sore ini aku harus menghadiri launching produk baru Astra Megantara.” Ucap Andra yang memang masih memiliki agenda lanjutan, yaitu menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan oleh salah satu anak usaha BuminTara Group.


“Ya sudah. Kalau sudah selesai, nanti habis maghrib kita sama-sama menghadiri acara pertunangan anaknya Pak Purnomo!” Papi menimpali sambil menyebutkan nama salah satu pejabat negara yang akan menyelenggarakan pertunangan untuk anaknya, malam nanti.


“Oke, nanti Andra susul!" Andra menjawab mantap. Aura kharismatik begitu terpancar nyata saat ia membungkuk sebagai tanda siap melaksanakan apa yang Papi dan Opanya perintahkan barusan.


Papi Ervan dan Opa, beserta jajaran dewan komisaris dan direksi yang lain kemudian segera melangkah masuk ke lift bersama, meninggalkan Andra yang kini beralih memeriksa ponsel bersama Novi yang masih setia mendampingi.


“Beres Nov? Berangkat sekarang?" Tanya Andra saat melihat Novi sudah sesai melakukan panggilan telepon.


Novi mengangguk, “Supir yang akan mengantar juga sudah siap!" Jelas Novi lagi, yang mana setiap ada kunjungan semua pihak memang harus menggunakan fasilitas tersebut.


Keduanya lalu masuk ke dalam lift, Andra memencet jejeran angka yang berada tepat di samping pintu. Sehingga layar yang terdapat di sisi angka itu kini beralih menunjukkan gambar panah beserta nomor-nomor yang terus berganti.


Begitu tiba di lantai satu, Andra dan Novi langsung keluar. Keduanya terlihat memasuki sebuah mobil MPV hitam milik perusahaan.


Andra duduk di kursi belakang, sedangkan Novi duduk di depan. Saat mobil sudah melaju meninggalkan halaman perusahaan dan mulai memecah jalan di sela hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang memadati jalan ibu kota. Jam menunjukkan pukul 3 lewat 20 menit, namun jalan sudah begitu agak macet. Membuat Andra lebih memilih bermain ponsel untuk mencegah rasa bosan.


Berulang kali ia menelepon Lany, untuk sekedar menemaninya selama dalam perjalanan. Sepertinya mengobrol dengan gadis anehnya itu akan sangat seru. Andra sudah memikirkan obrolan apa saja yang akan ia bahas dengan sang istri. Namun, wajah yang tadi begitu bersemangat itu, lantas mengerut saat panggilannya justru dijawab oleh suara operator.


“Nomor yang anda tuju sedang berada dalam panggilan lain!" Tentu itu membuat Andra mendesah kecewa. Bayangan betapa serunya mengobrol dengan Lany lenyap begitu saja.


“Nelepon sama siapa sih?" Sambil bertanya dalam hati, Andra beralih menyandarkan tangannya pada jendela mobil.


Cukup lama ia terdiam mengamati kendaraan yang berlalu lalang, hingga ia teringat akan deretan panggilan tak terjawab dari mertuanya dan sang ipar yang ada di log panggilan Lany. Andra lalu kembali meraih ponsel yang terletak di atas pahanya. Ia memutuskan untuk menghubungi Mamak. Tak butuh waktu lama, mertuanya itu sudah mengangkat panggilannya.


“Assalammualaikum, Mak!" Sapa Andra sambil tersenyum. Sorot matanya sempat melirik ke arah Novi yang berbalik saat mendengarnya menyebutkan kata Mak.


Mamak yang sudah lama ingin berbicara dengannya, langsung menyambut panggilan itu dengan begitu antusias. Tentu saja, seperti kata Lany, si penyihir pasti hanya ingin menanyakan tentang berita yang pernah di muat di tv waktu itu.


“Waalaikumsalam, Andra!" Dari cara menyahutnya saja, sangat terdengar jelas si penyihir sedang tersenyum sumringah.


“Kemana saja kalian? Kenapa baru ada kabar?" Ucap Mamak yang langsung mencecar Andra.


“Lany juga, sering ditelepon tapi tidak pernah diangkat, huh!" Protes Mamak, “Istrimu itu menjengkelkan sekali, Andra!"


“Mentang-mentang sudah hidup di kota dan jadi istri orang kaya, dia jadi lupa keluarga!" Lihatlah betapa si penyihir begitu pandai berkata. Sepertinya dia tidak sadar, jika dulu dirinyalah yang sering melupakan Lany dan hanya ingat ketika ada maunya saja. Sangat menyebalkan.


Meski Andra tahu hubungan Lany dan ibu tirinya itu tidak akur tapi ia tetap meresponnya dengan baik. Andra terlihat sama sekali tak melibatkan masalah tersebut.


“Maaf ya, Mak. Belakangan ini Lany memang malas angkat telepon, dia sering marah-marah kalau ada yang telepon!" Andra terkekeh geli mendengar jawabannya. Bukannya ingin menjelekkan sang istri, hanya saja ia tak ingin Lany dianggap lupa keluarga.


“Mungkin karena hormon kehamilan, makanya belakangan ini dia jadi sering marah-marah."


Mamak yang tadi terdengar menghembuskan napas kesal, sontak terkejut saat mendengar ucapan Andra.


“Apa Andra? Lany hamil?" Tanya Mamak.


“Iya, Mak!"


Dan obrolan mereka pun terus berlanjut, tentunya dengan Andra yang menjawab semua hal yang Mamak tanyakan mengenai berita yang pernah memuat wajahnya di tv waktu itu. Tentu pengakuannya semakin membuat si penyihir yang dulu selalu ketus langsung berubah menjadi mertua idaman yang sangat lemah lembut, mamak berlagak seolah dia begitu menyayangi Andra sejak awal. Hmmnt, seandainya Lany tahu, mungkin Andra akan diomeli karena meladeni ibu tirinya yang tidak tahu diri dan mata duitan itu.


“Oh iya Mak, mungkin Minggu depan saya dan keluarga akan berkunjung.” Tentu penuturan Andra membuat mamak jingkrak kesenangan.


“Oh, datang saja Andra, nanti mamak kasih tahu Bapak. Pasti dia senang mau ketemu besannya!”


Obrolan keduanya pun harus berakhir saat Andra sudah tiba di hotel tempat acara launching akan diadakan. Andra yang datang sebagai salah satu pengisi acara pun segera masuk.

__ADS_1


Selesai menyelesaikan tugas sebagai salah satu orang yang turut memberi sepatah, dua patah kata dan juga melakukan promosi bersama di atas panggung. Andra bergegas keluar begitu tugasnya selesai.


“Pak Andra!"


Andra yang tengah berjalan keluar bersama Novi. Langsung menoleh mencari sosok yang tengah memanggil namanya.


Andra mengernyitkan kening saat melihat sosok yang tidak asing berdiri diantara jejeran tamu yang berlalu lalang.


“Bisa minta waktu untuk bicara sebentar, Pak?" Tanya pria itu dengan sopan.


“Boleh, tapi nanti sekitar jam 9!” Jawaban Andra membuat pria itu terdiam, “Saya masih harus menghadiri acara selesai Maghrib ini!" Sambungnya lagi.


Pria itu lantas berbinar senang mendengar ucapannya, “Kapan saja Pak, Bapak punya waktu saja saya merasa sudah sangat beruntung!" Pria itu membungkuk hormat saking senangnya.


Andra mengangguk, “Mau ketemu dimana?" Tanyanya.


“Di Diamond Resto, Pak!”


“Okey, jam 9 ya!" Ucap Andra, kemudian bergegas pergi untuk menuju acara pertunangan yang Opa dan Papi katakan tadi.


.....


Wajah dua orang berlawanan jenis perlahan mulai mendekat, menandakan sebentar lagi ciuman romantis akan segera berlabuh. Seorang wanita berkulit putih dengan bibir merahnya yang nampak gemetar saat hembusan napas hangat dari pria yang ada di hadapannya benar-benar nyata menerpa wajahnya, dan ... Shiitt... Suara nada dering diiringi getaran kecil dari sebuah ponsel canggih terpaksa membuyarkan pandangan Lany dari adegan di layar tv yang kini menampakkan kedua insan tengah menikmati ciuman.


Jemari Lany terarah meraih ponsel yang ada di atas meja. Di bawah temaramnya ruangan yang cahayanya hanya berasal dari layar tv, Lany nampak serius menatap layar ponselnya.


Andra : Sayang... Kayaknya aku pulang agak lambat, jadi gak bisa jemput kamu. Soalnya masih ada acara, kamu pulangnya sama mang Anto aja yah! Dia udah ada di bawah nungguin kamu!


Begitu membaca pesan dari Andra, ia yang terbaring di sofa lantas beranjak. Tangannya tergerak meraih remote untuk mematikan tv.


“Suka dadakan nih orang!" Lany berdecak, ia kesal sebab pesan Andra membuat ia harus buru-buru turun. Sebab membuat mang Anto menunggu terlalu lama tentu bukanlah hal yang baik.


“Coba ngechatnya dari tadi, kan gak perlu buru-buru begini!' Lany masih menggerutu sambil membereskan bantal dan melipat selimut yang ia gunakan, tak lupa ia membuang sampah sisa cemilan dan kulit buah-buahan yang ia makan.


Kini perasaan was-was itu kembali hadir saat dirinya harus kembali ke rumah mewah yang di dalamnya terdapat beberapa orang yang masih tak menerima keberadaannya. Apalagi saat mengingat jika Andra akan pulang terlambat, rasanya ia ingin memberhentikan waktu saat itu juga sampai Andra pulang, agar ia tak merasa sendiri. Dan perasaan takut dan gundah itu semakin kuat ketika pintu lift terbuka dan menampakkan area lobby apartemen, hingga matanya bisa menatap sosok mang Anto dari balik jendela kaca sedang berdiri di samping mobil.


“Langsung pulang, neng?" Ujar mang Anto saat langkah Lany sudah mendekati mobil


“Iya mang!" Lany tersenyum kikuk sambil menggenggam tali sling bag dan kresek berisi beberapa pakaiannya.


“Emnnnnt...”


“Emangnya mau kemana lagi?" Tanya Lany setelah sempat menjeda ucapannya.


“Nanya doang neng, kali aja masih ada tujuan!"


“Gak ada kok, kita langsung pulang saja!"


Mang Anto lalu mempersilahkan Lany masuk ke mobil. Sebenarnya Lany sangat canggung diperlakukan seperti ini, ia tak terbiasa.


Mobil itu pun melaju memecah padatnya jalan di ibu kota. Sepanjang jalan Lany hanya terdiam sambil mengamati gemerlap kota dari dalam mobil bersama dengan lantunan lagu yang diputar mang Anto mulai menghiasi pendengarannya.


Tenanglah, kekasihku


Kutahu hatimu menangis


Beranilah 'tuk percaya


Semua ini pasti berlalu


Meski takkan mudah


Namun kau takkan sendiri

__ADS_1


Ku ada di sini


Untukmu aku akan bertahan


Dalam gelap takkan kutinggalkan


Engkaulah teman sejati


Kasihku di setiap hariku


Untuk hatimu ku 'kan bertahan


Sebentuk hati yang kunantikan


Hanya kau dan aku yang tahu


Arti cinta yang t'lah kita punya


*Untukmu Aku Bertahan _Afgan*


Entah mengapa, lirik dari lagu yang masih mengalun dari radio mobil itu membuat hatinya bersedih. Ia teringat pada Andra, sosok yang selalu memberinya kekuatan untuk menghadapi masalah yang saat ini mengganjal di hatinya. Liriknya benar-benar menggambarkan kondisi mereka saat ini. Terlepas dari semua masalah yang ada, Andra pasti akan selalu ada dia sisinya. Pria itu selalu berusaha membuatnya yakin jika dia tak akan sendiri mengahadapi apapun itu, sebab Andra akan selalu ada untuknya. Hingga hal itulah yang menguatkan tekatnya untuk tetap bertahan, selain karena memang ia pun sudah mencintai suaminya itu.


“Loh, Kok nangis? Kenapa?"


Seketika Lany mengusap wajahnya secara kasar saat melihat dari pantulan cermin, Mang Anto tengah menatap heran padanya.


“Eh, nggak apa-apa kok!"


“Nggak apa-apa tapi kok nangis, nanti saya bisa dimarahin Den Andra loh,!" Wajah mang Anto terlihat cemas.


“Nggak apa kok, beneran!” Lany masih berusaha meyakinkan, “Cuma rindu sama keluarga aja!" Dan alasannya ini berhasil membuat mang Anto percaya.


Beberapa saat kemudian mobil yang Lany kendarai berbelok memasuki halaman rumah bak istana itu. Dengan rasa was-was, ia mulai melangkah turun dari mobil.


Beberapa kali Lany menghela napas untuk menenangkan diri. Besar harapannya agar tak disambut tatapan mematikan dari anggota keluarga Andra yang perempuan, entah itu Mami, Oma ataupun Dara.


“Assalamualikum!" Lirih Lany saat membuka pintu utama.


Melewati ruang tamu membuat ia bisa bernapas lega, sebab tak ada siapa-siapa di sana. Begitupun saat melewati beberapa ruangan besar yang ia sendiri tidak tahu apa fungsinya. Hingga saat langkahnya mulai menginjakkan kaki di lantai dua, ia disambut dengan tatapan mematikan dari Oma yang entah darimana asalnya tiba-tiba sudah ada bersama Dara di sana. Keduanya menatap Lany dari ujung rambut hingga ujung kaki.


“Dari mana saja kamu?" Sergah Oma dengan sinis.


“Dari apartemen Oma, ambil ini!" Beruntung Lany mengambil beberapa pakaian yang ia butuhkan. Jadi ia bisa menggunakannya sebagai alasan dan berharap Oma mau memaklumi.


“Suami kerja seharian, bukannya nunggu di rumah malah kelayapan sampai malam!"


Sungguh Lany tak bisa lagi berkata-kata, keberanian yang selama ini ia miliki seakan hilang tiap kali berhadapan dengan keluarga Andra. Membuat ia kembali teringat pada Lany kecil yang penakut, dimana dirinya sama sekali tak punya keberanian untuk membantah Mamak dan protes pada Bapak setiap kali ia diperlakukan tidak adil.


“Tapi saya sudah izin sama Andra, Oma!" Lany mencoba membela diri.


“Andra beri izin bukan berarti kamu bisa seenaknya pulang sampai larut begini!” Masih dengan tatapan sinis, oma melirik ke arah jam dinding. “Lihat, sudah jam berapa ini?"


Hati Lany rasanya nano-nano mendengar ucapan Oma.


“Ada apa? Kok ribut-ribut?"


Suara itu membuat Lany yang sedari tadi menunduk sambil meremas tangannya, seketika memberanikan diri melihat siapa yang datang. Dilihatnya Mami Inka baru saja menaiki tangga mengenakan gaun malam yang indah.


“Nih, menantu kamu Inka. Baru pulang jam segini!"


“Bener-bener gak bisa jaga martabat sebagai seorang istri, gimana mau jadi istri yang baik kalau begini!?”


***TBc.....

__ADS_1


...♥️♥️♥️♥️♥️***...


__ADS_2