
“Eh, Andra." Sapa Dewi, begitu melihat Andra memasuki Rumah Makan itu.
Selepas shalat tadi, Andra memang langsung pergi cari makanan untuk makan malam nanti. Sebenarnya ia bisa saja memasak, tapi karena tubuhnya terasa sangat lelah, jadilah dia memutuskan untuk gofood saja. Namun, mengingat sang Istri punya usaha kuliner juga, dia lebih memilih untuk langsung datang ke sana.
Andra hanya tersenyum simpul membalas sapaan ramah Dewi dan Riswan yang langsung menyergahnya dengan berbagai pertanyaan, terutama kapan dia datang dan darimana saja dirinya selama ini.
“Pesan makanannya tiga porsi, ya.”
“Ndak usah pake porsi-porsi, siapin saja yang banyak, Ta." Perintah Dewi pada pelayan yang akan memproses pesanan Andra tadi.
“Duh, jadi ngerepotin nih. Tiga porsi aja lah, takutnya nggak habis nanti." Tolak Andra sembari mengedikkan bahu dan menggeleng, tanda tak mau merepotkan.
“Merepotkan apanya, udah diam saja. Biar kita yang siapkan." Ucap Dewi tak ingin ditolak, kemudian ikut bergabung dengan Andra dan suaminya yang tengah duduk di kursi yang sama, persis saat pertama kali Andra datang ke tempat itu.
“Iya, lagi pula Suami bu owner yang minta. Apa yang tidak coba." Celetuk Riswan, membuat obrolan ketiganya mengalir begitu saja.
Lama dua pria itu saling mengobrol sambil menunggu. Hingga pada akhirnya Dewi menanyakan keberadaan Lany.
“Lany dimana?”
“Eh, iya ya. Kenapa ndak ikut?" Tanya Riswan yang juga baru menyadari. Terlalu asyik mengobrol membuat dia tidak mengamati sekitar “Tadi juga tidak datang, kenapa?" Riswan tersenyum penuh arti, kemudian saling melempar pandang dengan istirnya. Sudah jelas dia memikirkan suatu hal. Hmmmnt.
“Pasti kelelahan karena melepas rindu itu."
“Eh," Andra tersenyum kikuk sambil menggerakkan tangannya, dengan gestur tidak setuju “Dia lagi sakit, makanya tidak ikut.”
...........
Begitu tiba di rumah, Andra langsung memarkirkan motor. Kemudian masuk. Ia segera menata makanan yang sudah di pindahkan ke wadah di atas meja. Tak lupa pula Andra menawarkan adik iparnya untuk makan. Meski ada perasaan kesal karena Elsa sama sekali tak khawatir dan tidak perduli dengan keadaan Lany. Namun, dia tetap mengajaknya makan. Dia tidaklah setega itu membiarkan Si frozen kelaparan sepanjang malam.
“Jangan lupa makan, Elsa.” ujar Andra di depan kamar Elsa setelah mengetoknya beberapa kali. “Makanannya di atas meja, habiskan saja kalau mau!".
Setelah itu, Andra kemudian melangkah ke lantai atas. Begitu membuka kamar, ia langsung tersenyum pada Lany yang masih pada posisi sebelum ia pergi tadi. Namun bedanya, istrinya itu masih memakai mukena. Itu artinya dia baru saja melakukan sholat.
“Tebak, ini makanannya darimana?" Andra yang mencoba mencairkan suasana pun duduk di tepi ranjang setelah meletakkan air minum di meja.
Begitu sulit membuat gadis itu membuka suara. Andra bahkan hanya mendengar Lany berbicara saat dia memaksanya untuk makan pagi tadi. Setelah itu, Lany benar-benar berpuasa bicara padanya. Sungguh ini membuat rasa bersalahnya kian menjadi.
Namun itu tak membuatnya putus asa, dia yang salah. Maka dia pula yang akan berusaha untuk meluluhkan kerasnya Lany.
“Mau di suap apa suap sendiri?" Andra yang kelihatan begitu kelelahan mulai menguap. Jelas dia bisa drop saat itu juga. Mengingat dari semalam hingga malam ini, dia sama sekali belum beristirahat karena harus merawat Lany.
Tanpa basa-basi Lany langsung merampas piring dari tangan Andra. Kemudian memberinya obat untuk diminum setelahnya.
__ADS_1
Andra barus saja kembali dari menyimpan peralatan makan tadi. Dia mendekat ke arah Lany setelah memencet sesuatu di Hapenya dan memberikannya pada sang istri.
“Dewi, mau bicara.” Ucapnya, yang mana membuat Lany langsung meraih Hape tersebut tanpa banyak tanya.
Tadi Andra memang sempat memberi nomor teleponnya pada Ibu muda itu. Dari Dewi juga Andra tahu jika Hape Lany hilang. Dewi yang ingin mengetahui keadaan Lany, meminta Andra untuk menghubungi ketika sampai di rumah.
Sedangkan Lany, dia jelas tahu dari makanan yang dimakannya tadi jika itu adalah salah satu menu di Rumah makanannya. Jadi dia tidak perlu heran jika Dewi bisa menelpon suaminya itu.
“Kamu sakit Karena main hujan kemarin sore ini pasti" seloroh Dewi begitu mendengar suara Lany mengucapkan Halo.
“Nggak, cuma kecapekan aja." Sahut Lany sambil menunduk memainkan ujung mukenanya.
Sedangkan Andra, sejenak pria itu merebahkan tubuhnya di samping Lany. Dengan mata terpejam, dia menyisir rambutnya menggunakan jari. Kerutan di keningnya membuat ia terlihat begitu lesu. Lelah? Tentu saja, seminggu lebih sibuk bekerja dan begitu sampai rumah, dia belum sempat untuk beristirahat. Namun itu sama sekali tak membuatnya mengeluh, sebab ini sudah kewajibannya. Sambil meremas rambutnya dan sesekali memberi pijitan di sana, Andra terus larut dalam kesibukannya sambil mendengarkan Lany mengobrol.
Andra menoleh begitu merasakan sesuatu menyentuh lengannya, ia tersenyum melihat Lany dengan wajah datarnya menyodorkan Hape berlogo apel itu padanya.
“Hape kamu hilang?" Andra membalikkan tubuhnya, hingga menghadap ke Lany yang masih duduk dan sibuk membaca Novel.
“Ambil aja Hape yang kamu pegang itu,”
“Hapenya hilang dimana?” Andra terus memandang wajah gadis yang masih tetap sibuk pada dunianya sendiri itu.
Andra yang merasa sudah mengantuk,. memutuskan untuk tidur. Toh, Lany juga masih dalam silent mode. Sama sekali tak menjawab setiap pertanyaannya. It's oke, dia yang salah. Maka dia juga yang akan berusaha, tapi bukan sekarang. Sebab kantuk telah menyerangnya.
Ucapan itu sontak membuat mata Andra terbuka. Dengan senyum terkulum ia menatap lekat sang istri.
“Nggak mau tidur sama aku?" Lany segera menggeleng.
“Aku di sini aja ya, Aku di bawah. Kalau butuh sesuatu kamu bisa langsung bangunin.” Andra segera turun dari ranjang, kemudian meraih selimut yang dipakainya semalam. Lalu tidur di bawah sana. Tanpa menunggu lama, Andra sudah berlabuh di alam mimpi.
Ada sedikit rasa kasihan melihat Andra yang begitu menuruti semua perkataannya tanpa menolak sedikitpun. Melihatnya terlelap begitu saja membuat Lany sempat ingin memintanya untuk kembali ke atas. Pria itu kelihatan begitu kelelahan. Namun rasa kesal Lany masih dominan menguasai. Dia yang mengharapkan Andra mengatakan sesuatu tentang hari itu, justru tak mendengar apa yang diharapkan. Andra masih saja diam dan hanya mengucap maaf tanpa menjelaskan apa yang seharusnya ingin Lany dengar. Itu terlalu menyakitkan bagi Lany.
Lany terus memandang wajah lelap Andra dengan bibir sedikit terbuka. Satu tangannya terselip di bawah kepala sebagai bantal, ciri khas laki-laki saat tidur. Lany bisa merasakan perasaannya yang berdesir aneh. Rasa sedih hinggap di relung hati saat mengingat bagaimana pertemuan mereka.
...____...
Pagi Itu Lany terbangun lebih dulu. Dia yang merasa tubuhnya lebih bugar dari hari kemarin pun langsung turun ke bawah. Lany tersenyum dan bersyukur melihat kondisi lantai bawah sudah bersih dan rapi. Tentu dia tahu siapa yang melakukan itu semua, yang jelasnya bukan si -Frozen-, Karena anak manja dan pemalas itu sama sekali tak bisa melakukan pekerjaan rumah. Dia bersyukur Andra si -cowok menyebalkan dan aneh- itu masih mau melakukan pekerjaannya. Ah, lagi-lagi Lany menggeleng, dia tidak ingin terlalu memuji Andra hingga pria itu mengatakan apa yang ingin dia ketahui.
Setelah memasak dan mencuci beberapa pakaian milik Andra, kemudian menjemurnya. Lany kembali ke lantai atas. Di lihatnya Andra masih tidur nyenyak di posisinya semalam.
Lany merasa kasihan, tapi ini salahnya. Anggap saja dia sedang memberi Andra pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Semoga saja!
“Alandra!” Sambil berjongkok, Lany mengguncang tubuh suaminya agar segera bangun. Bukan karena perduli, tapi dia ingin segera membersihkan kamarnya. Oh, ****!!
__ADS_1
“Andra, bangun."
Perlahan sepasang mata di bawah dua alis tebal yang terlukis rapi di garis wajah tegas itu mulai terbuka. Seulas senyum, jelas terpancar dari wajahnya ketika melihat wanita yang dari kemarin diharapkannya berbicara baru saja membangunkannya.
“Udah nggak marah?" Tanya Andra yang langsung duduk, ia menatap lekat wajah Lany yang ada di hadapannya.
“Masih,” Ketus Lany, membuat senyum di wajah Andra meredup begitu saja.
“Awas, Aku mau beresin ini.” Tangan Lany menarik bantal yang Andra gunakan kemudian melemparkannya ke atas ranjang. Lany hilang keseimbangan ketika Andra menarik tangannya tanpa permisi, membuat ia jatuh ke dalam dekapan Andra.
“Apaan sih," Sentak Lany mencoba melepaskan diri, tapi tangan Andra mencengkram erat pinggangnya. Membuat ia tetap pada posisi semula. Beradu pandang dengan Andra yang tengah menatapnya lekat-lekat. "Lepas nggak! Aku mau beresin ini!”
“Aku nggak akan lepas kalau kamu belum maafin aku." Lirih Andra dengan wajah kaku.
“Dan aku nggak akan maafin kamu sebelum kamu cerita semuanya, Andra.” Sentak Lany membuat wajah Andra menggeleng dengan raut wajah sulit diartikan.
Lany menyeringai “Apa sih? Apa sesulit itu buat ceritakan tentang hidupmu ke aku?” Dia menggeleng penuh rasa kecewa “Apa sesusah itu untuk saling terbuka?"
“Lan, tanpa aku kasih tau, nanti kamu juga akan tau dengan sendirinya. Semuanya sulit dijelaskan dan butuh waktu untuk itu." Andra masih menatap Lany dengan tatapan mengunci, berharap wanita itu mau mengerti apa yang ia katakan. Entah apa maksudnya, bahkan perkataannya masih begitu ambigu.
“Susahnya dimana?” Sentak Lany dengan perasaan kesal, “Kamu menyembunyikan banyak hal dariku, bahkan saat kamu pergi. Kamu sama sekali nggak ngabarin. Hubungan macam apa yang kita jalani ini, Andra?”
“Semuanya nggak semudah itu, Aku butuh waktu, Lan." Andra menggeleng lemah, “Ada banyak hal yang harus disiapkan untuk semuanya.”
Lany semakin dibuat tak mengerti dengan arah pembicaraan Andra. Apa yang harus disiapkan? Apanya yang tidak mudah? Dengan perasaan kecewa Lany berusaha beranjak namun Andra tak membiarkannya lepas.
Namun, suara dering telepon membuat tatapan keduanya yang tengah beradu pandang, pecah saat itu juga. Perlahan cengkraman Andra di pinggang Lany mulai terlepas.
“Dengerin Aku, Lan. Ini semua demi kebaikan kita juga, kamu belum harus tau semuanya sebelum kita benar-benar siap, semuanya nggak mudah!” Ucapan Andra makin membuat Lany bingung.
“Everything will be fine, if you trust me. Aku bukan penjahat yang harus kamu ragukan.” Andra mendaratkan satu kecupan di kening Lany sebelum benar-benar melepaskan pelukannya “Aku angkat telepon dulu."
...------...
Hy, hy, sorry ya jarang nyapa.😅
Terimakasih buat kalian yang selalu dukung cerita ini sampai di bab ini. Big Hug all🤗
Gimana-gimana?? Siapa yang kesel sama Andra yang masih aja tertutup.😅
Ada yang ngerti nggak dengan ucapan dia? Kira-kira maksudnnya apa ya gays??🤭
Nah, jangan lupa komen ya, Aku suka loh baca komenana kalian semua. Itu bikin semangatku meningkat😍.
__ADS_1