My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 73 [Bad Timing]


__ADS_3

*Waktu yang tidak tepat*



Sorot mata Lany terus menatap sendu ke dinding ruangan dengan tangan yang terus menyeka lelehan air matanya. Ingatan Lany tertuju pada pertemuannya dengan Rival pagi tadi. Ya, pria itulah yang mengirimkan pesan, meminta agar mereka bertemu untuk memberitahu hal tentang Andra.


Saat di kantor waktu itu, mereka memang sempat bertukar nomor telepon. Tentu Lany tak ingin menyia-nyiakan kesempatan begitu tahu Rival adalah adik Andra, dengan begitu ia bisa lebih tahu tentang kehidupan Andra yang terbilang tertutup darinya. Namun, saat melihat respon Andra yang seakan tak begitu suka dengan pertemuannya dengan Rival hari itu, Lany pun memutuskan untuk menutupinya. Apalagi saat Rival mengirimkan pesan pagi tadi, memberinya informasi yang membuat dunianya seakan runtuh untuk yang kesekian kalinya.


“Aku tau kamu punya hubungan dengan kak Andra! Kamu harus tau kalau orang yang dekat sama kamu itu sudah punya tunangan.” Begitu pesan yang Rival kirim disertai foto Andra bersama seorang wanita tengah bertukaran cincin, senyum bahagia terpancar nyata dalam foto tersebut. Tentu hal itu berhasil membuat sikap Lany berubah dingin dan ia bertekat ingin menemui Rival tanpa sepengetahuan Andra.


Dan benar saja, saat sampai di sana. Rival juga menjelaskan semua secara detail, tentang bagaimana ia bisa tahu jika Lany dan Andra memiliki hubungan.


“Feeling aja sih!" begitu jawab Rival dengan seringai di bibirnya, “Aku memang sudah curiga pas malam tahun baru lihat kalian datang bareng, ditambah lagi pas dia bawa kamu ke kantor. Di situ aku semakin yakin kalau kalian ada sesuatu.” Rival berucap sambil menggerakkan dua jarinya membentuk tanda kutip, “Kalau nggak spesial, nggak mungkin kan kakak ku bawa kamu ke kantor?"


Dan makin ke sini, Lany makin dibuat tercengang mendengar penjelasan Rival, jika sebenarnya suaminya itu sudah bertunangan sejak lama dengan wanita bernama Riana, wanita yang sempat mengamuk di kantor saat ia juga berada di sana hari itu. Dari Rival juga Lany tahu jika Riana merupakan sahabat Andra sejak kecil hingga akhirnya mereka menjalin kasih mulai dari SMA.


Rival juga mengatakan jika keluarga mereka dengan keluarga Riana sangat dekat, tapi semua berubah saat Andra pergi liburan dan tak pernah ada kabar. Begitu kembali malah bersama wanita lain. Lany hanya mampu menunduk saat mendengar itu, ia berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah di sana. Lany yang tak ingin terlihat lemah lebih memilih diam dan tidak akan menjelaskan bagaimana awal pertemuannya dengan Andra pada Rival.


“Aku kasihan sama Riana, nggak bisa ngebayangin gimana perasaan dia kalau tau ini.” Tentu Lany yang mendengar itu, merasa sangat bersalah. Sungguh ia tidak pernah menyangka jika dirinya akan menjadi benalu dalam hubungan orang lain. Hati Lany sakit sekali, kenapa Andra tega melakukan ini padanya. Perasaan kagum pada suaminya itu lenyap seketika, Lany bingung apa yang harus ia lakukan jika sudah seperti ini.


Meski begitu, ia senang Rival memberitahukan hal ini, Lany menghargai niat baik Rival yang katanya ingin membantunya terbebas dari Andra agar tidak dikejar rasa bersalah. Dengan detail Lany menceritakan kilas pertemuannya denga Rival.


“Astaga.. Lany!!" Andra melepaskan rengkuhannya dari tubuh Lany, ia mengusap wajah dan beberapa kali menarik rambutnya secara kasar. “Aku kan udah pernah bilang, jangan dekat-dekat dia! Adikku itu nggak berakhlak, tau nggak!?" Sentak Andra, namun ia segera terdiam saat Lany menatapnya dengan mata melotot, seolah mengisyaratkan agar Andra tidak memotong ucapannya karena masih banyak yang ingin Lany sampaikan.


“Ada bagusnya juga aku nggak dengar ucapanmu, jadi aku bisa tahu kelakuan bejat yang kamu tutup-tutupi ini!!” Seloroh Lany yang merasa ia harus menyanggah ucapan Andra soal Rival.


Andra yang mendengar ucapan Lany hanya bisa menghela napas. “Itu semua ada alasannya, neng!" Celetuknya.


“Halah, giliran begini aja pake ngaku-ngaku ada alasannya. Bilang aja kalau kamu memang playboy!" Gerutu Lany, di balik rasa sedihnya karena kelakuan Andra, ia juga kesal sekali jika mengingat warga kampung sialan yang menuduhnya berbuat mesum dengan Andra saat di bendungan waktu itu. Jika saja warga tak memaksanya menikah mungkin hidupnya tak akan semengenaskan ini, pikir Lany.


“Ahh, diam dulu bisa nggak?! Aku belum selesai ngomong!" Sentak Lany yang mana membuat Andra mengkerutkan kening, sebab sedari tadi ia sama sekali tak mengatakan apapun kemudian Lany malah menyuruhnya diam. Hmmnt, yang benar saja.


Lany pun kembali menjelaskan bagaimana ia bisa sampai ke cafe. Dia yang awalnya sempat berusaha berpikiran positif setelah bersedih karena mendegar ucapan Rival dan penjelasan dari Sultan, sebenarnya Lany sudah bisa mengontrol diri, ia berniat menunggu sampai Andra pulang dan akan memintanya untuk menjelaskan semua. Namun, pesan yang Rival kirim kembali membuatnya goyah. Dalam pesan itu Rival mengatakan jika Andra akan bertemu dengan Riana.

__ADS_1


Jujur Hati Lany begitu sakit menerima kenyataan itu. Namun, mengingat status mereka sudah bertunangan lebih dulu sebelum adanya pernikahan yang terikat diantara ia dan Andra. Lany pun memutuskan untuk sadar diri dan tidak mau egois.


“Tenang aja, aku nggak akan merusak hubungan kalian! Setelah ini aku akan pergi, kamu nggak perlu kuatirin dia,” Lany menunduk, tangannya tergerak mengusap perutnya. Jika memang ia sedang mengandung, maka mulai saat ini ia harus bisa menguatkan diri untuk hidup tanpa Andra. Ya, seperti yang Lany katakan, ia berniat meninggalkan suaminya itu.


“Fokus aja dengan hidupmu, anggap kita nggak pernah saling kenal!” Lirih Lany dengan tenggorokan tercekat, dadanya terasa begitu sesak mengeluarkan kata-kata yang bertolak dengan hatinya. Bagaimana tidak, siapa yang bisa terpisah dari orang yang ia cintai. Ya, setiap bersama Andra membuat perasaan Lany kian bertumbuh pada pria itu.


“Ngomong apa sih?!” Salak Andra dengan mata yang sudah memerah seperti orang yang ingin menangis tapi enggan terlihat lemah di hadapan siapapun itu.


“Nggak ada yang boleh pergi!” Sentaknya lagi.


“Kenapa? Dia akan terluka kalau tau kamu berhianat," Lany mendongak menatap Andra yang kini kembali duduk di sisi ranjang sambil melingkarkan tangan di tubuhnya. Andra menunduk, menelusupkan kepalanya di ceruk leher Lany.


“Aku ataupun kamu nggak ada satupun yang boleh kemana-mana! Kita hadapi semuanya sama-sama.” Andra beralih meraih wajah Lany agar menatapnya.


“Kamu istriku, hanya kamu dan sampai kapanpun akan selalu kamu!” Ucapan Andra hampir saja membuat Lany terenyuh, tapi ia tak ingin cepat luluh seperti yang sudah-sudah. Lany bertekat untuk tidak menetap di sisi Andra. Ia tak ingin menjadi perusak hubungan orang. Mengingat bagaimana Andra menutupi hubungan mereka selama ini, pasti karena pria itu begitu mencintai tunangannya dan ingin menjaga perasaan wanita tersebut.


“Kamu ingat perjanjian kita waktu itu?” Tanya Lany dengan dada yang naik turun berusaha menstabilkan diri dari rasa sakit.


“Aku tahu, tapi aku bisa jelasin semua." Lirih Andra yang tahu jika Lany tengah membahas pembahasan mereka malam itu, dimana Lany akan meninggalkannya jika saja Andra terbukti mempermainkan pernikahan ini dan saat ini Lany memang sedang merasa di permainkan.


“Diselingkuhi itu urusan kamu, tapi nggak seharusnya maksa nikah kalau kamu belum bisa melupakan dia!!!" Pungkas Lany sambil memukuli Andra sekuat tenaga. Kini ia tahu kenapa saat malam kejadian hal -mengasyikkan- itu Andra sampai mabuk dan beberapa kali meracau menyebut nama Riana. Ya, kini Lany tahu siapa pemilik nama yang Andra sabut saat pria itu melakukan itu padanya. Sungguh hati Lany sakit mengetahui awal hubungan mereka terjadi karena Andra yang mengira ia adalah Riana.


“Dia yang nyakitin tapi aku yang kamu bikin menderita! Kamu cuma jadiin aku pelampiasan!" Andra hanya menunduk mendengar ucapan Lany, “Dari awal kamu udah bikin hidupku hancur, gimana nanti kalau keluarga kamu tau?!” Kini Lany kembali menangis, hormon kehamilan membuat suasana hatinya begitu cepat berubah.


“Percaya sama Aku, Lan!" Andra meraih tangan Lany dan terus memohon “Malam itu, aku memang mabuk! Tapi setelah kita melakukannya dan lihat kamu, aku merasakan sesuatu. Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu sejak saat itu!"


Namun bukannya percaya, tangis Lany justru makin pecah, bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka.


“Loh, lok bu Lany menangis?” Istrinya di apai pak Andra?"


Seketika Andra langsung menoleh saat melihat dokter Susi datang bersama seorang perawat, menatapnya penuh selidik, seakan ia baru saja melakukan kesalahan besar.


“Suruh dia keluar dok, Saya gak mau liat muka dia!”

__ADS_1


...-----...


Akibat mendapati Lany dalam kondisi menangis, Andra di ceramahi habis-habisan oleh dokter Susi. Ia dianggap tak bisa menjaga perasaan ibu hamil, apalagi saat Lany malah makin menangis dan memintanya untuk keluar. Tentu Andra hanya bisa pasrah saat diusir secara tidak hormat.


“Mood ibu hamil itu memang agak sensitif, Pak Andra. Kita harus bisa jaga suasana hatinya, bikin ibu hamil senang itu penting!” Begitu wejangan yang dokter Susi berikan setelah keluar dari ruangan dan membiarkan Lany sendiri di dalam.


“Kondisi seperti ini, biasa disebut mood swing, dimana ibu hamil bisa tiba-tiba merasa jengkel dan cemas dalam satu waktu.”


“Biarkan dia sendiri dulu! Jangan pancing emosinya, mancing emosi ibu hamil itu nggak seenak mancing ikan di empang. Nyeremin, Pak! Apalagi kalau lagi ngidam, nanti dia minta yang aneh-aneh bisa bahaya!" Andra hanya menelelan ludah kasar saat dokter Susi mengatakan hal itu sembari berlalu pergi.


Selepas kepergian dokter Susi, Andra hanya duduk termenung. Ia terus memikirkan ucapan sang dokter, ia begitu bahagia saat menyadari dirinya benar-benar tengah mendampingi istrinya yang sedang hamil. Sepertinya ini akan menjadi tugas menyenangkan, tentu Andra sudah mempersiapkan diri untuk menjadi suami siaga yang akan siap setiap waktu. Namun, jika mengingat bagaimana Lany bersedih dan terluka karena merasa dibohongi, membuat Andra sangat merasa bersalah.


Apalagi jika mengingat perkataan Lany yang mengatakan jika ia hanya menjadikan Lany pelampiasan akibat ulah Riana. Padahal Andra sama sekali tak merasa demikian, waktu itu ia memang kesal pada Riana hingga melampiaskannya dengan cara minum-minum dan tanpa sadar malah menodai Lany, yang ia sendiri tidak ingat persis bagaimana kejadin waktu itu. Tapi saat ia sadar dan melihat wajah Lany, bahkan setelah penolakan yang ia lakukan. Andra benar-benar tertarik pada sikap Lany.


Entahlah, ia merasa Lany memiliki sesuatu yang berbeda hingga membuatnya bisa jatuh cinta pada pandangan pertama, Lany seakan menjadi obat yang membuatnya seketika lupa pada masalah hidupnya hari itu. Penolakan yang Lany lakukan benar-benar membuat Andra terhibur. Ia salut melihat tekat Lany yang ingin berusaha jadi kaya dan saat itu Andra juga bisa menilai jika gadis yang kini menjadi istrinya itu adalah wanita pekerja keras. Andra salut dan bangga padanya.


Dan Andra benar-benar merasa terluka saat Lany justru menganggap dirinya hanya menjadikan gadis itu pelampiasan dan berpura-pura bertanggung jawab tanpa tahu perasaannya yang sebenarnya.


“Argghh..” Andra mengusap wajahnya secara kasar, ia bersandar sembari mendongak menatap langit-langit rumah sakit, “Andai kamu tahu perasaan ku ke kamu gimana, mungkin kamu akan percaya, Lan!"


Andra menggerutu sebal sambil melayangkan kepalanya mengudara. Ia kesal, rencananya tak berjalan sebagaimana mestinya, karena Rival malah mengacaukan semua. Malam, yang harusnya menjadi malam bahagia menyambut kehadiran calon anak mereka justru berubah haluan menjadi malam pertengkaran. Masalah ini benar-benar terjadi di saat yang tidak tepat.


“Shiiiit, Rival sialan!!" Umpat Andra.


Bayangan Lany menangis, selalu saja berputar di otaknya, “Aku sadar aku memang nggak peka, aku memang banyak kurangnya! Aku juga tahu aku salah karena nggak jujur sama kamu, Tapi...”


Belum sempat Andra selesai bermonolog, hpnya sudah berdering. Ia lantas merogoh benda tersebut dari saku, nama Mami tertera di sana. Andra hanya menghela napas, pasti orang rumah sudah menunggu kedatangannya dengan Lany. Saking sibuknya , Andra sampai lupa memberi kabar jika malam ini mereka batal datang, ditambah lagi kejadiannya malah seperti ini.


“Assalamualikum, Mi.” Ucap Andra begitu meletakkan hp di telinganya.


“Kok belum datang sih? Mami dan yang lain udah nunggu kalian loh.” Ucap Mami di sebrang sana.


“Maaf ya, mi. Aku lupa ngabarin, malam ini belum bisa datang! Istriku mendadak masuk rumah sakit." Jelas Andra.

__ADS_1


“Loh, kenapa? Istrimu sakit?" Mami terdengar panik, membuat Andra tersenyum, kemudian segera menjelaskan apa yang terjadi.


__ADS_2