
“Keluarga Ibu Melany Larasati?”
Begitu mendengar suara itu, Andra langsung menoleh dan berdiri saat seorang dokter wanita keluar dari ruang tindakan.
“Bagaimana keadaan istri saya, dok?" Sergah Andra dengan wajah pias. Ia begitu menghawatirkan keadaan Lany yang tiba-tiba pingsan seperti tadi.
Dokter itu menghela nafas, kemudian disusul senyuman simpul setelahnya. “Keadaan Ibu dan janinnya sehat. Tapi harus kami pantau dulu, istri anda mengalami hipoglikemia atau gula darah rendah. Itu yang menyebabkan pasien sempat tidak sadarkan diri.”
Begitu mendengar kata 'Janin' Andra langsung tak fokus mendegar ucapan dokter setelahnya. Kata itu benar-benar mengusiknya, Membuat tubuhnya seakan bergetar hebat. Benarkah istrinya hamil? Tenggorokan Andra tercekat, bibirnya seakan kelu untuk menanyakan kebenaran tersebut.
Dengan terbata-bata seperti orang gagap, Andra lalu bertanya “Istri saya hamil, Dok?" Ia menatap tak percaya pada dokter yang terus saja tersenyum padanya. Dilihat dari id cardnya, dokter itu bernama Susi Oktavia dengan gelar SpOG, yang merupakan kependekan dari Spesialis Obstetri dan Ginekologi. Itu artinya Lany baru saja ditangani oleh obgyn atau dokter spesialis kandungan yang tak hanya mengatasi kehamilan saja, tetapi juga seputar kesehatan organ reproduksi wanita. Hal itu tentu membuat Andra semakin yakin dengan jawaban dokter Susi barusan.
Dokter Susi mengangguk “Iya Pak, benar sekali!"
“Usia kandungannya sudah tiga minggu lebih.” Dokter Susi menyodorkan selembar gambar hasil Usg, yang hampir menyerupai foto polaroid.
Andra semakin tak bisa berkata-kata. Lidahnya semakin kelu, membuat ia tak mampu lagi berucap. Kebahagiaan yang ia rasakan saat ini begitu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tangannya kian bergetar hebat saat menerima hasil usg yang dokter Susi berikan.
Perlahan mata Andra menelisik, membaca satu persatu tulisan yang tertera di dalam kertas foto tersebut.
Setelah membaca semua keterangan, mulai dari nama sang istri juga nama dokter dan beberapa angka beserta singkatan bahasa medis yang tidak begitu banyak ia pahami, mata Andra tertuju pada satu titik dalam gambar yang posisinya berada di tengah-tengah, masih samar, tapi jelas itu adalah sebuah kehidupan baru yang sedang tumbuh di janin istrinya. Hasil cintanya, anugerah dari Tuhan yang dititipkan melalui rahim sang istri. Jika saja Dokter Susi tak ada di sana, mungkin air mata Andra sudah menetes sejak tadi. Ia hanya mampu menghela napas saat berhasil menstabilkan perasaan.
Andra menatap dokter Susi yang tak henti-hentinya mengulas senyum, seakan ia pun berbahagia dengan kehamilan Lany.
“Apa saya bisa masuk sekarang, dok?" Tanya Andra dengan netra yang sudah berembun.
“Tentu saja, silakan!" Dokter Susi mempersilahkan sembari bergeser dari ambang pintu.
Andra melangkah dengan hati dan mulut yang tak henti-hentinya mengucap syukur atas hadiah luar biasa yang Allah berikan, sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ayah.
Begitu sampai di dalam, tatapan Andra langsung tertuju pada sosok yang terbaring di atas ranjang dengan pakaian yang sudah berganti. Lany yang tadinya memakai dress kini memakai pakaian pasien. Andra hanya mampu menelan ludah kasar saat Lany langsung memalingkan wajah begitu melihatnya. Lany seakan tidak senang dengan keberadaannya. Ia tahu Lany pasti sangat marah dan kecewa karena kejadian di cafe tadi.
__ADS_1
Meski mendapat sambutan tak mengenakkan dari Lany. Andra tetap mendekat, ia duduk dan mengarahkan tangannya menyentuh bahu Lany yang kini sudah membelakanginya.
“Gimana, udah enakan belum?” tanya Andra. tapi tangannya justru ditepis oleh Lany. Tak apa, ia akan berusaha lebih ekstra, begitu pikirnya.
“Aku punya berita bagus untuk kita,” Andra mengeluarkan hasil usg calon anak mereka.
“Hey..." Senyum haru masih terus terpancar saat matanya tertuju pada gambar berbentuk titik.
“Lihat, dia sudah tumbuh sebesar ini! kira-kira nanti dia mirip siapa, ya, Aku atau kamu?” Dengan berucap begitu Andra berharap Lany mau menoleh. Namun, sayang sekali Lany sama sekali tak bergeming. Sepertinya, kali ini ia benar-benar harus punya stok sabar lebih ekstra, mengingat ia harus bisa membantu menjaga kondisi Lany. Apalagi Andra sadar betul, jika Lany seperti ini karena ulahnya sendiri. Jika saja ia jujur soal Riana sejak awal, mungkin situasinya tak akan begini.
“Lan..” Tangan Andra menelusup di bawah tengkuk Lany, perlahan ia membawa tubuh Lany menghadap dirinya, persis seperti yang ia lakukan saat membujuk Lany saat sakit waktu itu.
“Makasih ya udah mau mengandung anakku!" Andra membungkuk, memeluk tubuh Lany dengan erat. “Kamu hamil, Lan!”
Andra merasa senang saat Lany sama sekali tak menolak pelukannya. Lany seakan pasrah, membiarkan Andra memeluknya.
“Makasih banyak ya, sayang. Aku bahagia banget! Ini hadiah yang luar biasa untukku” Andra terus bermonolog sendiri, mengutarakan isi hatinya, betapa antusias dan bahagianya ia diberi hadiah yang teramat istimewa, terlepas dari semua masalah yang ia alami sebelumnya.
“Kamu yang bahagia! Tapi aku, nggak! Aku sama sekali nggak bahagia!!" Teriak Lany bersamaan dengan Air mata yang mulai meleleh deras.
Andra yang melihat itu hanya meringis, perasaan bersalah itu kian menguar dalam hati. Tangannya mencoba meraih bahu Lany yang kini sudah duduk sambil menangis sesenggukan mengutarakan kekecewaannya, seperti anak kecil yang sedang marah, melampiaskan kekesalannya pada apa saja yang bisa ia pukul.
Ia mencoba meraih tubuh Lany. Memeluk dan berusaha menenangkan meski Lany terus melayangkan pukulan.
“Siapa bilang dia anak kamu, hah?! Dia cuma anakku, kamu nggak berhak jadi bapaknya!” Sentak Lany dengan terus terisak, sepertinya ia benar-benar kecewa pada keadaan. Sedangkan Andra yang mendengar itu hanya mampu menggeleng.
“Setelah dia lahir aku akan urus dia sendiri, aku nggak butuh kamu. Kamu kembali saja dengan tunangan mu itu, jangan perdulikan kami!!" Seru Lany setelah berhasil melepaskan diri dari rengkuhan Andra, kini tangannya tergerak mengusap wajahnya sambil menangis dan beberapa kali menarik rambutnya sendiri.
Lany terlihat sangat rapuh. Keadaan membuat ia berada di persimpangan dilema yang nyata. Takdir membuatnya tak berdaya, di satu sisi ia sudah mulai mencintai Andra. Tapi, kenyataan yang baru diketahuinya ini seakan memukul telak, mendorongnya mundur tanpa hormat.
“Jangan ngomong begitu bisa nggak?!" Sergah Andra dengan wajah sendu. Tangannya tanpa sadar menyentakkan tubuh Lany sedikit keras agar istrinya itu berhenti bicara yang tidak-tidak. Andra tidak bisa mendengar ucapan itu dari mulut Lany.
“Tolong kurangin keras kepalamu, Lan!” Andra mengusap rambutnya secara kasar, sebisa mungkin ia berusaha menahan diri agar tak tersulut emosi menghadapi sikap Lany.
__ADS_1
“Nggak seharusnya begini!” Lamat-lamat Andra menatap wajah Lany, “Seharusnya kita berdua bahagia menyambut kehadiran anak kita, bukan malah seperti ini!”
Tatapan Andra melemah saat Lany hanya menatapnya dalam diam dengan kedua alis yang bertaut sembari menahan sakitnya dipermainkan oleh keadaan.
“Aku nggak akan begini kalau kamu nggak bohong! Kita mungkin nggak akan ada di situasi ini kalau kamu nggak maksa buat nikahin aku!!” Andra terdiam mendengar ucapan Lany.
“Sebenarnya mau kamu apa?" Lirih Lany sambil berusaha menahan tangis.
“Aku tahu cewek tadi tunangan kamu dan kalain akan menikah sebentar lagi.”
“Jangan bikin aku merasa seperti penjahat, kamu bikin aku seolah aku ini perusak hubungan orang!” Ucap Lany tersedu-sedu saat air matanya kembali meluap, tangannya terus tergerak menyeka bulir yang sedari tadi berusaha ia bendung.
Andra yang mendengar itu menyerngit heran, ia yang sama sekali belum menceritakan apapun semakin yakin jika ada seseorang yang menjadi dalang di balik semua ini, hingga mengakibatkan kesalahpahaman diantara mereka melalui kehadiran Lany tadi.
Ia bingung bagaimana cara menjelaskan saat semua info yang Lany dapat memang benar tapi tak sesuai dengan fakta yang terjadi. Hal itu membuat Andra semakin menyesal, seandainya sedari awal dia mengatakan ini, mungkin Lany tidak akan termakan dengan info yang orang itu berikan. Sungguh Andra kesal pada dalang di balik masalah ini.
“Itu nggak bener, Lan! Percaya sama aku." Dengan lembut, Andra berusaha meyakinkan Lany.
“Aku tau semuanya, Andra!”
Andra hanya terdiam menunggu apa yang Lany ingin katakan saat Istrinya terlihat ingin mengatakan sesuatu. Dengan begitu, Andra bisa tahu siapa dalang yang tega memberitahu Lany soal pertemuannya dengan Riana tadi.
“Cerita yang kamu tau tentangku, Lan!" Andra meraih tangan Lany dan menggenggamnya dengan erat, beberapa kali Andra memberi kecupan kecil di sana, dengan sebelah tangan tergerak mengusap air mata Lany yang terus menetes.
“Setelah ini aku akan cerita semua versiku."
Andra terus menatap Lany yang kini menghela napas. Ia hanya memberi isyarat agar Lany mengatakan semua saat istrinya itu menatapnya. Tatapan penuh luka yang Lany berikan, membuat Andra kian diterpa rasa bersalah yang mendalam.
“Jaga emosimu, Lan. Ingat, di sini ada anak kita!” Dengan penuh kelembutan Andra berusa memberi pengertian, mengingatkan Lany jika saat ini wanita itu tengah mengandung. Andra tidak ingin kondisi Lany akan semakin parah jika tak bisa mengendalikan diri.
Bersyukur Lany masih mau mendengar ucapannya setelah ia sama-sama mengarahkan tangan ke perut yang masih datar itu.
“Cerita, sayang! Aku mau dengar cerita versi apa yang kamu tau."
__ADS_1