
Lany, sebenarnya ia sudah bangun sejak Andra melaksanakan sholat subuh tadi. Hatinya selalu berdesir aneh setiap kali melihat sikap Andra yang seperti itu, menghadapinya dengan penuh kelembutan tanpa mengeluh sedikitpun. Dia terharu untuk itu. Ini yang selalu membuatnya luluh. Namun hal ini tentu tak bisa membuat ia untuk mudah kembali menjatuhkan hati pada Andra.
Dia tidak ingin tersiksa sendiri, ia sama sekali tidak tahu banyak hal tentang Andra. Ia bahkan takut melabuhkan harapan lebih dulu, takut Andra sama sekali tak merasakan apapun. Dia tidak ingin terluka lagi. Tentu Lany harus menghindar dari rasa sakit yang suatu saat bisa menggerogoti.
Menurut Lany, keputusan untuk mengabaikan Andra adalah keputusan yang tepat. apalagi setelah kejadian seminggu terakhir, yang mana Andra pergi tanpa kabar membuat ia benar-benar muak. Ia tak lagi ingin tahu alasan Andra melakukan itu padanya.
Disaat tengah sibuk memikirkan semua, pandangan Lany tertuju pada pintu kamar yang terbuka dan menampakkan Andra yang muncul dengan senyuman manis khasnya sambil membawa piring dan gelas.
Lany bergegas membuang muka, tak ingin bersitatap dengan pria menyebalkan itu.
“Gimana, udah mendingan?” Andra duduk di sisi ranjang setelah meletakkan gelas di atas meja. Tangannya dia tempelkan di kening Lany, tapi segera ditepis oleh gadis itu.
“Makan dulu ya, udah itu minum obat. Tadi aku udah pesan obat.” Ujar Andra lagi saat Lany sama sekali tak merespon ucapannya. Tangannya tergerak mengarahkan sendok berisi bubur ayam yang dipesannya tadi.
Berkali-kali Andra menyodorkan makanan, namun Lany sama sekali tak bergeming. Tentu itu membuat Andra harus berusaha ekstra untuk membujuknya.
“Aaaa.." Untuk yang kesekian kalinya Andra masih mencoba menyuapi.
“Masih marah sama aku?” Andra menghela napas, sebab Lany tetap enggan merespon. Bahkan untuk menatapnya pun Lany tidak sudi.
“Makan dulu ya, Marah itu butuh tenaga. Apalagi kamu sedang sakit, kalau nggak makan gimana bisa lanjutin amarahnya?"
Lany benar-benar tak habis pikir dengan ucapan Andra. Itu sama sekali bukan kalimat bujukan yang tepat. Apakah dia sepayah itu dalam membujuk seseorang yang sedang marah? Sungguh Lany makin dibuat geram.
Selain menyebalkan, ternyata Andra sosok orang yang tidak sadar diri dan tidak peka.
“Heh, mau apa kamu?” Sentak Lany saat merasa tubuhnya tiba-tiba melayang. Andra menggendongnya ala bridal style.
__ADS_1
“Andra!!!" Pekik Lany sambil memukuli dada bidang Andra, saat pria itu melangkah menuju pintu kamar.
“Kamu nggak mau makan, padahal lagi sakit. Orang sakit butuh asupan.” Celetuk Andra dengan wajah datar “Kita harus ke rumah sakit, kamu harus di infus.”
Mata Lany membola mendegar ucapan Andra. Pria ini selalu saja bertindak impulsif. Dia selalu melakukan sesuatu sesuai apa yang diinginkan tanpa meminta persetujuan orang lain.
“Aku nggak sakit.” Sentak Lany yang mencoba memberontak agar Andra melepaskannya. Namun tentu tenaga Lany yang tak seberapa itu tidak bisa membuat Andra melepaskannya.
“Kamu sakit.” Andra hanya melirik Lany sekilas. Tangannya bergerak memutar hendel pintu.
“Tapi aku nggak mau di bawa ke rumah sakit." Lany yang kesal mulai mengarahkan tangannya untuk terus mencubit juga memukuli tubuh Andra. Namun pria itu sama sekali tak berekspresi.
“Aku nggak izinin kamu buat bawa aku ke rumah sakit! Aku mau di rumah saja."
“Aku nggak perlu izin darimu!"
“Jangan lupakan, aku punya hak atas hisupmu juga tubuhmu!"
Sungguh Lany dibuat kesal dengan sikap Andra . Tidak biasanya pria itu bicara tanpa menorehkan senyum. Namun apa ini? Bahkan wajahnya begitu datar.
“Andra, Ih!!!" Lany yang kesal menggigit dada Andra dengan kencang. Namun pria itu sama sekali tak bergeming. Sambil menahan perih dia tetap menggendong Lany, kini langkahnya sudah hampir menuruni tangga.
“Oke, Fine, Aku mau makan!” Lany menyerah, ia tidak ingin ke rumah sakit hanya karena demam seperti ini. Satu-satunya cara untuk menghadapi Andra hanyalah dengan menyerah. Karena jelas pria itu sama sekali tak menerima penolakan.
Setelah mendengar ucapan Lany, Andra menghentikan langkahnya. Senyum tipis terulas samar dari bibirnya.
“Kalau masih menolak, dokternya yang ku panggil ke sini." Ancam Andra dengan seringai licik, membuat Lany memutar mata malas.
__ADS_1
“Iya." Sungguh Lanya ingin sekali menonjok wajah menyebalkan Andra yang tersenyum seperti joker.
“Turunin, Aku mau jalan sendiri." Ketus Lany, dia melempar tatapannya dari pandangan Andra yang terus menatapnya intens. Tentu ia harus menghindari tatapan mematikan itu jika tak ingin serangan jantung sejak dini.
...**...
Seharian full Lany hanya berdiam diri di kamar. Tak ingin Andra bertindak gegabah, membuat ia menuruti apa yang pria itu katakan. Meski Andra telah melakukan semuanya dan bahkan merawatnya dengan begitu baik. Namun rasa kesal itu masih ada. Ia mengacuhkan Andra dan sama sekali tidak mau perduli pada Andra yang terliahat berusaha menghiburnya. Bahkan untuk menjawab setiap pertanyaannya pun sangat berat bagi Lany. Dia benar-benar tak memperdulikan keberadaan Andra di sisinya.
Saat tengah asyik membaca, Andra muncul dari balik pintu. Sikap Lany masih sama, tidak perduli dengan apa yang Andra lakukan. Pria itu menyalakan lampu kamar setelah itu menutup jendela.
Lany melirik jam digital yang ada di meja. Sudah hampir jam enam, itu artinya adzan maghrib akan segera berkumandang. Dan benar saja, selang beberapa menit. Suara shalawat di mesjid terdekat mulai terdengar dan Andra mulai duduk di tepi ranjang sambil menghadap dirinya.
“Mau makan sesuatu? Biar aku pesanin?"
Andra hanya menghela napas melihat sikap Lany. Namun Andra mencoba memahami itu semua, ini salahnya dan wajar jika Lany marah.
“Maaf kalau kamu kecewa dengan sikapku." Lany sama sekali tak bergeming, dia masih saja sibuk dengan bacaannya.
Keheningan menyapa sesaat setelah lantunan Adzan maghrib baru saja selesai berkumandang. Kedua Insan ini masih sibuk dengan dunianya sendiri. Andra terlihat menunduk, seolah tengah memikirkan sesuatu sebelum akhirnya ia kembali berusaha mengajak Lany berbicara.
“Waktu itu aku sempat hubungi kamu, tapi nggak aktif. Aku juga kirim chat tapi nggak dibalas." Lirih Andra sambil melempar pandangan, melirik langit-langit kamar.
Sedangkan Lany yang mendengar itu nampak terkejut sambil melirik sekilas pada Andra. Namum sesaat kemudian ia kembali memutuskan untuk tidak perduli. Apapun penjelasan Andra, dia tidak berniat mendengarnya. Meski sejujurnya ia penasaran kapan Suaminya itu mengabari dirinya. Apa mungkin setelah Hapenya hilang?
Keheningan kembali menyapa saat Andra pamit untuk beranjak ke kamar mandi, untu mengambil wudhu dan sholat setelahnya.
Saat Melihat Andra selesai dan keluar dari kamar, Lany memberanikan diri untuk menengok hingga pria itu menghilang di balik pintu. Dia segera menguncinya dan ikut melakukan sholat maghrib.
__ADS_1