
Begitu sampai di halaman rumah, Lany menoleh ke arah jalan. Dimana terdapat mobil yang sedari tadi mengikutinya juga berhenti di sana. Ia tahu, dua sahabatnya itu tengah berusaha melindunginya, meski dari kejauhan. Memastikan agar ia benar-benar sampai dengan aman. Lany bersyukur memiliki sahabat seperti mereka. Kasih sayangnya bahkan melebihi keluarganya sendiri.
Sambil menahan dingin, sudut bibir Lany tertarik mengulas sebuah senyum tertahan dibalik rasa dingin yang menggigit di kulit. Tanpa melepas helm, ia melangkah ke jalan.
Kaca mobil itu turun, menampakkan Dewi tengah memangku Kiya yang sedang tidur.
“Kenapa repot-repot ikut sampai sini sih,” protes Lany. Baginya, Riswan da Dewi terlalu berlebihan menghawatirkannya.
“Sudah, jangan banyak protes." Sela Dewi dengan raut wajah khawatir, “Sana, masuk! Itu bibirmu pucat sekali!"
Lany tak lagi melayangkan protes, gadis itu justru mendekatkan wajahnya ke kaca spion. Jarinya tergerak menyentuh bibirnya yang memang mulai keriput dan pucat karena menahan dingin. Sorot matanya masih memancarkan kesedihan dan segudang pikiran yang berkecamuk di kepala nampak terpampang nyata.
“Hmmmnt." Lany menghela napas, ia kembali berdiri dan menatap Dewi dan Riswan secara bergantian.
“Aku masuk dulu ya, makasih!” ia mengangkat tangannya melambai di udara “Daaa, Kiy. Onty masuk dulu ya!" Sebelum benar-benar melangkah pergi, Lany menyempatkan diri untuk menatap Baby Kiya yang terlelap pulas, dipangkuan Ibunya.
Lany pun melangkah dan sudah menghilang di balik pintu rumah.
Dewi dan Risawan beralih saling pandang, dari tatapan matanya, pasutri itu terlihat memikirkan hal yang sama.
“Dia seperti orang galau berat.” celetuk Riswan, sambil terus menatap daun pintu rumah yang pernah ia tempati.
“Ya, galau lah. Orang hpnya hilang.” sahut Dewi, tangannya tergerak memencet tombol di sisi pintu agar kaca mobil kembali tertutup.
“Bukan.” Kaki Riswan perlahan melepas kopling dan menginjak pedal gas secara bersama. Mobil itu pun, perlahan melaju. “Kayak ada masalah lain.” Sambung Riswan lagi.
Dewi nampak terdiam, memikirkan ucapan suaminya. Kemudian ia teringat tentang kata-kata Lany beberapa hari lalu, jika Andra, suaminya. Sedang keluar kota.
“Oh, jelas galau lah. Kan suaminya lagi keluar kota.” Seloroh Dewi yang memang mengira Lany galau hanya karena itu. Karena memang Lany tak menceritakan jika semenjak pergi, Alandra sama sekali tak memberi kabar. Jika Dewi tahu, mungkin ibu muda itu akan marah juga.
“Bisa jadi,” Riswan manggut-manggut, namun sesaat kemudian, ia kembali berkata. “Tapi kayaknya bukan itu,"
“Terus apa?" Sunggut Dewi jengah.
“Ku lihat, kayaknya ada masalah lain.”
Dewi terdiam, pikirannya berusaha mencerna ucapan sang suami. Akhir-akhir ini, ia memang sering mendapati Lany banyak diam dan tiba-tiba murung. Namu sahabatnya itu seperti menutupi sesuatu. Tentu perkataan Riswan, semakin membuat Pikiran Dewi tertuju pada Lany.
__ADS_1
...______...
Setelah selesai mandi dan keramas. Gadis itu memakai hoodie berwarna abu, dipadukan dengan celana piyama. Ia berdiri memerhatikan tubuhnya yang pucat di hadapan stand mirror yang ada di sudut kamar. Wajahnya tampak lesu, Ia merasa hidupnya semakin mengenaskan saja. Impian memiliki kehidupan tentram dan damai, lenyap begitu saja.
Awalnya ia mulai beradaptasi dengan kehadiran Andra dihidupnya. Bahkan iapun sudah merasa nyamam dengan pria tersebut. Meski kenal dan menjalin hubungan belum lama dengannya, namun ia benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda berada di dekat Andra. Apalagi sikapnya selama ini sangatlah baik, terkadang membuatnya melting sendiri. Pria itu merobohkan benteng pertahanan yang sempat ia tutup untuk tak memikirkan laki-laki sebelum menemukan yang terbaik. Sikap dan sifatnya membuat Lany tak bedaya, Jadi siapa yang tidak luluh jika seperti itu.
Namun sekarang ia sadar. Jika perasannya adalah perasaan yang salah. Lany memejamkan mata, meratapi hidupnya yang selalu tak beruntung. Baru berniat membuka hati, dia malah dihadapkan dengan situasi berat ini. Ditambah lagi Hpnya juga hilang. Entah kutukan macam apa yang selalu menerpa, hingga keberuntungan tak pernah bertahan lama di hidupnya.
Andra Yang dikira akan menjadi pendamping terbaik malah menggoreskan luka lebih dalam, hilang tanpa kabar. Sama sekali tak berjejak.
Mungkin rasanya tak akan separah ini, jika dia tidak terlalu cepat menjatuhkan jati. Haruskah ia mengubur perasaan yang mulai tumbuh itu? Ahhh, dia benar-benar berada di persimpangan dilema yang nyata.
Disaat masih ingin meratapi diri di depan cermin, perut Lany justru memberikan sinyal agar ia segera mengisinya. Terlalu lama diterpa hujan, membuat ia lapar. Lany pun menghela napas, denga kasar ia menarik tisu yang aja di meja, kemudian menghapus air matanya. Ia tak ingin keluarganya menertawai hidupnya yang penuh luka. Ia tak boleh terlihat lemah di hadapan orang-orang yang sering menyakitinya.
Saat hendak keluar, mata Lany tertuju pada Hp mahal milik Andra yang ia tinggalkan, sebagai jaminan katanya. Tentu itu membuat hati Lany kembali seperti teriris. Diraihnya benda tersebut, kemudian ia benar-benar melangkah meninggalkan kamar.
Saat turun dari tangga, mata Lany sempat tertuju pada tiga orang yang tengah asyik menonton sambil bercengkrama, sama seperti saat ia datang tadi. Sedangkan Ara, bocah itu tengah terlelap di karpet bulu yan empuk. Benar-benar keluarga yang harmonis. Mereka selalu bahagia tanpa melibatkan dirinya.
“Namanya Elsa juga, ya, dia punya kekuatan.." Bapak tertawa sambil menunjuk salah satu tokoh Disney yang memang menjadi julukan untuk ia mengejek adiknya itu.
“Dia Ratu Arendelle yag cantik, sama sepertiku. Aku kuga cantik kan." Ucap Elsa dengan Pd nya sambil melirik sinis pada Lany.
“Iyalah, anak mamak kan yang paling cantik." Sahut Mamak sambil menseruput teh hangat di depannya.
Rasanya begitu sakit, setiap kali Bapak bisa seakrab itu dengan Elsa, sedangkan dirinya tidak. Sambil menahan perih, Lany tersenyum pilu. Berhubungan suasana hatinya sedang tidak karuan. Ia lebih memilih cuek dan berlalu ke dapur. Ya lebih baik begitu!
Bukankah selama ini, keberadaannya memang tak pernah dianggap. Jadi untuk apa dipikirkan. Toh, dia pun akan tetap baik-baik saja tanpa mereka. Justru mereka lah yang tidak akan baik-baik saja tanpa Lany. Pikirnya, saat berusaha menghibur diri.
Sungguh malang nasibnya, tak ada kebahagiaan yang permanen di hidupnya. Sambil tersenyum, tangan Lany terus bergerak, sibuk membuat minuman yang bisa menghangatkan tubuh.
“Kamu tidak boleh lemah, Lany! Bukankah selama ini rasa sakit adalah teman hidupmu, jadi untuk apa bersedih hanya karena satu orang laki-laki menyakitimu!” Sambil duduk Lany bergumam untuk menguatkan hatinya.
Inilah definisi Cinta bisa membuat seseorang lemah. Ia bahkan pernah merasakan sakit yang lebih parah dam masih tetap kuat hingga saat ini. Dia tak ingin lemah hanya karena seorang Alandra.
Sambil menghirup teh hangat dan menyantap roti, tangan Lany tergerak melihat Hp mahal milik Andra itu. Selama ini, ia memang tak pernah mengecek benda tersebut.
Tangan Lany tergerak terus memeriksa semua, namun ia tak berhasil menemukan apa-apa di sana. Sebab kebanyakan aplikasinya memakai pasword kunci. Itu membuat Lany kembali menghela napas. Bahkan di galeri pun, ia sama sekali tak menemukan foto-foto penting di sana. Hanya beberapa foto pemandangan saja.
__ADS_1
“Terus gunanya kasih Hp ini untuk apa?” Lany mengela napas, mulutnya terus mengunyah roti selai coklat itu. Ia tak lagi perduli dengan rasa sakitnya. Yang jelasnya, sekarang dia ingin menikmati makanan tanpa meratapi kesedihan tak berguna itu.
“Dari sini saja sudah ketahuan, kalau kamu memang nggak mau aku tahu tentang hidup mu." Lany tersenyum sinis, mengutuki diri yang sempat menjatuhkan harapan pada Andra.
Saat telinganya mendengar suara langkah, ia cepat-cepat meraih Hp tersebut dan memasukkannya ke dalam saku hodie.
Ia menoleh sekilas pada Bapak yang mendekat dengan menampakkan senyum ramah.
Cih, bahkan bisa dihitung dengan jari, berapa kali Bapak tersenyum padanya.
“Mau teh?" tawar Lany yang masih berusaha ramah sambil menggeser kotak roti ke depan Bapak, saat sudah duduk di depannya.
“Makan saja, Bapak sudah tadi."
Lany mengangguk sambil terus menggigit rotinya. Ia sudah memakan lebih dari tiga potong roti. Sepertinya ia benar-benar lapar.
“Bagaimana usaha Rumah makan mu?"
Lany melirik sekilas. Menurutnya, sang Ayah sedang kesambet. Sehingga untuk pertama kalinya ia meluangkan waktu hanya untuk sekedar mengobrol dengannya. Oh, sungguh moment yang langka. Apakah ia harus mengabadikan itu? Apakah dia harus berbangga diri? No! Kali ini Ia tak mengharapkan itu. Bagi Lany, Bapak justru mengganggu waktunya. Saat ia benar-benar ingin menyendiri, tapi pria paruh baya itu malah menghampirinya dengan berlagak sok manis. Cih!
“Alhamdulillah lancar.” sahut Lany cuek.
Bapak pun terus menanyakan banyak hal, meski Lany hanya menjawab apa adanya. Jawabannya pun terlalu singkat, padat dan tidak jelas. Namun Bapak sama sekali tak marah, Pak Tua itu justru makin bersemangat menyempatkan waktu untuk mengobrol dengannya.
“Oh iya, Alandra kok belum pulang? Bapak sudah lima hari di sini, berarti dia pergi juga sudah lima hari, ya?"
Mood Lany benar-benar terjun bebas saat Bapak kembali menyebut nama itu. Namun sebisa mungkin ia menahan diri dan tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ia tak ingin orang lain tahu kejadian yang sebenarnya, sekalipun itu ayahnya.
“Iya."
“Memangnya ada urusan apa sampai selama itu?” Tanya Bapak lagi, sambil memperhatikan raut wajah Lany yang terlihat datar.
Ingin rasanya Lany berteriak, ia benar-benar merasa risih dengan sikap bapak yang tumben-tumbennya bertanya seperti wartawan.
Lany yang mulai jengah hanya memutar mata malas, baru dia ingin menjawab. Telinganya sudah mendengar suara seseorang yang memberi jawaban, membuat matanya melotot seketika.
“Ya pastilah Andra pergi, hubungan yang berawal dari kesalahan kan pasti tidak akan bertahan lama!" Celetuk Elsa yang tiba-tiba muncul tanpa wajah berdosa dan menarik kursi di samping Bapak.
__ADS_1