
Setelah mandi dan bersiap, Andra menghampiri Lany yang tengah duduk di samping tas ransel milik Andra yang tadi sudah ia kemas ulang.
Lany menghela napas ketika Andra mendekatinya dengam senyuman menenangkan khas miliknya. Penampilannya sudah rapi dengan kemeja hitam dipadukan celana jeans yang tak lagi sobek dibagian lututnya. Ya, kali ini dia terlihat lebih rapi dari biasanya.
“Nggak apakan aku tinggal sendiri di rumah?" Andra meraih tasnya, dan langsung memakainya.
“Hmmmnt,” Lany menghembuskan napas berat, kepalanya dipenuhi dengan berbagai macam tanya tentang hal apa yang membuat Andra pergi mendadak begini. Sejujurnya ia begitu ingin menanyakan alasannya, namun ia enggan untuk bertanya sebab sudah tentu Andra tidak akan memberitahunya apapun. Pria yang katanya suaminya itu terlalu menutup diri darinya. Tentu itu membuat Lany segan untuk bertanya. Apalagi di awal tadi, Andra sempat mengatakan jika dia akan memberitahu jawaban atas semua pertanyaannya saat pulang nanti. Semoga saja itu benar.
Andra yang melihat Lany hanya menghela napas segera meraih tangan gadis itu dengan penuh kelembutan, masih dengan raut wajah yang sama. Selalu terselip senyum teduh di wajahnya.
“Maaf ya, aku belum bisa ajak kamu!" ibu jari Andra tergerak mengelus punggung tangan Lany, sorot matanya seakan enggan untuk meninggalkan gadis itu. Namun urusan mendesak itu membuat ia terpaksa harus pergi. Entah urusan apa, namun sepertinya cukup penting.
“Aku janji, begitu urusannya selesai aku langsung pulang secepatnya."
“Jaga diri baik-baik ya! Jangan lupa shalat, minta sama Allah biar selalu dalam lindungannya,” Pria pemilik senyum teduh dan menyejukkan itu terus menatap Lany.
Begitu menyadari sorot tajam mata Lany, Andra langgsung tersenyum sembari mengusap wajahnya kasar dan menggeleng-geleng kecil “Jangan lihat siapa yang menyampaikan, cukup dengar apa yang disampaikan," katanya yang mengira Lany mencebik karena mendengar ucapan religi darinya.
Andra terus menatap Lany yang masih saja membisu. Dan itu membuat seorang Lany menjadi sedikit aneh, gadis yang selalu berisik dan melayangkan protes setip saat padanya itu kelihatan sangat berbeda.
“Aku tau ilmu ku nggak seberapa, aku cuma mau kita perlahan sama-sama berubah," kali ini tangan Andra tergerak mengusap wajah Lany, membuat gadis itu kembali menghelan napas. Namun kali ini tangannya terangkat menyentuh tangan kekar suaminya yang masih menempel di wajahnya.
Andra tahu Lany ingin mengatakan sesuatu, ia menautkan kedua alisnya. Bersiap menunggu apa yang akan Lany katakan.
“Bukan itu!” Lany menggeleng dengan wajah yang masih menyimpan banyak tanya dalam diri.
“Sebenarnya kamu mau kemana sih?" tanyanya dengan perasaan menahan sesak. Entah mengapa Lany merasa Andra akan pergi meninggalkannya dan tidak akan kembali lagi. Jika itu benar terjadi, sungguh ia tak akan menerima itu semua. Lany tidak rela jika pria yang memaksa masuk dalam kehidupannya itu harus pergi begitu saja setelah berhasil membuatnya merasakan sesuatu yang sulit diungkapkan. Ibarat kata, Lany tak rela jika dirinya ditinggal Ayang pas lagi sayang-sayanya.
“Kamu nggak lagi berniat buat ninggalin aku kan?" katanya lagi dengan tatapan galak khasnya jika sedang menatap Andra dalam perasaan geram.
Andra kembali menggeleng, kali ini ia tersenyum lebar. Menampakkan jejeran giginya yang rapi dan lesung pipi sedalam sumur itu begitu kentara.
“Negatif thinking nih ceritanya?"
“Ya, bisa aja kan kamu ngelakuin itu?" sergah Lany sambil memutar mata malas. Ia dibuat jengah dengan Andra yang malah menertawai ucapannya.
“Pakaiaan aku kamu yang siapin loh? Masa iya aku mau ninggalin kamu, pakaian ku nggak ku bawa semua?” tutur Andra sembari bergerak memperlihatkan tasnya yang memang tak begitu besar. Karena tadi ia hanya menyuruh Lany mengemas pakaian seperlunya saja
Lany masih enggan menjawab, rasanya ia begitu sulit memercayai ucapan Andra. Dadanya masih saja terasa sesak, memikirkan segala kemungkinan penyebab pria itu pergi. Hmmmnt, beginilah resiko menikah dengan orang asing. Bahkan ia tidak tahu apa-apa tentang kehidupan suaminya itu. Rasanya begitu aneh jika seorang yang sudah menikah namum masih menyimpan banyak rahasia dari pasangannya. Namun tak ada yang bisa Lany lakukan, sebab ia pun sudah merasa dirinya mulai terjebak dalam hubungan ini. Sulit untuk melepas diri.
“Kamu mau jaminan apa biar bisa percaya kalau aku nggak bakalan ninggalin kamu?” Kali ini Andra terlihat begitu serius, tak ada lagi senyuman yang biasanya mengiringi disetiap ucapannya.
__ADS_1
“Kamu mau aku nyerahin KTP ku?" Senyum itu kembali terselip di wajahnya “Tapi itu nggak mungkin kan, KTP harus dibawa," katanya yang menjawab pertanyaannya sendiri.
“Aku mau serahin buku nikah juga nggak mungkin, karena orang kabur tanpa bawa buku nikah juga bisa 'kan?" Sekali lagi Andra masih bermonolog seorang diri. Mengatakan berbagai kemungkinan yang bisa meyakinkan Lany jika ia tidak akan meninggalkannya.
Melihat Lany si gadis super aktif yang biasanya nyerocos seperti ibu-ibu kompleks hanya diam seribu bahasa, membuat Andra menghela napas.
“Gini aja deh, kamu pegang ini sebagai jaminan.”
Lany mengernyit heran saat Andra mengeluarkan hpnya yang bisa dilipat itu dan meletakkannya di tangan Lany.
“Eneng tau kan, kalau hp ini harganya mahal?"
Lany yang tak seperti biasanya pun hanya mengangguk mengiyakan, membuat Andra tersenyum.
“Jadi aku nggak bakalan kabur dong, bisa rugi aku kalau kabur ninggalin Hp semahal ini."
Kata-kata Andra berhasil mengukir seulas senyuman di wajah Lany yang sedari tadi diam membisu. Ya, Lany memang merasa ada kelegaan tersendiri setelah mendegar perkataan Andra yang terakhir.
Jantungnya semakin dibuat berdetak tak karuan saat Andra menariknya ke dalam dekapan hangat yang selalu memberinya kenyamanan, meski terkadang ia harus menahan desiran aneh dalam dirinya akibat sentuhan Andra.
“Aku pergi sekarang, ya!" tangan Andra tergerak menangkup wajah Lany, membuat pandangan mereka bertemu dan beradu sepersekian detik.
“Mau aku antar?" ujar Lany menawarkan diri sambil menahan air matanya yang sudah menggenang. Ia benci saat dirinya terlalu mudah menangis hanya karena hal seperti ini. Namun ia benar-benar dibuat bingung, -cowok aneh- yang sempat ia tolak niat baiknya itu berhasil membuat hatinya tidak baik-baik saja. Rasanya ia seperti kembali pada kejadian masa kecilnya. Saat dimana Ayah memisahkannya dengan Ibu. Lany kecil saat itu benar-benar rapuh kehilangan sosok ibu yang sampai sekarang tak pernah ia temui.
“Makasih tawarannya, tapi tadi udah pesan mobil travel yang akan jemput ke sini."
Lany sedikit kaget mendengar penuturan Andra. Sejak kapan suaminya itu memesan tumpangan? Pasalnya sejak pertengkaran mereka tadi, Lany sama sekali tak pernah melihat Andra memegang Hp. Ya, sempat sih, tapi hanya beberapa detik. Tentu waktunya tidak akan cukup untuk memesan tumpangan online.
Namun segala tanya dan keheranannya itu lenyap seketika saat suara kelakson memecah pikirannya. Ia terlonjak dan melepaskan diri dari Andra yang masih menempelkan bibirnya di kening Lany.
Andra tersenyum menatap wajah Lany yang masih terheran-heran.
“Mobilnya sudah datang, aku pergi ya!" Sekali lagi Andra mengecup kening Lany. Kali ini diakhiri dengan pelukan yang sangat mendebarkan. Bahkan Lany membalas pelukan Andra dengan tak kalah eratnya.
Setelah cukup lama berpelukan, Lany pun mengantar Andra keluar. Namun betapa terkejutnya mereka saat membuka pintu, ada Elsa si -Frozen Food- tengah berdiri sambil menenteng tas juga ada satu koper yang cukup besar di sampingnya. Ternyata klakson tadi berasal dari mobil yang Elsa tumpangi.
Lany tepuk jidat melihat kehadiran Elsa. Ia tak menyangka jika si -penyihir- benar-benar menyuruh Elsa pindah ke rumahnya.
“Hai, Lany dan Andra," dengan penuh percaya diri Elsa melambaikan tangan seperti Putri Indonesia. Kayak putri Indonesia gak tuh?
Belum usai perasaan sedih akibat Andra kini bertambah lagi satu masalah yang membuat kepalanya pusing. Tinggal dengan Elsa tentu akan membuat hidupnya semakin kacau balau. Is not god!
__ADS_1
Tatapan Lany beralih pada Andra yang juga sedang menatapnya, seolah tahu apa yang ia pikirkan. Andra lalu mengarahkan tangannya merangkul Lany, berusaha memberi kekuatan pada sang istri.
“Aku mau tinggal di sini, Lan. Pasti Mamak sudah kasih tahukan?" Sungguh Lany ingin menerjang wajah mengesalkan adikya itu.
Anak ini memang tidak punya malu! Dia selalu membangkang tapi juga bergantung hidup padaku! Lany memutar mata malas. Definisi buah jatuh tidak jauh dari pohonnya merupakan kata-kata yang cocok untuk Elsa dan Mamak. Keduanya tak pernah baik pada Lany tapi masih saja mengantungkan diri padanya, sudah seperti beban hidup bagi seorang Melany Larasati.
“Sekarang aku lega buat ninggalin kamu, soalnya sudah ada Elsa yang nemenin.” ucapan Andra yang memecah keheningan membuat Lany melotot nyalang. Ia kesal Andra membenarkan keberadaan Elsa.
“Eh,” Andra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sorot mata galak Lany seakan siap menerkamnya. Hmmnt, baru saja tadi dia senang melihat Lany berat merelakn dirinya pergi, tapi sekarang gadis itu sudah berubah galak lagi. Dasar Lany, moodnya sulit ditebak!
“Memangnya kamu mau kemana, Andra?" kali ini Elsa tak lagi tersenyum. Ia kembali menampakkan wajah merendahkan saat menatap Andra. Ya, semenjak tahu Andra datang dan melamar Lany dengan modal pinjaman. Ia tak lagi mengagumi ketampanan pria itu. Padahal sejak awal melihat Andra, ia sempat terkagum melihat ketampanan iparnya.
“Sopan-sopan lah sedikit, Elsa!” Lany menatap geram mendegar pertanyaan Elsa yang kedengaran begitu tidak sopan. Tidak apa jika selama ini anak itu tak pernah menghargainya sebagai kakak, tapi Lany merasa tak terima jika Elsa juga tak bisa menghargai suaminya.
Andra kembali mengusap punggung Lany, tatapannya seolah mengisyaratkan agar Lany tak mempermasalahkan hal itu.
“Dih, dimana salahnya?" Elsa memutar mata malas.
Pembahasan itu menguap seketika, saat sebuoh mobil berhenti tepat di depan rumah. Seorang pria berseragam datang menghampiri.
“Dengan, Pak Alandra?" tanya pria itu dengan sopan sambil membaca keterangan di layar Hp nya.
“Iya, saya sendiri." Andra yang tahu itu segera bergegas memakai sepatunya yang ada di rak samping pintu, kemudian mencuci tangannya di keran yang berada tepat dekat tanaman bunga. Andra beralih menatap wajah Lany yang kembali mendung diterpa kesedihan karenanya.
“Aku pergi dulu ya!" Andra kembali mendaratkan ciuman di kening Lany. Tak terhitung sudah berapa kali ia melakukan itu, akan tetapi sebanyak itu pula Lany tak pernah menolak seperti biasa.
“Kalau balik nanti, aku janji akan jawab semua pertanyaan kamu."
Perasaan sesak membuat Lany tak bisa berkata-kata. Yang bisa dilakukannya hanya mengangguk dengan perasaan sesak yang kian menjalar di relung hatinya.
Bulir bening itu menetes begitu saja saat Andra melambaikan tangannya dari mobil yang perlahan melaju. Wajah pemilik senyum manis yang setiap hari dilihatnya itu mulai menghilang ketika mobil Expander itu menghilang di tikungan ujung gang perumahan.
“Elleh, drama sekali!" Suara nyelekit Elsa membuat Lany langsung menyeka air matanya. Ia balas menatap sinis adiknya itu.
“Dulu saja sok-sokan menolak sekarang malah nangis-nangis pas ditinggal!" celotehnya lagi, membuat telinga Lany panas.
Elsa terkekeh “Tapi kamu pantas menangis sih, paling suami mu itu ndak akan kembali, Melany! Hubungan yang berawal dari kesalahan tidak akan bertahan lama.” sarkas Elsa sambil terus menatap rendah Kakaknya.
“Jaga mulutmu Elsa, kalau tidak mau ku usir dari sini!" ancam Lany sambil berlalu meninggalkan Elsa si -frozen- yang tidak tahu malu itu.
.........
__ADS_1
**Happy Reading!💕
Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya ya! Like, komen dan kalau bisa sekali-kali kasih Vote ya kakak-kakak yang budiman dan berakhlak mulia🤭**