My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 49 [Merasa Bersalah]


__ADS_3

Sekitar pukul satu dini hari. Elsa yang masih belum tidur karena sibuk nonton drakor, mendapat pesan yang memintanya untuk membuka pintu rumah. Tentu ia tidak langsung melakukannya. Elsa takut itu hanya jebakan dari orang yang ingin berniat jahat, apalagi pesan itu dari nomor tak dikenal. Suasana malam ditambah hujan deras yang mengguyur kota sepanjang malam membuat ia takut bertindak gegabah. Namun pesan yang sama, kembali terulang. Bahkan memintanya untuk segera buka pintu karena di luar sangat dingin. Orang itu kedinginan di luar.


Dengan perasaan takut, ia memberanikan diri keluar dari kamar dan memgintip dari balik tirai jendela. Betapa terkejutnya Elsa saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu.


“Andra?" lirihnya sambil berusaha memastikan apakah itu memang Andra atau justru hanya jelmaan hantu seperti di film-film. Oh No!


Elsa yang sangat yakin jika itu memang Andra, pun memberanikan diri untuk memutar kunci.


Begitu pintu terbuka, Elsa bisa melihat Andra tengah berdiri dengan tas yang tergantung di punggung, sama persis saat ia mau berangkat malam itu. Sedangkan tangannya menenteng dua paperbag. Elsa sempat tercengang melihat penampilan kakak iparnya itu, namun lamunannya pecah saat Andra mulai bersuara.


“Sorry, mengganggu tengah malam!"


“Tadi aku sudah menghubungi Lany, tapi nomornya tidak aktif."


“Mungkin sudah tidur, dari pagi dia tidak keluar kamar." Tutur Elsa yang mana langsung membuat Andra mengerutkan kening dan sejurus kemudian langsung beranjak masuk.


Hal itu membuat Elsa menggerutu sebal. “Ih, baru juga mau bertanya dia dapat nomorku darimana, eh main nyelonong saja.” omelnya sambil mengunci pintu dan kembali masuk ke dalam kamar.


Sementara Andra, dia yang sudah berada di lantai atas. Dengan perlahan membuka pintu, agar tak mengganggu Lany yang mungkin sudah tidur. Wajahnya berubah lega saat melihat sang istri tengah tidur meringkuk, seperti menahan dingin.


Dengan hati-hati Andra meletakkan tas dan paperbag ke lantai tepat di depan lemari. Kemudian ia berjalan ke sisi ranjang, tempat Lany tidur. Lama Andra memerhatikan wajah orang asing yang kini menjadi istrinya itu. Rasa bersalah karena tak memberi kabar kembali menguar dalam diri. Ia siap menerima amarah dari Lany, ini memang salahnya. Dia pantas mendapatkan itu.


Setelah cukup lama mengamati wajah Lany, Andra membungkukkan tubuhnya, kemudian memberi kecupan di antara leher dan pipi Istrinya.



“Kamu baik-baik aja kan, selama aku pergi?" bisik Andra saat bibir dan hidungnya menyentuh leher dan pipi Lany.


“Maaf, kalau aku belum bisa jadi suami yang baik.” Tangan Andra beralih memegang lengan dan memberi usapan lembut di kepala istrinya.


Ia sedikit terkejut saat merasakan suhu tubuh Lany begitu panas. Dengan wajah panik, Andra lalu mengarahkan tangannya menyentuh kening dan leher sang istri.


“Badan kamu panas banget, Lan." Andra yang mulai panik, segera berlari ke dapur untuk mengambil air untuk mengompres Lany.


Sama seperti Lany yang terkejut saat melihat kondisi dapur yang berantakan, begitu juga dengan Andra. Pria itu menghela napas saat melihat dapur seperti tak terurus. Namun tujuan utamanya bukan itu, Ia bergegas mengambil wadah dan mengisinya dengan air yang tidak terlalu hangat. Setelah itu ia kembali ke kamar dan mengompres Lany. Dengan telaten Andra merawat istrinya yang sedang demam.


“Maafin Aku, ya. Aku nggak ada di saat kamu seperti ini." Lirih Andra sambil terus memerhatikan wajah Lany. Perasaan bersalah kian mecuat di hatinya. Ia merasa menjadi suami yang gagal, tak bisa ada disaat Lany membutuhkan. Bahkan beberapa hari ini ia tak pernah mengabari wanita itu. Tentu Andra menyesali kebodohan yang tak bisa menepati janji untuk selalu memberi kabar hingga Lany sakit pun ia tidak tahu.


Sepanjang malam Andra terus merawat Lany dengan begitu telaten. Dia sama sekali tak menghiraukan rasa penatnya. Padahal dia baru saja melakukan perjalanan jauh, seharusnya dia beristirahat. Namun kondisi Lany tak memungkinkan untuk Andra bisa tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


Bahkan ia hanya duduk bersandar di sisi ranjang dengan tangan yang terus memegangi kain kompres di kening Lany.


Saat merasakan tubuh Lany bergerak, Andra kembali terjaga, padahal dia baru saja hampir terlelap. Dengan seksama Andra mengamati Lany yang perlahan mulai membuka matanya. Dia bisa melihat istrinya sedikit terkejut melihat keberadaannya di sana.


Lany berusaha mengumpulkan nyawanya, matanya masih menatap tak percaya dengan adanya kehadiran Andra di sana.


“Kamu." Dengan gerak cepat, Lany hendak beranjak dan mendorong tubuh Andra. Namun secepat kilat Andra bisa menahan tubuhnya agar tetap pada posisi semula.


“Jangan banyak gerak.” Tangan Andra mengarahkan tubuh Lany agar kembali berbaring “Kamu lagi sakit. Marahnya nanti aja ya, kalau sudah sembuh."


Lany dibuat terpaku, wajah yang coba dia kubur dalam ingatannya itu, justru kembali hadir. Membuat Ia seolah hilang kesadaran saat Andra menatapnya dengan penuh kelembutan dan membenarkan posisi kain kompres di keningnya. Tatapannya masih sama, sejuta kelembutan san ketenangan yang mampu membuatnya terjebak pada perasaan yang membuatnya berharap lebih.


Namun, Lany yang tak ingin kembali jatuh di lubang yang sama, langsung menepis tangan Andra. Dia tidak akan luluh hanya karena Andra memperlakukannya seperti ini.


“Jangan sentuh aku!" desis Lany sambil mendorong tubuh Andra agar menjauh dari sisinya.


Tanpa basa-basi, Andra menuruti keinginan Lany. Meski hanya bergeser sedikit saja.


“Minum dulu ya!" Tawar Andra saat melihat Lany masih menatap kosong dengan raut wajah menahan kesal. Ia tahu pasti Lany akan bersikap seperti ini, itu wajar dan dia akan berusaha memahami. Karena ini memang salahnya.


“Jangan sok baik!” ketus Lany saat Andra hendak membantunya untuk bangun.


“Aku nggak butuh bantuanmu! Aku bisa sendiri.” Dengan kasar Lany merampas gelas air dari tangan Andra. Kemudian memberikannnya secara kasar, lalu berbalik membelakangi Andra.


“Tidurnya terlentang, ya. Biar bisa dikompres, biar demamnya cepat reda.” Bujuk Andra sambil menatap Lany yang masih membelakanginya. Namun gadis itu sama sekali tak bergeming.


Melihat Lany yang seperti itu membuat Andra terpaksa bertindak sedikit memaksa. Ia ingin agar Lany segera sembuh. Dengan cekatan, tangan Andra menelusup di bawah pinggang dan leher Lany. Kemudian perlahan membawa tubuh istrinya itu ke posisi terlentang.


“Andra!!" Pekik Lany tak suka.


“Maaf!" Seloroh Andra dengan wajah tanpa ekspresi “Aku cuma mau kamu cepat sembuh!"


“Jangan larang aku untuk melakukan ini. Izinkan Aku untuk merawat mu!" Lirih Andra sambil menutup setengah tubuh Lany dengan selimut.


Aku ingin menebus rasa bersalahku, Lan!


“Tidurlah, kamu butuh istirahat! Kamu bisa marahin aku sepuasnya kalau sudah sembuh." Andra hendak mendaratkan kecupan di pipi Lany, namun gadis itu menolak. Dia mendorong wajah Andra agar menjauh.


Andra sama sekali tidak marah dengan sikap Lany. Dia memaklumi itu, wajar jika Lany menolak karena masih kesal padanya. Pria itu melirik jam digital yang ada di atas meja. Jam sudah menunjukkan pukul empat lewat. Sebentar lagi subuh.

__ADS_1


“Tidur gih, Aku disini.” Andra berusaha tersenyum namun Lany hanya memutar mata malas, ia enggan merespon ucapan Andra.


Dengan mata terpejam, Lany bisa mendengar Andra beranjak dari sisinya. Sesaat kemudian, ia mendengar suara Andra yang meminta selimut.


“Pinjam selimutnya ya." Suara itu terdengar bersamaan dengan suara pintu lemari yang terbuka.


Lany merasakan Andra ada di sampingnya. Namun tidak di atas ranjang. Pria itu duduk melantai sembari menyandarkan kepalanya di samping Lany, bertumpu pada bantal sambil memegang keningnya yang terdapat kompres di sana.


Setelah itu ia tak lagi merasakan apapun, sebab kantuk lebih dulu menyerang. Membawanya kembali terlelap dalam keadaan tenang dan nyaman. Berbeda saat dia merasa sakit sebelum adanya Andra di sana.


.........


Andra yang sepanjang malam tidak memiliki waktu tidur. Memutuskan untuk sejenak memejamkan mata setelah memastikan Lany kembali tidur dengan nyenyak. Ia bahkan baru terlelap beberapa menit saat mendengar adzan subuh berkumandang dan bangun saat itu juga. Setelah memperbarui air kompres Lany, Andra bergegas untuk mandi dan melaksanakan ibadah subuhnya.


Begitu selesai, ia langsung membuka jendela kamar namun tak menyibakkan tirainya. Takut tidur Lany terganggu. Andra lalu turun ke bawah.


Ia masih saja di buat kesal dengan kondisi dapur yang seperti kapal pecah. Ini bukan salah Lany, ia tak menyalahkan istrinya. Selama tinggal dengan Lany, Andra tahu jika istrinya itu orang yang begitu cinta kebersihan. Jika tidak sakit, mungkin ia tak akan membiarkan dapurnya kotor seperti ini. Yang patut disalahkan adalah Elsa, adik Lany itu seharusnya bisa membantu kakaknya yang sedang sakit. Namu, lihatlah, pagi begini saja dia belum bangun. Elsa benar-benar berlaku seperti tuan putri.


Meski kesal Andra tetap membersihkan semuanya. Tentu dia tidak ingin Lany yang mengerjakan ini. Setelah selesai mencuci piring dan membersihkan dapur. Andra memesan makanan via grab.


Makanannya baru saja tiba, ia masuk setelah melakukan transaksi. Andra menatap datar pada Elsa yang baru keluar dari kamar mandi saat dia tengah menyiapkan makanan di meja makan.


“Andra!"


“Hmmmnt" Andra sama sekali tak mengalihkan pandangannya untuk menatap Elsa. Tentu itu membuat gadis itu kesal.


“Dapat nomorku darimana? Perasaan aku tidak pernah .. "


“Menurutmu?" Sela Andra memotong ucapan gadis itu, yang mana membuat Elsa mendengus kesal.


“Ih. Aku kan cuma mau tau!" ujar Elsa yang masih berdiri di sisi meja makan, masih menggunakan baju mandi dan handuk yang membungkus di kepala.


“Itu tidak penting," Andra melirik sinis, membuat Elsa mencebik tak suka “Yang terpenting itu, kenapa kamu nggak bantu Kakakmu beres-beres. Dia sakit dan kamu malah membiarkan cucian piring menumpuk seperti tadi." Sentak Andra tak suka, namun ia tetap berusaha mengendalikan diri.


“Ya, bukan urusanku lah! Selama ini kan dia terbiasa melakukan itu!" seru Elsa membela diri.


Andra dibuat menggeleng dengan jawaban adik iparnya itu. Wajar jika Lany tak senang saat melihatnya datang. Ternyata sikap adiknya sangat tidak tahu diri.


Andra lebih memilih diam dan berlalu sambil membawa piring makanan dan segelas air untuk Lany.

__ADS_1


__ADS_2