My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 81 [Pertemuan Dan Solusi]


__ADS_3

Disaat yang bersamaan Papi Ervan terlihat buru-buru keluar dari ruang keluarga setelah sejenak menyempatkan waktu untuk menyinggung soal pembahasan tadi . Opa dan Papi Andra itu sama-sama menegur oma, mami dan Dara yang tadi sempat memberi kesan buruk terhadap Lany.


“Bagaimanapun istri Andra dan seperti apa asal usulnya, kita harus tetap menerima dia. Jangan diperlakukan seperti tadi lagi! Paling tidak kita berikan sambutan yang terbaik untuk menantu kita, Mi!" Begitu kata Papi Ervan yang kemudian disahuti oleh papanya, opanya Andra. “Nggak baik perlakuin orang seperti tadi. Kalau kita sakitin dia, itu sama aja nyakitin Andra juga!"


“Apa yang Ervan katakan benar! Kalian Jangan menilai dan mengukur sesuatu hanya dari status sosialnya saja!” Opapun kembali menekankan hal yang sama agar ketiga wanita beda usia itu mau menerima keberadaan Lany. Namun sama sekali tak ada yang mengindahkan, Meski Mami dan Dara bisa saja hanya diam mendengar hal itu, tapi Oma selalu saja menyanggahnya dengan ucapan-ucapan yang membuat Opa dan Papi hanya memijat pangkal hidung, tak bisa meluluhkan keras hati oma.


“Gak bisa, gak ada tuh yang begituan!! Baru kali ini selera keluarga kita terjun bebas!” Begitu Oma menyanggah dengan wajah kekeh khas nenek-nenek pemeran antagonis seperti yang ada di sinetron ikan terbang. Sangat menyebalkan!


“Ini bukan soal harga menghargai, tapi soal keturunan dan citra keluarga Pah, Ervan! Kalau memang Andra nggak sama Riri paling tidak dia bisa menemukan pasangan yang sepadan dan selaras. Bibit, bebet, dan bobotnya harus jelas. Jangan kayak begini!” Sanggahnya yang masih tidak terima. Sebab bagi oma, Andra seharusnya bisa menemukan pasangan yang sesui. Paling tidak seperti Riana atau mungkin lebih dari itu.


“Iyakan Inka?" Pertanyaan Oma membuat Mami Inka yang sedari tadi terlihat pusing dan lebih banyak diam seketika menoleh. “Mama yakin kamu sependapat sama Mama kan?”


“Mama tau, kamu juga awalnya ngira Andra bawa mantu yang sepadan kan?" Tebak Oma.


Celetukan Oma benar-benar membuat Mami hanya mengangguk, sebab apa yang ibu mertuanya itu katakan benar adanya. Ia yang awalnya memang akan menerima istri pilihan Andra dengan sepenuh hati. Namun saat mengetahui faktanya, mood mami benar-benar terjun bebas. Ia kecewa sebab Andra malah salah pilih, seharusnya Andra bisa membuktikan pada Riana jika dia bisa mendapatkan wanita yang lebih dari segalanya. Begitu yang Mami inginkan, tapi kenyataan memang tak selalu sesuai keinginan.


Dan Papi Ervan yang tak bisa lagi meneruskan pembahasan yang tak akan ada habisnya ini lebih memilih keluar. Ia berniat untuk pergi ke kantor.


“Memang susah kalau berhadapan sama Inka dan Mama. Soal selera, pilihan, dan pendirian mereka selalu saja sama!" Gerutu Papi sembari terus melangkah diiringi dengan Ayah Novita, asisten pribadinya.


“Memangnya bapak benar-benar tidak keberatan?” Tanya Ayah Novita yang bernama Thomas.


“Tidak masalah, Mas. Selagi dia baik dan bisa bikin Andra bahagia kenapa tidak?.” Ujar Papi tersenyum seraya meringis mengingat bagaimana Andra dihianati oleh Rival, adiknya sendiri dan Riana, kekasihnya. Pastilah sangat menyakitkan. Membuat Papi tak mengharapkan hal lain selain kebahagiaan putranya.


Papi Ervan tahu Andra sangat terluka, bahkan ia sangat menyayangkan perbuatan Rival terhadap sang kakak Dan dalam kondisi seperti ini, rasa bersalah papi pada Andra semakin besar. Ia merasa seperti menggoreskan luka yang sama untuk yang kedua kalinya pada putra sulungnya itu. Mengingatkannya pada Andra kecil yang bereaksi marah dan kecewa saat tahu ia menghianati Maminya. Bahkan hingga Andra dewasa, putranya itu terkadang masih bersikap dingin karena masalah tersebut, meski begitu Andra tetap menghormati Papi sebagaimana mestinya dan Andra juga selalu menyayangi Rival seperti sayangnya pada Dara.


Oleh sebab itulah, papi selalu ingin berusaha memberikan yang terbaik pada Andra, sebagai bentuk penyesalan dan rasa bersalah. Seperti saat ini salah satunya, selain karena memang ia merasa Lany gadis yang baik, Papi juga melihat Andra bahagia dengannya. Terbukti dari cara Andra bertanggung jawab dan bagaimana dia memperlakukan istrinya itu. Hal itu membuat Papi makin yakin jika Andra sudah menemukan pilihan yang tepat.


“Ya, kata Novi juga begitu Pak. Katanya anak ini baik, pekerja keras dan apa adanya.” Sahut Pak Thomas, membuat Papi seketika tersentak dari lamunannya yang tengah memikirkan banyak hal. Terutama masalah Rival, sejak mengetahui soal perselingkuhan itu, Papi Ervan sama sekali belum bertemu dengan putra keduanya itu. Padahal ada banyak hal yang ingin ia katakan padanya.

__ADS_1


“Alhamdulillah kalau baik, Mas. Besar harapan saya agar rumah tangga mereka selalu bahagia.” Lirih Papi dengan wajah sendu, seraya melafalkan do'a untuk rumah tangga sang putra.


Langkah tegap itu sebentar lagi akan keluar dari pintu menuju emperan teras yang teramat luas. Namun, ketika baru saja menginjakkan kaki di sana, netra Papi di sambut dengan kehadiran mantan calon besannya beserta mantan calon menantu, Riana dan kedua orangtuanya hendak melangkah menaiki tangga granit yang menmepel pada lantai.


“Assalamaulaikum, selamat siang, Pak Ervan!””


“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang!” Papi tersenyum antusias menyambut tamu.“Kenapa baru datang sekarang sih? Dari sebelum makan siang udah ditunggu tapi malah gak muncul-muncul.” sambungnya berbasa-basi.


Ya,tadi sebelum kedatangan Andra dan Lany. Papi memang sempat berteleponan dengan Pak Santoso yang katanya ingin berkunjung, membicarakan suatu hal yang bersifat penting.


“Harus beriefing dulu tadi sebelum ke sini, maklum banyak yang harus dipersiapkan!" Celetuk Papa Riana. Meski terulas tawa, tapi rasa malu dan bersalah karena kesalahan yang Riana lakukan tetap terpancar nyata di wajahnya.


“It's okey, mas! Bukankah hidup itu tentang belajar, belajar dari kesalahan?” Papi dengan berbesar hati mencoba menyikapi semua dengan berlapang dada. Karena beliau sadar, disini bukan hanya Riana yang salah, tetapi juga melibatkan Rival yang membuat Papi berada diantara belah pihak yang benar dan salah sekaligus.


“Semua orang pasti pernah punya salah, bukan? termasuk saya!” Tangan Papi tergerak menepuk bahu Pak Santoso,“Gak apa, kita bisa belajar dari situ, kok. Semua bisa di perbaiki kalau kita mau berubah!”


Setelah sejenak berbincang, papi pun mengajak Riana dan keluarga masuk ke dalam. Mereka berbincang di ruangan keluarga bersama Mami Inka. Keluarga Riana ingin membahas dan minta maaf atas masalah yang terjadi. Berhubung masalah ini hanya tersebar diantara para ornag tua saja, jadilah pertemuan kali ini tidak diikuti oleh Oma dan Opa, termasuk Dara dan keluarga yang lain.


Perbincangan itu pun dimulai dengan Riana yang menangis sembari bersimpuh memohon maaf secara bergantian pada orang tua Andra. Meski Mami terlihat enggan menatap gadis yang pernah begitu ia sayangi seperti anaknya sendiri itu, tapi hal itu tak membuat Riana berkecil hati. Ia tetap memohon maaf dengan begitu tulus.


“Tante, maafin Riri ya, Riri salah, aku mengaku salah karena sudah nghianatin Andra!" Lirih Riana sesegukan yang mana membuat suasana menjadi haru biru dengan perasaan menyayat, meratapi kenyataan yang membuat kedua belah pihak batal menjadi keluarga seperti yang sudah direncanakan jauh hari sebelum kejadian naas ini.


“Riana menyesal sudah bikin malu!" Riana terus saja terisak meratapi kebodohannya.


Emosi yang sedari tadi Mami inka tahan akhirnya pecah juga. Tangisannya tak terbendung lagi, jika ia saja bisa merasa seseakit ini. Pastilah Andra juga merasakan hal yang sama waktu itu. Ia benar-benar tak bisa membayangkan hal ini. Apalagi Mami melihat jelas direkaman itu bagaimana Rival dan Riana bermesraan, meski tak berlebihan tapi itu cukup membuatnya muak sehingga sulit baginya membuka pintu maaf untuk gadis yang dulu ia sayangi seperti sayangnya pada Dara dan Andra. kejadian ini mengingatkan Mami pada penghianatan Papi di masa lalu.


“Maaf Ri,Jeng Rita dan Mas Santoso!" Mami meraih tisu, kemudian mengusap bukir bening di pipinya, "tapi tante benar-benar belum bisa maafkan kamu Riana. Hati tante terlalu sakit, tante masih butuh waktu!"


Mendengar ucapan Mami Inka, Mama Rita langsung memeluk wanita sebayanya itu. memberinya kekuatan sebab ia pun tahu betul ini bukan hal baru bagi Mami Inka. Ibu Andra itu jelas masih trauma pada hal-hal yang berbau perselingkuhan, membuat ia sulit memaafkan Riana. Mama Rita pun mencoba untuk mengerti.

__ADS_1


Pertemuan mengharu biru itu pun terus mengalir, hingga beralih pada pembahasan mengenai kelanjutan hubungan Riana dan Rival. Keluarga membuat keputusan untuk segera mengatur pertunangan, mengingat sejauh apa hubungan terlarang yang sudah keduanya jalani selama ini. Dan solusi terbaiknya adalah menyatukan keduanya.


“Aku setuju, Van. Semakin cepat mereka dinikahkan maka itu akan semakin baik.” Ucap Papa Riana mengambil keputusan untuk menyetujui.


“Masalahnya Rival gak tau dimana, anak itu belum pernah pulang sejak kejadian ini terbongkar!" Celetuk Mami inka, membuat raut wajah orang tua Riana nampak gusar.


“Riri tau Rival dimana, nggak?” Tanya Papi pada Riana.


Riri menggeleng dengan wajah yang masih sembab, “Nggak om, kami gak pernah lagi saling ngabarin sejak hari dimana aku bikin klarifikasi!”


Semua hanya menghela napas mendegar penjelasan Riana. Entah dimana dan apa alasan Rival menghilang seperti ini. Yang pastinya besar harapan keluarga agar Rival segera pulang untuk menentukan keberlangsungan hubungan mereka.


“Nanti biar anak-anak yang cari, kalau dia pulang kita akan atur pertemuan untuk membahas hal ini lagi!"


Sedangkan Riana hanya bisa terdiam pasrah, kini ia mulai memikirkan tentang Rival, kenapa pria itu tiba-tiba menghilang disaat seperti ini. Padahal sebelumnya ia selalu stay 24 jam disaat dirinya membutuhkan. Bahkan lebih gercep daripada Andra yang saat itu masih menjadi kekasihnya. Namun, mengapa kini ia seperti lenyap saat hubungan mereka sudah terungkap? Apa yang sebenarnya terjadi?


Meski sesungguhnya Riana masih belum bisa melupakan Andra sepenuhnya, tapi ia pun tak bisa menghindar untuk menolak hal ini.


Riana menghela napas, “Tadi di depan, aku liat ada mobil Andra, dia dimana? Aku pengen bicara dan minta maaf!”Ucapnya ragu-ragu.


“Iya, ada!”


“Andra lagi di kamar sama istrinya!”


“Hah? Apa!?"


Ucapan lugas mami Inka membuat Riana dan orang tuanya melongo seketika.


...🖤🖤🖤...

__ADS_1


__ADS_2