
Saat bumi terus bergerak mengitari matahari, hingga sumber cahaya kehidupan itu hampir berada di tahta tertingginya. Dengan cuaca yang cukup terik sebagai pembuka di awal tahun.
Andra mengajak Lany duduk di balkon sambil menikmati angin segar dan pemandangan hiruk pikuk, lalu lintas kota dari lantai enam tempat apartemen mereka berada.
Andra hanya jadi pendengar dan sesekali menyapa Dewi dan Riswan saat melakukan video call dengan istrinya. Lany kemudian melanjutkan acara tatap muka virtualnya dengan Ara, si keponakan yang tengah merengek karena tidak sempat ditemui sebelum mereka pergi.
“Om Andra jahat, bawa tante Lany tanpa ketemu aku dulu.” Protes bocah kecil itu saat Lany mengarahkan layar hp padanya.
“Maaf ya, waktu itu kamu lagi ngaji. Nanti deh, om sama tante Lany bawain mainan yang banyak kalau pulang ke situ.” Bujukan Andra itu berhasil membuat Ara jingkrak kegirangan dan tidak lagi marah.
Beberapa kali Lany juga mengarahkan hp pada Andra ketika Bapak dan Mamak ingin mengobrol dengannya.
“Sebenarnya gaji kamu sebanyak apa, kok sampai bisa sewa tempat tinggal semewah itu?" Pertanyaan yang keluar dari mulut mamak saat Andra memperlihatkan kondisi tempat tinggalnya pada Bapak, dan mamak yang melihat itu langsung mengambil alih hp guna mewawancarai Andra tentunya.
“Alhamdulillah cukup buat makan dan biaya hidup kami.” Jawab Andra sambil melirik Lany yang datang membawa semangkuk es pisang ijo yang mereka buat bersama, cocok menemani hari yang terik ini.
“Dia emang gitu, paling gercep kalo urusan uang dan hal yang berbau kemewahan.” Timpal Lany yang sempat mendegar pertanyaan si -penyihir- barusan. Andra sendiri hanya tersenyum samar mendegar ucapan sang istri.
Sambil menerima suapan demi suapan es pisang ijo dari Lany, Andra terus berbincang banyak hal dengan Bapak. Begitu selesai ia menyerahkan hp kembali pada Lany, kemudian masuk beberapa saat.
Begitu keluar, Andra menenteng gitar, ia menoleh sekilas pada Lany yang tengah fokus berbalas chat dengan Celin.
Dengan gayanya yang cool Andra duduk bersilang kaki, mulai menstel senar gitar dan memetiknya satu persatu, mengahasilkan nada yang begitu indah dan syahdu. Hingga membuat Lany langsung menoleh pada Andra yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum.
Tatapan Lany sama sekali tak teralihkan, dia begitu menikmati lantunan lagu yang Andra bawakan, ditambah senyuman khas itu membuat Lany seakan terhipnotis dan tidak ingin mengalihkan pandangan dari wajah teduh nan menenangkan.
Namun Andra terpaksa menghentikan petikan gitarnya saat Lany memberinya kode untuk berhenti. Dikarenakan Lany harus menerima panggilan video dari Celin karena Lany tidak kunjung membalas chatnya. Jelaslah, diakan sedang mengamati pemandangan indah dari seorang Andra.
“Jahat banget sih!"
Sambil menopang dagu, senyum terselip di bibir Andra saat melihat Lany menyerngit mendapat amukan dari Celin.
“Udah jarang ngabarin, chat lama dibalas, ditelepon, angkatnya kayak tunggu antrean”
“Ya maaf, sensi banget bu! Lagi dapet ya?" Lany mencoba mencairkan suasana agar Celin tidak lagi marah. Omelan Celin sebelas duabelas dengan Lany, sama-sama membuat nyelekit.
“Nggak ku maafin, kamu tega nggak kasih kabar!” Pekik Celin dengan wajah marah.
“Hp ku hilang bestie....”
“Itu udah ada! seharusnya pas baru beli, langsung kasih kabar! Jangan begini, kalau bukan aku yang ngabarin kamu nggak inisiatif ngabarin. Jahat banget tau nggak."
“I'm so sorry my Celo, aku tidak sejahat yang kau pikirkan bestie.”
Obrolan panjang antara dua sahabat itu pun terjadi. Sementara Andra, kadang ia harus menahan tawa setiap kali melihat istrinya yang terbilang galak ternyata mati kutu menghadapi omelan dari Celin, si bartender yang pernah menjadi sumber informasinya untuk menemui Lany. Entah Lany sudah memberi tahu tentang pernikahan mereka atau tidak. Tapi Andra tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi gadis itu jika tahu ia dan Lany sudah menikah berkat bantuan darinya.
Namun Andra segera beranjak saat mendengar bell berbunyi. Dan wajahnya berubah seketika saat melihat siapa yang berdiri di balik pintu melalui smart lock. Tanpa membukanya Andra segera masuk ke kamar dan langsung menghampiri Lany yang masih asyik berbincang dengan Celin.
Lany mengerutkan kening saat melihat Andra yang tadi hanya memakai kaos kini sudah menggunakan kemeja flanel sebagai outernya. Dan yang paling membuat Lany heran adalah saat Andra menutup layar kamera menggunakan telapak tangan dan mendaratkan satu kecupan di kening dan satu ******* kecil di bibirnya.
“Aku pergi dulu ya, nggak lama kok.”
Lany hanya terpaku mendapat sentuhan dadakan, Andra kelihatan buru-buru dan langsung menghilang di balik pintu. Entah kemana suaminya akan pergi. Tapi rasa yang Andra berikan barusan, membuat jantung Lany berdetak kencang.
“Lan, kamu kenapa bengong? Itu tadi layarnya kenapa gelap?"
Pertanyaan Celin membuat Lany tersentak.
“Eh, nggak. Tadi ketutup tanganku." Tentu itu menjadi alasan yang pas meski terkesan tidak masuk akal. Karena Lany belum siap jika Celin harus tahu tentang pernikahannya. Menjelaskan melalui telpon tidaklah mudah, itulah sebabnya mengapa sampai saat ini Lany masih belum jujur pada Celin, Ia hanya akan mengatakan semuanya saat Celin pulang nanti.
Selesai berbincang dengan Celin, Lany pun segera masuk. Betapa terkejutnya dia saat melihat Novi tengah duduk di sofa. Sejak kapan? Lany sendiri tidak tahu, mungkin sejak Andra pergi. Saking asyiknya menelpon dia sampai tidak menyadari ada tamu yang datang.
“Saya di suruh Pak Andra, temani ibu." Ujar Novi yang melihat wajah heran Lany.
__ADS_1
“Terus Andranya kemana?" Tanyanya.
“Nggak tau, bu. Saya cuma disuruh stay di sini."
Karena waktu sudah menunjukkan jam dua belas lewat, Lany memutuskan untuk menunaikan ibadah lebih dulu. Setelah menghadap pada sang pemilik kehidupan, barulah Lany menemui Novi di ruang keluarga. Ia menyempatkan untuk berbincang banyak hal dengan wanita yang katanya asisten dari suaminya. Ya, terdengar konyol memang! Tapi mau tidak mau Lany harus percaya karena Novi pun berhasil membuatnya yakin. Selain karena tidak ingin menambah beban pikirannya, sudah cukup ia dibuat pusing dengan identitas Andra yang masih samar. Lany tidak ingin memikirkan bagaimana seorang pelayan bar bisa memiliki asisten pribadi. Sangatlah membingungkan.
“Saya minta maaf ya, mbak. Waktu itu sempat berpikir yang tidak-tidak tentang kalian." Bagaimanapun juga Lany harus minta maaf karena sempat berpikiran buruk dan bahkan bersikap ketus pada Novi.
“Santai saja, bu, biasa terjadi."
“Kalau ada apa-apa saya siap jadi teman curhat, butuh sesuatu kasih tau aja, pasti saya bantu." Ucapan Novi membuat Lany tersenyum, ia senang bisa punya teman baru di tempat ini.
Novi yang ternyata asyik dan ramah, langsung akrab dengan Lany. Bahkan kedua wanita itu tak sungkan-sungkan saling berbagi kisah, tentunya dengan Novi yang tidak akan bercerita apapun tentang Andra.
Berkali-kali Lany berusaha memancingnya untuk mengorek tentang Andra, tapi Novi selalu saja cepat tanggap dan menolak pertanyaannya dengan halus.
“Maaf bu, tapi saya tidak ada hak untuk menjelaskan itu."
Hati Lany langsung diterpa rasa kecewa yang mendalam saat itu juga. Rasanya begitu menyakitkan disaat Novi seakan menyembunyikan semua hal tentang Andra.
“Cari makan yuk, mbak. Saya yang teraktir, sebagai permintaan maaf dan peresmian pertemanan kita.” Ucap Lany memutuskan, tidak ingin terus memikirkan semua tentang Andra, ia lebih memilih mengajak Novi makan siang.
Novi yang mendengar itu langsung terkekeh “Nanti saya di dikira morotin ibu sama Pak Andra.”
“Tidaklah, soal makanan dia nggak sepelit itu.”
“Emang Andra segalak itu apa?”
“Enggak juga sih, tapi saya ... "
Belum sempat Novi menyelesaikan ucapannya, Lany sudah menyelanya.
“Aih, aku jadi makin penasaran, mbak Nov." Lany memberenggut, rasanya ia sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa Andra yang sebenarnya. Kenapa semuanya terasa begitu membingungkan.
“Bertanya aja kadang nggak di jawab, hmmmt” Lany mendesah lesu setiap kali mengingat bagaimana Andra masih menutup diri hingga saat inj.
“Dia emang seperti itu, bu. Tapi percayalah, aslinya dia baik, penyayang. Kalau udah sayang, jangan ditanya, dia tidak akan main-main."
Perbincangan itu bersambung hingga mereka keluar dari apartemen untuk berburu makan siang, karena desakan Lany yang katanya ingin makan di luar. Novi pun memutuskan untuk mengajaknya pergi ke restoran yang berada tepat di samping apartment, bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki sekitar lima meter.
Begitu masuk, Lany dan Novi memilih duduk di dekat jendela kaca.
“Mau makan apa, bu?" Tanya Novi sopan.
“Samaain aja menunya.”
Sesui request dari Novi, Lany menyantap semua makanan yang Novi pesan untuknya tanpa protes sedikit pun. Karena Lany bukan type orang yang cerewet soal urusan makan, dia menyatap apapun itu yang penting halal.
“Bisa kerja nggak sih? Ini baju gue jadi basah semua, go*blok banget! Nggak bisa jadi pelayan nggak usah kerja!"
Teriakan seorang wanita yang kelihatan begitu histeris membuat semua pengunjung termasuk Lany dan Novi menoleh ke sumber kegaduhan yang ada di tengah resto.
“Ma-maf mbak, saya nggak sengaja. Tadi kaki saya kesandung."
“Hallah, apapun alasannya. Lo udah bikin baju gue basah, njir!!" Tunjuk wanita yang emosi karena bajunya basah terkena juice yang pelayan berkaca mata itu bawa.
“Nih, rasain.”
“Ahkkk..”
Lany dan semua menyerngit saat melihat wanita itu menyiram si pelayan menggunakan secangkir cofee yang tidak terlalu mengepulkan asap, jelas itu masih mengandung kadar panas, meskipun tak seberapa. Lany yang melihat seseorang diperlakukan seperti itu merasa tidak terima. Dia seperti berkaca pada dirinya saat di masa lalu, dimana dia tak mampu melawan setiap kali si -penyihir- bersikap seenaknya, tak jarang menyiramnya seperti tadi.
“Mau kemana, bu?"
“Mau ke sana.” Lany tak mengindahkan larangan Novi yang mencegahnya menuju sumber kerusuhan. Novi sampai bertanya-tanya dengan apa yang ingin Lany lakukan. Novi takut jika terjadi sesuatu pada Lany yang bisa membuat dia kena semprot Andra.
__ADS_1
“Heh, mbak. Jangan seenaknya dong!” Cebik Lany yang langsung melerai pertikaian antara pelanggan dan pelayan yang sama-sama basah kuyup itu.
“Ini siapa lagi, ikut campur masalah orang." Ketus wanita dengan penampilan necis, dengan paras cantik tapi kelakuan nauudzubillah.
“Dia memang salah, tapi seharusnya mbak tidak siram pake cofee hangat kaya tadi.”
“Napa lu yang ngegass sih, anjir?? dia salah, kenapa lu bela?”
“Tapi dia nggak sengaja!" Sentak Lany tidak mau kalah.
Adu mulutpun terjadi, hingga melibatkan security untuk melerai perdebatan yang sedikit lagi akan menuju babak jambak-menjambak dan berakhir dengan kepergian si cewes necis sambil mengomel.
Lany sama sekali tidak merasa puas, saat pelayan wanita yang menurut Lany tidak seharusnya diperlakukan seperti tadi justru mendapat amukan lagi dari atasannya. Ini sangatlah tidak adil.
“Lain kali hati-hati dong, kita bisa kehilangan pelanggan kalau kamu seperti itu.” Sementara si gadis berkacamata itu hanya menunduk.
“Ini tidak adil! Dia juga manusia biasa yang bisa salah. Kehilangan satu pelanggan kayak orang tadi juga tidak akan bikin anda jatuh miskin!" Ucapan Lany diakhiri dengan amarah si pria yang merasa Lany terlalu ikut campur.
Novi yang melihatnya hanya tepuk jidat, tak menyangka istri Andra itu bisa bersikap jadi pembela seperti ini. Entah apa yang Andra katakan jika tahu istrinya baru saja beradu mulut dengan dua orang sekaligus.
Sementara Lany yang merasa kasihan melihat pelayan yang terus menahan sakit segera mengajaknya ke klinik.
“Ikut aku yuk, nanti lukamu makin parah kalau nggak diobati." Bujuknya lagi, rasa iba membuat ia bersikeras ingin membantu wanita itu.
“Nggak usah mbak, ini nggak apa-apa kok." Gadis itu menolak niat baik Lany.
“Udah ayo, tempat tinggalku di situ." tunjuk Lany pada gedung apartemen “Tenang aja, aku bukan orang jahat.”
Setelah sedikit dipaksa, akhirya gadis berkaca mata itu mau ikut dengan Lany.
”Ohiya, nama kamu siapa?" tanya Lany begitu selesai mengobati ruam akibat terkena cofee hangat tadi. Bahkan ia juga meminjamkan baju ganti pada wanita yang belum dikenalnya itu.
“Rapunzell ... eh maksudku Ziel." Wanita itu kelihatan gugup, seolah baru saja melakukan kesalahan.
Namun ekspresinya justru membuat Lany terbahak-bahak, lebih tepatnya tertawa karena baru saja mendegar nama yang unik.
“Beneran, nama kamu Rapunzell?" Tanya Lany tidak percaya.
“I-Iya." Wanita itu masih gugup seraya membenarkan kaca matanya.
Tawa Lany yang makin pecah membuat gadis itu bertanya “Kenapa? Ada yang lucu?"
“Iya, sedikit, setauku Rapunzell itu tokoh disney yang rambutnya panjang, ternyata di dunia nyata ada juga Rapunzell dalam versi modern gini.”
Ucapan Lany membuat gadis itu ikut tertawa dan keduanya mulai larut dalam obrolan, seolah sudah lama saling kenal.
"Jangan salah, nama Ibuku nggak kalah uniknya, pake nama tokoh disney juga loh".
“Oh ya?" Tanya Lany tercengang, dengan senyum mengembang.
“Iya, namanya Cinderella." Jawaban gadis bernama Rapunzell itu membuat Lany tertawa terpingkal-pingkal. Ia seakan melupakan segala tentang Andra yang belakangan mengganjal di hati dan pikirannya. Ia bahagia, dalam satu hari bisa punya dua teman sekaligus.
“Berarti sumbernya ini kakek nenekmu nih, mereka pasti dulunya fans berat serial disney ya.”
Dan obrolan itu terus berlanjut, bahkan Novi sudah kembali ke apartemennya sejak pulang dari Restoran.
...❤️❤️❤️...
Satu bab lagi Lany akan tau siapa Andra. So, stay tune, ya guys😘
Btw, kalian juga bisa intip cerita tentang Rapunzell di Novel Two Heart, One Love. Karya Kakak aku @Aryani_Aza. Ceritanya keren, konflik ringan + Romansa komedi, ya gays❤️❤️
Salam sayang dari Babang nyebelin yg masih nyimpen banyak rahasia ini🤣🤣
__ADS_1