
*Saat Cinta Bersemi*
Andra, sedikitpun pandangannya tak pernah teralihkan dari wajah Lany sejak hampir 30 menit yang lalu ia duduk di tepi ranjang, menunggu sang istri bangun dari tidur.
Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum samar ketika melihat orang yang ditunggu menggeliatkan tubuhnya. Senyuman Andra sama sekali belum pudar saat perlahan netra cantik di bawah kelopak mata tebal iitu mulai mengerjap dan perlahan terbuka.
“Hai." Sapa Andra pada Lany yang masih menampakkan muka bantal, mengumpulkan nyawa dengan wajah yang masih menempel pada guling.
“Hai.” Balas Lany dengan senyuman sedikit kaku saat melihat senyuman indah Andra di hadapannya.
Dengan cekatan Andra membantu Lany ketika melihat gadis itu bergerak untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang.
“Makasih," Lany tersenyum dengan sikap manis Andra.
Andra hanya mengangguk mengiyakan, tak lupa terselip senyuman khasnya yang begitu manis karena menampakkan lesung pipit yang membuatnya kelihatan begitu manis. “Gimana perasaannya ada di tempat baru?"
Lany yang tadi memerhatikan Andra yang bicara kini sedikit menunduk sembari menutup mulutnya sambil menguap dan menjawab pertanyaan Andra setelahnya, “Sama aja sih, nggak ada bedanya.”
“Kirain much better (jauh lebih baik), soalnya tidurnya sama aku."
“Dih, apaan." Lany yang tahu jika Andra tengah berusaha menggodanya hanya memutar mata malas, “Kan biasanya juga memang tidur sama kamu."
Andra hanya tersenyum simpul mendegar ucapan Lany sembari mengusap lembut pipi istrinya itu.
“Bikin sarapan bareng yuk," Andra menjeda ucapannya sambil menunggu respon Lany yang masih diam. “Atau mau mandi dulu? Aku sengaja tunggu kamu biar bisa masak bareng, Aku mau dimasakin sama kamu.”
“Rindu masakan istri." Dengan suara pelan, ia menatap Lany dengan mengedikkan mata.
“Bilang aja malas,” Celetuk Lany dengan senyum terkulum dan segera menyibakkan selimut dari tubuhnya.
“Ya udah aku cuci muka dulu,” Lany berlalu menuju kamar mandi yang berada di belakang lemari yang bediri kokoh di sisi kanan kamar apartemen yang cukup luas itu.
Di dalam kamar mandi, Lany tak henti-hentinya tersenyum sendiri saat menatap dirinya di pantulan cermin. Entah mengapa ia merasa hari ini jauh lebih baik daripada hari sebelumnya. Apalagi saat membuka mata, Andra menyambutnya dengan senyuman yang membuat ia lebih semangat memulai hari.
Begitu keluar dari kamar mandi, Lany langsung membuka tirai jendela. Ia sedikit terkejut saat melihat suasana kota Jakarta masih di selimuti gelap berpadu dengan kerlip lampu gedung-gedung dan jalan masih menyala di luar sana.
“Ya ampun, ini masih gelapa banget." Walau begitu, ia tetap membuka jendela yang berada di lantai enam. Sejuknya angin subuh langsung menerpa wajahnya. Hanya jendela kamar mereka saja yang baru terbuka.
“Ini jam berapa sih, memangnya kamu mau sahuran makan jam segini?!" Lany beralih menatap Andra yang masih duduk di sisi ranjang.
“Jam lima, udah pagi ini.” Tunjuk Andra pada jam digital yang ada di atas nakas “Aku lapar banget makanya bangunin kamu.”
“Ya udah, ayo."
Kedua sejoli itu kemudian pergi ke dapur. Saat melangkah menuju dapur, tak lupa Andra menunjukkan setiap ruangan yang ada di apartemen itu. Menurut penjelasan Andra, lantai enam tempat apartemen ini berada hanya terdiri dari dua unit saja, milik mereka dan milik tetangga sebelah yang Lany juga tidak tahu siapa pemiliknya, sebab Andra tak memberi tahu.
Bahkan Lany sempat terkejut dan menyeletuk apakah biaya apartemen ini cukup murah hingga suaminya bisa menyewa satu unit yang cukup mewah dengan privasi yang terbilang oke dan hanya memilik dua unit saja di lantai ini.
“Pasti ini harga sewanya mahalkan, fasilitasnya memadai begini."
“Gaji kamu berapa sih sampai sewa apartemen begini?” Tanya Lany yang sama sekali tak digubris oleh Andra.
Tapi Lany sama sekali tak mempermasalahkan itu, dia lebih memilih mengamati tiap sudut ruang yang di dindingnya terpajang begitu banyak pigura berisikan gambar-gambar pemandangan indah, ada juga yang tidak asing bagi Lany, karena beberapa diantaranya pernah ia kunjungi saat berlayar dulu dan ada pula beberapa poster gambar dari pemandangan lokal dalam negeri.
“Yang ini apa?" Tanya Lany saat Andra melewatkan satu ruang dan tak menunjukkannya pada Lany.
__ADS_1
“Itu Gudang."
Puas memberi penjelasan dan mendengar penjelasan, kini Lany dan Andra sudah berada di dapur. Andra yang katanya ingin dimasakkan oleh Lany hanya duduk diam sambil melihat Lany yang tengah membuka kulkas. Namun Andra sedikit heran saat Lany kembali menutup kulkas dengan wajah mendelik.
“Kenapa?"
“Gak ada yang bisa di masak, kulkas kamu kosong gini." Lany kembali membuka kulkas lebar-lebar.
Andra yang melihat itu hanya terkekeh sambil tepuk jidat, Ia lupa jika tiga bulan terakhir ini ternyata dirinya tidak tinggal di sana. Andra kemudian berdiri dan membuka kitchen set di depannya.
“Cuma ada ini," Ia menunjukkan dua buah mie instan pada Lany sambil mengecek tanggal expirednya, apakah masih layak konsumsi atau tidak “Ini aja, nggak apa kan?”
“Kok tanya aku, kan yang mau makan kamu.”
“Kita Lan, bukan cuma aku.” Ucap Andra membenarkan “Atau mau ikut aku cari makan di bawah?”
“Udah nggak usah, ini aja dulu. Nanti kamu keburu mati kelaparan.” Lany meraih dua bungkus mie dengan tawa mengejek.
Andra yang melihat itu merasa senang sebab Lany terlihat betah berada di sana. Ia pun lalu ikut membantu Lany mempersiapkan wadah menu sarapan mereka pagi ini. Meski sederhana, tapi keduanya tetap menikmati dan memakannya semangkuk berdua dengan penuh suka cita.
“Maaf ya, hari pertama ikut aku, kamu malah ku kasih makan mie instan."
“Iya nih, kamu nggak modal banget." Seloroh Lany sambil mengulum senyum.
Andra yang tahu Lany hanya bercanda pun ikut tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Setelah sarapan keduanya lalu mulai berbenah. Andra membantu Lany memindahkan pakaiannya ke dalam lemari. Keduanya mengerjakan semua dengan begitu kompak. Seperti membuka lembaran baru, Lany menjalani kehidupan barunya bersama Andra dengan setulus hati. Jauh dari kata ketus, sebagaimana sikap Lany saat pertama bertemu Andra hingga awal pernikahan mereka. Meski kadang rasa marah itu menghampiri saat ia mengingat jika Andra masih menyembunyikan banyak hal.
Kadang ia sedih dan begitu penasaran, tapi Lany pun tak bisa terus memaksa Andra.
“Kapan mulai masuk kerja?" Lany membuka obrolan saat mereka baru selesai memindahkan seluruh barang ke dalam lemari dan beralih menyusun perintilan miliknya ke meja rias yang baru Andra pindahkan dari kamar sebelah.
“Nggak tau, mau puasin temenin kamu adaptasi sama lingkungan baru dulu.”
Bukannya menjawab Andra justru terkekeh mendengar ucapan Lany, “Janga dipikirkan! mending kamu siap-siap, kita pergi belanja.”
...****...
Saat matahari berada di tahta tertingginya, begitu terik dan panas menyengat kulit. Andra dan Lany masih berada di atas motor sport, menunggu lampu lalu lintas berubah warna jadi hijau.
Setelah beberapa waktu berkendara, akhirya Andra menghentikan motornya di pintu masuk sebuah pusat perbelanjaan ternama ibu kota, menunggu sampai beberapa motor di depannya benar-benar masuk ke area parkir khusus kendaraan roda dua.
“Mau belanja di sini?" Lany memiringkan wajahnya menatap Andra dan pria itu hanya mengangguk.
“Ih, jangan! Belanja di pasar aja kalau bisa. Biar murah, kita harus bisa hidup irit.”
Ya, Lany si gadis pekerja keras ini memang sering menerapkan sistem hidup hemat. Dia yang tahu bagaimana susahnya cari uang tak suka terlalu boros jika tidak ada kebutuhan mendesak. Apalagi dia jelas tahu betul jika harga barang di Mall jauh lebih mahal karena kualitasnya dan jenis barangnya juga menjamin. Tentu dia harus bisa mengajak Andra hidup hemat, mengingat pekerjaan suaminya dan dia masih memiliki utang pada bosnya. Oh, No, Lan! bisa-bisanya kamu masih mempercayai hal itu.
“Kok ketawa sih?" Lany mencubit perut Andra saat melihat suaminya itu malah terkekeh.
“Aww, kebiasaan banget sih, neng." Setengah meringis Andra mengusap perutnya “Kali ini nurut sama aku ya, jangan membantah." Tangan Andra mengusap wajah Lany "Sekalian jalan-jalan."
Lany yang mendapat sentuhan plus senyuman khas dari Andra langsung menurut seketika tanpa melayangkan protes seperti biasa.
Setelah memarkirkan motor, Andra menggandeng tangan Lany memasuki Mall. Terlebih dulu keduanya menyusuri lantai satu, mencari gerai bahan makanan dan sayur-mayur kemudian mengirim belanjaan mereka menggunakan jasa kurir sebagai alternatifnya, mengingat mereka datang menggunakan motor, tidak memungkinkan jika harus membawa banyak belanjaan.
Setelah itu Andra membawa Lany pergi ke lantai berikutnya untuk memilih beberapa aksesoris dan pakaian. Awalnya Lany sempat menolak dengan alasan berbagai hal, mulai dari harus menerapkan sistem hidup irit juga alasan masih punya banyak pakaian yang bisa digunakan. Namun Andra berhasil membujuknya.
Andra sendiri melakukan itu sebab merasa dirinya tak pernah memberikan sesuatu pada wanita yang sudah dia nikahi itu. Bukan tidak pernah, lebih tepatnya barang yang hendak diberikan pada Lany justru ketinggalan di rumah. Ya, saat di Palu waktu itu, Andra pernah membeli sebuah jam couple dan sweeter couple yang ada di paperbag. Tapi karena Lany sakit dan kondisinya tidak memungkinkan, ia lupa memberikannya pada Lany. Bahkan Andra sampai melupakan barang itu di sana.
__ADS_1
“Yang ini saja, mbak." Ucap Andra menetapkan satu pilihan pada kalung mungil dengan permata berbentuk pita yang sempat Lany tolak.
“Sini aku pakaiin." Meski terpaksa tapi Lany tetap membiarkan Andra menyematkan kalung di lehernya.
“Jangan boros-boros, ini mahal. Mending uangnya dipake cicil pinjaman ke bos kamu itu.” Ucap Lany sambil menatap permata kalung yang sudah tersemat si lehernya.
“Nggak ada boros-boros kalau sama istri sendiri.” Ucap Andra sambil menarik tangan Lany keluar dari gerai jewelry.
Lany sendiri sedikit merasa aneh dengan sikap suaminya saat ini. Meski begitu ia hanya mengikuti kemana Andra membawanya.
Kali ini Lany lebih banyak diam, dengan Andra yang lebih dominan mengarahkan dan menuntunnya. Meski begitu ia merasa begitu bahagia, ada perasaan yang tak bisa diungkapkan berdesir aneh di hati. Apalagi setiap kali Andra memperlakukannya begitu istimewa.
“Kok ke sini?" Tanya Lany heran saat Andra menganjaknya membeli karcis di outlet yang di sampingnya terdapat gambar wahana ice skating.
“Mau coba aja, kayaknya seru.”
Begitu selesai memasang peralatan yang harus digunakan. Sejenak Andra pergi meninggalkan Lany yang tengah menatap hamparan luas gelanggang es yang ada di dalam arena ring.
Lany menoleh pada Andra yang baru datang dan dengan wajah berbinar tengah menatapnya.
“Pakai ini.” Lagi-lagi Lany hanya tercengang saat Andra memakaikannya topi rajut berwarna ungu.
Diamnya Lany bukan karena ia tidak suka dengan perlakuan Andra. Akan tetapi, Lany hanya merasakan sesuatu yang begitu mendebarkan, seperti ada yang bermekaran di hatinya. Terlebih lagi, baru kali ini dia benar-benar menilai sikap Andra yang sesungguhnya. Lany yang sempat berpikir negatif jika Andra tidak akan sebaik ini saat sudah tiba di kotanya, nyatanya tidak seperti yang dipikirkan. Andra justru makin memperlakukannya dengan baik. Hanya Andra dan cuma Andra saja tempat Lany benar-benar merasa berbeda.
“Hey, kok bengong, neng?"
Lany segera tersadar saat Andra melambaikan tangan di hadapannya.
“Pakaiin juga dong." Lany segera memakaikan Andra topi yang sama, hanya beda warna saja.
“Mbak, nanti di foto ya, divideo juga kalau bisa," Lanya hanya tercengang saat melihat Andra dengan antusias menyodorkan hpnya pada wanita yang berada di luar ring.
Andra ingin mengabadikan moment kebersamaan mereka. Dan lagi-lagi itu mambuat perasaan Lany berdesir hebat. Ia bahagia sekali.
“Kamu bisa?" Tanya Andra saat mereka sudah berdiri di tengah arena dan Lany hanya mengangguk mengiyakan.
“Aku nggak bisa.” Andra tersenyum kikuk dengan kedua tangan yang mencengkram erat lengan Lany agar tetap berdiri seimbang.
Lany yang mendengar itu justru tertawa pecah. Bagaimana mungkin seorang yang tidak tahu, dengan percaya diri mengajaknya bermain di sini, itu sungguh membuat hati Lany tergelitik dengan sikap suaminya.
“Ya udah sini biar ku ajarain."
Keduanya lalu bermain ice skating dengan penuh canda tawa meski Andra harus jatuh berkali-kali dan membuat tawa Lany berulang kali pecah dengan jatuhnya Andra menjadi pusat perhatian pengunjung lain dan mbak-mbak yang mengabadikan moment itu.
Setelah keluar dari sana, Lany masih belum juga berhenti terkekeh.
“Sakit banget, ya?" Tanya Lany sambil menahan tawa dan Andra mengiyakan hal itu.
“Tapi seru sih,”
Dengan begitu romantis, Andra dan Lany melangkah menuju sebuah Cafe untuk mengisi perut. Namun belum sempat menginjakkan kaki di dalam Cafe, langkah keduanya terhenti saat Andra harus menerima telepon dan menjawabnya, “Iya, aku ke sana sekarang."
Rencana mengisi perut pun harus batal, dan harus Andra harus pergi tapi terlebih dulu dia pergi mengantar Lany kembali ke apartemen.
..........
__ADS_1
Salam sayang dari yang lagi main Ice Skating❤️✌️