
Lany, dia sangat merasa kesal setelah menerima telepon dari mamak yang sudah tahu semua tentang kehidupannya. Ibu tirinya sudah tahu jika ternyata Lany memiliki kehidupan yang layak di kota itu. Punya rumah dan bahkan punya usaha. Tentu itu membuat Mamak murka karena merasa di bohongi. Dan yang lebih parah lagi, dia menghasut Bapak untuk ikutan memarahi Lany.
“Anak mu itu punya rumah dan usaha diam-diam tanpa sepengetahuan kita!” begitu kata mama yang terdengar sedang mengompori Bapak saat menelpon dengannya. Tujuannya pasti agar Bapak memarahi Lany, tapi untungnya, kali ini Bapak terdengar membela dirinya dan itu sudah mampu membuatnya senang bukan kepalang.
“Elsa lihat semuanya Pak, anak mu ini memang keterlaluan! Bisa-bisanya dia menyembunyikan ini dari keluarga dan selama setahun memercayakan usahanya dikelola orang lain!" Mamak Masih terdengar mengompori.
“Itu bukan punya ku! Itu memang punya mereka, aku cuma numpang.” Lany masih mencoba berbohong, tentu ia harus melakukannya untuk menyelamatkan ketentraman hidupnya. Bukankah tak apa jika melakukan kebohongan untuk kebaikan? Ya, Lany pernah mendengarnya. Dan sekarang ia mencoba melindungi diri dengan itu.
“Diam Kamu, Melany!” Mama menatap nyalang dari panggilan video “Pak, ayo marahi anak kurang ajar itu!” Si -penyihir- lucknut itu terus mengguncang tubuh bapak. Berusaha agar suaminya itu menurutinya dan memarahi Lany.
Namun tak di sangka, untuk yang pertama kalinya setelah sekian tahun. Akhirnya bapak membelanya.
“Ya sudahlah Mak, kenapa ko ga susah sekali?” Baguslah kalau dia punya usaha sendiri, biarkan dia mandiri. Diakan sudah punya keluarga, jangan direpotkan terus! Bukan begitu, Melany?” Bapak terlihat menampakkan senyuman padanya sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Mamak yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Tentu setelah ini ia akan menjadi objek omelan Mamak. Hmmmmnt.
Ibu tirinya bitu terus saja mengomel dan mengatakan jika kemarin Elsa sempat melihatnya berada di petshop. Elsa yang merasa penasaran terus mengikuti Lany hingga ke taman bahkan sampai pulang ke rumah. Tentu Elsa begitu terkejut setelah menanyakan pada beberapa tetangga Lany jika rumah itu memang punya Lany sejak satu tahun yang lalu dan sempat di tempati oleh Riswan dan Dewi.
Ini bukanlah berita menguntungkan bagi Lany. Sebab ia tahu betul jika keluarga lucknutnya itu tahu, sudah pasti ia akan diperas habis-habisan. Impiannya terlepas dan hidup aman tanpa bayang-bayang keluarga itu kini telah sirna. Tentu Ia tak akan bisa lagi hidup damai sebab sudah pasti Si -penyihir- akan menuntut banyak hal darinya.
“Karena kamu sudah mentransfer uang lebih, jadi bulan ini kamu aman, Lany!" Lany mengernyit mendegar ucapan mamak. Padahal ia sama sekali tidak pernah mengirim uang sepeser pun padanya! Lalu siapa yang dia maksud?
“Ajak Elsa tinggal di rumah mu! Supaya tidak susah-susah bayar kos, jangan coba-coba menolak ya Melany. Kalau tidak, awas kau!” Belum sempat ia menanyakan perihal uang transferan yang dimaksud, si -penyihir senior- itu sudah memintanya menampung Elsa. Huh, astaga sungguh masalah yang berat!! Menampung Elsa -frozen food- bukanlah pilihan hidup yang tepat! Sudah tentu makhluk itu akan berbuat sesukanya dan dia tidak ingin itu terjadi.
Lany yang merasa kesal pun memutuskan pulang lebih awal. Rasanya ia ingin mengamuk saat itu juga.
“Aku pulang duluan ya, Wi!" begitu kata Lany saat pamit pada Dewi yang kelihatan begitu terkejut melihat wajah murungnya.
Dan begitu sampai di rumah, orang pertama yang dicarinya adalah Andra. Enthhlah! Mungkin setelah melihat wajah Andra Moodnya akan sedikit jadi lebih baik. Hmmmnt sepertinya dia sudah mulai bergantungan pada keberadaan suaminya itu.
“Hy Pushh?” Sapa Lany pada kucing barunya yang tengah jalan lengak-lengok di ruang tamu.
“Papa mu mana?” Lany hampir saja tertawa saat menyadari pertanyaannya, yang sudah tentu ditujukan pada Andra.
“Meoong, meong.. meong..." Dan kucing itu seolah mengerti, ia mengelus tubuhnya di kaki Lany kemudian segera melangkah seperti ingin menunjukkan dimana keberadaan Andra.
Dengan senyum merekah, Lany terus mengikuti langkah kucing yang diberi nama 'push' itu. Tak sia-sia ia pulang ke rumah, sampai rumah langsung mendapat hiburan seperti ini. Masalah mamak pun menguap seketika, digantikan dengan tingkah lucu kucingnya.
__ADS_1
Begitu sampai di lantai atas, dilihatnya Andra tengah duduk menghadap jendela kaca yang berada tepat di samping kamar mereka. Angin sepoi-sepoi yang masuk dari jendela menerpa tepat di wajah Andra yang terlihat tengah serius.
“Darrr..!” teriak Lany sambil menghempaskan tubuhnya di samping Andra, membuat Andra yang tengah memegang buku langsung menoleh padanya.
Andra menatap datar namun saat melihat raut wajah murung Lany, ia tersenyum “Kenapa?" tanyanya sambil meletakkan bukunya.
Lany menghela napas kemudian menunduk dengan wajah murung “Sekarang si -penyihir- tahu kalau aku punya rumah dan usaha di sini!”
Andra mengernyit heran, sama sekali tak paham dengan ucapan Lany “Maksudnya apa, neng?” Andra yang sebelumnya sudah tahu jika panggilan penyihir di sematkan untuk ibu Lany pun menanyakan maksudh ucapan istrinya itu.
“Memangnya selama ini dia nggak tahu kalau kamu punya rumah dan usaha disini?"
Lany hanya menjawab pertanyaan Andra dengan gelengan.
“Kok bisa?” tanya Andra dengan lugunya, dengan senyuman khas yang tak pernah pudar disetiap penuturannya, benar-benar -softboy-. Tentu itu berhasil membuat jantung Lany tidak baik-baik saja.
Membuat gadis itu hanya bisa menutupi kegugupannya dengan cara marah-marah. Sungguh cara yang salah.
"Kalau dia tahu itu artinya situasi ku nggak baik-baik saja! Dia pasti kerjanya minta uang mulu!" ujar Lany dengan setengah meringis. Ohh, sungguh kasihan.
“Aku tuh capek! kerja banting tulang terus dia bisanya cuma minta” Lany meghela napas berat "Belum lagi dia nyuruh anaknya buat tinggal di sini,” Lany mengusap wajahnya kasar. Sepertinya ia benar-benar menumpahkan kekesalannya dengan tanpa sadar mengadukan semua keluh kesahnya pada Andra.
“Sabar ya!” Andra mengusap lembut punggung Lany kemudian merengkuhnya begitu dalam “Aku janji kalau kita udah kaya kamu nggak perlu lagi repot-repot biayain hidup mereka. Aku yang akan gantiin kamu!” Andra mengusap puncak kepala Lany, berusaha menenangkan istrinya itu. Namun bukannya tenang, Lany justru makin dibuat geram dengan ucapan Andra yang baginya sama sekali tak memberi solusi. Amarahnya langsung tersulut ketika Andra menyebutkan kata -Kaya- sedangkan dia sama sekali tak bekerja.
“Bagaimana mau kaya kalau kamunya nngak pernah kerja, yang ada uang tabungan ku bisa habis untuk biayai hidup kita berdua.." Lany beranjak dari rengkuhan Andra kemudian memukuli paha Andra sebagaimana biasanya. Menjadikan Andra sebagai objek sasarannya, namun pria itu sama sekali tak pernah mengeluh atau bahkan marah sedikitpun. Dia selalu saja tersenyum menerima aksi brutal istrinya itu.
“Kalau mau kaya itu ya kerja! sedangkan kamu bisanya cuma ngomong doang tanpa adanya bukti! Bikin sakit telinga aja, tahu!” sunggut Lany kesal. Bagaimana tidak, Andra selalu menyorakkan kehidupan kaya namun hanya berdiam diri. Sama saja bohong! Memangnya ada orang yang bisa kaya tanpa bekerja? Ya kecuali melihara Something..
“Sabar ya, Neng cantik..” Andra masih mencoba menghadapi amukan Lany dengan senyuman memabukkan itu.
“Tunggu ya, Aku punya sesuatu!" Setelah sempat terdiam dan mengingat sesuatu, Andra langsung pergi ke kamar. Setelah itu ia sudah kembali dan menyodorkan sesuatu pada Lany yang mana membuat istrinya itu mengernyit heran.
”Dapat darimana?” tanya Lany penuh selidik sambil meraih benda tipis dan ringan itu, yang memiliki beberapa angka dan tulisan-tulisan kecil beserta sebuah kode chip dengan logo salah satu Bank ternama.
__ADS_1
Oh astaga! Lany bukanlah orang bodoh, Ia tentu tidak asing dengan benda tersebut. Ini adalah kartu kredit dengan limit yang sangat tingi. Very Fantastic!
Darimana Andra mendapatkannya?
“Dapat darimana?" tanya Lany dengan wajah datar.
Andra terlihat berusaha mencari alasan yang tepat “Emnnt waktu kerja di bar, banyak tante-tante yang suka ajak aku jalan terus di kasih beginian..”
What the hell?? Lany kian mengernyit heran. Pikirannya mulai bertraveling kemana-mana. Apakah itu benar adanya??
Tanpa sadar, jawaban randomnya itu menimbulkan reaksi tak terduga dari Lany yang langsung mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
“kamu jadi sugar baby gitu? berondongnya tante-tante? Terus Dibayar?” tanya Lany yang begitu terkejut mendengar kata 'TANTE' pikiran Lany langsung tertuju pada istilah 'Sugar Baby/SugarDaddy' atau bahkan berondong yang sedang marak dikalangan wanita atau pria yang bersedia dan menyediakan diri untuk saling mengisi waktu asal diberi uang. Oh, No Andra! Apakah itu pekerjaan sampingan mu?? Lany masih menatap penuh selidik.
“Kamu jalan sama tante-tante??” tanya Lany lagi
Sedangkan Andra, ia dengan ragu-ragu malah mengangguk mengiyakan.
“Ih Andra..!!" Lany memekik sambil melayangkan pukulannya “Pantas aja kamu nggak mau kerja, udah ada bekingan dari tante-tante ternyata!”
“Berarti selama ini kamu nidurin aku. kondisi kamu udah bekas tante-tante ya? iihh berarti kamu sering gonta ganti tante-tante!” teriak Lany tak terima, ia benar-benar percaya dengan ucapan Andra yang entah itu hanya bualan atau tidak. Yang pastinya ia merasa begitu ternodai.
“Kalau aku tertular penyakit kelamin dari kamu yang suka gonta ganti tante-tante gimana? Ahhh, aku gak terima Andra..” teriak Lany yang makin kesal. See! gadis itu justru memikirkan hal-hal tak terduga. Ini salahmu Alandra!
“Ini nih alasan aku nolak ajakan kamu buat nikah! Aku sama sekali belum tahu asal usul kamu! Kalau kayak begini aku harus gimana?" Lany menggerakkan tangannya dengan gestur menuntut jawaban. Ia begitu geram. Merasa Andra telah banyak menipunya, bahkan sangat merugikan hidupnya.
Andra yang tak menyangka jika Lany akan berpikiran seperti itu pun langsung menyelanya.
“Eh gak gitu, Lan. Nggak sampai tidur! cuma jalan. Iyaa jalan-jalan aja. Trust me!” Andra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Aduh, kenapa jadi begini sih..? Tragedi Kartu kredit yang membuat Andra tersudutkan. Membuat rencana menenangkan Lany dari masalah si -penyihir- malah berakhir seperti ini.
Lany tetap melotot marah, dengan wajah kesal. Ia terus melayangkan pukulan pada Andra yang kelihatan berusaha menghindar sambil menangkis pukulan dari istrinya itu.
“Tetap aja Ndra.. kalau aku sampai kenapa-kenapa awas aja ya!" Tuding Lany tak suka. “Iya kalau kita punya uang untuk berobat.. kalau kamu yang sakit nggak apa, aku sama sekali ngak perduli, asal bukan aku yang kena!"
__ADS_1