My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 63 [Love At First Sight]


__ADS_3

*Cinta Pada Pandangan Pertama*



Andra yang baru saja tiba di apartemen sekitar pukul sembilan malam, langsung berhenti melangkah saat pandangannya tertuju pada pemandangan di sofa. Seonggok tubuh tengah tidur meringkuk dengan lelap di sana. Bahkan layar tv di depannya masih menyala, menampakkan iklan secara bergantian di dalam sana.


Hal itu lantas membuat Andra menyunggingkan senyum tipis, ia berjongkok di sisi sofa sembari menatap wajah Lany dalam-dalam. Di kecupnya kening itu dalam waktu yang cukup lama, setelah puas mencium wajah istrinya ia pergi memuju kamar untuk mengambil selimut dan akan mengangkat Lany ke kamar setelah ia mandi. Namun, Andra dibuat terkejut begitu kembali dilihatnya Lany sudah bangun dan duduk tengah menatap tajam ke arahnya.


“Baru juga diambiln selimut, udah bangun aja, neng.”


Ucapan Andra langsung disambut timpukan bantal sofa oleh Lany.


“Loh, kok aku dilempar?" Dengan wajah heran, Andra tetap melangkah mendekati Lany. Begitu duduk, lagi-lagi Lany menyerangnya sedemikian rupa, tanpa bicara sepatah katapun.


“Hey, kamu kenapa?”


"Duh... Sakit, Lan." Andra melindungi diri dengan tangan sambil terus memohon agar Lany berhenti menyerangnya.


"Ih. Kamu jahat tau! Kenapa kamu semenyebalkan ini, hah?" Ketus Lany degan tangan yang terus bergerak memukul dan mencubiti Andra, hingga membuat suaminya itu terbaring di sofa sambil berteriak menahan tawa sekaligus pedih secara bersamaan. Cubitan dan pukulan Lany memberikan sensasi geli juga sakit.


“Udah dong. Ini geli sekaligus sakit, Lan!!”


“Kamu jahat, kamu menyebalkan!”


“Iya aku jahat, aku memang menyabalkan. Tapi aku nggak tau salahku dimana kalau kamu nggak ngomong." Racau Andra dengan setengah ketawa sambil meringis.


“Kenapa sih, neng? Aku ada salah apa, bangun-bangun langsung kesetanan begini?!" Andra menatap wajah Lany dengan tatapan serius sambil memeluknya agar tidak kembali melakukan penyerangan.


Sedangkan Lany, ia masih saja menampakkan tatapan menahan kesal. Tentu saja, dia kesal karena merasa Andra terlalu banyak berbohong dan selama ini telah melakukan pembodohan terhadap dirinya. Sangat menyebalkan, itu membuat emosi Lany tersulut dan ingin membantai Andra saat itu juga. Lany marah karena tahu fakta tentang Andra dari berita media, bukan secara langsung.


Setelah berusaha memastikan apa yang dilihatnya, Lany semakin dibuat lemas saat mendapati kenyataan jika Andra memang benar seorang pengusaha muda, meski tidak begitu banyak foto yang dia temukan, tapi hal itu berhasil memantik kekacauan dalam hatinya. Ia tak sanggup lagi melanjutkan penelusuran di internet, Lany lebih memilih menunggu Andra pulang dan menjelaskan semua. Hingg ia harus kembali terlelap lebih cepat karena Andra tak kunjung datang, lelap lebih dulu menyerangnya.


"Hey, aku ada salah apa lagi sampai kamu semarah ini?" Andra mendekatkan wajahnya pada Lany yang masih diam dengan tatapan kesal yang menggebu.


“Salah banyak! Banyak banget, Andra!!!"


Teriakan Lany membuat Andra menghindar sambil menyerngit, dia semakin dibuat tidak mengerti dengan situasi ini. Namun bukan Andra namanya jika tidak bisa menghadapi Lany dengan kepala dingin. Sesangar apa wajah yang Lany tampakkan, dia berusaha membalasnya dengan tatapan menenangkan.

__ADS_1


“Coba bilang salahku dimana! Biar aku tau dan bisa perbaiki. Jangan kayak gini, lihat badanku jadi merah-merah." Andra melepaskan tangannya dari tubuh Lany dan meyibakkan lengan kemejanya, separuh lengannya tampak memerah, begitu juga dengan bagian perut hingga pinggang. Semua merah bekas jejak cap tangan Lany. Poor Andra!


“Kamu bukan pelayan Bar, kamu Presdir disalah satu perusahaan BuminTara Group! Kamu anak dari pengusah ternama, namanya Ervano Mengantara, Kan!”


Ucapan panjang lebar Lany membuat Andra melongo, ingatan tentang wawancara sore tadi membuat ia bisa menebak dan sudah dipastikan Lany tahu semua karena menontonnya. Oh, Shiiit!! Sepertinya memang sudah tidak ada lagi yang harus disembunyikan.


“Kamu tau dari berita?" Tatapan Andra yang semula tegang kini berangsur melembut, bahkan tangannya tergerak mencoba merangkul Lany.


“Darimana lagi?" Lany menepis tangan Andra dengan sinis, dia kembali marah jika mengingat bagaimana Andra membohonginya selama ini. Rententan kejadian seperti benang kusut mulai bermunculan diingatan Lany. Soal voucher liburan Andra, hp, kartu debit dan bahkan masalah saat Andra pergi dan tidak mengabarinya seakan menemukan titik temu dan terjawab saat itu juga.


“Kenapa harus bohong? Kenapa nggak jujur aja sih?” Sunggut Lany, dengan tatapan mulai melunak melihat Andra yang hanya menunduk seakan menyadari kesalahannya.


“Aku cuma bingung menjelaskan semuanya darimana, Lan. Aku takut dibilang mengada-ngada.” Lirih Andra.


“Kalau aja waktu itu kamu jujur, pasti semuanya nggak akan serumit ini."


“Waktu itu aku suka lihat ekspresi marah kamu pas menolak aku ajak nikah karena pekerjaanku.” Lirik Andra dengan tatapan memicing, membuat Lany salah tingkah. Memang terdengar tidak masuk akal, tapi itulah yang Andra rasakan. Selain tidak suka mengumbar siapa dirinya, Andra juga dibuat tertarik dengan sikap ketus Lany yang saat itu malah menolak niat baiknya hanya karena alasan pekerjaannya seorang pelayan bar. Jika mengingat kejadian tersebut, ada perasaan berdebar luar biasa yang Andra rasakan.


“Ya... Aku nolak karena memang waktu itu aku belum siap menikah, lagi pula kita nggak saling kenal. Jelas ku tolaklah, aku nggak tau siapa kamu." Ucap Lany membela diri.


“But it's okey. Aku suka kamu apa adanya.”


“Dari situ juga aku tahu, ternyata kamu nggak sematre dan sejahat ucapanmu."


“Hah?" ucap Lany heran. Mengapa kondisinya justru berbalik begini, bukankah seharusnya Lany yang marah, kenapa Andra malah berbalik menyerangnya seolah Lanylah penyebab awal mula kebohongan Andra.


“Maksudnya apa nih? Kok malah nyerang balik." Cebik Lany tak terima, membuat Andra tersenyum kecil dengan wajah galak yang kembali Lany tunjukkan.


Namun Andra justru menariknya mendekat, memeluk tubuh mungil istrinya yang memiliki sifat galak dan tak tertebak itu. “Kamu nggak sejahat omonganmu yang kadang pedas nyelekit kayak bon cabe itu." Andra mendaratkan satu kecupan di pipi Lany.


“Kamu tulus dan baik, bahkan setelah menikah kamu mau menerima aku apa adanya. Walau terpaksa kamu tetap memperlakukanku selayaknya suami pada umumnya,” Andra menggantung ucapannya sambil menatap Lany yang tengah menunggu kelanjutannya “Ya, walaupun kadang galak.”


“Andra!" Senyum samar terulas dari wajah Lany.


“Itu cukup membuktikan kamu nggak sematre omonganmu!" Andra mendekap Lany penuh sayang, “Makasih sudah mau menerima aku yang cuma pelayan bar ini.”


“Ih, Bohongnya masih dilanjutkan juga..” Protes Lany tak suka, meski begitu dia tetap membalas pelukan Andra dengan tak kalah eratnya.

__ADS_1


Dan untuk yang kesekian kalinya, Andra bisa membuat Lany melunak dari amarah menggebu yang sempat menguasai dirinya. Meski masih banyak yang ingin Lany tanyakan, tapi penjelasan Andra ini mampu membuat perasaannya berbunga.


Lany masih terus berusaha mencerna fakta yang baru saja ia ketahui ini. Ia juga mengutuki kebodohannya yang percaya jika Andra hanyalah seorang pelayan bar. Bagaimana tidak, penampilan Andra yang biasa dan sederhana tidak ada kesan orang kayanya membuat siapapun akan sulit menebak.


Ya, selama ini dia terbilang bodoh, sama sekali tidak mempertanyakan bagaimana Andra pergi kerja setiap hari, berangkat pagi dan kadang pulang sore atau malam. Sedangkan setahunya, seorang pelayan bar tidak akan memiliki jadwal kerja seperti itu. Mereka semua punya shift kerja, sedangkan suaminya justru pergi setiap hari tanpa ada kata shift. Bukankah seharusnya itu sudah cukup mencurigakan dan bodohnya Lany baru menyadari semuanya sekarang. Ini semua tak lepas dari betapa lihainya Andra berkamuflase, setiap hari dia berangkat dengan penampilan biasa dan akan berganti pakaian formal saat di luar. Entahlah, mungkin di mobil atau saat di toilet. Tepatnya seperti pagi tadi, Andra yang jelas berangkat hanya menggunakan kemeja biasa, begitu dilihat di tv, penampilan suaminya sudah sangat rapi dengan jas yang melekat pas di tubuhnya.


“Eh, kok nangis." Andra merenggangkan pelukannya dan memegang bahu Lany, diusapnya bulir bening yang mengalir di pipi gadis galak yang seketika berubah jadi melow itu, “Jangan nangis!”


“Aku minta maaf kalau kelakuanku ini membuatmu sakit, Lan." Lirih Andra yang merasa bersalah.


Lany menatap Andra dengan perasaan yang sulit diungkapkan “Selama ini aku benar-benar nggak mempermasalahkan siapa kamu, Ndra."


“Iya, aku tahu, kamu terima aku apa adanya karena kamu sayang sama aku kan?" Ucap Andra dengan percaya dirinya. Beruntung Lany masih dalam mode sedih. Jika tidak, mungkin dia akan terkena omelan.


“Selama kamu bertanggung jawab itu sudah cukup, kaya itu cuma bonus. Tapi aku benar-benar nggak menyangka, Allah kasih aku takdir yang mengejutkan seperti ini..”


Andra hanya terdiam, berusaha menjadi pendengar yang baik untuk Lany.


“Aku memang bercita-cita mau punya suami kaya biar nasibku tidak berakhir cerai seperti orang tuaku. karena aku takut kalau menikah hubunganku berakhir hanya karena masalah uang, itu kenapa aku selalu bilang aku mau jadi orang kaya dan punya suami kaya.” Lany mengusap air matanya sambil meremas tangannya dengan terus bercerita jika ia benar-benar tak menyangka akan memiliki takdir semengejutkan ini.


“Saat aku benar-benar sudah tidak berharap punya suami kaya, Tuhan malah nunjukin semuanya seperti ini."


“Dari semua yang kamu miliki, kenapa malah pilih nikahin aku? Padahal kalau kamu mau, kamu bisa dapatin yang lebih...”


Ucapan Lany berhenti saat Andra menempelkan telunjuknya menutup bibir Lany.


“Shuuut! Jangan ngomong begitu, nggak ada yang lebih pantas selain kamu, kamu istriku! Jadi stop ngomongin hal yang tidak seharusnya." Tutur Andra penuh kelembutan seraya mengusap wajah Lany.


“Tapi kenapa harus aku? Kamu bahkan sampai maksa buat nikahin aku, sampai ikutin aku segala."


“Hey, aku udah renggut mahkotamu, jadi nggak mungkin aku nggak bertanggung jawab. Aku nggak sebejad itu, Lan."


“Hanya karena tanggung jawab?" Sela Lany dengan tatapan memicing. Dia benar-benar ingin tahu alasan begitu ingin menikahinya.


Andra menggeleng dan meraih tubuh Lany dan semakin mengeratkan pelukannya ”Love at first sight! (Cinta pandangan pertama)"


“Cause I'm Fallin love at first sight!”

__ADS_1


Ucapan Andra itu mampu membuat Lany kian terisak dalam pelukannya.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


__ADS_2