
Alandra...
Sejujurnya ia bukanlah tipe orang yang mudah tersulut emosi jika tidak benar-benar menyinggung harga dirinya. Seperti yang dilakukan pria bernama Eza tadi. Namun Omelan Lany benar-benar menguji kesabarannya. Sebisa mungkin ia berusaha menyikapinya dengan kepala dingin dan berulang kali mengingat jika Lany adalah istrinya yang tidak pantas diperlakukan kasar.
“Kamu nggak lihat tadi dia bilang dia sudah sukses sedangkan aku? suami ku malah nggak kerja sama sekali!"
Andra kembali menggeleng dengan raut wajah yang sulit diartikan. Kemudian setelahnya ia mengusap wajahnya dengan kasar.
“Kalau kamu malu punya suami kayak aku, oke fine!” ujar Andra saat tubuhnya sudah kembali duduk dan menatap Lany dengat tatapan yang sulit diartikan.
“Aku gak masalah kamu marah-marahin setiap hari, seolah yang kulakukan nggak ada benarnya di mata kamu Lan. Tapi aku minta satu hal, tolong jangan beda-bedain aku sama orang lain apalagi dia mantan kamu! Jelas kita beda. Aku jauh lebih dari dia!" Andra menghela napas, berusaha mengontrol diri dengan tidak bersikap berlebihan. Bahkan nada bicaranya masih terdengar biasa saja, sebagaimana ia berbicara pada umumnya.
Bukannya berhenti, Lany justru kian melontarkan kata-kata yang tak seharusnya “Di atas apanya? Muka emang jauh kamu, kamu menang kalau soal tampang. Tapi uang kamu kalah..! Muka gak bisa bikin kenyang, Alandra!"
Andra semakin menggeleng mendengar ucapan Lany yang tak ada ujungnya, rasanya ia begitu merasa diremehkan dan direndahkan oleh istrinya sendiri. Padahal sejak tadi ia sudah berusaha menyikapinya dengan kepala dingin, tapi nyatanya Lany seolah tak memikirkan perasaannya sebagai seorang suami.
“Kamu sama sekali nggak ngehargain aku sebagai suami, Lan!" Andra menggeleng sambil tersenyum kecut.
“Gimana mau dihargai kalau kamu aja nggak kerja, gak bisa nafkahi aku!” ucap Lany acuh membuat Andra terus menggeleng.
Tanpa berkata-kata lagi, Andra beranjak dan langsung meraih tasnya yang tergantung di belakang pintu kemudian menuju lemari yang ada di depan tempat tidur.
Hal itu tentu tak lepas dari perhatian Lany, yang begitu terkejut melihat apa yang Andra lakukan. Mulutnya bungkam seketika saat Andra justru membuka lemari kemudian memasukkan pakaiannya ke dalam tas. Ia menggeleng dengan wajah cemas sekaligus pias.
Entah mengapa hatinya begitu sesak melihat Andra melakukan itu. Apa benar dia mau pergi? Apa iya ucapan dan tindakannya benar-benar sudah keterlaluan hingga membuat Andra memutuskan untuk pergi?
Air mata itu lolos seketika, mengapa rasanya seperih ini? Sebelumnya ia tak pernah menangis hanya karena hal kecil, apalagi hanya karena seorang laki-laki seperti Andra, pria yang tak pernah masuk dipikirannya yang tanpa sengaja bertemu dan melakukan sesuatu hingga mereka pun menikah. Tak pernah sedikitpun ia menyangka akan merasakan perasaan seperih ini. Namun aksi Andra justru sukses membuatnya breaksi, sesak mengular hebat di rongga dadanya.
Sikap bungkam dan tindakannya berhasil mengkoyak perasaan Lany. Seketika memadamkan amarah yang tadinya tak pernah mau kalah dalam berargumen.
Tapi kenapa harus sedih? Bukankah bagus jika Andra pergi? Tidak, tidak tidak. Itu tidak boleh terjadi karena sesungguhnya Andra sudah memiliki tempat khusus di hatinya. Jika tidak, lalu untuk apa ia menitihkan air mata melihat aksi Andra itu, seharusnya ia senang bukan?
“Kamu mau apa?” Lany yang tadinya duduk bersandar di kepala ranjang kini mendekat ke arah Andra. Tindakan impulsifnya membuat ia spontan memeluk tubuh jakung Andra dari belakang.
“Kamu mau ngapain?”
Namun Andra sama sekali tak menjawab. Ia terus menggerakkan tangannya menyusun pakaiannya ke dalam tas.
“Andra, Hikks...” Lany terisak sembari menelusupkan wajahnya ke punggung kekar Andra. Berusaha mencegah aksi suaminya agar tidak melakukan hal yang kian memantik air matanya mengalir deras. Sungguh ia benar-benar takut ditinggalkan oleh orang asing yang kini sudah menjadi suaminya itu.
“Aku mau pergi, kamu capek kan nampung aku terus!”
“Andra, huhuuuu." Lany kian menangis tersedu-sedu sambil mengeratkan tangannya di tubuh Atletis suaminya “Nggak gitu, Ndra! Aku nggak bermaksud! kamu kok ngambekan sih?”
“Biasanya juga biar diberi kata-kata mutiara kamu fine-fine aja, sama sekali nggak marah! Tapi Kenapa sekarang kamu baperan begini?”
Aduh Lany, apa begitu cara membujuk seseorang yang sedang marah? Bisakah seseorang mengajarkannya cara membujuk yang benar. Dasar payah!
Lany mencoba mencegah pergerakan Andra saat dia mulai beranjak dari sisi lemari, namun bukannya berhenti, Andra malah menepis tangannya.
__ADS_1
“Ndra, jangan pergi!” Lany masih merengek, sungguh ia tak rela jika Andra benar-benar meninggalkannya.
“Kenapa harus marah sih? Aku ngomong kayak tadi cuma pengen kamu kerja, laki-laki itu yang diliat tanggung jawabnya bukan kata-kata rayuannya! Salah ku dimana?” ujarnya yang masih merasa tidak ada yang salah pada kata-katanya.
Ya, tentu saja! Sejujurnya yang dia lontarkan tadi hanyalah sebuah gertakan belaka agar Andra mau mengerjakan sesuatu tanpa harus menganggur. Karena sungguh ia merasa seorang laki-laki tidak boleh berdiam diri tanpa usaha ketika sudah memilik pasangan. Ia hanya tidak ingin Andra menjadi seperti Anwir saudara tirinya itu. Ia hanya ingin agar Andra termotivasi dan mau bekerja.
Namun tanpa ia sadari perkataannya tadi justru membuat Andra merasa tak dihargai. Toh bukankah selama ini Andra sudah pernah bilang, jika dia tak mungkin bisa bekerja sebab semua berkasnya tidak ada di sini. Lalu bagaimana mau melamar kerja? Begitu alasan yang selalu Andra katakan.
Dan kini, Lany hanya bisa menangis dan mengutuki kebodohannya. Sungguh ia tak pernah berpikir jika Andra akan melakukan ini.
Apakah dia sudah memilik perasaan tertentu pada Andra?
“Kalau kamu pergi itu artinya kamu nggak benar-benar tulus mau tanggung jawab!” Lany makin terisak sambil terus menumpahkan apa yang ia rasakan selama menjadi istri Andra. Sudah seperti anak kecil yang menagis tersedu-sedu, memohon agar tak ditinggalkan oleh sang ibu.
“Kamu yang maksa mau tanggung jawab dan kejar aku sampai sini tapi sekarang sebegitu mudahnya kamu mau ninggalin aku! Hikks!!..”
“Semua sama aja! kalian selalu ninggalin aku sendiri! dari dulu aku emang udah sering ditinggalkan dan dicampakkan. Dan sekarang kamu juga mau lakuin hal yang sama seperti yang keluarga ku lakukan, huhuuu!” Lany makin terisak sejadi-jadinya. Pernah merasakan pahitnya besar tanpa ibu dan dibesarkan oleh Ayah yang juga mengucilkannya membuat perasaannya sesedih ini.
Ratapan pilu Lany, membuat Andra menghentikan langkahnya dan menoleh seketika. Ia yang sama sekali tak berpikiran meninggalkan sang istri, begitu merasa tergelitik mendegar penuturan Lany. Tak disangka tindakan impulsifnya meraih tas bisa membuat Lany menangis seperti ini. Sebenarnya ia melakukan hal itu karena ia memang akan pergi untuk sementara. Ya, tadi dia sempat menerima email yang mengharuskan dia menyelesaikan beberapa tugas di luar kota. Entah itu tugas apa, tidak ada yang tahu.
Seulas senyum tipis tersungging dari bibirnya. Situasi yang pas membuat ia berniat meneruskan sandiwaranya demi melihat bagaimana reaksi Lany jika dirinya benar-benar marah.
“Aku cuma mau dihargai, Lan!" lirih Andra sambil menatap Lany yang tengah duduk bersandar di sisi ranjang. Sungguh ada kepuasan tersendiri di hatinya saat melihat Lany menangis karena mengira dirinya akan pergi.
“Kamu mau dihargai seperti apa? Aku kurang hargai kamu bagaimana? Aku kerja, selama ini aku nggak pernah mengeluh, aku cuma mau kamu juga kerja.” papar Lany sambil beberapa kali menyusut hidungnya.
"Selama ini aku juga kurang sabar apa? Aku mau tahu bagaimana kehidupan kamu tapi kamu seolah menutupi, Aku merasa nggak dianggap sebagai istri! Aku diam aja kan, masih betahan sama kamu. Terus salahku dimana?"
Ucapan Lany begitu menyentuh di hati Andra, membuat ia meluluh seketika saat melihat bulir bening itu kian mengalir deras membuat wajah Lany basah dan kebas tak karuan, bahkan gadis itu sampai sesegukan. Meski sebenarnya ia bingung sendiri, mengapa wanita kalau marah semua masalah menjadi saling berkaitan seperti ini? Mulai dari masalah Eza, ATM, kerjaan dan bahkan masalah kehidupan misteriusnya Lany paparkan semua.
Dengan tatapan penuh rasa bersalah, ia berjongkok di hadapan Lany “Maaf.. Maafin aku ya!” Dia yang tadinya ingin sedikit bersandiwara justru tak tega untuk melanjutkan.
Ucapan istrinya itu membuatnya merasa sangat tersentil. Andra sadar, di sini ia juga salah. Mereka hanyalah manusia biasa yang sama-sama punya kekurangan satu sama lain.
Andra pun membawa Lany ke dalam pelukannya “Udah jangan nangis lagi ya! aku gak akan pergi kemana-mana!” sejujurnya ia juga merasa senang sebab tanpa sadar Lany sudah mulai menerimanya bahkan tak rela jika dia pergi. Padahal sebenarnya ia memang harus pergi untuk sementara.
Lany terdiam sambil ragu-ragu membalas pelukan Andra.
“Kamu mau suami kaya kan?” tanya Andra sambil mengelus punggung Lany yang masih bergetar akibat sesegukan.
Namun Lany menggeleng, ia tak ingin lagi menyebutkan hal itu. Takut Andra tersinggung dan akan kembali berniat meninggalkannya seperti tadi.
“Kok nggak mau?” tanya Andra heran.
“Nanti kamu tersinggung dan bakalan pergi!"
“Yakin nggak mau?" Andra hampir terkekeh dengan tingkah menggemaskan istrinya.
“Nggak!" Lany menggeleng “Kitakan bisa kaya sama-sama seperti kata kamu.” ucap Lany lugas. Ia benar-benar tak bisa jika Andra harus pergi. Tanpa sadar ia mulai terbiasa hidup denga Andra dan tak rela jika pria yang memaksa masuk ke kehidupannya itu harus pergi begitu saja.
__ADS_1
Andra tersenyum bangga penuh haru mendegarnya. Ini kali pertamanya Lany mengatakan secara langsung jika dia membutuhkan dirinya.
“Iya aku tahu! Aku tanya sekali lagi, kamu mau suami kaya gak?"
“Iya tapi suaminya kamu, kamu yang jadi kaya,"
Andra makin tersenyum, ia tak menyesali tindakan randomnya yang langsung meraih tas dan memasukkan pakainnya. Jika tahu dampaknya bisa membuat Lany mengakui kehadiranny, mungkin dari awal dia sudah melakukannya demi mendapat perhatian dari istrinya.
“Mau suami kaya, nggak?" tanya Andra lagi sambil mengelus rambut Lany yang masih membenamkan wajah di dada bidangnya dan Lany pun hanya mengangguk.
Andra tersenyum melihat itu “Kalau begitu aku harus pergi dulu!”
Bugh.. Lany langsung mendongak dan melayangkan pukulannya pada dada Andra, membuat pria itu mengernyit heran.
“Tuh kan, kamu memang berniat mau ninggalin aku!" air mata Lany kembali menetes. Sikapnya benar-benar berbeda, dulu ia bukanlah gadis yang mudah menangis. Mengingat hidupnya memang sudah penuh luka dari kecil membuatnya kebal tahan banting. Namun tingkah Andra berhasil merobohkan benteng pertahanannya.
“Jadi yang jahat siapa?” tatapnya nyalang sambil terus melayangkan pukulan “Kamu yang maksa masuk ke kehidupan aku dan sekarang kamu mau pergi seenaknya. Kamu jahat tau nggak!"
Lany terus memukuli Andra.
Sedangkan Andra yang mulai mengerti maksud Lany langsung tersenyum.
“Hey!" katanya sambil memegang tangan Lany yang terus melayangkan pukulan. Sedangkan tangan yang satu berusaha merengkuh tubuh Lany agar kembali menempel dipelukannya.
“Kamu keterlaluan, Jahat!!”
“Hey, kamu salah, neng! Maksudku nggak gitu!" seru Andra sambil terus tersenyum.
“Jahat! Jahat, jahat!” cebik Lany tak terima.
“Kamu cuma jadiin aku persinggahan! Aku makin yakin kalau kamu memang bukan cowok baik-baik!"
Sikap Lany yang tetap kekeh dan keras kepala membuat Andra sulit mengutarakan maksudnnya.
Dengan penuh kelembutan Andra langsung meraih tengkuk Lany kemudian menyatukan wajah mereka. Membuat Lany bungkam seketika demi menerima tindakan Andra. Getaran aneh menjalar di tubuh keduanya, rasa itu begitu mendebarkan sehingga keduanya larut dalam kenikmatan yang memantik naluri untuk menuntut sesuatu yang lebih.
Lany yang awalnya menolak, kini ikut larut dalam sentuhan manis yang menerpa bibir ranumnya. Ia bahkan mulai membalas pergerakan Andra yang tiada hentinya memberi serangan. Membuat ia kesulitan mengambil napas.
“Huhhh..." Begitu berhasil melepaskan diri, Lany menjatuhkan kepalanya di dada bidang Andra. Berusaha untuk menetralisir debaran aneh di dadanya.
Andra tersenyum, merasa puas saat Lany tak lagi melayangkan penolakan. Ia mendaratkan satu kecupan di puncak kepala Lany. Setelah itu tangannya meraih bahu sang istri kemudian menatapnya penuh kelembutan.
“Tolong dengar aku dulu!" tatapan teduh Andra membuat Lany luluh. Ia menuruti apa yang Andra katakan sambil terus menatap mata indah milik suaminya itu.
“Aku memang harus pergi.." ucapan Andra terhenti saat melihat mata lentik milik istrinya itu mulai berkaca-kaca.
“Hey.." Andra mengusap lembut wajah Lany “Ada sesuatu yang harus ku selesaikan. Nggak akan lama, mungkin paling lama seminggu dan maaf aku nggak bisa ajak kamu!”
Lany masih berusaha mendengar ucapan Andra meski ia merasakan sesuatu mengganjal di hatinya. Sangat menyesakkan.
__ADS_1
“Kalau udah pulang, aku janji akan ceritain semua yang ingin kamu tahu tentang aku!"