My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 52 [Telepon Dari Papi]


__ADS_3

“Mami, Mi, Mami.." Seorang gadis berambut hitam panjang, berlari memasuki rumah mewah. Dia terlihat tergesa-gesa sambil memegang Hape yang masih menyala di tangannya.


“Mami, mana Bi?" Tanya gadis itu pada ART yang muncul karena mendengar teriakannya.


“Nyonya sedang siap-siap, katanya mau pergi Arisan sama Nyonya besar, non.” ART itu hanya menggaruk tengkuknya begitu melihat gadis itu langsung berlari melewati ruang tengah


“Mami, Mami.." Teriaknya lagi begitu sampai di lantai dua, beruntung orang yang dicarinya langsung muncul dari balik pintu salah satu kamar tepat di sebarang lorong samping ruang keluarga.


“Mi.." Lelah berlari, gadis itu menunduk memegangi lututnya. Tergesa-gesa membuat napasnya sedikit terengah.


“Ada apa sih, Dara?" Tanya Mami heran. Ia mendekati Putrinya yang masih berusaha mengatur napas. Gadis yang mengenakan celana levis kulot dipadukan dengan blouse ketat itu mulai bisa mengendalikan dirinya.


“Aku punya berita penting. Mami udah tau, belum?" Katanya sambil menyalakan Hapenya.


“Ya, mana Mami tau, Mami belum sempat liat berita terupdate hari ini." Celetuk Mami, sambil membenarkan antingnya. “Berita apa, emang?” Mami yang mulai penasaran, berusaha mendekatkan diri pada gadis bernama Dara itu.


“Berita kurva Saham naik?” Tebak Mami, yang langsung dijawab gelengan oleh Dara.


“Kamu lolos Beauty Pageant lagi?" Mami mencoba menebak berita yang biasanya anak gadisnya itu adukan padanya. Namun tak ada satupun yang dibenarkan membuat Wanita paruh baya dengan gaya fashionable itu bingung dan penasaran.


“Terus apa, Dara? Jangan bikin Mami penasaran deh."


“Sabar, Mi. Dara cari dulu beritanya." Sahut Dara yang masih sibuk menscroll Hape, mencari berita yang ingin ditunjukkan pada sang Ibu.


“Nih." Dara mengarahkan layar Hape yang menunjukkan jejeran berita terkini minggu ini.


Kening Mami menyerngit membaca satu persatu judul berita yang tertera. Hingga matanya menemukan berita mengenai salah satu anak perusahaan milik BumiNTara Group.


“Oh, Citra Land Mineral sudah mulai beroperasi." Celetuk Mami sambil mendorong tangan Dara agar menyingkirkan Hape dari hadapannya.


“Loh, kok Oh sih, Mi?" Tanya Dara heran. Berita yang menurutnya penting malah dianggap biasa saja oleh Maminya.

__ADS_1


“Ya emamg kenapa, CLM Memang seharusnya sudah beroperasi tahun ini kan?”


Dara menggeleng mendegar ucapan Mami “Bukan itu, Mi. Coba baca berita yang di bawah." Dara kembali menyodorkan Hapenya dan Mami mulai membaca berita yang Dara katakan.


“26 Desember 202X, CLM Palu resmi beroperasi. Diresmikan langsung oleh Presiden Direktur CLM."


“Presiden Direktur CLM langgsung turun tangan dalam mencari solusi Aksi Massa Di depan Kantor pada 28 Desember 202X.”


Mata Mami membola seketika, begitu membaca berita tersebut. Meski tak menyebutkan nama si Presiden Direktur, tapi Mami jelas tahu siapa orang yang dimaksud dalam berita Itu. Siapa lagi kalau bukan anak sulungnya, Alandra, yang selama hampir tiga bulan ini pergi liburan tanpa bisa dihubungi.


“President Direkturnya CPM kan Kakak kamu, Dara."


“Maka dari itu Mi, Aku ngasih lihat Mami berita ini. Aku pikir Mami tau."


Mami menarik Hape dari tangan Dara, ia membaca ulang satu persatu berita yang baru keluar dua hari lalu itu.


"Tagggal 26, empat hari yang lalu.” Mami beralih menatap Dara “Itu artinya kakak kamu sudah pulang, Ra. Dia ada di Indonesia.” Dara hanya mengangguk.


“Kenapa dia nggak pulang, Ra? Dimana dia sekarang?" Mami membuka tasnya dan meraih Hape dari dalam sana “Novita pasti tahu dia diamana.” Baru Mami mencari nama kontak Novita untuk memastikan keberadaan putranya. Dia tidak ingin langsung menelpon Andra, sebab sudah pasti pria itu tidak akan mau mengatakannya.


“Pi, Andra sudah pulang.”


Pria paruh baya itu hanya mengangguk dengan wajah tenang “Aku tahu, baru saja dapat kabar dari Orang kantor.” Papi mengeluarkan Hape dari saku celananya dan mencari nama Andra dan menelponnya.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Begitu melihat siapa yang menelepon, Andra langgsung keluar kamar. Ia bahkan keluar dari rumah dan berjalan menyusuri komplek hanya untuk mengangkat telepon saja. Sungguh Ribet Andra ini.


Begitu merasa diri berada di tempat yang aman, Andra berhenti di ujung gang. Tepatnya di jalan buntu. Hanya terdapat rumah kosong yang terawat di sana, ia duduk di bawah pohon kemudian menghela napas sebelum mengangkat telepon dengan nama kontak "Megantara Boss"


Ia jelas sudah menebak jika semua ini akan terjadi. Berita tentang peresmian pengoperasian anak perusahaannya kemarin tentu sedang menjadi berita yang sedang hangat-hangatnya. Dari hal itu juga jelas keluarganya tahu jika dirinya sudah ada di Indonesia. Dengan Mata terpejam, bersiap menerima berbagai macam pertanyaan dari si penelepon, Andra lalu menggeser tanda hijau dan mengarahkan hapenya ke telinga.

__ADS_1


“Andra, kamu dimana, nak?"


“Kamu ada di saat peresmian pengoperasian CLM, itu artinya kamu sudah ada di Indonesia. Kenapa tidak langsung pulang? Sekarang sedang dimana?"


Telinga Andra langsung disambut dengan rentetan pertanyaan yang Papinya berikan. Itu membuatnya sedikit menjauhkan Hape dari telinga.Tentu ini tidaklah baik untuk kesehatan telinganya.


“Andra, ini Mami.” Andra memejamkan mata, mendengar suara wanita yang melahirkannya sedang mengomel di sebrang sana “Hampir tiga bulan menghilang tanpa kabar, sekarang Kamu sudah pulang tapi tidak langsung ke rumah. Apa yang ada dipikiran mu, hah? Apa kamu pikir Mami bisa tenang lihat kelakuan kamu ini, Alandra?"


Andra kembali menghela napas, Papi dan Maminya tengah mencecarnya. Sementara dia sendiri masih diam seribu bahasa. Sungguh menyebalkan, ternyata dia tidak hanya seperti ini ketika bersama Lany. Bahkan orang tuanya pun bingung melihat putranya sendiri yang memutuskan menghilang tanpa kabar dan begitu pulang dia sama sekali tak menginjakkan kaki di rumah.


Sejujurnya Andra pun tidak suka berada di posisi ini. Dia bukanlah sosok anak yang suka melihat Ibunya khawatir seperti sekarang. Andra bukanlah sosok pria yang suka menyakiti hati wanita, apalagi itu Ibunya sendiri. Kali ini Andra benar-benar merasa begitu bersalah.


“Andra, Kamu dengar Mami, nggak sih?" Sentak Mami marah. Bahkan Andra bisa mendengar suara Papi sedang menenangkan Maminya.


..........


Sementara itu, Lany. Sungguh hatinya dibuat perih menghadapi sikap Andra. Dia benar-benar dibuat dilema. Disisi lain, Lany begitu ingin memaafkan pria itu, namun melihat dia yang tetap kekeh pada pendiriannya dan tidak ingin mengatakan apapun. Membuat rasa sakitnya semakin besar. Andra seperti mempermainkan perasaannya. Dia bisa membuat Lany terkesan dan geram dalam satu waktu.


Berharap dengan marah dan mendesak Andra bisa membuat pria itu menceritakan semua. Namun dia sendiri yang malah dibuat bingung dengan pernyataan-pernyataan Andra yang sulit dipahami. Apalagi ketika pria itu menerima telepon dan seolah menghidar agar Lany tak mendengarnya. Sungguh rasa sakit itu lebih menyakitkan dibandingkan saat dia dipulangkan dari Kapal. Rasa sakitnya setara dengan rasa sakit atas perlakuan Bapak saat dulu padanya. Setara dengan sakitnya mengingatkan ia ketika berpisah dengan Ibunya.


Dengan perasaan kesal Lany memutuskan untuk menenangkan diri. Dia meninggalkan kamar masih dalam keadaan berantakan.


“Duh, yang sedang bertengkar.” Mata Lany melirik sinis pada Elsa yang tengah menatapnya dengan tatapan mengejek. Jelas si -Frozen- itu dengar perdebatan antara dia dan Andra tadi.


“Jangan sok tau kalau tidak mau kena ini lagi” Lany mengangkat tangannya, menyodorkan pada Elsa, membuat gadis itu segera menutup wajahnya, takut Lany mengulangi tamparannya.


Lany tersenyum melihat gadis itu ketakutan. Tidak sia-sia dia memberi cap lima jari pada adiknya itu, ternyata dia bisa mengancamnya dengan mudah.


“Dalam rumah tangga, hal seperti itu biasa terjadi. Hanya sebagai bumbu saja." Dengan sombongnya Lany mengedikkan mata seraya berlalu. Tentu dia hanya sedang berusaha memghibur diri agar tidak diolok oleh Elsa.


“Lihat saja kamu Lany, Aku laporkan ke Mamak." Teriak Elsa geram. Namun Lany sama sekali tak menghiraukannya.

__ADS_1


Lany melajukan motornya memecah jalan dengan perasaan sakit yang sulit diungkapkan. Selama ini, dia sama sekali tak pernah merasa sekecewa dan sesakit ini hanya karena berhubungan dengan seorang pria. Biasanya dia yang selalu menyakiti, contohnya seperti Eza, dia meninggalkan pria itu pas lagi sayang-sayangnya. Dan mungkin sekarang dia mendapat karma. Andra membuatnya terbang dan menjatuhkannya dalam satu waktu. Apakah itu artinya dia benar-benar memiliki rasa pada Andra. Jika tidak, mana mungkin dia merasa sakit karena sikap Andra itu. oh No, I hope this isn't real.


.


__ADS_2