
Lany keluar dari kamar mandi dengan wajah lesu, ditambah dengan buliran air yang membasahi wajahnya membuat ia kian terlihat lemas. Tadi, saat di dalam, Lany memang sempat muntah-muntah setelah menghirup aroma sabun pencuci wajah milik Andra yang ia gunakan.
Sambil memegang dadanya yang masih merasakan mual, ia lalu duduk di tepi ranjang. Lany berusaha menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan perasaannya. Pandangannya menelisik ke seantero kamar bernuansa maskulin itu, dimana Andra? Tanyanya dalam hati. Kenapa sejak keluar dari kamar mandi, ia sama sekali tak menemukan keberadaan pria itu, hal ini tentu membuatnya sedih. Padahal saat ini ia sangat membutuhkan kehadiran Andra.
“Kenapa mualnya ndak hilang-hilang?" Keluhannya dengan raut wajah setengah meringis. Sekilas ia hanya menoleh pada Hpnya yang tercharger. Rasanya ingin sekali ia mencari tahu penyebab mual ini di internet, seperti yang Andra lakukan tadi saat mencari alasan kenapa ibu hamil muda tidak boleh terlalu sering berhubungan. Namun, urung saat lagi-lagi rasa mual itu kian menjadi dan membuatnya harus kembali berlari ke kamar mandi.
Belum sempat sampai di wastafel, sebuah cairan hangat sudah mendobrak keluar dari mulutnya dan sedikit merembes di bagian depan dress yang ia kenakan. Yah, padahal aku sama sekali tak membawa pakaian ganti selain ini. Lany sempat mengeluh dalam hati, sebelum akhirnya tangannya segera mendarat di wastafel. Lany tetunduk lesu di sana.
Huek...
Sesuatu yang sedari tadi mengganjal akhirnya keluar, bersamaan dengan jemarinya yang tergerak memutar keran air. Setetes bulir bening, mengalir begitu saja dari matanya saat cairan itu keluar tiada henti, membuat ia merasa sangat tersiksa.
“Ya Allah... Mak!" Lany meringis dengan mata terpejam menahan gejolak aneh pada tubuhnya.
“Andra! Kamu dimana?" Lirihnya lagi dengan sesekali menatap wajah mengenaskannya dari cermin. Bersamaan dengan keringat dingin yang terasa mengaliri tubuhnya, Lany terus mengusap dada dan tengkuk secara bergantian.
Setelah merasa lebih baik, Lany membasuh wajah dan bagian dress-nya yang terkena muntahan. Kemudian segera keluar, langkahnya begitu lamban sembari memerhatikan kondisi dressnya, meski sudah dibersihkan. Tapi sisa rembesan cairan itu masih sedikit menempel di sana, mungkin karena dress yang Lany gunakan merupakan kain brokat, sehingga bekas cairan itu tidak benar-benar hilang jika tidak dicuci dengan benar. Sambil melenguh, ia berjalan ke arah lemari yang sebagian bodynya terbuat dari kaca transparan dengan desain indah, terdapat di sisi stand mirror. Sepertinya ia harus mengenakan pakaian yang Andra tawarkan tadi.
“Ndak ada pilihan lain!" Lirih Lany sambil menggeser pintu kaca, kemudian mulai menanggalkan satu-persatu pakaiannya dan mengganti dengan kaos oblong dan celana training milik Andra. Kebesaran memang, tapi hanya itu yang bisa ia kenakan. Tidak ada pilihan lain daripada harus teru memakai dress yang kotor.
Saat tengah asyik menatap pantulan diri dari stand mirror, Lany tersenyum melihat penampilannya. Tubuh mungilnya makin terlihat kecil karena memakai pakaian kebesaran. Namun, matanya langsung berbinar saat tertuju pada botol aroma terapi di dalam lemari. Ini yang ia butuhkan untuk mengurangi rasa mualnya.
“Ah, ada minyak kayu putih juga!" Lirihnya dengan senyum yang kian mengembang dari balik wajah lesu. Namun, saat baru ingin meraihnya, Ia harus berbalik badan saat suara ketukan menghentikan pergerakan tangannya.
Lany menyerngit, dalam hati ia bertanya siapa yang datang. Jika Andra, kenapa harus mengetuk, harusnya dia masuk saja kan. Sepertinya bukan Andra! Ketukan yang terus berulang membuat Lany segera membuka pintu.
Keningnya kian mengkerut saat melihat sosok asisten rumah tangga tengah membungkuk hormat padanya. Hmmnt, untuk pertama kalinya ia diperlakukan seperti ini. Selain tidak pantas, Lany juga merasa tidak enak hati.
“Saatnya makan malam, non. Semua sudah menunggu di ruang makan!"
Penuturan itu kian membuat Lany mengeryit. Baru ia akan mengatakan untuk tidak ingin bergabung, tapi wanita itu sudah lebih dulu mempersilahkannya.
“Ayo non, semua sudah siap. Tinggal non saja yang ditunggu." Ucapan itu makin membuat Lany merasa tidak enak. Apa? Kenapa hanya tinggal dia? Apakah makan malam tidak akan berlangsung jika tanpa kehadirannya? Ia bertanya-tanya dalan hati. Namun, sesegera mungkin untuk melangkah sebab tak ingin membuat orang-orang menunggu.
Sepanjang jalan Lany terus menggerutu kenapa bukan Andra saja yang memanggilnya, ia merasa terlalu berlebihan jika harus dijemput orang lain seperti ini.
Sementara itu di ruang makan, nampak seluruh anggota keluarga sudah menempati tempat masing-masing. Hanya Andra, Rival dan Dara saja yang tidak ada. Kalau Rival, tidak perlu dipertanyakan lagi, sebab adik laki-laki Andra itu sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah, entah apa alasannya. Sedangkan Andra dan Dara, entah pergi kemana, keduanya pun tak terlihat di ruang makan.
Lany yang baru tiba, seketika menampakkan senyum kikuk saat melihat raut wajah datar dari Mami Inka, Oma juga seorang wanita yang Lany sendiri baru melihat kehadirannya di sana. Hanya Opa, Papi Ervan juga seorang pria yang juga baru ia lihat, tengah tersenyum menyambut kehadirannya. Namun saat ia tidak melihat keberadaan Andra di sana, membuat ia ingin sekali melebur bersama angin. Menghadapi keluarga Andra tanpa kehadiran suaminya itu benar-benar seperti menghadapi pengeksekusian seorang diri.
__ADS_1
“Maaf, karena saya semuanya jadi menunggu!” Lany tersenyum kikuk sambil membungkukkan badan.
“Tidak apa, Lany. Kamu nggak terlambat kok.” Opa tersenyum, dengan tangan terbuka, ia mempersilakan Lany duduk di samping wanita yang juga menatap datar padanya.
“Ayo nak, duduk!" Ucap Papi yang juga turut mempersilakan.
Sambil tersenyum kikuk, Lany segera duduk di sebelah wanita asing yang baru ia lihat. Tepat berhadapan langsung dengan Mami yang duduk di samping Papi.
“Ohiya Lany, kenalin ini Erwin." Tunjuk Papi pada sosok pria yang perawakannya persis seperti Andra, hanya saja lebih berisi, dengan senyuman hampir mirip dengan Papi. Jika diperkirakan, mungkin umurnya juga tidak beda jauh dengan Andra. “Omnya Andra, adik bungsu saya.” Lanjut Papi.
Sambil menundukkan kepala, Lany tersenyum membalas senyuman hangat Om Erwin.
“Kalau ini istrinya, namanya Sarah."
Lany juga tersenyum, ia kemudian segera beranjak untuk bersalaman dengan Om Erwin dan istri, sebagai bentuk rasa hormatnya. Begitu selesai, ia langsung kembali ke tempatnya. Makan malam dengan keluarga Andra tanpa kehadiran pria itu, benar-benar membuatnya merasa canggung. Apalagi setiap kali Oma dan Mami menatapnya, ia merasa dikuliti hidup-hidup.
Makan malam itu berlangsung nikmat dengan diselipi candaan dan beberapa pembahasan ringan diantara mereka. Lany sendiri lebih memilih diam, lagi pula ia sama sekali tidak mengerti apapun. Rasanya ingin sekali ia mempercepat waktu agar makan malam ini segera selesai.
“Tambah Lany, ini ada banyak makanan loh!" Ujar Papi sambil menunjuk berbagai hidangan untuk ia coba.
“Makan yang banyak, biar bayinya sehat!" Bahkan opa pun ikut menimpali. Ya, dari tadi yang paling sering mengajaknya bicara memang hanya Papi dan Opa. Sedangkan yang lain lebih banyak diam.
Lagi-lagi Lany hanya mengulas senyum canggung sebagai bentuk jawaban. Selain rasa mual yang belum sepenuhnya hilang, rasa canggung berhadapan dengan keluarga Andra seorang diri benar-benar membuatnya panas dingin. Sungguh Lany kesal pada Andra yang entah dimana keberadaannya.
“Mah!" Meski ditegur oleh Opa, tapi Oma sama sekali tak merubah nada bicara dan raut wajahnya. sepertinya wanita itu benar-benar sulit menerima keberadaan Lany.
“Makan daging-dagingan juga biar semua gizi yang janin kamu butuhkan terpenuhi!” Oma kembali berkata ketus sambil menunjukkan Lany makanan yang seharusnya ia konsumsi.
Lany yang tak ingin menghancurkan suasana makan malam pun segera menuruti keinginan Oma. Ayam kecap sebagai menu tambahan yang ia pilih untuk dijadikan lauk pauk.
“Istri Andra hamil?" Samar-samar Lany mendengar pertanyaan itu dari mulut om Erwin.
“Iya, baru mau masuk 1 bulan!" Kali ini ia mendengar Mami Inka yang menjawab. Meski begitu Lany tetap fokus mengiris daging ayam yang akan ia santap.
“Gercep juga si Andra." Bahkan istri Om Erwin pun turut menimpali, tapi kali ini dengan senyum hangat sembari menatapnya.
“Selamat ya Lany, aku loh pengennya seperti kamu, cepet-cepet dapat momongan tapi belum dikasih juga sampai sekarang."
Orang yang Lany kira akan bersikap sama seperti Oma, ternyata cukup ramah. Tapi entahlah, Lany sendiri tak ingin terlalu cepat menilai. Ia teringat omongan Andra saat malam itu.
“Memangnya nikah sudah berapa lama?" Tanya Lany yang mencoba turut berbasa-basi.
__ADS_1
“Hampir setahun.” Sahut Sarah.
Baru Lany ingin kembali menimpali, perkataan Oma membuat mulutnya bungkam.
“Ngobrolnya nanti, ini masih di meja makan!" Lany benar-benar terdiam, ia kemudian segera menyuap makanan ke mulutnya. Namun saat sudah mengunyah makanan, tiba-tiba rasa mual kembali menyerang. Membuat kepalanya pusing dengan ulu hati yang terasa mengganjal. Rasanya ia ingin memuntahkan apa yang baru saja ia makan.
Lany lantas bergegas berdiri saat rasa itu kian beranjak ke tenggorokannya, sehingga menimbulkan suara seperti sendawa. Tapi ini jelas berbeda, karena ada sesuatu yang mendobrak ingin keluar.
“Maaf, saya harus ke belakang dulu!" Sambil menutup mulutnya, Lany buru-buru meninggalkan ruang makan.
Opa dan Papi yang melihat itu kelihatan kuatir pada keadaan Lany. Sedangkan Oma, ia langsung melepaskan garpu dan sendoknya.
“Bikin hilang selera makan aja!" Gerutunya, lalu meneguk air minum.
“Efek kehamilan Mah!" Tegur Erwin.
Sementara Papi, sama sekali tak menghiraukan ucapan sang ibu. Ia terus menatap Lany hingga tak terlihat, “Andra mana, Mi?" Papi menatap sang istri yang ternyata juga sedang menatap Lany.
“Nggak tau, tapi tadi Dara minta izin keluar, katanya mau pergi sama kakaknya!" Sahut Mami.
Papi hanya menggeleng, “Itu istrinya kasian loh, muntah-muntah gitu!"
....
Lany, keringat dingin kembali menjalar di sekujur tubuhnya setelah memuntahkan seluruh makanan yang ada dari perutnya. Entah kenapa, setiap kali mencium aroma ayam, ia selalu saja seperti ini. Persis seperti malam saat Novi membawa menu MCD.
Tak ingin berlama-lama di kamar, Lany lebih memilih untuk menghirup udara segar sembari menunggu kedatangan Andra di halaman depan. Tidak adanya keberadaan Andra benar-benar membuat ia merasa sendiri. Belum lagi kondisinya yang lemah membuat ia membutuhkan sandaran pria itu. Dalam hati Lany berjanji akan memarahi Andra habis-habisan saat pria itu pulang. Sejujurnya Lany sudah dibuat kesal sejak pertemuannya dengan Riana sore tadi, apalagi Andra seakan menutupi ucapan Riana yang memintanya untuk tidak bahagia lebih dari saat bersamanya. Dan kini pria itu malah pergi tanpa sepengetahuannya seperti ini. Sungguh Lany dibuat kesal.
Lelah berjalan bolak-balik di halaman yang luas itu, Lany memutuskan untuk duduk di kursi, tepat di samping lampu taman. Ia mengelus perut datarnya. Kini Lany tahu, penyebab rasa mual yang ia alami ini adalah karena keberadaan janinnya.
“Dek, kok adek nakal sih!?"
“Tolong jangan bikin Mama begini ya, sayang. Rasanya tuh gak enak, nak!" Ucap Lany dengan sedikit menunduk memerhatikan perut datarnya di balik kaos oversize yang ia kenakan.
Tanpa ia sadari, seorang wanita dengan perawakan tinggi, masih mengenakan pakaian formal, tengah berjalan ke arahnya sambil menenteng keresek putih.
“Bu Lan!"
Teriakan wanita itu membuat Lany langsung menoleh. Dengan tatapan tajam Lany menatap sosok wanita yang tengah melangkah ke arahnya. Cahaya temaram membuat ia sedikit sulit mengamati sosok yang mendekat ke arahnya itu.
to be continued.....
__ADS_1
...♥️♥️♥️♥️♥️...