My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 68 [Merasa Lemas]


__ADS_3


Pagi itu, Lany bergegas ke kamar mandi setelah Novi pulang. Semalam Novi benar-benar menginap, menemaninya sesuai perintah Andra. Mereka tidur di ruang tv, hanya beralaskan karpet rafsur. Novi benar-benar menjaga Lany dengan baik, ia bahkan sampai repot-repot pergi ke apotek membeli obat pereda mual, dan berkat obat itu juga Lany merasa lebih mendingan.


Setelah mandi dan memakai pakaian tebal dipadukan dengan hotpants. Lany yang berniat membuat sarapan, dikejutkan dengan keberadaan suaminya yang sudah rapi, menggunakan kaos putih polos berbalut jas hitam dipadukan celana kain berwarna senada sudah berada di dapur.


“Pagi..”


Lany membalas sapaan Andra dengan senyuman, ia mendekat dan hendak membantu suaminya yang sedang mengoles selai pada roti untuk sarapan mereka. Namun Andra justru menarik kursi, membawa Lany duduk. Pria itu tak membiarkannya melakukan apapun.


“Katanya semalam kamu muntah? Gimana, udah mendingan, nggak? Kalau belum kita ke rumah sakit, ya.” Tanya Andra, sambil memasukkan roti tadi ke dalam microwave.


“Gak usah, Aku baik-baik aja kok. Semalam aroma makanannya emang agak menyengat sih, menurutku.” Lany menghela napas, dalam hati ia menyayangkan kenapa Novi harus menceritakan hal sesepele ini pada Andra.


Tak butuh waktu lama, Andra sudah mengeluarkan roti saat mikrowave memancarkan bunyi sebagai tanda jika proses pemanggangan sudah selesai. Ia lalu menyodorkannya pada Lany setelah disajikan ke piring.


“Tapi kata Novi, kamu sampai lemes, kita ke rumah sakit aja, ya. Aku khawatir!” Andra berpindah posisi ke belakang Lany, memegang bahu istrinya dan mendaratkan pijitan kecil di sana.


Lany tersenyum mendapat perhatian dari Andra, tangannya terangkat mengusap lengan pria itu. Sambil mendongak, ia berkata, “Udah nggak apapa. Aku baik-baik aja kok. Nih buktinya roti buatan kamu, ku makan.” Lany mengigit roti yang Andra buatkan.


“Aku nggak muntah karena baunya emang nggak menyengat. Nggak kayak makanan yang mbak Novi beli semalam." Jelas Lany, ia berusaha meyakinkan Andra yang menurutnya terlalu berlebihan.


“Duduk sini, kamu juga harus makan! Kan mau kerja.” Lany menarik Andra untuk duduk di kursi yang sudah ia atur hingga tak menyisakan jarak diantara mereka.


Andra hanya tersenyum, tangannya tergerak mengusap lembut rambut pirang sang istri. Keduanya pun menyantap sarapan dalam diam, dengan pancaran senyum yang tak pernah pudar.


“Oh, iya, aku punya berita baik." Setelah meneguk air minum, Andra meletakkan gelasnya dan menatap Lany yang masih mengunyah dengan mata mengerling. Seolah ia akan menyampaikan suatu hal yang menarik.


“Apa tuh?" Lany yang masih menyantap roti hanya menyahut acuh.


“Nanti malam kita ke rumah, Mami mau liat menantunya.” Ucap Andra antusias, ia merentangkan tangan agar Lany bisa memeluknya.


Dan benar saja, Lany yang mendengar itu langsung berhambur kepelukannya. Gadis itu begitu senang mendengar berita yang Andra sampaikan. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, sudah lama ia begitu mendambakan ingin kenal dan dekat dengan keluarga Andra. Membayangkannya saja ampu membuatnya terharu. Besar harapan Lany bisa diterima di sana, ia begitu ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang menganggap kehadirannya ada, tidak seperti saat dengan keluarganya sendiri.


“Loh, kok nangis sih? Jangan nangis dong, sayang.” Andra mendorong tubuh Lany, ditatapnya wajah wanita yang tengah menitihkan air mata di depannya itu. Jemari Andra tergerak mengusap buliran yang mulai menetes.


“Kenapa jadi cengeng begini, sih?" Andra mencium kening Lany, kemudian kembali menatap wajahnya, berusaha membuat istrinya tenang.


“Aku lebih suka liat kamu marah-marah daripada nangis begini, nggak banget tau! Lany yang kukenal itu nggak semelow ini, dia kuat dan nggak gampang nangis!” Ucapan Andra membuat Lany mencebik kesal sambil melayangkan pukulan pada bahu suaminya.


“Ih, nyebelin!” Lany mencebik marah, “Aku nggak cengeng!" Sentaknya, tak suka dikatai cengeng.


“Ya, terus apa?" Tanya Andra dengan senyum terkulum.


“Gak tau juga, tapi tiba-tiba pengen nangis aja.”


“Aneh benget, sih!” Andra mencubit kedua pipi Lany, kemudian kembali memeluknya dengan erat.


Pelukan itu berakhir saat Andra melirik jam, setelah sekilas membaca sebuah notifikasi yang muncul di lockscreen hpnya.


“Udah dulu ya, aku mau berangkat!”


Dengan terpaksa Lany harus melepaskan pelukannya, sejujurnya ia masih ingin seperti ini. Dari semalam ia begitu merindukan berada dipelukan Andra, tapi Lany juga tidak ingin egois. Ini memang sudah waktunya berangkat dan ia tidak boleh menghalangi Andra.

__ADS_1


“Aku mau ambil berkas dulu di ruang kerja, mau ikut?" Tawar Andra yang tahu Lany begitu penasaran dengan ruangan tersebut.


Namun Lany menolak dengan gelengan, “Nggak dulu deh, lain kali aja. Aku mau beresin ini.” Ia pun mulai sibuk membereskan meja makan.


Sementara Andra ia langsung pergi ke ruang kerjanya.


Sebuah notifikasi membuat Lany sejenak menghentikan kesibukannya. Raut wajahnya berubah seketika begitu mengecek hp. Ia lalu berlari menuju kamar, meninggalkan pekerjaannya yang belum beres.


“Kenapa? Kok buru-buru?” Andra yang baru keluar dari ruang kerja, mengkerutkan keningnya saat melihat Lany melangkah ke kamar dengan tergesa-gesa. Rasa penasaran membuat Andra menyusul Lany. Dilihatnya istrinya itu sudah mengganti hotpants menggunakan jeans levis. Andra tau Lany akan pergi.


“Mau kemana?"


“Aku keluar sebentar, boleh ’kan?” Tanya Lany dingin, wajahnya begitu datar seakan ia tengah memendam sesuatu. Hal itu tentu membuat Andra heran, karena merasa sebelumnya tidak ada yang salah pada mereka.


“Iya, tapi mau kemana? Biar aku antar..."


“Nggak usah, kamu harus kerja!"


Sentakan Lany, membuat Andra semakin bingung dengan perubahan sikap sang istri.


“Aku cuma mau ke - ketemu teman satu agensi yang kerja di kapal dulu.” Ucap Lany terbata-bata.


“Mau reunian?" Tanya Andra dengan tatapan memicing.


“Iya.” Sela Lany cepat, “Aku mau reunian!”


“Dimana? Pasti dari sini jauh, biar aku antar ya!” Andra masih berusaha membujuk Lany dengan begitu lembut. Namun, istrinya itu selalu menolak.


Akhirnya Andra pun mengalah, ia mengizinkan Lany pergi seorang diri, dengan syarat ia yang memesankan grabcar. Walaupun Andra sendiri sedikit khawatir, tapi ia juga tak bisa memaksa, sebab sudah harus berangkat ke kantor.


Karena Andra tahu, setiap hubungan pasti ada pasang surutnya. Dan jika itu terjadi, Andra ingin menjadi orang yang selalu berusaha mengalah dan memahami situasi yang ada. Andra bersikap demikian agar Lany tak merasa kurang perhatian dan memutuskan melakukan hal seperti yang Riana lakukan. Sebisa mungkin, ia ingin melakukan yang terbaik untuk Lany, ia tidak ingin kehilangan wanita itu.


“Hai Bro, baru mau berangkat, nih?"


Andra tersenyum mendengar sapaan seorang pria yang merupakan salah satu penghuni apartemen ini juga.


"Iya nih, bro! Samaan?”


Lany, Andra, pria tadi dan beberapa penghuni lainnya beriringan keluar dari apartemen. Semua bergegas untuk pergi bekerja. Sementara Andra, dia langsung mengantar Lany sampai pada kendaraan grabcar yang baru saja tiba.


“Atas nama pak Alandra, ya?" Tanya pria tersebut.


“Iya."


“Silahkan mas.”


Andra membukakan pintu untuk Lany dan mempersilahkan istrinya masuk.


“Hati-hati ya, jangan lupa kabarin kalau udah sampai.” Meskipun Lany masih bersikap dingin, namun Andra tetap bersikap sama seperti biasa, ia tersenyum dan tak lupa memberi kecupan di kening sang istri walau Lany sama sekali tak bergeming.


“Titip istri saya, ya, pak!" Ucap Andra setelah menutup pintu belakang. Ia menunduk, menatap wajah pak supir dari jendela depan.


“Jangan terima orderan lain sampai dia selesai! Antar sampai pulang, nanti bayarannya lebih ples bintang lima deh!"

__ADS_1


“Beres, pak. Istrinya aman!” Ucap pak supir dengan begitu sumringah mendengar perkataan Andra.


...______...


“Pulang, neng?" Tanya pak supir begitu melihat Lany melangkah ke pelataran parkir dengan wajah lesu ples ditekuk. Entah apa yang terjadi di dalam sana hingga begitu keluar wajahnya seperti ditumpuki beban yang sangat berat.


Mendungnya ibu kota sama mendungnya dengan aura yang Lany pancarkan, wajahnya begitu letih, seakan tidak ada semangat pada diri. Pak supir grab yang melihat itu hanya menggaruk kepala saat Lany tak menjawab pertanyaannya, ia lalu ikut masuk dan segera melaju.


“Stop, Pak, stop!” Seru Lany saat mobil tersebut melintas pelan tepat di depan sebuah minimarket.


“Loh, kan belum sampai, neng!" Timpal Pak supir namun tetap menghentikan mobilnya.


“Saya mau belanja dulu, pak!” Sahut Lany lesu, “Udah deket juga dari apartemen, nanti saya bisa jalan.”


“Tapi neng, si mas yang tadi suruh saya buat antar sampai apartemen. Saya udah di bayar lebih, nanti bisa di kasih bintang satu kalau nggak ...”


“Yah, malah main pergi aja!”


“Oyyy!! neng!" Teriak pak supir saat Lany malah berlari masuk ke dalam minimarket tanpa mendegar penjelasannya. Pak supir yang was-was karena takut di kasih bintang satu, pun akhirya pergi dengan hati yang tidak baik-baik saja, ia begitu takut jika Andra akan menuntut balik uangnya. Hmmmt, sungguh pak supir yang penuh drama.


Sementara Lany, setelah membeli sebotol minuman. Harus menanti beberapa saat di teras minimarket saat rintik hujan itu perlahan menjadi deras, membasahi ibu kota. Melengserkan matahari dari tahta sebelum waktunya. Yang seharusnya masih menyinari bumi dengan cuacanya yang terik, namun kehadiran awan gelap yang lebih dominan membuat sang surya tertutup kabut awan yang siap menumpahkan hujannya di sana.


Cukup lama Lany menunggu, beberapa kali ia mondar-mandir dari duduk dan berdiri di sandaran dinding, berharap hujan segera reda agar bisa pulang untuk meredam suasana hatinya yang sedang carut marut setelah pertemuannya dengan seseorang tadi.


Namun hujan seolah mengajaknya bermain, mempermainkan perasannya yang sempat senang saat rintiknya perlahan mereda namun lantas kembali deras begitu ia melangkahkan kaki dari teras minimarket. Beberapa kali Lany menghela napas, ia kesal pada situasi. Hatinya ingin sesegera mungkin meluapkan semua, tapi cuaca siang itu begitu tak mendukung hingga membuatnya harus terjebak.


“Ah, bodo amatlah! Mau basah atau tidak, aku harus tetap pulang." Dengan tekat yang bulat dan tak ingin berlama-lama terjebak di sana. Lany melangkahkan kakinya, berlari menyusuri trotoar di bawah deraian hujan yang perlahan mereda.


Bau asap kendaraan dan bau hujan yang membasahi jalan menguar menusuk hidung, membuat tubuhnya lemas seketika. Ia benci saat tubuhnya harus lemas setiap kali mencium bau aneh, sama seperti semalam, bahkan tadi saat di cafe, hidungnya selalu tak bisa diajak kompromi. Indra penciumannya itu seakan menolak bau yang menurutnya aneh. Entahlah, Lany tidak mengerti keadaan ini. Semuanya terasa aneh dan baru.


Rasanya ia sudah tidak kuat lagi, namun hamparan gedung apartemen dari tempatnya berpijak membuat ia berusaha kuat agar tidak tumbang sebelum sampai tujuan.


“Kuat, Lan! Sedikit lagi!” Ucapnya menyemangati diri. Telapak tangannya terarah membekap mulut agar segala macam bau tak merobohkan pertahanan terakhirnya. Tasnya sudah pindah posisi ke atas, melindungi kepalanya dari derain hujan sambil terus meniti langkah.


“Hey, Lany!!" Suara seseorang membuat Lany menoleh. Samar-samar senyum terukir dari bibir yang tertutup oleh telapak tangannya. Wajah cantik di balik kaca mata dari gadis pemilik nama unik itu datang menghampirinya. Ya, dia Rapunzell. Gadis yang pernah dibelanya itu muncul dari sisi jalan bersama seorang pria yang tidak asing bagi Lany.


“Kenapa main hujan, Lany? Nanti kamu bisa sakit loh.”


“Aku dari situ," Lany menunjuk lemas ke arah minimarket.


Lany terdiam menatap Ziell yang seperti memikirkan sesuatu. Gadis itu tersenyum dan mendekatkan dirinya pada sosok pria tampan di sampingnya, kemudian berbisik.


“Kak, apa dia boleh ikut bersama kita?? Dia tinggal di apartemen yang sama denganmu, hanya beda lantai saja!"


“Aku tahu!" Ketus pria di samping Ziell.


“Hah, kamu tahu?" Tanya Ziell heran.


Senyum terukir dari bibir Lany saat ia bisa mendengar bisikan dari kedua makhluk hidup di depannya. Dia memang membutuhkan tumpangan agar bisa sampai dengan cepat. Tahu begini, tadi dia tidak akan menyuruh grabcar itu meninggalkannya.


“Kak, jawab aku! Apa Lany boleh ikut?!”


“Aih, terserah kau saja Rosalinda!!"

__ADS_1


Ingin sekali Lany tertawa terbahak-bahak mendengar kata 'Rosalinda’ dari mulut pria itu. Namun kondisi tubuhnya sangat tidak mendukung.


__ADS_2