My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 88 [Mood Swing]


__ADS_3

“Don't be happier, By. Don't be happier like when you be mine!" (Jangan lebih bahagia, sayang. Jangan lebih bahagia seperti saat kamu menjadi milikku!)


Dan Andra hanya bisa menyerngitkan kening mendengar ucapan Lany sembari ikut beranjak dan bersandar di kepala ranjang, sama seperti yang Lany lakukan.


“Ngomong apa sih?" Masih dengan kening mengkerut Andra menatapnya sekilas, saat tubuh dibalut kaos hitam itu agak sedikit bergeser hingga sejajar dengan kakinya yang tengah berselonjoran, bahkan kini tangan lebar milik Andra mulai memijat kakinya.


“Andra!" Cebik Lany kesal.


“Apa sayang, kenapa?" Sambil terus memijat Andra kembali menoleh sekilas.


“Denger omonganku gak sih?"


“Denger sayang, denger. Kenapa emang?"


“Ih!” Bahkan ia harus kembali memberenggut, entah kenapa emosinya begitu mudah tersulut, padahal Andra memang sama sekali tidak paham apa maksud dari ucapannya barusan. Pria itu memilih fokus memberi pijatan di kakinya.


“Kenapa nggak respon ucapan ku sih?"


“Gimana mau ngerespon kalau aku sama sekali nggak tau apa maksudnya." Jelas Andra masih dengan wajah teduh. Tatapannya benar-benar menyejukkan.


Lany memutar mata malas, kemudian berkata, “Itu, mantan kamu!”


Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Andra sudah memberi tatapan datar, seolah mengisyaratkan agar ia tak melanjutkan apa yang ingin Lany katakan. Andra tahu, mood istrinya itu sedang seperti rollercoaster. Pembahasan soal mantan jelas sesuatu yang sensitif. Selain itu, ia juga ingin menjaga agar mood Lany tetap baik.

__ADS_1


Namun Lany sama sekali tak memperdulikan tatapannya, entah karena tidak mengerti atau ia memang harus mengatakan hal ini.


“Enteng banget ya dia ngomong kayak tadi.” Raut wajah kesal tampak terpancar nyata di wajah Lany ketika mengingat apa yang Riana katakan pada Andra sore tadi, saat ingin membangunkannya yang ketiduran. Ya, dia memang mendengar semua, sebab saat Andra sudah berjongkok di sisi sofa untuk membangunkannya, ia sudah bangun lebih dulu. Namun, ucapan Riana saat itu justru membuat ia memilih untuk berpura-pura tidur demi untuk mendengar semua yang Riana katakan.


“Udah, jangan dibahas lagi" Tegur Andra, sepertinya ia benar-benar tidak ingin membuat suasana hati Lany buruk.


“Omongan dia gak usah si dengar!"


“Gimana gak didengar, orang kamu aja responnya menye-menye gitu. Kayak orang yang ngasih harapan, mana nggak pas aku tanya kenapa kamu bilang nggak ada apa-apa. Itu maksudnya apa coba?" Omel Lany dengan ciri khasnya jika sedang kesal pada Andra, sudah seperti ibu-ibu kompleks yang sedang mengintrogasi.


“Aku cuma mau jaga perasaan kamu, neng. Biar kamu gak marah!" Jelas Andra apa adanya, karena memang itulah tujuan ia tak mengatakan semua pada Lany.


Namun, bukannya percaya. Ibu hamil yang sepertinya kadar sensitifnya sedang meningkat itu justru tidak percaya pada apa yang baru saja Andra katakan.


“Apa sih, gak usah bahas ginian." Ucap Andra dengan wajah datar, “Nanti ujung-ujungnya aku juga yang kena."


Seketika wajah Lany berubah murung setelah mendengar jawaban dari Andra. Entah mengapa ia langsung merasa sedih begitu mendengar ucapan suaminya itu.


“Tuhkan," Sambil menunjukkan wajah jengah, tangan Andra terulur menarik Lany ke dalam dekapannya saat mata istrinya itu mulai berkaca-kaca.


“Aku ngomong begitu bukan karena masih terjebak masa lalu, hanya saja menurutku nggak ada yang perlu diperpanjang lagi. Kami berdua udah gak ada hubungan spesial, lagi pula aku udah ada kamu, Lan.” Sebisa mungkin Andra mencoba memberi pengertian dengan lembut, ia benar-benar tak ingin salah kata. Mengingat betapa sensitifnya wanita hamil ini.


Lany yang diperlakukan seperti itu lebih memilih untuk diam, ia menelusup kan wajah dalam-dalam di dada bidang Andra sambil mendengar ucapannya.

__ADS_1


“Nggak usah mikirin hal yang gak seharusnya lagi, ya. Sekarang yang terpenting itu kondisi kalian." Ucap Andra dengan jemari yang tergerak mengusap perut Lany.


“Lagi pula apa yang kamu khawatirin sih, mau seberapa sering dia ngomong begitu. Nggak akan bisa merubah kenyataan kalau sekarang aku adalah milik orang lain, dan orang lain itu kamu!” Entah kenapa ucapan Andra selalu saja bisa membangun kepercayaan dirinya.


“Nggak ada alasan aku terjebak di masa lalu saat pernikahan kita sebentar lagi akan lengkap karena kehadiran dia!" Andra menyentuh perutnya dengan lembut.


Hal itu membuat perasaan Lany kian carut marut. Dari yang tadinya jealous, kini beralih menjadi bahagia. Ucapan Andra benar-benar membuat perutnya seperti dihinggapi ribuan kupu-kupu yang berterbangan. Entahlah, pria itu memang selalu bisa membuatnya merasa tenang dan nyaman. Aura yang Andra pancarkan benar-benar selalu positif.


Dan, obrolan mereka pun harus berakhir dengan Andra yang mengatakan jika untuk saat ini mereka harus tinggal di rumah ini sampai waktu yang tak ditentukan. Bukan tanpa sebab, tapi Andra ingin membangun kedekatan antara Lany dan keluarganya.


Meski enggan, tapi Lany mau tidak mau harus menuruti keputusan Andra.


“Udah ah, tidur yuk. Aku pengen peluk kalian!" Ucap Andra sambil mematikan lampu yang ada di atas nakas.


Beruntung saat ini Lany masih bisa dijinakkan dengan mudah. Andra sendiri benar-benar tidak mengerti dengan kondisi ibu hamil yang begitu mudah berubah dalam satu waktu. Dan hal ini membuat ia ingin memberikan keduanya perhatian ekstra.


“Jangan rewel ya, dek. Kasian Mama kalau lemes karena harus muntah-muntah mulu.” Dan yang makin membuat Lany terharu adalah saat Andra selalu saja mendaratkan kecupan di kening dan perutnya secara bergantian, setiap sebelum tidur ataupun ada waktu luang. Membuat Lany benar-benar merasa sangat disayangi.


“Have a nice dream ya kalian!" Lirih Andra, kemudian setelah itu keduanya benar-benar berbaring dengan kondisi saling berpelukan di balik selimut tebal yang memberi kehangatan dan rasa nyaman yang luar biasa.


TBC....


...♥️♥️♥️♥️♥️♥️...

__ADS_1


__ADS_2