My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 67 [Mami Knows, Andra's Reason]


__ADS_3


“Oma kecewa padamu, Alandra!” Sentak Oma saat mereka baru saja pulang dengan membawa rasa malu. Orang tua Riana marah besar dan kecewa atas kelakuan Andra, bahkan akan mengancam untuk memutus hubungan jika Andra tidak merubah keputusannya.


“Sudahlah! Kenapa harus diperpanjang, mungkin Andra merasa tidak cocok.” Andra tersenyum mendengar ucapan Opa. Ya, hanya Opalah yang selalu menghargai setiap keputusannya, walau terkadang suka mengekang dan mengharuskan Andra melakukan apa yang ia inginkan.


“Kalau dipaksa nanti tidak akan baik, iyakan Andra?"


Andra hanya tersenyum masam menanggapi ucapan Opa.


“Tapi, Pah!" Sentak Oma saat Opa pergi meninggalkan ruang tamu. Oma balas menatap Mami Inka yang sedari tadi diam sembari memijat pelipisnya.


“Urus dia, Inka!" Oma yang geram segera berlalu menyusul Opa.


“Ikut Mami, Ndra! Kita perlu bicara dan Mami mau tahu apa alasan kamu!" Mami yang merasa tidak enak pada keluarga Riana, sebisa mungkin menyelesaikan masalah ini. Jika bukan dia maka siapa lagi. Karena Papi Ervano pun sudah pasti memihak pada keputusan Andra. Ya, papi memang selalu berusaha menuruti setiap keinginan Andra demi mengambil hati putra sulungnya itu. Sebab Andra pernah sangat membenci Papi dan bersikap dingin karena Papi menduakan wanita yang sangat Andra hormati.


“Sekarang jawab pertanyaan Mami, siapa cewek yang kamu bawa ke kantor itu?" Mami menatap Andra yang berdiri di hadapannya.


“Jangan bilang dia penyebab Kamu lakuin ini ke Riri!”


“Siapa dia Andra? Kenapa kamu tega menyakiti Riri seperti in?” Desakan Mami membuat Andra semakin menundukkan kepala.


“Kalian sudah mau menikah! dan kamu malah jadi penghianat seperti Papi! Kamu selingkuhin Riri kan?” Air mata Mami pun menetes. Ibu Andra itu memang begitu sensitif jika membahas soal penghianatan, mengingat ia juga pernah dihianati oleh suaminya saat Andra masih kecil dulu.


“Aku bukan penghianat, Mi!" Andra menggeleng, ia mendekat dan berjongkok di hadapan Mami yang sudah bisa mengontrol diri sembari menghapus air matanya.


“Dia istriku, Mi. Cewek itu Istriku, menantu Mami. Kami tidak selingkuh!” Andra menelungkupkan wajahnya di paha Mami, tangannya terus menggenggam tangan orang yang telah melahirkannya itu.


Mami bagai tersambar petir, bisa dibayangkan betapa terkejutnya seorang ibu yang tiba-tiba mendegar pengakuan putranya, yang jelas-jelas ia sendiri tidak tahu menahu soal ini.


Mami menggeleng sembari menutup mulutnya, “Apa maksudmu, Alandra? Ka-kamu ...." Mami terus menggeleng tidak percaya.


“Mi ...” Andra mendongak menatap wajah Mami. Ia akan menceritakan semua secara detail, “Dengerin penjelasan Andra, Mi.”


Melihat Mami mengangguk, Andra lalu mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku celana yang ia ambil dari ruang kerjanya sebelum berangkat tadi. Sebelum itu, Andra meraih sebuah laptop dari almari dan meletakkannya di meja. Mami yang melihat itu hanya menyerngit heran, tapi tetap menunggu apa yang ingin Andra sampaikan.


Pria yang sama sekali tidak pernah menampakkan kesedihannya itu tiba-tiba meneteskan ai mata, membuat Mami makin heran. Ini yang pertama kalinya dia melihat putranya menangis semenjak Andra dewasa. Hal itu tentu membuat ragam tanya berseliweran di kepala Mami.


“Apa aku terlihat begitu mengenaskan jika menangis di hadapan Mamiku sendiri?"


Pertanyaan Andra itu membuat Mami menggeleng sambil menangkup wajah putranya, dan menghapus jejak lelehan air mata yang sudah sedikit kering.


“Ceritakan semuanya, nak! Mami akan dengar semua keluh kesahmu.”

__ADS_1


Setelah merasa cukup tenang, Andra kemudian menarik napas dan mulai menceritakan semua pada Mami. Ingatannya tertuju pada kejadian tiga bulan yang lalu, sebelum ia memutuskan untuk pergi berlibur.


Hari itu Andra berniat menemui Riana di apartemen yang biasa dijadikan Riri rumah kedua tempat perkumpulan bersama teman-teman agensy modelnya. Selain sibuk menjalankan bisnis sebagai seorang beautypreneur, Riri juga menggeluti dunia modeling sama seperti Dara, adiknya.


Dan siang itu, Andra pergi ke apartemen Riri, Ia yang memang tahu pasword apartemen langsung masuk begitu saja, Andra berniat memberi kejutan namun apa yang dilihatnya pada saat itu menjadi titik balik hidupnya. Hatinya hancur berkeping-keping saat mendapati kenyataan jika wanita yang sangat ia cintai tengah berdua dengan adiknya sendiri, Rival.


Awalnya Andra berusaha berpikiran positif, begitu terkejut saat melihat Riana menunjukkan sebuah benda panjang, yang ia sendiri jelas tahu benda itu adalah testpack. Hati Andra semakin hancur, namun ia tetap berusaha menahan diri demi untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.


“Untung negatif, kalau nggak! Bisa mati aku.” Ucapan Riri itu membuat jantung Andra sesaat berhenti berdetak. Rasa sesak seakan menguasai di dalam sana. Bahkan ia menangis tanpa mengeluarkan suara. Hatinya sakit sekali, ucapan Riri dan benda tadi seakan memberi jawaban yang sama sekali tak terlintas di kepalanya.


“Aku nggak bodoh, Ri! Kalau kamu hamil, kak Andra bisa ngamuk.”


Perkataan itu sangat jelas menunjukkan jika mereka sudah melakukan hubungan yang jauh. Andra termangu di tempat, tubuh tinggi itu merosot di balik dinding sambil menahan sesak yang begitu menyakitkan. Bagaimana mungkin wanita yang ia cintai tega melakukan itu dengan adiknya sendiri, Riana yang mati-matian ia jaga sejak kecil, tega melakukan hal semenjijikan ini. Padahal Andra sudah menjaganya sedemikian rupa, tidak akan menyentuh wanita itu sebelum ada ikatan yang sah. Dan Rival, kenapa anak itu tega main belakang dengan calon kakak iparnya sendiri. Andra tak habis pikir, selama ini ia memang membenci kelakukan Papi dengan mendiang ibu Rival, tapi Andra sama sekali tidak pernah membenci Rival, dia menyayangi pria yang dua tahun lebih muda itu sama seperti sayangnya pada Dara.


”Kalau aku nggak cinta banget sama dia, aku mana mau bertahan sampai saat ini. Kakak kamu itu dari dulu terlalu cuek, nggak romantis dan nggak peka, jarang ada waktu buat aku.Tapi untung ada kamu, Val!” Ucapan Riana yang disusul rengkuhan dari Rival seakan menjawab pertanyaan dalam diri Andra, tentang bagaimana Riana tega menduakannya. Andra tidak menyangka jika hal sesepele itulah yang menjadi alasan untuk Riana bermain belakang.


Berulang kali Andra berpikir apakah sebegitu kurangnya ia hingga pantas menerima penghianat seperti ini?


Hal itu membuat Andra muak pada Riana dan Rival, setiap hari ia menagis dan memendam rasa sakitnya seorang diri tanpa ada tempat mengadu. Hingga suatu hari Novi melihatnya, sebagai sekertaris sekaligus asisten merangkap teman, Novi prihatin pada Andra yang beberapa hari mengurung diri sampai mengakibatkan tubuhnya drop akibat kenyataan pahit itu.


Novi menyarankan untuk mencari bukti soal perselingkuhan mereka. Andra yang awalnya enggan, harus bersandiwara baik, ia dan Novi datang memberikan sang penghianat kejutan, hingga saat Riana lengah bersama Andra. Novi masuk ke ruang cctv dan mengcopy semua yang bisa menjadi bukti. Berkat ide Novi, mereka berhasil mendapat rekaman cctv dimana kedua makhluk bejat itu terlihat sering bercumbu setiap waktu. Itu membuat Andra jijik dan hilang respect pada mereka.


Andra sempat depresi akibat kejadian tersebut dan sama sekali tidak ada yang tahu soal kondisinya yang mengenaskan, hanya Novi yang merawatnya. Hingga dokter menyarankan agar Andra pergi berlibur, mencari ketenangan agar semua beban itu lepas.


Sampai saat malam dimana ia melakukannya dengan Lany, Andra sempat beberapa kali menyebutkan nama Riri, ia memang masih belum bisa melupakan cinta pertamanya itu. Hingga Andra tersadar, ia telah menodai seorang gadis. Bahkan ia makin terkejut saat gadis itu ternyata Indonesian people, sama sepertinya. Hal itu membuat Andra ingin bertanggung jawab.


Ia percaya karma does exists, karma itu ada. Andra punya adik perempuan, ibunya juga perempuan. Ia tidak ingin hal itu berbalik mengenai keluarganya. Namun tak disangka, niat baiknya malah ditolak mentah-mentah oleh gadis yang bagi Andra sedikit keras kepala itu. Bahkan penolakan gadis tersebut menjadi awal mula ia tersenyum kembali dengan tulus. Penolakan konyolnya membuat Andra terhibur dan sesuatu di relung hatinya mendorong ia untuk berjuang mendapatkan gadis tersebut.


Ya, saat itu Andra benar-benar terkena virgin effect dan benar-benar merasakan Fallin love at first sight. Pertemuannya dengan Lany membuat ia lupa akan kesedihannya selama ini.


Cerita itu berakhir bersamaan dengan Andra yang bergerak mematikan laptop dan menutupnya. Andra lanjut menceritakan perjuangannya untuk mencari Lany dan semua cerita menyenangkan saat ia dihajar karena telah menodai anak orang yang sedang berjuang memcari rejeki.


Andra tersenyum lega bisa menceritakan semua pada Mami yang sedari tadi terus menangis saat mendengar curhatan putranya bersamaan dengan matanya yang menyaksikan kelakuan bejat dua orang dalam Video. Mami Inka tak menyangka Andra juga merasakan sebuah penghianatan, sama seperti dirinya dulu.


"Kalo dia tinggalin kamu, artinya dia gak layak dapet kamu. Bersyukur Tuhan bukakan sifat aslinya sebelum kalian menikah. Tuhan sayang kamu, nak!" Mami memeluk Andra dengan isakan tangis.


“Tante Rita dan Om Santoso harus tahu kelakuan putri mereka!” Mami mengusap rambut Andra, “Papi juga harus tau kelakuan anaknya.”


“Mi." Andra melepas pelukan Mami, matanya menatap seakan memohon agar Mami tidak memberi tahu ini pada siapapun.


“Cukup kita yang tahu, Mi! Yang lain nggak perlu tau aib mereka.” Andra memohon dengan sangat.


“Tapi, Andra!"

__ADS_1


“Aku mohon!” Andra menggenggam kedua tangan Mami, wajah sembab Mami Inka seakan tidak rela dengan keputusan putranya.


“Let bygones be bygones, Mi! (Yang lalu biarlah berlalu!) Biarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Hidup itu ada hukum tabur tuai, suatu saat mereka akan menuai apa yang mereka tabur sekarang!" Andra berusaha menyakinkan Mami dengan tersenyum ikhlas.


“Lagi pula aku sudah bahagia dengan istriku, Mi! Aku cinta dia, dan aku beruntung Allah memberikan pengganti disaat aku terpuruk."


Tangan Mami tergerak mengusap pipi Andra, “Besok bawa istri kamu ke sini! Semua keluarga harus tau.”


...•••••...


Lany, saat ia tengah duduk menanti Andra sambil menatap suasana kota dari balkon. Dengan sigap ia pergi membuka pintu begitu mendengar suara bell berbunyi. Tanpa melihat siapa yang datang dari smart lock, Lany langsung membuka pintu.


“Mbak, Novi?" Tanya Lany heran saat yang datang bukan yang diharapkan.


“Dikira pak Andra, ya?" Novi tersenyum melihat raut wajah Lany.


“Hehe tau aja!" Lany menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Masih lama, bu. Mungkin bapak bermalam di sana." Penjelasan Novi membuat Lany mendesah kecewa.


“Makanya saya disuruh kesini buat menemani, ibu.” Novy tersenyum lebar sambil memainkan alisnya.


“Saya bawa ini loh." Seketika Lany langsung bersemangat saat Novi menunjukkan dua paperbag berlogo Mcdonald dengan wajah sumringah.


Sepertinya kedua wanita itu benar-benar sudah menjadi teman dekat. Lany pergi ke dapur untuk ambil piring, sendok dan teko air minum beserta gelas-gelasnya.


Namun begitu membuka paperbag, Lany langsung lari terbirit-birit mencari wastafel untuk memutahkan isi perutnya. Bau menyengat dari berbagai makanan yang ada seakan mengaduk isi perut Lany.


Novi yang melihat itu langsung panik dan menyusul Lany yang tengah membasuh mulutnya di wastafel pencucian piring.


“Ibu kenapa? Sakit?" Tanya Novi heran sekaligus bingung harus melakukan apa.


“Nggak tau, mbak. Kok McDonaldnya sekarang bau, ya?" Novi yang mendengar itu, lekas menuju ruang tamu dan memeriksa semuanya.


“Nggak ada yang bau kok, bu. Masih anget ini." ucap Novi menyodorkannya pada Lany.


“Nggak!” Tolak Lany dengan satu tangan menutup hidung dan kembali muntah setelahnya.


Novi yang melihat itu semakin bingung dan panik. Kali ini Lany benar-benar lemas akibat isi perut yang terkuras habis.


“Saya telepon pak Andra ya, bu. Takutnya ibu kenapa-kenapa.” Novi hampir pergi mengambil hp, tapi Lany segera mencegahnya.


“Nggak, nggak! nggak usah.” Lany menggeleng lamas sambil menggerakkan telapak tangan, tanda tidak setuju. “Jangan ganggu dia, biarin aja! Dia juga jarang pulang kan? Pasti keluarganya juga rindu berat.”

__ADS_1


__ADS_2