
“Lany lulusan D3 politeknik Pariwisata, jurusan perhotelan, gelarnya A.Md., Par!" Tak hanya menjelaskan tentang pendidikan, tapi Andra juga secara detail menjelaskan semua, mulai daritempat tinggal, nama bapak dan apa pekerjaannya. Andra menjelaskan semua dengan bangga.
Hal itu membuat Lany menatap penuh tanya, bagaimana Andra bisa mengetahui semuanya.
Darimana Andra tahu?
Kenapa sampai sedetail itu? Tanyanya dalam hati, padahal ia sama sekali tak pernah bercerita banyak hal pada Andra, apalagi tentang pendidikannya.
Namun semua harus kembali menoleh saat oma berucap ketus, disusul dengan pertanyaan Dara yang membuat ia harus kembali jatuh, sejatuh-jatuhhnya.
”Oma gak nanya kamu Andra! Oma tanya istri kamu!” Sentak Oma sambil menatap tajam.
“Sebenarnya kalian ketemu dimana sih kak?” Kali ini pertanyaan Dara sangat nyata menampakkan keheranan. Mungkin karena kakaknya tiba-tiba pulang membawa istri yang jauh dari kategori. Ya, bisa saja. Bukankah orang kaya memiliki standar yang berbeda? Bukankah kebanyakan mereka memilih pernikahan dengan yang sepadan tentunya!
“Udah-udah, kenapa jadi melipir ke pembahasan begini sih?" Ucap Papi menengahi, “Ada keluarga baru itu harusnya disambut dengan baik, bukan malah diinterview begini." kini papi beralih menatapnya sambil tersenyum. Seolah mengisyaratkan permohonan maaf atas apa yang terjadi.
“Nggak salah Pi, mama wajar kok bertanya. Diakan mau tau tentang cucu menantunya.” Kini bahkan Mami pun mulai ikut menimpali.
Entah mengapa, makin kesini Lany merasa situasi makin tegang. Ia benar-benar seperti diintrogasi.
“Memang nggak ada pertanyaan yang salah. Hanya saja kesannya kalian seperti tidak bisa menghargai Lany dan juga Andra. Dia istri Andra, pilihan Andra, yang artinya bagian dari keluarga kita juga. Dan pertanyaan macam ini tidak pantas ditanyakan, karena Melany ini bukan sedang interview seperti kata Ervan.” Kali ini ucapan opa benar-benar membuat Lany terharu karena merasa dibela oleh salah satu orang yang ia kira akan sangat menolak keberadaannya.
Ucapan Opa membuat Oma mencebik, “Apa sih, orang cuma nanya doang kok. Kenapa kesannya malah aku yang salah. Orang yang ditanya aja gak keberatan kok, iya kan Lany?” Cecarnya sembari memberi tatapan mengintimidasi.
“E-ee, iya Oma.” Lany menatap semua sembari berusaha menampakkan senyum, menujukkan jika ia memang sama sekali tak keberatan menjawab pertanyaan yang memang benar seperti tengah diinterview sebelum melamar kerja. Segala pendidikan dipertanyakan, hmmmnt, poor Lany!
“Ya udah, dijawab! Masih ingat pertanyaan saya tadi kan?"
Lany mengangguk. Tentu saja ia tidak akan melupakan pertanyaan menohok oma barusan, yang kata-katanya persis seperti silet. Namun, sebelum menjawab, Lany berulang kali menghembuskan napas, berusaha mengendalikan diri agar tetap rileks, meski hatinya sedang ketar-ketir.
“Seperti kata Andra, saya cuma lulusan D3, pernah kerja di hotel beberapa tahun dan terakhir ini kerja di kapal pesiar, dua tahun lebih..”
“Saya bukan dari keluarga kaya ataupun terpamdang, saya hanya orang biasa.” Jawab Lany apa adanya, biasanya ia selalu bangga pada pekerjaannya itu Namun, kali ini ia seperti terjun ke jurang penistaan saat melihat raut wajah oma dan Dara secara bersamaan menyerngit, seolah merendahkan apa yang baru saja ia paparkan.
Begitu pun dengan Mami Inka, namun ibu Andra itu tetap berusaha tersenyum, meski dengan wajah terpaksa. Hal itu tentu membuatnya kian berkecil hati, ia sudah sering direndahkan. Namun entah mengapa ini jauh lebih menyakitkan, mungkin karena statusnya sebagai istri Andra lah yang membuat ia benar-benar merasakan perbedaan. Latar belakang kasta yang teramat jauh membut ia sama sekali tak ada harganya berada di sana. Situasinya sama persis seperti saat Lany kecil merasa dikucilkan oleh keluarganya. Jika dulu ia selalu diabaikan oleh Ayahnya sendiri, sama sekali tak memiliki pelindung, tapi sekarang situasinya terbalik. Disini ia justru merasa memiliki tiga sosok pria berbeda yang mau membelanya.
“D3?" Pertanyaan menohok Oma membuat ia mengangguk lesu. Bersamaan dengan Andra yang masih berusaha menghentikan oma.
__ADS_1
“Oma!” Seru Andra dengan jemari yang terus menggenggamnya dengan erat.
Namun oma sama sekali tak menghiraukan apa yang Andra katakan, ia terus saja bicara tanpa memperdulikan tatapan resah dari Papi, Opa dan juga Andra.
“Kamu beneran cuma lulusan D3?!”
“Iya oma." Lirih Lany lagi.
“Mau jadi apa? Kamu jelas gak bisa mengimbangi Andra.”
Ucapan nyelekit itu benar-benar menyisakan sembilu yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.
“Gak apa, aku bangga sama kamu! kamu udah ngelakuin yang maksimal! Kamu pekerja keras, Jangan denger kata mereka! Aku disini, jangan takut!" Bisikan disertai usapan di punggung tangannya membuat ia sejenak bisa menampakkan senyuman palsu saat menoleh pada Andra yang menatap penuh rasa bersalah.
“Kak Andra gimana sih, Mi? Bisa-bisanya ninggalin Kak Riri hanya demi yang beginian!" Dan kini bahkan Dara mulai berbisik dengan Mami.
“Cantik sih, tapi gak sesuai buat kakak!”
“Husst, jangan berisik. Nanti Kakak kamu denger! Yang opa ucapkan ada benarnya, setidaknya hargai pilihan kakak kamu!"
“Maaf nih ya, bukannya lancang. Tapi aku pengen nanya, boleh?" Kali ini ia kembali dibuat harus menoleh pada Dara yang seperti ingin bertanya disela rasa enggan. Antara tak ingin tapi ia terlihat penasaran akan sesuatu.
“Boleh.” Lany mengangguk, mempersilahkan Dara menanyakan apa saja. Ia bisa melihat jika Dara kelihatan beberapa kali menatap Andra. Hingga akhirnya ia sama sekali tak mendengar Dara menanyakan apapun. Mungkin karena Andra memberi isyarat untuk tidak macam-macam, atau ... Ah, entahlah, ia tak bisa lagi mencerna hal lain selain rasa canggung.
“Ngobrolnya nanti lagi, sekarang kita makan siang dulu!” Mami beranjak dari duduknya setelah melirik jam mewah yang bertengger di tangannya.
Hal ini tentu membuat ia tak henti-hentinya mengucap syukur, sebab obrolan menguras emosi itu harus berakhir sampai di sana.
............
“Bagaimanapun Lany, apapun latar belakang dia, tidak seharusnya Mama bersikap seperti tadi! Sekarang dia adalah bagian dari keluarga kita, cucu kita juga Ma! Dia istri Andra, jadi tidak ada alasan untuk menolaknya!" pungkas Opa, saat semua kembali berkumpul di ruang keluarga setelah makaj siang, tanpa kehadiran Andra dan Lany di sana.
“Loh, kenapa Papa jadi begitu mudah menerima dia? Bukannya selama ini Papa juga selalu mengutamakan latar belakang kalau menyangkut soal pasangan hidup untuk anak-anak?" Sentak Oma yang mulai berkelit.
"Benar sekali, itu memang benar!” Sergah opa dangan cepat, "Tapi ada pengecualian!" Lanjutnya sembari menatap semua yang ada secara bergantian. Berharap mereka bisa mencerna ucapannya.
”Kita tidak sedang mencari atau harus memilih, kita harus bisa menerima. Karena mereka sudah menikah, dia adalah pilahan Andra! Kita harus bisa menghargai itu!” pungkas Opa dengan raut wajah dingin.
__ADS_1
“Dia memang mungkin gak seperti yang keluarga kita inginkan, tapi kita gak bisa apa-apa karena dia dan Andra sudah menikah!"
“Lagi pula anaknya kelihatan baik!”
“Baik apanya? Kenapa Papa jadi bela dia sih! Kita kan belum tau sikapnya bagaimana!” Sentak Oma tak terima.
“Lagian kenapa juga sih, Andra malah ninggalin Riana buat si Lany itu. Dia sama sekali gak punya kelebihan!" Gerutu Oma, kini tatapannya beralih menatap Mami Inka, “Gimana sih Inka, kenapa Andra bisa menentukan pilihan seperti ini!"
Mami Inka yang tahu semuanya pun hanya terdiam, ini semua juga karena Andra yang tak mengizinkan ia untuk memberi tahu keluarga yang lain. Karena bagi Andra ini adalah Aib memalukan untuk Riana dan Rival yang entah dimana keberadaannya.
Mami Inka yang awalnya mau menerima Lany dengan tangan terbuka, sebab mengira status mereka sama. Apalagi mereka bertemu di kapal pesir, tentu bukan orang sembarang yang bisa berada di sana. Namun ia sangat terkejut saat tahu kenyataan yang sebenarnya, jika Lany ternyata hanyalah seorang pekerja.
Mami Inka begitu menyayangkan kenyataan ini. Ia yang awalnya berharap agar Andra bisa mendapatkan wanita yang lebih dari Riana, nyatanya malah menjatuhkan pilihan pada wanita yang perbedaan status sosialnya jauh.
Meski jauh dari lubuk hati yang paling dalam Mami bukanlah tipe orang yang suka merendahkan orang lain, tapi situasi ini benar-benar sulit ia terima.. Apalagi penghianatan Riana adalah sebuah penghinaan bagi keluarga mereka, tentu cara untuk membalasnya hanyalah dengan membuat Andra memiliki pasangan yang lebih dari Riana. Namun kenyataannya malah berbanding terbalik. Dan jika Riana mengetahui ini, bisa dipastikan ia hanya akan tertawa mengetaui siapa istri Andra. Benar-benar situasi yang sulit.
“Sudah-sudah, apapun itu! Kita harus bisa menerima Lany. Wajib!" Timpal Papi menegaskan.
“Ya mau gimana lagi, nasi sudah jadi bubur!" Cebik Oma masih dengan raut wajah terpaksa.
“Kita hanya tinggal atur waktu untuk bertemu dengan keluarga Lany, setelah itu kita harus mengadakan resepsi agar semua orang tahu Andra sudah menikah. Jangan sampai ada cerita yang tidak-tidak tersebar di luar saja." Pungkas Papi Ervan.
“Papa setuju dengan keputusan Ervan! Dulu Andra menikahi Lany tanpa di dampingi keluarga. Sekarang giliran kita yang harus menemui keluarga Lany. Setelah itu baru adakan resepsi sekaligus syukuran untuk cucu pertama kalian!" Kini Opa pun mulai membuat keputusan yang sama.
“Hmmnt, terserah! Kalian atur saja bagaimana baiknya. Situasi ini benar-benar sulit." Gerutu Oma sembari melipat tangan di dada.
Namun, seketika pembahasan itu berhenti saat seorang asisten rumah tangga memberi tahu jika mereka kedatangan tamu.
“Maaf, Pak, bu. Di depan ada Pak Santoso dan keluarga!’
Mami Inka yang mendengar itu hanya memutar mata malas, sungguh ia masih sakit hati jika mengingat kelakuan Riana. Dan sekarang sudah dipastikan gadis itu datang bersama Papa dan Mamanya.
“Oh, suruh langsung masuk Bi!" Sahut Papi.
“Tadi mereka udah telepon, katanya mau datang buat bahas sesuatu!” Jelas Papi Sembari menatap Mami. Seolah mengisyaratkan jika Papi tahu apa yang ingin keluarga Riana bahas.
.........
__ADS_1