My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 45 [Alandra Bhakty Ervano]


__ADS_3

Alandra, ia dan seorang wanita baru saja keluar dari sebuah Aula yang dihadiri cukup banyak orang. Andra baru saja meresmikan pengoperasian salah satu anak perusahaan miliknya. PT Citra Land Mineral merupakan perusahaan tambang yang terletak di Kota Palu. PT CLM ini merupakan salah satu anak usaha dari BuminTara Group milik keluarganya yang bergerak diberbagai macam bidang, dan Andra merupakan Presiden Direktur dari perusahaan yang bergerak di bidang pertamabangan.


Andra sendiri belum terlalu lama menjabat sebagai Presdir, terhitung hampir empat tahun. Kinerjanya yang luar biasa mampu menghantarkan ia pada titik ini, dimana perusahaan yang dipimpinnya baru saja meresmikan pengoperasian tambang setelah kurang lebih satu setengah tahun melalui rekonstruksi pembangunan hingga benar-benar rampung. Hal inilah yang mengharuskan ia mau tidak mau haru hadir langsung setelah mendapat laporan dari Novita, sekertarisnya.


Rasanya begitu berat meninggalkan Lany, mengingat jarak tempuh dari kota tempat Lany cukup jauh, meski berada di pulau yang sama. Dan dalam beberapa hari ini ia disibukkan dengan berbagai persiapan peresmian yang baru saja selesai diselenggarakan. Saking sibuknya, ia tidak sempat mengabari sang istri, yang sudah tentu kecewa dengan sikapnya itu. Namun ia juga harus bisa menahan diri sampai pekerjanya benar-benar selesai. Karena Andra sendiri tak akan mampu menahan diri untuk pulang jika sudah mendengar suara wanita yang sudah menjadi istrinya itu.


“Sore, nanti kita berangkat menuju lokasi untuk melihat langsung kegiatan perdana pertambangan.” seorang wanita membacakan agenda dari tablet berlogo apel yang dipegangnya.


Sambil berjalan Andra melirik arloji di pergelangan tangannya.


“Masih ada waktu dua jam untuk saya istirahat.” Andra menghela napas sambil melonggarkan dasinya. Ia kelihatan begitu penat setelah melewati rangkaia acara yang cukup panjang.


“Iya Pak, biar saya bangunkan kalau sudah waktunya.” Andra hanya menggangguk mendengar ucapan wanita yang berjalan disampingnya itu.


Keduanya lalu masuk ke dalam lift dan akan pergi menuju lantai tempat kamar mereka berada.


Tak disangka, Andra yang mengaku di hadapan Lany sebagai orang biasa ternyata berasal dari keluarga terpandang. Entah apa alasan ia menyambunyikan indentitas aslinya dari sang istri. Apalagi penampilan sehari-harinya yang terbilang sangat sederhana memang membuat beberapa orang tak mungkin percaya jika dia salah seorang pengusaha muda. Terlepas dari semua yang dia miliki, Andra memanglah sosok yang sederhana dan tidak suka pamer. Tak bisa dibayangkan bagaimana reaksi Lany jika mengetahui latar belakang suaminya yang sesungguhnya.


Andra lalu masuk ke dalam kamarnya, sedangkan sang sekertaris masuk di kamar yang berada tepat disamping kamarnya.


Beberapa jam kemudian, Andra sudah bangun tanpa menunggu Novita membangunkannya lebih dulu. Kemeja putih dipadukan celana watchout sudah melekat sempurna di tubuhnya. Ia baru saja memasang jam tangan saat pintu kamarnya terdengar terbuka,. membuat Andra menoleh.


Terlihat Novita tengah menunduk di bibir pintu dengan menundukkan kepalanya. Asistennya itu memang sengaja diberi kunci cadangan agar bisa masuk kapan saja ketika sedang dibutuhkan. Ya, walaupun Andra terbilang melakukan semuanya sendiri. Namun untuk mencegah adanya keterlambatan, Ia tetap mengizinkan Novita untuk itu.


“Maaf, Pak. Saya terlambat." ujar Novita dengan posisi masih menunduk di bibir pintu.


“Santai saja, Nov. Silahkan duduk.” Ujar Andra mempersilahkan. Meski ia atasan, dia tetap memperlakukan sekertarisnya dengan baik. Dan itu berlakukan pada semua bawahnya, membuat ia disegani buka karena galak, tapi karena kebaikan dan cara dia memperlakukan semua bawahannya dengan baik. Terlepas dari bawahan yang melanggar, tentu ia akan mengambil tindakan untuk menyikapinya.

__ADS_1


Andra meraih sneakersnya, kemudian duduk di ranjang dan memakai alas kaki tersebut. Setelah selesai, Ia menggulung kemejanya hingga sedikit naik.


“Emmmnt, Pak!"


“Ya?" Andra menoleh pada Novita yang terlihat ragu-ragu ingin menyampaikan sesuatu.


“Mohon maaf kalau saya lancang...” Andra mengerutkan keningnya, menunggu Novita melanjutkan ucapannya.


“Apa Bapak sudah benar-benar menikahi gadis yang berkasnya Bapak berikan waktu itu?”


“Maaf Pak, saya tidak berniat lancang...” Melihat raut wajah Andra yang berubah datar, Novita segera meralat ucapannya. Takut sang atasan merasa tersinggung.


Namun bukannya marah atau tersinggung, Andra justru hanya bernafas lega kemudian mengangguk sambil tersenyum. Itu artinya, Bosnya itu memang sudah benar-benar menikah. Mengingat sebelum kedatangannya di bandara waktu itu. Andra sempat meminta untuk mempersiapkan segala berkas pengantar nikah.


Ya, saking niatnya menikahi Lany. Dia sampai mencari tahu segala sesuatu tentang Lany untuk mempermudah membuatan persiapan berkas penghantar nikah. Agar saat keluarga Lany menyetujui semua, dia hanya tinggal menggabungkan berkas dari istrinya itu. Terdengar seperti lelucon memang, tapi itulah kenyataannya. Dia begitu mempersiapkan semuanya dengan matang dan detail.


Novi menghela napas, ia memberanikan diri menatap Andra “Saya hanya bingung mau jawab apa, setiap kali Tuan dan Nyonya besar mempertanyakan keberadaan Pak Andra.”


“Cukup katakan apa yang ku bilang saat di Bandara waktu itu.” sahut Andra dan kembali pada kesibukannya. Pria itu beranjak meraih kacamatanya.


Novi pun hanya mengangguk mengerti. Sambil menunggu, ingatannya kembali pada waktu lalu. Dimana Andra baru saja tiba di Bandara setelah terbang dari Miami selepas melakukan liburan di kapal pesiar.


Novita ingat betul, saat itu ia datang ke Bandara tidak untuk menjemput sang atasan. Melainkan hanya untuk mengantarkan berkas yang Andra minta sejak ia mengabarkan dirinya akan pulang. Dan Novi mempersiapkan semuanya secara lengkap sesuai data yang ia dapatkan.


“Nov, kamu jangan bilang ke yang lain kalau saya sudah ada di Indonesia, ya!” Begitu katanya memberi tahu, saat Novita menyerahkan berkas di Bandara waktu itu.


“Kalau mereka tanya-tanya bilang aja nggak tau, atau bilang saya masih di kapal.” Dan Andra kembali meneruskan penerbangan setelah itu.

__ADS_1


“Ayo, Nov! Sudah hampir jam empat."


Suara Andra membuyarkan lamunan Novita. Wanita itu segera meraih tasnya dan langsung menyusul Andra yang sudah keluar lebih dulu.


Sepanjang perjalanan menuju lokasi tambang yang terletak di atas gunung, masyarakat menyebutnya atap kota Palu.


Mobil yang mereka tumpangi mulai keluar dari jalan beraspal dan menanjak di jalan kawasan pegunungan yang di setiap sisinya terdapat perumahan penduduk yang juga mengolah koral emas. Penduduk itu jauh lebih dulu membuka usaha tersebut sebelum perusahaannya masuk dan berdiri di sana. Bahkan di awal rencana pembangunan dulu, perusahaannya sempat mendapat penolakan dari masyarakat juga rakyat yang mengolah usaha tambang mandiri. Namun setelah mendapat izin dari pemerintah dan melakukan kesepakatan akhirya perusahaannya pun berhasil mendirikan pertambangan di kawasan gunung tersebut.


Dari balik kaca mobil, Andra terus diam sambil mengamati kegiatan warga setempat yang tengah sibuk mengelola tanah koral dan memasukkannya ke dalam tromol untuk diputar hingga hancur.


Namun pandangan Andra teralih saat ingatannya tertuju pada keluarganya yang sudah lama ia tinggalkan, terhitung hampir dua bulan lebih sejak ia melakukan pelayaran hingga kini ia sudah menikahi seorang gadis namun sama sekali belum pernah mengabari keluarganya.


“Kabar orang rumah bagaimana, Nov?" Andra menoleh pada Novi yang duduk di belakang, juga tengah mengamati kegiatan penduduk setempat.


“Alhamdulillah semua baik, Pak.”


Andra mendnegarkan dengan seksama penjelasan Novita tentang semua kegiatan keluaragnya belakangan ini. Pria itu tersenyum mendengar mereka semua baik-baik saja.


"Kalau Riri?”


“Dia baik juga, Pak. Tapi Mbak Riri suka marah-marah kalau saya nggak ngasih tau kabar, Bapak.” Novita menghela napas mengingat bagaimana wanita bernama Riana itu mendesak dan marah setiap kali tak mendapat kabar yang akurat tentang Andra.


“Aku seneng kalau dia baik-baik saja, aku bahagia dengar dia sehat.” seulas senyum berpuas tersungging dari bibir Andra, namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan suatu perasaan berbeda dalam diri. Dia kelihatan memendam suatu hal.


“Jangan lupa untuk selalu tutup mulut tentang keberadaanku ya, Nov.”


Meski Andra tahu, setelah acara peresmian ini. Jelas semua anggota keluarganya akan tahu mengenai kehadirannya. Tentu berita peresmian pagi tadi akan sampai ke telinga dewan Direksi dan akan masuk pemberitaan. Meskipun begitu, ia tetap berharap berita pernikahan dan dimana ia tinggal selama ini tidak bocor sebelum dia sendiri yang akan memberitahu pada semua anggota keluarga.

__ADS_1


__ADS_2