My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 5 [Menolak?!]


__ADS_3

“Saya harus membersihkan kamar anda!” ucapku tanpa rasa malu, seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara kami


Huh, aku sudah gila! Sepertinya aku benar-benar mengikuti budaya barat yang bebas dan bersikap biasa saja setelah melakukan hal tabu dengan orang yang takku kenal. Hmmnt mau bagaimana lagi? Ini pekerjaanku, dan aku harus segera menyelesaikannya meskipun harus tebal muka. Apalagi jam di tanganku sudah lewat hampir tiga jam dari waktu bekerja.


Aku melangkah ke arah balkon, tapi lagi-lagi langkahku terhenti saat pria itu kembali mengatakan hal menohok.


"Saya akan nikahin kamu! Saya mau tanggung jawab!” paparnya dengan mantap dan tak lagi menggunakan bahasa Inggris.


“Tidak usah!” jawbaku spontan. Aku bisa melihat keterkejutan di wajahnya saat mendengar jawaban absurdku yang begitu lugas.


“Tapi kenapa?” tanyanya heran. “Kamu sudah punya pacar?" lanjutnya ingin tahu.


Tentu semua perkataannya membuatku menggeleng.


“Lalu?” Dia menatapku dengan mata memicing.


“Saya hanya ingin bertanggung jawab karena sudah merenggut kesucianmu, apalagi kamu masih virgin” pria itu nampak menahan senyumannya


“Pokoknya saya tetap akan menikahi kamu cewek aneh!”


Dengan mata nyalang, aku menoleh padanya yang masih duduk santai di sofa. Berani-beraninya dia mengatakan gadis aneh, seakan dia begitu mengenalku. Dasar cowok pemabuk! Umpatku dalam hati.


“Kenapa diam?"


Pertanyaan yang diiringi senyuman lembut itu membuatku yang tengah mengumpatnya malah terpaku karena senyuman manis dari jejeran gigi yang rapi dengan lesung yang dalam di pipi pria berwajah stengah blasteran itu.


"Kamu tidak perlu bertanggung jawab! Saya tidak ingin menikah apalagi sama kamu!" ucapku memutuskan.


“ Lupakan saja, anggap hal ini tidak pernah terjadi" Aku meneruskan langkah menuju balkon. Angin malam laut menerpa wajahku, dingin menyelimuti sebagian tubuh yang tak tertutupi oleh seragam lengan pendek yang kukenalan.


Aku mulai melakukan ritual seperti biasa. Tentu masih dengan dipenuhi rasa penyesalan sekaligus takut kejadian ini terbongkar. Sungguh aku merasa sangat hina dihadapan Tuhan. Meski bukan hamba yang taat, tapi aku tahu betul apa yang kulakukan merupakan sebuah kesalahan besar.


Tak cukup sampai disana, pria itu seakan tak puas terhadap responku. Bahkan kini dia sudah berada di pintu balkon, bersandar sambil memperhatikanku yang tengah membersihkan pagar kaca balkon.


“Kita harus menikah ya!"


Kata harus yang tersemat pada kalimatnya seakan ia tengah menyatakan keputusan yang harus kuturuti. Hal itu membuatku merasa kesal.


“Kubilang tidak usah ya tidak usah!” sahutku sewot, pria itu benar-benar menyebalkan. Aku menghargai niat baiknya tapi kami sama sekali tak saling mengenal, jadi bagaimana mungkin aku tiba-tiba menerima ajakannya di saat aku tidak tahu siapa dirinya dan bagaimana asal-usulnya? Terlepas dari kesalahan yang baru saja kami perbuat. Bukankah seharusnya aku merasa beruntung karena ada seorang pria yang langsung ingin bertanggung jawab setelah merenggut kehormatanku, meski kami tak saling kenal, tapi dengan bodohnya malah menolak niat baiknya.


“Tapi kenapa? Kita sudah ..." Dia tak meneruskan kalimatnya saat melihatku melototkan mata.


“Apa kamu sudah mengikuti budaya barat yang bebas melakukan hal seperti ini tanpa pertanggung jawaban?”


Aku memutar mata malas mendegar pertanyaan itu, dia sudah seperti bapak-bapak yang menceramahi anaknya. Padahal kami sama sekali tak saling kenal. Kuakui semua yang dikatakan memang tak ada yang salah. Tapi aku punya alasan sendiri untuk tidak langsung mengiyakan ajakannya.


“Kita tidak saling kenal!" selorohku tanpa menoleh sedikitpun. “Bagaimana bisa menikah? Tidak ada cinta diantara kita, bukankah syarat menikah harus saling kenal dan ada cinta?”


“Kita bisa saling kenal kemudian mungkin setelahnya baru saling mencintai!” jawabya enteng, seolah perasaan begitu mudah diubah dengan cepat.


“Ohiya nama ku Alandra, panggil saja Andra.”


Aku menoleh dengan kening mengkerut saat melihat laki-laki bernama Andra itu menyodorkan tangannya, pria ini benar-benar aneh! Dengan terpaksa aku melepaskan alat pembersih kaca di tanganku dan membalas uluran tangannya


“Melany, Lany!"


Andra tersenyum lembut, tapi Lany segera meraih pembersih kaca dan menyelesaikan bagian yang belum bersih.


Dengan cemberut aku meliriknya sinis dengan tangan yang terus tergerak. “Kerjamu apa?” Pertanyaan spontan itu keluar begitu saja.


Ya, aku memang seperti itu. Terlalu lama hidup susah benar-benar membuatku bermimpi ingin memiliki pasangan kaya yang, kalau bisa presedir kaya raya seperti yang ada di novel dan drama Korea. Jadi hal yang wajar bukan jika aku menanyakan pekerjaannya. Heh, terdengar berlebihan memang. Tapi itulah kenyataannya. Aku lelah jadi orang miskin. Hidup susah sejak kecil membuatku bercita-cita ingin jadi orang kaya dan untungya selama bekerja disini, sedikit demi sedikit aku bisa merubah hidupku, punya tabungan dan mengirim uang bulanan rutin untuk keluargaku di kampung.


Andra nampak berpikir, entah apa yang ia pikirkan hingga selama itu. Wajahnya saat serius terlihat sangat kharismatik meski dalam keadaan diam.

__ADS_1


“Pelayan bar.”


“Hah?” Aku terkejut mendengar jawabannya. Benar-benar jauh dari impianku yang konyol, aku terkekeh dalam hati. Benarkah seorang pelayan bar? Tapi kenapa tampan sekali? Sial, lagi-lagi aku malah mandak fisik.


“Kamu kerja disini?”  Entah kenapa moment ini malah berubah jadi sesi tanya jawab antar dua orang asing seperti kami. Bahkan aku sampai menatap serius padanya.


Andra menggeleng.


“Lalu bagaimana bisa sampai sini?” spontan aku menanyakan hal itu, mengingat budget yang dikeluarkan untuk berlibur di kapal pesiar memerlukan biaya yang fantastis. Bukan meremehkan profesinya, aku hanya ingin tahu. Bukankah dia ingin mengajakku menikah, jadi tidak ada salahnya bukan jika aku menanyakan banyak hal. Tapi lagi-lagi Andra terdiam, seperti tengah memikirkan sesuatu.


“A-aku, emmmnt ... Aku dapat voucher liburan dari bosku!” dia nampak gagap, namun aku tetap memercayainya.


Ah, sudahlah, aku tidak akan menikah dengan siapapun. Aku tidak ingin jatuh di lubang yang sama. Menikah dengan pelayan bar bukanlah pilihan yang tepat, aku ingin merubah hidupku. Mengingat penyebab perpisahan orang tuaku adalah perekonomian yang sulit. Hal itu membuatku takut salah langkah dalam mengambil keputusan. Terlebih lagi aku benar-benar dibuat trauma oleh perpisahan mereka, kehidupanku setelahnya benar-benar menderita. Jauh dari ibu kandung dan hidup bersama ibu tiri dan saudara tiri membuat hidupku begitu pahit, bahkan sejak perpisahan hingga saat ini aku tidak lagi bertemu dengan ibu kandungku.


Dengan angkuh akupun berkata. “Kamu bukan orang kaya!”


“Aku tidak mau menikah!"


“Aku lelah ditindas dan di rendahkan oleh orang-orang hanya lantaran miskin!” Mulut jahatku malah adu nasib pada orang asing ini. Benar-benar tak punya rem setiap kali ingin mengatakan sesuatu. Sepertinya keahlian ini aku pelajari dari ibu tiriku yang seperti penyihir itu.


“Kamu pikir apa yang membuatku kerja sampai sejauh ini di tengah laut? Ikut kemana kapal ini berlayar, kalau bukan karena gaji yang besar, aku ingin uang yang banyak. Kamu tidak bisa memberikan itu untukku, I don't go back to the hell!" ketusku, entah sejak kapan aku belajar menjadi orang kejam seperti itu. Ucapanku benar-benar tajam.


Sepertinya kehidupanku selama ini benar-benar membuatku lelah. Sedari dulu aku selalu bekerja sendiri. Lalu apakah salah bila aku berharap suatu saat akan menikah dengan pria mapan atau mungkin presedir dan akan hidup seperti ratu dengan suami impianku? Tanyaku membatin.


Beruntung, bukannya marah Andra justru menyugungkan senyum mengejek karena ucapanku. "Dasar matre!"


"Aku tidak matre!" sergahku membela diri.


“Ini realistis! Aku hanya akan menikah dengan orang kaya!" ucapku kembali menegaskan dan tak ingin dibantah. Kedengaran konyol, padahal orang kayapun belum tentu mau denganku. Tapi ini kulakukan hanya agar laki-laki bernama Andra ini berhenti mengajakku menikah.


"Kitakan bisa kerja, berusaha sama-sama biar bisa jadi kaya, bukankah memang begitu?"


"Bagaimana mungkin bisa kaya, tadi katamu kamu hanya pekerja bar, kan?" Aku langsung menyambar ucapan Andra.


Laki-laki itu menyerngit dengan tatapan memicing. “Kenapa kamu sama sekali tidak bersedih?”


“Bukankah dalam budaya kita hal seperti itu merupakan hal yang tabu, tapi kenapa kamu malah terlihat biasa saja? Bahkan diagama kita ini merupakan dosa besar!"


Jleb... Kata-katanya membuatku merasa tertampar. Mataku terasa panas dipenuhi cairan bening yang siap meleleh. Namun aku berusaha menahannya, aku tidak ingin terlihat lemah, apalagi di hadapan orang asing. Bisa-bisa ia semakin ingin bertanggung jawab. Jujur aku takut pada semua konsekuensi yang akan terjadi, aku taku pada dampak hubungan ini, tapi aku benar-benar tak ingin menikah dengan orang yang tidak ingin kucintai.


Dengan berusaha tegar dan sok kuat, akupun menjawab. “Menangis? aku tidak secengeng itu!” Aku berbohong, padahal hatiku sedang dihantui rasa bersalah.


“Yang kamu ucapkan memang benar, ini memang dosa, tapi aku juga tidak ingin menikah tanpa cinta!”


“Kalau suamimu tahu bagaimana? atau mungkin keluargamu tahu tentang kejadian ini?


Aku menyerngit kesal, Andra seakan tidak mau berhenti untuk membuatku mengiyakan ajakannya. Dia seperti sengaja melontarkan pertanyaan yang menyudutkan.


“I don't care!! Lagi pula aku tidak berniat menikah jika bukan presdir!” Benar-benar jawaban gila dan angkuh. Boro-boro menikah dengan Presdir seperti ekspektasiku yang ketingggian, mantan-mantanku saja hanya orang biasa.


"Presdir juga pilih-pilih kali, neng." Pria itu tersenyum mengejek dengan bahasa yang tak baku lagi. Benar-benar menjengkelkan!


“Saya tanya sekali lagi dan pikirkan baik-baik ajakan saya, saya kasih waktu 30 menit untuk berpikir!" Setelah mengatakan itu Andra langsung berbalik masuk kamar dan meninggalkanku yang terpaku karena perkataannya.


....


“Bagaimana kalau kamu hamil? Kita melakukannya tanpa pengaman. Bisa sajakan benih ku tumbuh di rahim mu. Apa kamu akan membiarkannya hidup tanpa ayah?”


“Apa kamu yakin kalau keluarga mu akan menerima anak itu? Bisa saja mereka membuangmu.. Ingat budaya kita keras, hal seperti ini sangat tabu! Percayalah, mereka tidak akan menerima mu dengan mudah..!”


Kata-katanya terus terngiang-ngiang di kepalaku. Semua yang diucapkan memang lah benar. Menyangkut keluarga, sudah pasti aku akan semakin dibuang. Mengingat bagaimana perlakuan mereka selama ini. Tidak melakukan kesalahan saja aku sudah dicampakkan, bagaimana jika iya. Mungkin aku akan benar-benar dianggap lenyap.


Huhh, situasi yang sulit! Kenapa semuanya jadi seperti ini. Kenapa kejadiannya tidak seperti yang kulihat, ketika sebagian orang melakukan itu dengan santainya tanpa ada rasa gelisah seperti yang aku rasakan saat ini.. Aku tidur dengan pria yang malah ingin bertanggung jawab dan dengan alasan pekerjaannya tidak sesuai aku malah menolak ajakannya. Ahh, dosa ini benar-benar membuatku dilema.. kenapa aku tidak bisa seperti teman-teman ku yang bisa melakukannya tanpa beban..

__ADS_1


Aku terus memikirkan ucapan pria bernama Alandra itu. Bagaimana jika aku benar-benar hamil seperti yang ia katakan. Ahhhkk sial, sial sial.


Sepanjang jalan kembali ke kamar, aku terus mengumpat. Sepertinya malam ini aku tidak akan tidur nyenyak. Ditambah lagi jika ada yang mengetahui aku sudah tidur dengan pasengger mungkin aku akan benar-benar di buang ke laut. huhhh..


“Lan, darimana saja??” dengan wajah lesu aku menoleh ke arah sumber suara.


Ternyata Lexi ada dibelakang ku, temanku itu mendekati ku. Aku berusaha menyembunyikan kegelisahanku agar Lexi tak curiga.


“Lan, aku tanya kamu darimana?” Lexi menepuk bahuku, membuatku terperanjat.


“Eh, aku tadi dari cari makan. Sudah kerja perutku langsung tiba-tiba lapar." aku mencoba memberi alasan yang masuk akal


“Oh, pantasan, dari tadi aku carii kamu tidak ada..” Lexi bernapas lega “eh sorry ya! tadi aku terlambat, perutku tiba-tiba sakit jadi ya lama di toilet.. "


“Santai saja.. aku juga sudah menyelesaikan semuanya..” Aku masih berakting. Tersenyum, seolah tak terjadi apa-apa.


“Ya sudah, tidur yuk! Aku sudah mengantuk..” tanpa mendengar persetujuan ku, Lexi langsung masuk ke kamarnya yang berada di samping kamarku.


Aku pun masuk ke kamar, ku lihat ruangan ini masih kosong. Tentu saja, karena Celin pasti sedang bekerja.. Ohiya, sekedar info, di kapal pesiar para crew member seperti kami memiliki kamar yang berbeda dengan para staf, tentu saja, jabatan mereka lebih tinggi. Kami tinggal di kamar yang cukup kecil di bawah geladak (dek), namun fasilitasnya jangan ditanya! Semua memiliki fasilitas yang luar biasa, tak terkecuali kamarku ini. Dan dalam setiap kamar berisi 2 orang atau bahkan lebih. Ko


**


No, perlakuan Andra begitu melelehkan hati. Ia begitu lembut dan menghanyutkan. Namun tetap saja, Lany terlanjur kesal padanya sebab sudah membuatnya masuk dalam masalah ini. Jika ada yang tahu mungkin ia akan benar-benar di buang ke laut. Hmmnt Kamu berlebihan Lan!!🙄



Begitu sampai, Andra langsung melepaskan genggamannya. Ia duduk di kursi sedangkan Lany masih berdiri sambil bersandar di pohon yang ada di sana.


Dengan tampang malas Lany menatap wajah Andra si -cowok aneh- saat diterpa cahaya matahari.



“Mau bicara apa?” ketusnya cuek sambil melipat tangannya di dada.


“Kayaknya abang kena Virgin Effect deh neng.. semalam nggak bisa tidur mikirin eneng terus..” Andra terlihat menahan tawanya demi melihat wajah Lany yang berubah galak.


“Apaan sih, nggak jelas banget!! Cepat mgomong, ada apa?”


“Hmmn. Ya udah aku serius..” Andra menarik napas dalam kemudian berkata “Aku serius mau nikahin kamu...”


What??


Lany menoleh dengan mata nyalang. Ia benar-benar tak habis pikir dengan penuturan -cowok aneh- di hadapannya itu. Ia pikir perkataannya semalam hanyalah angin lalu yang keberadaannya hanya sesaat.


Namun nyatanya, Andra malah mencarinya hanya untuk mengatakan hal itu untuk kesekian kalinya.


“Sudahlah Andra, aku bilang nggak usah. aku nggak apa-apa.. Kok kekeh banget mau nikahin aku? kitakan belum saling kenal.” Lany masih pada pendiriannya.


“Ya Aku takut kalo benih ku akan tumbuh di kamu, dan aku nggak mau anak ku nggak punya bapak..”


Lany mencebik mendegar jawaban klise Andra. Benih? Tumbuh? hahaha apa pikirannya sedangkal itu. Ingin rasanya Lany terkekeh sekencang mungkin, namun urung sebab perasaan takut ketahuan kberhubungan dengan Andra lebih besar daripada memikirkan akibat kesalahan satu malam yang ia lakukan itu.


Kenapa, itu menyenangkan! Anggap saja bonus, hmmmm. Ah dasar Lany, sepertinya pola pikirnya benar-benar telah menggunakan pola pikir barat yang menjunjung tinggi kebebasan.


“Hey, sekali melakukan hal seperti itu tidak akan membuat benihmu tumbuh begitu saja Mr Alandra!!” Lany malah menimpalinya dengan guyonan yang dijawab dengan serius oleh Andra


“Bisa saja terjadi, jika aku dan kamu dalam masa subur, otomatis pembuahan antara kita bisa saling membuahi dengan cepat, nonaa cantik!” Andra mulai membawa teori pembuahan, sudah seperti guru biologi yang sedang menerangkan pada muridnya.


“Apalagi kualitas benihkuu sehat. otomatis, besar kemungkinan kamu akan mengandung anakku.” merasa puas dengan jawabannya Andra pun mengedipkan mata untuk menggoda Lany.


Cih, apa-apaan dia! Kenapa sampai membawa teori biologi seperti itu? Dasar cowok aneh!"


.......

__ADS_1


__ADS_2