My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 40 [Mencoba Memahami]


__ADS_3

Lany, sejak keluar dari restoran. Ia sama sekali tak pernah berhenti mengomel. Mulai dari saat di motor dan bahkan kini sudah tiba di rumah pun ia masih saja mengomel seperti ibu-ibu kompleks yang hoby nyinyir.


“Kamu apa-apaan sih, kenapa malah hajar orang kayak tadi?"


“Aku cuma nggak terima dia ngatain kamu, Lan! Kok malah aku yang dimarahin sih?" ujar Andra heran sambil terus mengikuti langkah Lany menuju kamar. Sejujurnya sedari tadi telinganya sudah terlalu panas mendegar omelan Lany, namun sebagai laki-laki yang baik ia tidak ingin melontarkan kata-kata kasar pada wanita terutama pada istrinya sendiri. Apalagi yang ia tahu sedari awal bertemu, Lany memang sudah bersikap seperti ini padanya. Yang bisa dilakukannya hanyalah memperbanyak stok sabar untuk menghadapi sikapnya.


“Ya, salah lah. Kamu pakai kekerasan!" Lany menoleh sekilas dan kembali melanjutkan langkah.


“Orang kayak tadi emang pantas dibogem, neng." sanggah Andra sambil melepaskan jaketnya.


“Ih, capek banget ya ngomong sama kamu! Selalu aja ada jawabannya!" cebik Lany yang makin sewot, membuat Andra hanya bisa mengelus dada sebab merasa tak pernah dianggap benar di mata istrinya itu. Meski selama ini ia selalu menampakkan sisi dirinya yang penuh dengan kelembutan, namun tak bisa dipungkiri jika dia hanyalah seorang laki-laki biasa yang sudah tentu bisa merasa terhina atau bahkan merasa tak dihargai jika terus-terusan mendapat perlakuan seperti ini.


“Lagian tadi kenapa harus mengaku di depan dia juga sih?” Lany makin menatap nyalang, membuat langkah Andra berhenti tepat di depan pintu. Pria itu kembali menghela napas, bahkan sampai memejamkan mata. Berusaha untuk menahan diri dan tetap rileks pada situasi yang ada.


Lany menghela napas kasar dan kembali berkata“Kamu nggak tau kisah aku dengan dia dulunya seperti apa. Dulu aku putusin dia karena alasan dia miskin dan aku mau cari yang kaya buat angkat derajat keluarga tapi nyatanya aku malah ketemu kamu, si pelayan bar yang cuma modal ganteng tapi kantong gak mendukung" cebik Lany kesal tanpa memikirkan perasaan suaminya.


Ya, hinaan Eza tadi benar-benar membuatnya merasa tersentil. Tentu yang harus disalahkan dalam hal ini adalah Andra, suaminya yang sudah membawanya jauh dari cita-cita menjadi istri Presdir. Damn, you Lan! Lagi lagi Presdir. Benar-benar impian konyol yang sudah mendarah daging dari seorang Melany Larasati.


Meski sejujurnya, jauh dari lubuk hati yang paling dalam, ia sudah bisa menerima kehadiran Andra dan mungkin suaminya itu sudah memiliki tempat khusus di hatinya. Namun emosi pasca pertemuan dengan Eza sang EX tentu lebih mendominasi hingga membuatnya ingin marah-marah meski harus menjadikan Andra sebagai sasarannya.


Namun ucapannya justru membuat percikan emosi Andra yang belum padam seutuhnya kembali membara. Meskipun begitu Andra masih berusaha meredam emosinya dan lebih memilih diam mendengar omelan sang istri. Oh, sungguh Andra si softboy yang malang!


“Harusnya nggak usah ngasih tahu hubungan kita yang sebenarnya." Lany yang merasa kesal duduk secara kasar di tempat tidur “Belum apa-apa aja aku udah di rendahih kayak tadi, coba suami ku Presdir pasti aku nggak akan diperlakukan seperti itu!”

__ADS_1


“Kitakan memang suami istri Lan, apa yang harus disembunyikan?" sunggut Andra yang sepertinya mulai tak mengerti dengan jalan pikiran Lany.


“Iya tapi nggak perlu di kasih tau ke dia juga!”


Andra menggeleng kecil dengan wajah mengkerut, seolah ia benar-benar dibuat tak mengerti dengan jalan pikiran istrinya itu “Kamu nngak terima ya sama keadaan ku yang seperti ini? Kamu malu punya suami kayak aku?" tanya Andra dengan wajah datar.


“Kan aku udah bilang kita akan berusaha seperti pasangan lain biar bisa kaya sama-sama. Kok malah nyalahin aku begini? Kenapa nggak bisa nerima keadaan ku sih, Lan?” selorohnya gusar dengan tatapan mengiba.


Sorot matanya seolah mengatakan “Tolong jangan ngomel terus, aku capek denger!" Namun Lany justru hanya menatap seolah tak ada keperdulian dalam dirinya, padahal sesungguhnya ia pun tak sampai hati jika harus berkata sedemikian kasarnya pada Andra. Tapi ya mau di kata apalagi, demikianlah manusia jika sudah dikuasai amarah. Tentu akan sulit mengontrol diri.


Bukannya merasa bersalah, emosi Lany justru kian tersulut “Kamu tuh selalu ngaco ya. Setres!” Tudingnya kesal “kamu nggak sadar apa selama ini yang kerja cuma aku, kamu cuma nganggur di rumah. Jadi gimana mau kaya kalo kamu pengangguran!”


“Kan kemarin aku udah kasih kartu ATM, itu cukuplah buat biaya kebutuhan kita, Lan. Sampai tiga tahun juga gak bakalan habis, kenapa ga dipake?" Sambil berusaha tersenyum mencairkan suasana Andra melangkah ke arah tempat tidur dan duduk di sisi ranjang. Menatap istrinya penuh kelembutan, berusaha menghadapi kerasnya Lany dengan kepala dingin. Ia tak ingin terjerumus dalam emosi sesaat yang sudah tentu akan berakibat fatal jika itu sampai terjadi.


Dari masalah Eza kini masalah perdebatan suami istri itu kian melipir ke masalah nafkah, yang sudah tentu berawal dari Lany yang masih tak terima jika Andra hanya berdiam diri tanpa bekerja. Dasar Lany! Untung Andranya sabar.


“Uang haram apanya?” Andra mengkerut heran “Itukan kartunya dari aku Lan.” sunggutnya sambil terus menatap Lany dengan tatapan menyejukkan yang sudah menjadi ciri khasnya. Tatapan yang selalu membuat Lany meleles saat itu juga.


“Emang haram! itukan dari hasil kamu jalan sama tante-tante! Aku gak mau pake lah..”


Ucapan Lany berhasil membuat Andra tersenyum. Rasanya ia ingi tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan istrinya, yang ternyata begitu percaya dengan alasan random dirinya menyangkut soal ATM sore tadi. Namun disaat yang bersamaan pula ia merasakan hp nya berdering. Di Raihnya hp tersebut kemudian sejenak memeriksa notifikasi yang masuk.


Setelah selesai dengan masalah Hp, Andra meletakkannya ke dalam saku kemudian kembali menatap sang istri. Ditatapnya Lany dengan penuh kelembutan, meski yang ditatap malah melayangkan tatapan peperangan namun Itu sama sekali tak membuatnya memalingkan wajah dari tatapan galak yang menjadi ciri khas istrinya ketika sedang marah.

__ADS_1


“Udah ya, jangan marah-marah lagi.” Andra mencoba meraih tangan Lany dengan penuh sayang. Tak lupa senyum terus tersungging dari bibirnya.


“Maaf kalau aku salah!” Meski kejadian tadi tak sepenuhnya disebabkan oleh dirinya. Namun Andra mencoba untuk memahami situasi. Ia mencoba menjadi suami yang baik, sebagaimana isi khutbah Nikah yang selalu melekat dalam ingatannya. Dan terukir indah di hatinya.


“Nikah itu sekolah yang paling lama, kalau sekolah yang paling lama, berarti tempat belajar yang paling lama. Kalau tempat belajar yang paling lama berarti ujiannya juga banyak. Jadi wajar rumah tangga punya banyak masalah. Dua orang yang beda kepala, beda pemikiran, beda latar belakang dipersatukan ditempat yang sama. Memungkinkan terjadinya masalah.”


“Tapi satu yang perlu diingat, rumah tangga yang sakinah itu bukan rumah tangga yang tidak ada masalahnya sama sekali. Melainkan rumah tangga yang sakinah itu adalah mereka yang saat ada masalah justru membuat masing-masing pribadi makin dewasa, tetap bertahan dan saling memperbaiki diri, Tentu agar semakin dekat dengan Allah."


Begitu isi ceramah yang diingat betul olehnya. Membuat ia ingin mengamalkannya. Apalagi kini rumah tangganya sedang diterpa masalah. Yang sudah tentu membuat ia harus mengalah demi keutuhan bersama, mengingat hati Lany yang cukup keras. Jadi dia sebagai suami sebisa mungkin untuk bersikap lemah lembut dan banyak-banyak mengalah dengan harapan suatu saat Lany bisa berubah. Karena mungkin sekarang ia masih belum bisa menerima hubungan mereka seutuhnya. Mengingat pernikahan ini berawal dari sebuah insiden tanpa cinta. Jelas butuh perjuangan ekstra pula untuk bisa beradaptasi satu sama lain.


“Aku yang salah, aku minta maaf ya kalau kamu merasa dirugikan karena pengakuan ku tadi!” Andra berusaha berbesar hati, diraihnya bahu sang istri kemudian dipeluknya penuh sayang.


“Mau kan maafin aku?" ujarnya sambil sesekali mencium kening Lany dan mengusap lembut rambut pirang istrinya itu.


Namun sekeras apapun usaha Andra untuk membujuk, nyatanya usaha tak selalu membuahkan hasil seperti yang direncanakan. Lany justru kembali melayangkan kata-kata yang sudah tentu membuat hati Andra teriris perih.


“Maaf aja nggak cukup! Aku juga mau kamu kerja, jangan cuma taunya modal rayuan seperti ini!” Cebik Lany sembari mendorong tubuh Andra. Membuat suaminya hampir terjungkal ke sisi ranjang.


...........


Nah ada yang kesel nggak nih sama Lany yang suka ngomel nggak jelas ke Andra??🤭


Btw Jangan lupa tinggalkan like, komen, hadiah atau votenya ya gays!!

__ADS_1


Happy Reading..💕


__ADS_2