My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 78 [Selamat Bergabung]


__ADS_3


Siang itu Lany benar-benar gerogi saat Andra sudah mengabari dan memintanya untuk bersiap-siap, sebab begitu sampai nanti, mereka akan langsung berangkat ke kediaman keluarga Andra yang waktu itu pernah ia lihat, tapi hanya dari luar saja.


“Siap-siap ya, neng. Aku lagi di jalan! Abis ini kita langsung otw ketemu keluarga!" Begitu kata Andra yang meneleponnya saat ia tengah asyik menonton drakor andalannya.


Jantungnya benar-benar berdetak lebih kencang dari biasa. Rasa gerogi seketika melintas saat berbagai tanya muncul dibenaknya, tantang bagaimana dan apakah ia pantas dan lantas diterima oleh keluarga Andra? Hal itu benar-benar memenuhi isi kepalanya. Siapalah dia, hanya seorang anak broken home, hanya seorang upik abu yang tak memiliki garis keturunan kaya seperti suaminya itu, sungguh ia takut jika saja kehadirannya langsung ditolak mentah-mentah karena dianggap tidak sepadan.


Berulang kali ia terus mondar-mandir memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi di sana nantinya. Ternyata menjadi istri orang kaya tidaklah semenyenangkan yang ia bayangkan, seperti film-film yang dinontonnya selama ini. Kini ia benar-benar berada pada situasi mendebarkan, ternyata memiliki latar belakang yang berbeda membuat ia diterpa perasaan insecure lebih dulu. Oh, rasanya ia ingin tenggelam saat itu juga. Dalam hati Lany mengutuki impian bodohnya yang pernah ia ungkapkan pada Andra jika ia bercita-cita ingin jadi istri Presedir.


Ia juga sudah berusaha berdandan semaksimal mungkin hanya untuk memantaskan diri dengan Andra, takut jika saja keluarga sang suami menilainya tidak pantas bersanding dengan Andra. Bahkan ia sudah memilih pakaian terbaik untuk dikenakan, tapi mengapa rasa insecure itu tak kunjung hilang.


Lany menatap pantulan dirinya di cermin, tubuh berbalut dres brokat merah dengan rambut di kuncir menjadi penampilan pilihannya. Polesan bedak tipis seadanya, eyeliner secuil tanpa mascara berpadu dengan lip cream pink muda menjadi pilihan make up natural yang menyelimuti kulit putihnya. Meski begitu perasaan puas tak kunjung ia rasakan. Padahal inilah yang menurutnya paling maksimal. Jika dulu ia selalu merasa percaya diri dengan penampilannya, namun sekarang ia benar-benar harus memilih tampilan agar tidak membuat Andra malu.


Apakah ia harua menyewa MUA ternmaa hanya untuk pertemuan ini? Tidak, tidak..! Itu tidak mungkin, sebab Lany termasuk type orang yang tak suka make up tebal kecuali dalam keadaan terpaksa seperti saat pernikahannya bulan lalu.


“Apa adanya aja! kamu cantik natural kok!" Bisiknya menguatkan hati. Tak ingin rasa insecure bertahta terlalu dalan. Bukankah menjadi diri sendiri lebih baik daripada harus bertopeng dengan makeup? Meski ia tahu penampilan maksimalnya ini pasti tidak akan bisa menyeimbangi tampilan keluarga Andra.


“Come on, Lan! Kamu pasti bisa!" Lirihnya lagi, sambil beberapa kali menghembuskan napas secara kasar.


Sejenak ia terdiam saat mendengar suara bell terus berbunyi, itu pasti Andra. Suaminya sudah tiba dan saat yang selama ini selalu ia tunggu suduh semakin dekat. Seolah ia akan berjalan ke tempat pengeksekusian, rasanya begitu mendebarkan. Jika tahu keluarga Andra ternyata orang terpandang dan rasa gugup itu tak akan separah ini, mungkin dari awal ia tidak akan menuntut agar Andra sesegera mungkin membeberkan identitasnya.


“Assalamaualaikum.”


Suara yang begitu ia kenal terdengar berada di ambang pintu kamar. Membuat ia perlahan menengokkan kepala, menatap Andra yang sudah ada di sana, menyambutnya dengan senyuman.


“Udah siap?" Tanya pria berkemeja hitam, tengah menatapnya dengan senyum yang tak pernah pudar, masih bersandar di daun pintu.


Namun bukannya mengangguk, ia malah menggeleng pelan. Seakan menyatakan jika ia sama sekali belum siap, hal itu tentu membuat Andra mengerutkan kening dan langsung melangkah mendekat.


“Kenapa?” Andra meraih bahunya, mengarahkan wajahnya agar menatap wajah yang tengah menanti jawaban.


Lany menghela napas, “Aku takut,” Jawabannya kian membuat Andra mengkerut heran, wajah teduh favoritnya iu turut mengikuti saat ia kembali menundukkan pandangan. Menatap jemari tangan yang saling meremas, berusaha menghilangkan rasa cemas.


“Aku merasa gak pantas, aku takut nggak sesuai harapan mereka!" Lirihnya sambil beberapa kali menelan ludah, berusaha menetralisir perasaan.


“Aku harus gimana, Andra? Apa penampilanku sudah maksimal untuk bertemu keluarga kamu yang super wah itu?” Tanya Lany yang masih berusaha mencari kekuatan dari suaminya. Karena ia tahu, aura positif Andra selalu mampu menenangkan dalam keadaan apapun itu.


Benar saja, baru jemari Andra tergerak meraih tangannya, ia sudah seperti ingin menjatuhkan kepala di bahu tegak itu. Pandangan Lany beralih menatap Andra, dengan mata mengerling ia menunggu apa yang ingin suaminya katakan.


“Nggak perlu cemas! Kenapa harus bingung?” Tanya Andra di sela senyuman yang menjadi khasnya.


“Cukup jadi diri kamu apa adanya, Cantik nggak harus tentang tampilan, yang nomor satu itu hati kamu seperti apa! tampilan cantik itu cuma nilai plus. Dan kamu harus tau aku selalu bangga bagaimana pun kamu! Karena menurutku kamu yang terbaik!”


Ucapan Andra memang seperti angin segar yang membuatnya benar-benar merasa dihargai. Namun entah mengapa hal itu tak lekas membuat kecemasannya berkurang.


Andra yang seolah tahu apa yang ia pikirkan langsung menarik tubuhnya ke dalam pelukan. “Keluarga ku bukan juri yang harus kamu buat terkesan dengan penampilan! kamu istriku, nggak ada alasan mereka buat nolak kehadiranmu! Jadi jangan khawatir, ada aku!”


“Tapi aku takut latar belakangku akan menjadi masalah!” Sergahnya cepat.

__ADS_1


Andra menggeleng, berusaha meyakinkan sang istri. Ia mengerti, bahkan sangat mengerti pada kecemasan berlebih yang Lany rasakan. Untuk itu ia mencoba menenangkan.


...****************...


Siang itu, di kediaman keluarga Andra. Nampak sebuah mobil Alphard masuk ke halaman rumah. Papi dan opa langsung memutuskan pulang saat Mami kembali mengabarkan jika Andra akan makan siang di rumah sambil membawa istrinya. Namun kali ini, Mami tak mengundang keluarga lain seperti malam itu. Hari ini hanya akan ada keluarga inti saja yang akan menyambut kedatangan Andra dan istri.


Opa melangkah masuk lebih dulu, tubuh tinggi, dan berisi itu masih nampak segar meski usianya sudah cukup senja. Dilihat dari langkah lebarnya yang masih kuat, terbukti jika beliau masih bugar karena memang sering berolahraga.


“Dara ada gak, bi?" Tanyanya saat melintas di satu koridor yang terhubung ke hunian di belakang, tepat dimana kamarnya berada.


“Ada Pak, sudah pulang dari sebelum dzuhur tadi." Sahut salah seorang asisten rumah tangga.


“Kalau Rival, ada gak?" Tanya Opa lagi, tentu ia harus menanyakan keberadaan cucunya. Sebab sebentar lagi Andra akan datang, dan mereka semua harus ada untuk menyambut sang kakak.


“Kayaknya nggak ada, Pak. Udah seminggu jarang pulang, ibu Inka juga selalu nyariin.” Jelasnya, yang mana membuat Opa hanya mengangguk, kemudian meneruskan langkah menuju kamarnya.


Sementara Papi, ia yang tak kunjung masuk masih berdiri di teras. Ayah Andra itu nampak tengah berbincang dengan seseorang dari balik telepon.


“Ah iya, datang saja. Mumpung siang ini lagi di rumah. sekalian kita makan siang bareng!” Wajah Papi nampak berseri. Entah dengan siapa ia mengobrol di ujung telepon yang Kelihatannya begitu seru.


“Iya, ditunggu mas!”


“Sip! oke! Kebetulan lagi kumpul juga nih. Ada Andra juga.”


Begitu panggilan itu terputus, pandangan Papi tertuju pada sebuah mobil sedan yang begitu tidak asing baru saja masuk ke halaman rumah yang luas. Senyum merekah lantas terpancar dari bibir Papi ketika pintu mobil itu terbuka dan menampakkan Andra di sana.


“Kasih tau ibu, bilang kalau Andra sudah datang!" Perintah Papi pada seorang penjaga yang sedang berdiri di sisi gerbang.


Dengan langkah pasti Papi mendekat dan mengulurkan tangan saat Andra hendak mencium tangannya.


“Istri kamu mana, Ndra?" Arah pandang Papi masih tertuju pada mobil, menanti kehadiran seseorang dari sana.


Lagi-lagi senyumnya makin lebar saat melirik pada sisi mobil yang lain, seorang wanita yang tingginya munngkin mencapai 160 cm keluar dengan wajah nampak tegang dan tersipu malu. Kata kagum terlintas dibenaknya saat melihat penampilan sang menantu yang terbilang sederhana namun tetap kelihatan cantik. Pesonanya benar-benar cantik alami dan natural.


Ia semakin dibuat terkesima saat wanita yang katanya istri Andra itu dengan sopan menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Hal itu lantas membuat Papi terkesan dengan sikap sang menantu. Ia kemudian balas mengulurkan tangan.


“Selamat datang di keluarga kami, nak!" Jemari Papi tergerak mengusap kepala Lany, menyambut dan memperlakukannya layaknya anak sendiri.


“Selamat bergabung di keluarga besarnya Andra!"


Lany yang mendengar itu hanya menunduk dengan senyuman yang juga tak pernah pudar, menahan kejokak kegugupan yang terus mendera tanpa henti.


Sesaat setelah Mengobrol, Papi langsung mengajak mereka masuk.


Sementara Lany, Kesan pertama yang ia rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki di teras yang lantainya terbuat dari granit, berdiri diantara pilar besar, membuat ia seakan berada di ambang pintu istana sungguhan. Mewahnya bangunan ini membuat ia merasa seperti berada di atas kapal pesiar dengan fasilitas mewah yang hampir sama.


“Santai aja ya, neng, jangan tegang! Ada aku!" dan ia hanya mengangguk mendengar bisikan Andra yang diiringi dengan genggaman yang kian mengerat. Seolah mengisyaratkan jika suaminya itu akan selalu ada di sini, melindungi dan mendampinginya, hingga ia tak harus merasa cemas.


“Duduk nak, sebentar lagi Mami dan yang lain pasti datang."

__ADS_1


Begitu Ayah mertuanya mempersilahkan. Ia langsung ikut duduk di samping Andra yang menariknya dengan lembut. Di atas sofa berukuran king size, yang warnanya dikombinasikan dengan gradasi furniture yang ada sehingga membuat nuansa ruangan besar itu nampak sepadan. Benar-benar mewah, luas dan berisi barang-barang yang harganya tidak usah ditanyakan lagi. Mungkin gajinya saat kerja di kapal pesiar dulu sama harganya dengan salah satu barang yang ada di sana.


Tangan Lany tak henti-hentinya meremas tangan Andra yang juga menggenggamnya dengan erat. Apalagi ketika sayup-sayup suara obrolan menelisik di indera pendengarannya, membuat ia harus berulang kali menelan ludah dengan kasar. Ia tahu pasti beberapa orang yang dimaksud Ayah mertuanya itu segera muncul dari balik ruangan di sebrang sana.


Benar saja, empat wajah asing dengan usia berbeda itu nampak tersenyum ke arahnya. Tapi tidak dengan satu wanita tua yang raut wajahnya berubah seketika begitu bersitatap dengannya. .


Begitu semua keluarga muncul, ia kemudian secara bergantian menyalami satu persatu diantara mereka. Mulai dari Opa, oma, Mami dan Dara. Tak lupa ia pun turut memperkenalkan diri.


Untuk saat ini, Lany benar-benar masih merasa aman sebab keluarga Andra menyambutnya dengan baik. Besar harapannya agar hal ini berlangsung selamanya, tidak hanya sejenak.


“Katanya kamu lagi hamil ya?" Tanya Wanita yang Lany tahu merupakan Ibu dari Andra.


Lany tak lantas menjawab pertanyaan itu dengan lantang, ia tersenyum sambil mengangguk kecil. Bukankah ia harus menjaga sikap agar terlihat anggun dan tidak boleh banyak tingkah. Begitu informasi yang ia dapat dari hasil googling saat dalam perjalan menuju kesini tadi.


“Aduh, cucu enin sehat-sehat ya di dalam sini!" Kini tangan ibu mertuanya itu mulai tergerak mengusap perutnya. Tentu hal ini langsung membuatnya kembali diterpa rasa haru yang luar biasa.


“Dia cantik ya, mi! Natural."


Bisikan Dara pada Mami bisa ia dengar dengan jelas, membuat rasa gundah itu sejenak menguar dalam hati. Apalagi saat obrolan ringan kian larut. Namun hanya sejenak, harapan bisa diterima dengan baik itu seketika menguap. Karena terkadang kenyataan memang tak sesuai yang diharapkan.


Apalagi Saat oma mulai melayangkan pertanyaan dengan raut wajah paling sinis. Membuat batinnya kian teriris perih.


“Kamu dari keluarga terpandang juga kan?”


“Bapak kamu kerja dimana?”


“Tahu keluarga Andra kan? Ya pasti, nggak mungkin nggak tau dong,”


Glek..


Pertanyaan itu seakan menghantam telak di hatinya. Apa yang ia takutkan benar-benar terjadi. Latar belakang jelas jadi sesuatu paling utawa yang keluarga itu tanyakan. Meski ia bisa melihat raut wajah tak enak dari Papa dan Opa. Sedangkan Mami dan Dara kelihatan mulai terpancing dengan pertanyaan Oma.


Apalagi Mami Inka, ia jelas yang paling tahu bagaimana kisah Andra hingga bisa bertemu dengan menantunya itu. Namun entah mengapa, Lany bisa merasakan, wajah yang tadi begitu antusias dalam menyambutnya itu, kini berubah menjadi datar.


“Oma!" Lirih Andra yang mencoba untuk mencegah oma untuk tidak membahas hal seperti ini.


“Kenapa Alandra?! Oma hanya ingin tahu tentang istri kamu!" Sergahnya dengan wajah sinis agar tidak ada yang menghalangi ucapannya.


Dan oma benar-benar meneruskan pertanyaannya. Sebagai nenek, tentu ia berharap Andra bisa mendapatkan istri yang bisa menyeimbanginya, paling tidak sama seperti Riana atau mungkin lebih darinya. Dan ia benar-benar ingin memastikan itu.


“Kamu dulu kuliah sampai strata berapa?”


“Oma!!” Sergah Andra dengan raut wajah tegang, ia nampak tak terima dengan pertanyaan Oma, tapi oma sama sekali tak mengindahkan ucapannya.


”Selama ini kerja apa?"


tbc....


__ADS_1


salam dari eneng yg syedih karena ditanya² oma🤣


__ADS_2