My Startling Destiny

My Startling Destiny
Part 83 [Masih Adakah Cinta?]


__ADS_3

“Aaaa, ka-kamu habis ngapain?” Pekikan dari seorang perempuan yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamar itu tak hanya membuat Lany melongo sekaligus terkejut. Tetapi juga membuat Andra yang tengah berbaring di ranjang ikut terperanjat. Andra segera beranjak dan membenarkan handuknya kemudian melangkah mendekati Lany.


“Ada apa?" Tanyanya sembari memegang bahu polos sang istri. Melihat Lany yang sama sekali tak bergeming, ia lalu mengedarkan pandangan ke depan, menatap sosok perempuan yang sangat ia kenal tengah menatap dirinya dengan raut wajah sulit diartikan. Meski begitu Andra sama sekali tak bergeming, ia hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bukankah respon yang normal ketika seseorang menemukan diri kita dalam keadaan yang tak seharusnya?


“Kamu beneran udah nikah?” Tanya perempuan itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Riana.


Ya, selepas mendengar penjelasan Mami Inka dan Papi Ervan, hati Riri seperti teriris sembilu. Penjelasan yang cukup menyakinkan itu membuat ia tak bisa lagi berkonsentrasi dengan pikiran yang hanya tertuju pada Andra.


“Andra udah punya istri dan lagi mengandung, usia kandungannya baru tiga minggu.”


“Mereka menikah sejak dua bulan yang lalu!"


Penjelasan itu membuat denyut jantungnya sesaat berhenti berpaju. Sesak, rasanya sesak sekali. Riri sungguh tak menyangka jika Andra akan melupakannya secepat itu. Sebegitu cepatnya kah tempatnya di hati Andra tergantikan oleh sosok wanita lain, bahkan dia telah menikah selama itu.


Meski begitu, Riana sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Yang Andra lakukan semata dan tak bukan karena ulahnya sendiri, karena kebodohannya lag ia kehilangan sosok Andra


Amarah dan kekecewaan yang tak terbendung terhadap dirinya sendiri membuat ia bertindak impulsif dan segera berlari menuju kamar mantan kekasihnya itu.


Tadi Mama Rita dan Pak Santoso sempat mencegah, mereka tak ingin Riana mengganggu Andra dan istri. Namun, bukan Riana namanya jika ada yang bisa menghentikan aksinya. Ia hanya ingin memastikan itu semua. Dan kini, semua begitu jelas di matanya. Andra dengan seorang wanita tengah berdiri nyata di hadapannya, hanya berbalutkan handuk. Tentu ia bisa menebak apa yang baru saja terjadi diantara keduanya. Tidak! Sungguh Riri tak bisa membayangkan hal itu.


“Kamu beneran udah nikah, Ndra?" Sekali lagi Riri bertanya dengan raut wajah sendu, air mata terbendung wanita itu tampak mulai menetes secara perlahan.


“Kita bicara di taman!" Begitu Andra mengambil keputusan sebelum menutup pintu kamarnya.


Jawaban dan sikap Andra benar-benar membuatnya terluka. Untuk pertama kalinya ia diperlakukan seperti ini oleh Andra. Tubuh tinggi dan ramping itu hanya bisa bergetar menahan isak tangis dengan ingatan akan dosa yang pernah ia perbuat kembali berputar diingatannnya. Namun ia secepat mungkin ia mengendalikan diri dan beranjak menuju taman, seperti yang Andra katakan.


.....


“Mandi dulu, Yank. Terus ikut aku, kita ketemu Riri!" Ucap Andra setelah berhasil mendorong tubuh Lany secara perlahan ke dalam kamar mandi, kemudian ia sendiri segera membuka lemari. Celana rumahan pendek dan kaos oblong hitam menjadi outfit santai pilihannya, setelah selesai memakaikan gel pada rambut ia segera duduk di sofa sambil menunggu Lany selesai.


Begitu melihat Lany keluar, Andra segera berdiri dan menghampirinya.


“Pakai ini dulu gak apakan?" Andra menawarkan kaos putih miliknya dengan celana olahraga panjang. Dari sekian banyak pakaian, hanya itu yang bisa Andra tawarkan karena merasa kaos dan celana tersebut akan cocok di tubu Lany.


Tanpa banyak protes, Lany segera memakai apa yang Andra berikan.


“Kebesaran!" Dengus Lany seraya memerhatikan penampilannya yang seperti orang - orang sawah. Tentu saja, pakaian Andra akan terbilang oversize jika melekat di tubuh mungilnya itu.


Seketika Andra tersenyum melihat penampilan istrinya. Karena merasa gemas Ialu mendekat seraya mengelus pipi Lany.


“Aku pinjamin baju Dara, ya." Tawarnya yang mana langsung dijawab gelengan oleh Lany.


“Eh, gak usah!" Tolak Lany, “Aku pakai ini aja." Ia lalu meraih dress maroon yang terhambur dia atas ranjang.


“Kotor, sayang, bau keringat." Andra menyerngit, “Pakai baju Dara aja, ya."


Ucapan Andra membuat Lany menarik lengan Andra yang hendak melangkah, kemudian mengendus dress tersebut. “Nggak kok, masih wangi! Ini ajalah, nggak enak pinjam-pinjam, nanti aku makin dikira nggak punya pakaian lagi."

__ADS_1


Tentu Lany tidak ingin Andra meminjam pakaian dari adik iparnya yang ia sangka baik itu, tapi melihat respon saat tahu siapa dirinya. Lany memusatkan untuk tidak ingin terlalu dekat dengan adiknya itu. Ia tak ingin direndahkan lebih dalam lagi. Hal itu membuat ia mengambil keputusan ini.


Mendengar ucapan Lany, Andra kemudian menarik tubuh itu ke dalam dekapannya. “Sekali lagi aku minta maaf ya atas perlakuan mereka tadi!" Satu kecupan mendarat di kepala Lany.


Lany berdecak denga satu tangan berusaha mendorong Andra agar menjauh dari tubuhnya, “Iya, iya. Ih, jangan peluk-peluk dulu, ini lagi pakai baju, itu mantan kamu nunggu, loh."


“Iya deh, Nyonya hyperaktif."


Bughh....


Ucapan Andra barusan membuat Lany lagi-lagi melayangkan satu pukulan pada perut Andra. Hmmnt, sepertinya perut adalah sasaran empuk seorang Lany setiap kali kesal pada Andra.


“Ya Allah, neng, kebiasaan banget!" Ringis Andra yang langsung terduduk di ranjang sembari memegangi perutnya.


“Ya Allah, abang, kebiasaan banget. Kenapa selemah itu?” Tutur Lany menirukan gaya bicara Andra, “Badan doang besar, baru disenggol dikit, ’aduh sakit'. Udah diem, aku mau pake baju!" Tangan Lany terus tergerak menyisir rambutnya kemudian menceponya asal.


Setelah sedikit drama rumah tangga, khas dari Andra dan Lany, keduanya langsung pergi menuju taman untuk menemui Riana, yang Lany tahu jika wanita itu adalah mantan kekasih suaminya yang berselingkuh dengan adiknya sendiri. Ya, Lany ingat betul. Ia pernah melihatnya marah-marah saat di kantor waktu itu. Tentu ia masih hafal raut wajah yang menangis pilu seolah begitu tersakiti saat melihat dirinya bersama Andra saat itu.


Jika dulu Lany sempat kasihan, tetapi sekarang tidak. Ia justru kesal setelah tahu apa yang wanita itu lakukan. Kenapa ia kesal? Bukankah itulah yang seharusnya, jika Riri tidak selingkuh mungkin ia tidak akan pernah bertemu Andra.


Tidak, bukan itu! Ucap Lany membatin. Ya, dia hanya kesal jika mengingat bagaimana Riana berlagak paling tersakiti padahal dirinyalah yang menyakiti. Huh, Lany menghela napas, ia heran kenapa Andra masih saja bersikap demikian pada mantannya itu. Sepanjang jalan menuju taman samping, gadis berambut pirang itu terus saja menggerutu.


Sesuai ucapan Andra tadi, kini mereka tengah berbincang dengan Riana. Lebih tepatnya Andra dan Riri saja, tidak dengan Lany. Ia hanya banyak diam mendengar Andra menjelaskan awal pertemuan mereka.


“Jadi kalian ketemu di kapal waktu liburan?" Tanya Riri sembari menseruput juice alpokat yang seorang pelayan siapkan tadi.


Sejujurnya Lany senang mendengar Andra yang menjelaskan semuanya tanpa mengatakan kejadian malam itu, terlebih lagi Andra menjelaskan pada Riana jika dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama, dan itu membuatnya senang, tapi raut wajah tak bersahabat yang Riana tunjukkan setiap kali melihatnya benar-benar membuat suasana hany Lany menjadi kacau. Ia tak suka ditatap seperti itu oleh mantan kekasih suaminya itu, bahkan Riana sama sekali tak menyapanya.


Setelah suasana hening sesaat, Riana kembali membuka obrolan tanpa melibatkan Lany.


“Andra!”


“Ya?” Andra meletakkan hp setelah mengecek beberapa chat dan email penting yang masuk.


“Aku pengen bicara berdua sama kamu.” Andra mengernyit mendengar ucapan Riana.


“Emmmnt, maksud aku. Untuk kali ini aku minta waktu kamu buat bicara empat mata ... tanpa dia!" Ujar Riana ragu-ragu, kemudian menujuk Lany menggunakan dagu.


Lany yang melihat itu tentu ikut menyerngit. Meski begitu, ia tetap berusaha menahan diri untuk tidak tersulut emosi.


“Boleh?" Tak disangka Andra justru beralih menatap Lany hanya untuk meminta persetujuan. Hal itu tentu membuat Lany merasa sangat dihargai, ia tersenyum saat kembali melihat raut wajah terkejut Riana.


“Boleh kok, kalian bicara aja." Ucap Lany dengan santainya sembari beranjak dari tempat duduk, kemudian mengarahkan ciuman di pipi Andra setelahnya.


“Aku tunggu di sana!" tunjuk Lany pada sofa yang bisa dilihat dari jendela kaca transparan yang ada di sebrang teras samping.


“Selamat ngobrol ya, Pa! jangan nakal, adek dan mama tunggu di sana!" Bisik Lany dengan nada bicara semanja mungkin, sembari melirik dan tersenyum sinis pada Riana. Entah mengapa, ia merasa senang setiap kali melihat Riri menunjukkan ekspresi tak suka ketika melihat bagaimana Andra memperlakukannya. Sejujurnya Lany bukanlah orang yang suka pamer kemesraan dengan siapapun, tetapi saat ini ia malah begitu ingin memperlihatkan itu pada Riri. Dasar Melany!

__ADS_1


Andra sendiri sedikit terkejut melihat tingkah Lany yang makin agresif, ia terus menatap langkah istrinya yang kini mulai menitih anak tangga dan melangkah masuk melalui pintu kaca kemudian duduk di sofa yang menghadap padanya. Andra turut melambaikan tangan sembari tersenyum saat Lany melakukan hal yang sama padanya.


“Lucu banget sih, istriku?" Lirih Andra dengan senyum mengembang.


“Andra?!" Suara Riana membuat Andra langsung menoleh.


“Eh, Iya, Ri! Tadi mau ngomong apa?" Tanyanya sembari menatap raut wajah Riana yang mulai mendung.


Dan benar saja, belum sempat Riana mengeluarkan sepatah kata. Air mata sudah merembes lebih dulu dari wajah wanita yang pernah mengisi hatinya itu, ini tentu membuat Andra hanya bisa terpaku.


Sebenarnya sudah sejak tadi Riana ingin menumpahkan tangisnya, namun ia pun tak ingin terlihat lemah di hadapan istri Andra. Bukan hal yang tak mungkin jika Andra tak menceritakan kisah mereka pada istrinya. Tentu untuk menjaga imagenya di hadapan orang lain, Riana tak boleh kelihatan lemah.


Ia benar-benar sakit hati melihat bagaimana Andra memperlakukan wanita asing itu, Lany. Bayang-bayang apa saja yang sudah keduanya lakukan benar-benar mengusiknya. Riana masih tak bisa menerima jika orang lain mendapatkan perhatian yang seharusnya ia dapatkan.


“Kamu gak bener-bener cinta sama dia kan, Ndra?" Lirih Riana dengan tangan yang tergerak mengusap air matanya.


“Maksudku, kamu nggak mungkin secepat itu bisa ngelupain aku, Kan?” Riana kembali membenarkan ucapannya saat melihat Andra hanya terdiam sambil menunduk.


“Aku tau aku salah, aku juga tau aku gak berhak cemburu karena kita udah gak ada apa-apa, karena kamu sudah berstatus suami orang. Tapi jujur hati aku sakit banget lihat kemesraan kalian, hati aku sakit melihat tempat ku tergantikan secepat itu.” Ungkap Riana tersedu-sedu. Memory kebahagiaan saat mereka bersama dulu kembali terputar di kepalanya. Jujur ia masih tak bisa melupakan Andra, bagaimana mungkin ia bisa melupakan cinta pertamanya itu. Namun hanya karena Andra memiliki satu kekurangan, ia dengan bodohnya memilih jalan mendua untuk mendapatkan perhatian. Sungguh inilah penyesalan Riana yang sesungguhnya.


“Udahlah, Ri. Yang berlalu biarkan berlalu, jangan dibahas lagi." Pungkas Andra setelah menghembuskan napas resah.


“Tapi kamu dan dia!" Sergah Riana masih ingin tahu apakah Andra benar-benar mencintai istrinya.


“Aku dan dia kenapa?" Andra menatap Riana dengan tatapan memicing.


Riana menggeleng, “Aku tahu kamu nggak serius sama dia, kamu pasti sama seperti aku, kita sama-sama belum bisa saling ngelupain.”


“Waktu sesingkat ini gak akan bisa mengubur kenangan yang sudah terukir dari separuh hidup kita!" Ucap Riri dengan mantap seraya menatap sosok wanita yang tengah sibuk dengan HPnya di balik jendela kaca itu.


“Kata siapa?" Sahut Andra dengan tatapan khasnya, teduh dan tenang. Ucapannya itu membuat Riana bungkam di balik wajah kebas akibat lelehan air mata yang mengering.


“Aku cinta istriku dan aku sayang sama dia. Gak ada alasan buat aku gak mencintai istri dan ibu dari calon anakku.”


Penjelasan yang disampaikan Andra dengan tenang dan santai benar-benar mengena tepat di hati Riana, membuat gadis itu menunduk dan kembali menangis dalam diam.


“Kami udah bahagia tanpa ingat masa lalu kita, dan kamu juga harus bahagia dengan Rival, dia pilihan kamu kan?"


Pertanyaan itu membuat Riana menoleh, mendengar nama Rival membuat ia makin merasa seperti manusia paling hina dan jahat. Ia menyesal atas semuanya.


“Life must go on, Ri! (hidup harus terus berjalan) Kamu juga harus bahagia, ya!" Ucap Andra sembari menepuk punggung Riana yang terus menunduk.


Membuat Riana kembali menatapnya dan berkata, “Tapi aku gak bahagia, Andra!" Penuturannya membuat Andra menampakkan wajah heran.


“Sejak dia tahu hubungan kita berakhir, dia tiba-tiba menghilang dan gak bisa dihubungi!”


Andra menghela napas mendegar ucapan Riri, kini ia mengerti kenapa belakangan ini adiknya itu tak pernah menampakkan batang hidungnya. Sepertinya Rival menyadari kesalahannya dan mungkin takut bertemu dengan Andra.

__ADS_1


...🖤🖤🖤🖤...


__ADS_2