
Di dalam sebuah kamar berukuran besar, Andra tak henti-hentinya menatap Lany yang hanya terdiam sejak masuk disana. Setelah makan siang berlangsung, ia memang sengaja mengajak sang istri untuk beristirahat agar bisa menghindari pembahasan seperti yang omanya layangkan. Andra sangat merasa bersalah atas kejadian tadi. Ia kecewa pada sikap Mami dan Dara yang seakan tak bisa menerima keberadaan dan latar belakang Lany, terutama sikap Oma. Bukan hanya Lany yang dibuat terluka, tapi ia pun sama terlukanya.
Andra menghela napas, “Lan!!" ia menoleh pada Lany yang tengah duduk di sampingnya. Meski sejak tadi Lany sama sekali tak mengatakan apapun, tapi ia jelas tahu bagaimana perasaan istrinya itu.
“Ya?" Sahut Lany yang sama sekali tak menoleh, dengan netra yang terus mengerling, mengamati interior kamar tersebut.
Andra kembali menghela napas, raut wajahnya nampak begitu gusar melihat Lany. Ia tahu, gadis itu hanya sedang berusaha tegar dengan menutupi kesedihannya.
“Hey,lihat aku!” Tangan Anda tergerak menarik tubuh Lany agar menatapnya.
“Are you okey?” Tanyanya lagi, yang mana hanya dijawab anggukan dan disusul senyuman penuh kepalsuan oleh Lany. Ia berusaha menyembunyikan kesedihannya.
“Sure?” Perlahan Andra mulai menunduk sembari mengamati wajah yang tengah berusaha menampakkan kecerian di hadapannya. Satu tangannya menangkup wajah sang istri untuk lebih memastikan.
“Berlebihan banget tau nggak!" Cebik Lany sembari terkekeh, dengan jemari yang terarah mengusap wajah Andra untuk menghindari kontak mata dengannya.
“Aku nggak apa-apa, emang kenapa sih?" Sunggyutnya yang benar-benar menghindari tatapan Andra. Terbukti dengan fokusnya yang kembali mengamati setiap sudut ruangan.
“Lan, aku serius!" Sergah Andra yang kembali menarik bahu Lany dengan lembut agar menghadap ke arahnya.
“Aku juga serius, Alandra!" Seloroh Lany meyakinkan.
Andra dibuat jengah melihat sikap sang istri yang terlalu keras kepala itu pun langsung merengkuhnya penuh sayang. Ia jelas tahu bagaimana Lany begitu lihai menyembunyikan kesedihannya, bertanya seperti ini pada Lany tidak akan membuat gadis itu mengaku. Dia terlalu tegar untuk mengakui kesedihannya di depan orang lain, meski dengan Andra sekalipun, seperti saat ini contohnya.
“Aku tau kamu wanita tegar, tapi kamu gak bisa bohong ke aku!” Ujarnya sembari beberapa kali mengecup puncak kepala Lany yang juga tengah bersandar di dadanya.
“Aku minta maaf atas ucapan oma, Dara dan juga Mami tadi. Maaf kalau kamu dibuat gak nyaman."
Lany menghela napas, ragu-ragu tangannya tergerak membalas pelukan Andra. Jika di awal dulu ia selalu risih setiap kali Andra memperlakukannya seperti ini, namun seiring berjalannya waktu ia sudah terbiasa dengan pelukan itu. Dan kini, nalurinya menuntun untuk membalas pelukan Andra dengan begitu erat. Terlebih lagi, perasaannya yang rapuh karena kejadian tadi membuat ia membutuhkan sandaran seperti ini.
“Nggak apa, santai aja!” Meski ucapan keluarga Andra tadi benar-benar menyakitkan, tapi Lany enggan mengambil pusing masalah itu. Ia tetap berusaha santai, menyikapinya dengan kian menelusupkan wajah dalam-dalam di dada bidang Andra. Toh, dari kecil ia sudah sering mendapat perlakuan yang jauh lebih dari ini.
“Aku udah kebal dengar omongan kayak tadi,itu mah gak seberapa kalau cuma mau bikin aku kena mental."
Perkataannya itu membuat Andra tersenyum. Inilah salah satu alasan Andra jatuh cinta pada Lany, dia selalu bisa sok bersikap tegar meski dalam keadaan kepepet. Mengingatkan Andra pada kejadian saat mereka baru saja melakukan hal menyenangkan di kapal waktu itu. Sangat jelasn ia mendengar Lany menggerutu karena kehilangan mahkotanya, namun disaat yang bersamaan juga ia menolak niat baik Andra dengan alasan randomnya.
“Wih, Eneng emang dah suhu yah! Bikin abang salut." Tangan Andra tergerak mengacak-acak rambut Lany.
“Ck, kamu aja dulu gak kena mental kan waktu sempat di tolak sama bapak!" Celetuk Lany lagi, masih dengan mata terpejam. Obrolan sepasang suami istri itu benar-benar terdengar santai, seolah baru saja tidak terjadi apa-apa. Lany begitu pandai berkamuflase. Padahal saat dihadapan keluarga Andra tadi, ia benar-benar mati kutu. Bohong jika tidak kena mental, hanya saja ia tidak ingin terlihat lemah.
“Kalau itu beda ceritanya, neng!" Seloroh Andra sembari terkekeh, “Itukan beda sayang.."
“Iya kok, aku tau beda. Karena kamu emang kaya, jadi nggak perlu takut. Soalnya pasti mereka langsung nerima kan." Potong Lany. “Beda sama aku, nasib kita jelas beda, hmmmnt."
__ADS_1
“Tapi ...” Mata yang tadi terpejam itu mendadak terbuka sembari terus mendongak menatap Andra dengan senyuman penuh arti. “Kalau suatu saat omongan mereka udah gak bisa dikontrol atau berlebihan, nggak apakan kalau aku ngelawan?" Pertanyaan itu membuat kening Andra mengkerut.
“Kamu tahu kan manusia punya batas kesabaran?"
Sejenak Andra kembali terdiam mendengar ucapan Lany, dengan jemari yang terus menari, mengetuk pegangan sofa sehingga menimbulkan bunyi. Ia terlihat seperti tengah memikirkan sesuatu.
“Kenapa diam? Nggak boleh ya?" Tanya Lany,yang mana membuat Andra langsug beralih menatapnya.
Seulas senyum terukir di wajahnya,“Mereka nggak akan kayak tadi lagi, aku jamin!”
“ Oma, Dara dan Mami ngomong begitu karena belum kenal kamu. Aku yakin kalau udah kenal baik pasti dia akan sayang sama kamu. Aslinya mereka baik kok!" Seru Andra yang berusaha menenangkan. Meski ia pun sedikit ragu, namun ia tidak ingin pikiran Lany terbebani.
“Ya, semoga aja." Celetuk Lany yang mengangguk pasrah, kemudian kembali memejamkan mata.
“Jangan khawatir, ya. Kamu nggak sendirian, ada aku! Kita akan lewati semuanya bareng-bareng." Andra mendaratkan kecupan di wajah Lany sambil merengkuhnya.
Suasana hening beberapa saat, hanya suara jarum jam yang berdenting mengiringi kesenyapan di ruangan besar itu. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
“Kalau ngantuk tidur di ranjang, gih. Kamu pasti capek kan!" Tawar Andra yang kembali membuka obrolan setelah beberapa saat kemudian.
“Boleh,” Lagi-lagi Lany tersenyum penuh arti. “Tapi gak mau jalan sendiri.”
Andra yang sedari tadi menatap wajah yang terlelap itu, seketika menyerngit mendegar ucapan sang istri. “Maksudnya?" Tanyanya bingung.
“Aku mau tidur, tapi kamu yang gendong ke ranjang.”
“Tumben manja.” Bisik Andra saat tubuh Lany sudah mendarat di tempat tidur. Sungguh ia dibuat gemas dengan sikap Lany yang seperti ini. Jarang-jarang Lany berlaku manja begini.
“Kenapa? Nggak suka?!” Sergah Lany dengan sinis. “Ya udah sana kalau nggak suka."
“Suka kok, suka banget malah!" Sahut Andra sembari menangkup tangan Lany yang tengah mencoba mendorong tubuhnya dari atas tubuh Lany. Kini jemarinya tergerak mengusap wajah Lany dengan posisi setengah menindih. Andra menatap Lany begitu dalam, dengan sorot mata penuh damba.
“Kirain ngerepotin." Lany tersenyum lebar,sambil menampakkan jejeran giginya. Tangan Lany tergerak mengusap rahang Andra yang berjarak begitu dekat dari wajahnya. Membuat mereka bisa merasakan kehangatan deru napas satu sama lain.
“Begini terus ya, aku suka kalau istriku manja.” Andra mendaratkan satu kecupan di bibir Lany. Membuat wajah Lany seketika memerah.
“Coba aja dokter gak ngelarang, kita udah terbang dari tadi ." Andra menghembuskan napas gusar jika mengingat ucapan dokter Susi waktu itu.
Sedangkan Lany dibuat mengernyit mendegar ucapan Andra, ia paham betul apa yang Andra maksud jika sudah menyebut kata terbang. Wajah suaminya itu juga terlihat memerah, dengan jakun yang tergerak naik turun. Seperti tengah menahan sesuatu.
“Kenapa dilarang?" Tanya Lany dengan begitu polosnya.
Andra yang tengah menahan gejolak sesuatu di dalam tubuhnya pun seketika tersenyum. Lany jelas tidak tahu mengenai pesan dokter Susi hari itu. Karena memang dokter hanya menyampaikan hal itu padanya. Ia pun mencoba menjelaskan semua pada Lany.
__ADS_1
“Kata dokter kalau Eneng lagi hamil muda, kita nggak boleh sering-sering ngelakuin itu." Andra menjeda ucapannya seraya berusaha menetralisir gejolak yang kian membuncah di dalam diri. “Ya, walaupun aku pengen juga ngejenguk si adek.” sambungnya sambil berdehem dan mengerling nakal.
Lany yang mendengar itu pun hanya terdiam, jemarinya masih memegang wajah Andra, dengan tangan yang satu tertempel di bahu suaminya itu.
“Emang kenapa sih? Padahal lagi pengen juga." Lirih Lany dengan kepala menoleh, berusaha menghindari tatapan Andra.
Sepertinya ia benar-benar sudah hilang akal, untuk yang pertama kalinya ia menginginkan hal itu dan mengatakannya langsung pada Andra. Sejujurnya Lany masih punya rasa malu, tapi entah mengapa gelora di dalam dirinya pun menginginkan hal itu. Ditambah lagi hatinya selalu mendorong untuk meminta melakukannya.
Udah suami istri juga sih, ngapain harus malu? Begitu kata hatinya berbisik. Mungkin karena hormon ibu hamil.
Sejenak Andra pun terdiam mendengar ucapan Lany,ia bingung harus menjawabnya dnegan apa. Sejujurnya Andra tidak tahu jelas apa alasan kenapa dokter melarang dan ia pun lupa menanyakannya karena saat itu ia terlalu excitid mendengar kabar kehamilan Lany. Namun gejolak itu kian muncul saat melihat Lany pun menginginkan hal yang sama. Membuat ia sesegera mungkin harus menemukan solusi.
“Aku juga nggak tau, tapi tunggu bentar. Kita bisa searching di google." Andra beranjak kemudian duduk di tepi ranjang, ia mengeluarkan hpnya kemudian mulai mencari apa yang ingin ia ketahui. Diikuti dengan Lany yang juga ikut duduk sembari menyandarkan wajahnya di bahu Andra.
Setelah cukup lama membaca satu persatu sub judul yang ditampilkan, akhirya Andra meletakkan ponselnya dan menatap wajah Lany kemudian. Andra menatap Lany dengan senyum terkulum. Ia begitu gemas melihat wajah gadis yang biasanya galak itu kini kelihatan seperti kucing menggemaskan yang tengah menanti diberi makan. Sedangkan Lany, ia menyerngit menanti apa yang akan Andra katakan.
“Katanya boleh kalau pelan-pelan, harus aman! Soalnya masih rentan, nggak boleh banyak gaya!" Jelas Andra dengan senyum tertahan, yang mana langsung mendapat pukulan dari Lany.
“Issh, siapa yang banyak gaya sih! Kamu tuh yang suka banyak gaya!" Celetuk Lany dengan wajah yang sudah memerah.
“Masa?" Goda Andra lagi, “Banyak gaya tapi kamu suka kan!?”
“Andra!" Cebik Lany tak suka. Ia benar-benar kesal sebab Andra begitu senang menggodanya.
Melihat tanduk Lany yang sebentar lagi akan keluar, Andra langsung ambil tindakan. Ia membekap bibir istrinya dengan ciuman lembut yang perlahan memanas. Tangan Andra tergerak membuka resleting baju Lany yang berada di punggung. Dan ... terjadi lagi, kisah lama yang terulang kembali!🤭
...💜💜💜...
Hai, hai..
lama tidak bersua🤭
masih ada yang baca gak sih??😅
kalau gak ada ya nggak apa² juga sih, aku cuma mau nitip karya aja. Kalau ada yang baca syukur kalau nggak, ya udah. kan udah nasib🤪.(Ucapku, suara hati si otor remahan yang nasibnya selalu apees. punya karya tapi nggak pernah dilirik Pf (Eh kok malah curhat🤭)🤣🤣)
btw, maaf ya kalau aku lama ngilang. Salah satunya karena faktor M (Malas🤣), Eh, nggak juga deng. lebih tepatnya aku ada kesibukan di real life yang membuat diri ini jarang up, soalnya lagi healing ke mars.. Tapi insyaallah akan mulai rajin lagi, Karena aku sayang sama Readers² sekalian ya meski yg baca cuma secuil, but aku sayang kalian ever after😘😘😅
Dahalah, abaikan keluh kesah othor gabut yg apes ini🤣🤣. Gak penting juga ya, kan.. yang penting tuh ungkapan cinta dari ayang🤣
Dahlah, mengcapek...
btw,aku punya bonus nih..
__ADS_1
Salam dari mereka yg lagi ena ena🤭🤭🤭