
“Lany! sedang apa?”
Perasaan carut marut yang berkepanjangan itu teredam seketika. Di bawah rintik hujan yang makin deras, dengan wajah datar ia menoleh melihat si pemilik suara. Dia pikir suasana sore yang disertai hujan, taman itu tidak akan didatangi pengunjung lagi. Tapi nyatanya tidak, Dewi justru muncul di saat ia tengah kelimpungan sendiri.
“Kamu kenapa? kok main hujan di sini?"
Meski terpaksa, Lany tetap berusaha menampakkan senyum pada Dewi, sahabatnya. Yang entah darimana datangnya.
“Kok bisa ada di sini?” bukannya menjawab, ia justru malah balik bertanya pada Dewi.
“Kebiasaan!" dengan pelan, Dewi melayangkan pukulan di lengan Lany, gadis itu sudah basah kuyup di bawah derasnya hujan sore. “Setiap ditanya selalu nanya balik!"
Sambil meringis, Lany mengusap wajahnya yang diterpa hujan. Lany menghela napas berat, ia menjatuhkan tubuhnya di kursi taman dan Dewi tetap berdiri sambil memayungi sahabatnya yang kelihatan ditumpuki masalah berat, tetapi Dewi sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
“Hp ku hilang, Wi.” Lirih Lany.
“Hilang dimana?" sergah Dewi panik, dengan raut wajah terkejut.
“Tadi jalan di sini, Hp ku di saku,” jelas Lany sambil menunjuk saku belakang celana jeans yang ia kenakan. “Pas sudah duduk, mau cek Hp. Eh taunya sudah hilang, Aku cari kesana-kemari sampai hujan begini tetap ndak ketemu juga!” Tambahnya.
“Duh, kok bisa sih! Itu kalau bukan jatuh, mungkin ada yg ambil dari sakumu!” Mata Dewi ikut menelisik ke sekitaran taman yang memang sudah sepi.
Lany sama sekali tak menjawab perkataan Dewi.
Air mata Lany lolos begitu saja saat melihat raut wajah prihatin dari Dewi. Beruntung wajahnya masih sedikit basah, jadi ia tak perlu khawatir jika Dewi akan melihatnya menitihkan air mata. Lany tidak ingin memperlihatkan kesedihannya pada orang lain, walaupun dengan sahabatnya sendiri.
Lany kembali menghela napas, berusaha menetralkan perasaannya. Ia merasa sangat sesak dibagian dada. Tadinya, sepulang dari Rumah Makan, ia berniat untuk menenangkan diri dari masalah yang terjadi. Sudah lima hari dari kepergiannya, namun Andra masih tak kunjung memberinya kabar. Itu terlalu menyakitkan, bahkan Ia sudah bertekad untuk berhenti mengharapkan kehadiran pria itu. Terserah dia mau pergi atau tak kembali sekalipun, Lany sama sekali tak ingin memikirkannya. Sudah cukup ia dibuat menunggu tanpa kabar.
Dan kini sudah dua hari sejak Lany memutuskan untuk berhenti mengharapkan Andra. Tapi saat melintasi taman, lagi-lagi Lany teringat pada orang yang sedang susah payah ia lupakan. Ia dan Andra memang tak kenal lama, tapi entah mengapa begitu sulit menghilangkan bayangan pria itu. Satu persatu kenangan itu seakan terputar kembali diingatannya. Hal itu membuat ia menghentikan motornya dan masuk ke area taman.
Lany melamhkah menuju ke sisi kolam, persis dimana ia dan Andra pernah menghabiskan hari waktu itu. Ia duduk di kursi dan saat sekali lagi ingin mengecek apakah ada notifikasi dari orang yang diharapkan, Ia justru tak mendapatkan Hp nya di saku. Benda pipih itu hilang.
Hari itu, Lany benar-benar merasakan masalah hidup memang tak pernah jauh dari dirinya. Selalu ada saja kejadian atau bahkan masalah yang menghantui.
“Pulang, ya! Nanti kamu sakit, ini sudah mau maghrib juga.” Bujuk Dewi yang melihat Lany tak henti-hentinya mengedarkan pandangan pada area rerumputan, masih berharap hpnya ketemu.
“Lan!" Seru Dewi, saat Lany sama sekali tak bergeming.
Gadis itu menoleh, garis dibibirnya yang pucat mulai terlihat jelas .
“Kok bisa tau, Aku ada di sini?" tanya Lany dengan wajah menahan dingin. Terlalu lama di bawah hujan, membuat bibirnya mulai bergetar.
Dewi menoleh ke sisi jalan, dimana terdapat sebuah mobil SUV di sana, “Kebetulan mau pulang juga, malah lihat kamu kayak orang bingung cari sesuatu di sini.”
Lany hanya mengangguk mendengar ucapan Dewi yang tadinya memang di jemput Riswan. Karena hujan dan ada Kiya, Riswan memutuskan memakai mobil warung makan untuk pulang. Dan saat melintasi area taman Riswan tak sengaja melihat Lany, itu membuat Dewi bergegas menghampiri.
“Pulang yuk..” Lany yang tahu jika Dewi tak akan meninggalkannya di taman, memutuskan untuk pulang. Ia tak ingin Riswan dan Kiya menunggu lama. Toh, Lany juga tak lagi mengharapkan Hp nya. Benda itu tak mungkin ketemu.
__ADS_1
“Naik mobil sama-sama, yuk. Bahaya kalau naik motor sendiri, kamu mengigil begini.” Ujar Dewi yang khawatir melihat keadaan Lany.
Gadis itu menggeleng, ia mengeluarkan kunci dari saku celananya, “Aku naik motor aja, Wi.”
“Tapi..”
Belum sempat Dewi menyelesaikan ucapannya, Lany sudah melangkah sambil mengangkat tangannya, tanda ia menolak tawaran Dewi.
Tak ingin berdebat, Dewi segera mengejar Lany dan memayunginya. Begitu sampai, Dewi masih terus memayungi Lany yang tengah sibuk memakai helm. Wajah gadis itu kelihatan begitu lesu.
“Aku duluan ya!” dengan wajah datar, Lany segera tancap gas meninggalkan area taman setelah mendapat anggukan dari Dewi
Dewi terus menatap punggung sahabatnya, ia merasa Lany memendam sesuatu. Bukan hanya masalah hp, pasti ada masalah lain yang disembunyikan. Dengan langkah gontai, Dewi segera menuju mobil.
Dewi melipat payungnya dan masuk ke dalam mobil. Ia disambut dengan celotehan Kiya yang senang melihat wiper mobil yang tergerak naik turun menghapus lelehan air hujan yang menerpa kaca mobil.
“Melany kenapa?” Riswan langsung melayangkan tanya begitu melihat istrinya sudah duduk rapi.
“Hpnya hilang.”
“Waduh, bagaimana bisa?"
“Antara jatuh sama ada yang ambil. Dia simpan di saku belakang.” Dewi meringis mengingat keteledoran Lany yang berani menyimpan hp di saku saat ditempat umum seperti itu. Akan tetapi tadi ia tak ingin membuat Lany makin sedih dengan mengatakan hal tersebut.
Riswan hanya menggeleng sambil menyerahkan Kiya pada sang istri. Ia pun segera melajukan mobil untuk mengikuti Lany. Memastikan agar sahabatnya itu sampai dengan selamat. Mereka takut jika terjadi sesuatu dalam perjalanan. Dengan begini, ia dan Dewi masih bisa memantau dari jauh.
Sore itu, Andra sudah bersiap untuk pulang. Segala urusannya baru saja selesai, dan akan chek out malam nanti. Namun saat tengah berbincang dengan para karyawan yang memang sengaja datang ke Hotel untuk melakukan perpisahan degan bos besar mereka. Direktur kantor yang bertugas di Kota itu mendapat kabar jika Massa baru saja melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor mereka.
Tentu itu merupakan berita yang tidak baik. Andra jelas tahu, berkali-kali Perusahaan yang baru berdiri beberapa tahun di Kota ini sering mendapat penolakan dari massa setempat meski telah menandatangani kontrak . Entah itu aksi demonstrasi yang menuntut berbagai macam hal atau bahkan melakukan penolakan. Namun semua selalu bisa teratasi. Kini, hal itu kembali terulang, kali ini entah masalah apa lagi. Padahal ia merasa perusahaan sudah mematuhi segala perjanjian dan tak pernah melanggar peraturan yang ada. Bahkan sudah mendapatkan izin dan memiliki Legal Standing dari Pemerintah.
Selain bisa merugikan proses pertambangan, tentu hal ini juga bisa megulur waktu pulangnya. Sudah terlalu lama ia tidak memberi kabar pada Lany, itu jelas melenceng jauh dari janjinya, yang katanya akan selalu memberi kabar. Tak ingin membuang-buang waktu, Andra memutuskan untuk ikut langsung menuju lokasi. Padahal seharusnya ia tak kembali karena sudah melakukan perpisahan dengan para staff dan karyawan yang ada di sana. Tetapi masalah ini tak bisa ia hindari. Selama ini, ia hanya menyelesaikannya dari kejauhan dengan bantuan para juru bicara dan pimpinan yang ada. Berhubungan dia ada di sini, Ia berniat ingin menemui mereka semua, meski mungkin akan membuat waktu keberangkatannya kian terulur.
Setibanya di sana, ia melihat halaman kantor sudah sepi. Hanya ada beberapa orang dan polisi yang berjaga di sana.
Andra turun dari mobil, melangkahkan kaki di tanah kuning Poboya, penghasil emas bagi Perusahaannya. Novita dan para bawahan yang ikut segera menyusul di belakangnya.
“Bagaimana?” Tanyanya dengan wajah gusar.
“Semua sudah aman dan terkendali Pak." sahut Seorang pria yang merupakan juru bicara perusahaan yang mengatasi aksi tadi.
“Kali ini apa lagi yang warga inginkan?" Tanya Andra dengan mimik wajah serius. Ia bahkan tak ingin pindah dari sana, padahal sejak tiba tadi, mereka semua sudah membukakan Pintu agar ia segera masuk dan duduk di dalam.
“Bapak masuk dulu, nanti anda lelah." Seorang staff wanita memberanikan diri untuk bicara. Novi sudah terlihat menggeleng, mengisyaratkan agar jangan menawarkan apapun ketika Andra sedang serius seperti ini. Kali ini ia benar-benar jauh berbeda dari Alandra si cowok -softboy- saat bersama dengan Lany.
“Di sini saja, berdiri tidak akan menghalangi mulut untuk berbicara!" ucapnya tegas dan terdengar tak ingin dibantah.
Semua hanya diam mendengar ucapan Andra. Dari belakang, Novita terlihat menggeleng sambil mempersilahkan juru bicara tadi agar segera menceritakan kejadian yang sebenarnya.
__ADS_1
“Massa aksi menuntut tiga hal, Pak." Andra masih berdiri, dengan seksama ia mendengar penjelasan dari Juru bicara.
“Mereka menuntut legalitas Amdal (analisis dampak lingkungan), kedudukan bagi ekologi lingkungan serta mereka ingin adanya pemberdayaan masyarakat bagi lingkar tambak.”
Andra mengusap wajahnya kasar. Tuntutan Amdal ini lagi, ia mengerti kekhawatiran masyarakat akan dampak lingkungan akibat keberadaan tambang. Masalahnya bahkan semakin rumit setelah beberapa hari perusahaan mulai beroperasi.
“Mereka tidak setuju dengan point dalam Amdal jika perusahaan akan melakukan pengeboran bawah tanah dengan bahan peledak, mengingat bencana yang pernah terjadi di kota ini."
Andra masih diam, berusaha memikirkan solusi untuk itu. Dari tiga tuntutan yang massa layangkan. Baginya masalah tuntutan Amdallah yang menurutnya paling berpengaruh. Tentu mereka tak boleh salah langkah dalam membuat keputusan. Sedangkan salah satu metode penambangan yang harus dilakukan berada pada isi tuntutan tersebut. Andra benar-benar dibuat pusing oleh hal ini.
“Kita rapat malam ini." Semua kembali mengangguk mendengar keputusan Andra.
“Kita harus segera mencari solusi, secepatnya harus ada jawabn atas tuntutan tadi. Jangan mengabaikan masyarakat terlalu lama..”
“Nov, persiapkan semuanya! Batalakan jadwal penerbangan.” Mau tak mau ia harus mengundur waktu pulang sampai masalah benar-benar beres.
“Siap Pak," Novi membungkuk, tanda siap melaksanakan tugas.
Andra menatap satu persatu orang-orang yang ada “Persiapkan masing-masing solusi terbaik kalian, kita ketemu nanti malam." Sambil memijit pangkal hidungnya, Andra melangkah menuju mobil. Sedangkan Novita masih harus tinggal untuk melakukan persiapan sesuai perintah Andra.
Namun sebelum melakukan semua, Novita lebih dulu menghampiri Andra yang sudah hampir masuk ke mobil.
Dalam perjalanan, Andra terus memutar otak. Memikirkan solusi terbaik untuk masalah ini. Baru saja tambang mulai beroperasi, perusahaan harus menghadapi masalah lagi.
Dalam diamnya ia teringat seseorang yang sudah ia abaikan beberapa hari ini. Tak ingin membuat orang itu kecewa terlalu dalam, mengingat betapa pemarah dan galaknya dia, mampu membuat Andra tersenyum disela otaknya yang bekerja keras. Ia lalu merogoh Hpnya dari saku celana beige yang ia kenakan.
Senyum terpancar dari wajahnya. Perasaan senang buru-buru ingin mendengar suara dari wanita yang sudah pasti akan mencecarnya dengan omelan khas dari seorang Lany. Jika tahu menelpon Lany bisa semenenangkan ini, mugkin ia sudah melakukannya dari waktu lalu. Namun perasaan takut tak fokus dan tak ingin pikiran terbagi membuat ia tak memberi kabar apapun.
Wajahnya berubah sendu ketika suara operator muncul memberi tahu jika nomor yang dituju sedang tidak aktif. Kekecewaan jelas ada. Namun ia juga sadar diri, jika semua ini berawal darinya. Mungkin saja Lany sedang marah dan tak ingin berbicara dengannya.
Baiklah, Andra menghentikan usaha panggilannya. Ia beralih sambil mengirim pesan.
“Hy, marah ya sama aku?” tulisnnya dengan emoticon tersenyum sendu.
“Maaf baru ngabarin, aku sibuk banget! Takut nggak bisa nahan diri buat pulang kalau ngabarin kamu.”
Dasat bodoh! Jelas dia marah, seharusnya kamu tidak bertindak seperti ini. Jika saja mengabarinya dari awal, mungkin dia tidak akan marah. Bahkan hati dan pikirannya mengkritik tindakan bodohnya itu.
Dengan raut wajah penuh rasa bersalah. Andra kembali mengetikkan satu persatu huruf, merangkainya menjadi kata dan sepenggal kalimat yang mungkin tak bermakna bagi Lany.
“Sekali lagi maaf ya, Aku bukan cowok peka! Suami mu ini memang bodoh." Andra tersenyum perih. Entah mengapa ia selalu dihampiri perasaan takut setiap kali menyadari betapa tidak peka dan bodohnya dia jadi laki-laki.
“Aku masih harus tinggal, sebenarnya pulang malam ini. Tapi ada masalah, jadi ditunda sampai selesai. Sekali lagi maaf kalau bikin kamu marah!"
.........
**Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya biar aku makin semangat 😉.
__ADS_1
Happy Reading 💕**