
"Tidak mungkin Om," Hazel yang tidak percaya dengan ucapan Jimi. Kini dengan segera beranjak dari tidurnya dan melihat celana miliknya yang baru di turunkan oleh Jimi.
Dan Hazel kini menggaruk belakang kepalanya saat mendapati celana segitiga miliknya sudan penuh dengan darah. Hazel pun langsung menaikan celana miliknya dan turun dari tempat tidur.
"Maaf Om," ucap Hazel sambil tersenyum ke arah Jimi, lalu berlari menuju kamar mandi.
Meninggalkan Jimi yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, menatap punggung Hazel yang pergi meninggalkan.
"Sabar Jim, mungkin belum saatnya kamu merasakan apa yang kamu inginkan," ucap Jimi pada dirinya sendiri.
Kemudian Jimi beranjak dari tempatnya dan meraih pakaian miliknya yang tadi dia letakkan di atas tempat tidur tidak jauh dari jangkauannya.
Dan setelah mengenakan pakaiannya kembali, kini Jimi merebahkan tubuhnya di tempat semua.
Lalu pikiran Jimi sekarang tertuju pada Mita sang istri yang sedang mengandung anak dari pria lain.
"Aku harus bicara dengan mama dan juga papa tentang surat perjanjian pra nikah itu, dan mengatakan jika Mita sedang mengandung bayi dari pria lain. Persetan jika aku tidak bisa memiliki rumah sakit itu. Aku masih bisa menjadi dokter di rumah sakit lain," ucap Jimi, mengingat lagi rumah sakit di mana selama ini dirinya bekerja adalah rumah sakit milik papanya yang akan jatuh di tangan Jimi, jika rumah tangganya langgeng dengan Mita. Dan itu juga berada di surat perjanjian pra nikah yang sudah di sepakati oleh kedua belah pihak.
Namun, sampai saat ini, Jimi belum menemukan cara untuk mengatakan yang sebenarnya pada kedua orang tuanya bagaimana keadaan rumah tangganya yang sudah lama tidak sehat.
"Ahh," keluh Jimi dan langsung meraup wajahnya dengan ke dua tangannya. Tanpa Jimi sadari jika Hazel sudah kembali dari kamar mandi.
__ADS_1
"Kenapa Om?"
Mendengar pertanyaan dari Hazel membuat Jimi kini beranjak dari tempatnya dan tersenyum ke arah gadis yang masih berdiri di sisi tempat tidur.
"Tidak ada Zel, Om hanya sedang berpikir bagaimana agar Om terlepas dari pernikahan Om, terlebih lagi saat ini Mita sedang mengandung,"
"Apa? Tante Mita hamil. Anak Om?" tanya Hazel yang kini naik ke atas tempat tidur dan duduk di depan Jimi.
"Bukan Zel, tapi anak dari pria yang kamu tunjukkan kemarin,"
"Syukurlah," sambung Hazel dan bisa bernafas lega. Entah mengapa sekarang Hazel ingin memiliki Jimi seutuhnya. "Terus apa yang akan Om lakukan? Apa Om akan mengakui anak itu sebagai anak Om. Jika iya, berarti Om itu tolol,"
"Tentu saja tidak Zel,"
"Terus apa yang akan Om lakukan?"
"Entahlah, Om masih memikirkan cara agar kedua orang tua Om, bisa melihat sendiri Mita berselingkuh dengan pria itu. Karena orang tua Om, pasti tidak akan pernah percaya pada apa pun yang Om katakan,"
"Baiklah, aku akan membantu Om. Agar bisa bercerai dengan tante Mita," sambung Hazel yang sekarang tahu apa yang harus dirinya lakukan.
"Bagaimana carinya Zel?"
__ADS_1
"Nanti aku beri tahu Om," jawab Hazel yang kini beralih duduk di pangkuan Jimi dan melingkarkan kedua tangannya di belakang leher Jimi. "Om,"
"Iya Zel, katakan saja,"
"Apa tidak bisa, jika sedang datang bulan melakukan anu Om,"
"Bisa Zel,"
"Jika begitu lakukan saja Om, aku sungguh menginginkannya,"
"Om tidak mau melakukan itu Zel, Om tidak ingin menghalangi darah kotor yang ke luar dari tubuhmu, jika Om melakukan itu,"
"Yah Om, apa Om tidak cenat cenut?"
"Om bisa menahannya Zel. Lebih baik kita tidur sekarang,"
Jimi pun langsung merebahkan tubuhnya sambil memeluk tubuh Hazel, tentu saja Hazel yang duduk di pangkuan Jimi sekarang berada di atas tubuh Jimi.
"Sekarang tidur lah," pinta Jimi lalu mencium kening Hazel yang menidurkan kepalanya di dada bidangnya.
Bersambung....................
__ADS_1