
“Besar, panjang,dan tahan lama,” Hazel membaca artikel di posel sang suami, saat dia mendapati sang suami belum mengeluarkan artikel yang tadi dibacanya dari layar ponsel. “Apa arti dari artikel ini?” tanya Hazel sendiri saat baru membaca judul artikel tersebut.
Hazel yang penasaran dengan judul tersebut, langsung membacanya hingga dia menemukan gambar yang sangat memukau, dimana banyak gambar senjata laras panjang yang tumpul milik seorang pria dengan berbagai macam ukuran dan juga warna. Dan hazel membaca artikel tersebut, dan langsung tertawa, ketika dia sudah tahu maksud isi dari artikel tersebut. “Ya ampun suamiku, ha ha ha,” Hazel terus tertawa, hingga dia tidak menyadari Jika sang suami sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit dipinggangnya.
Jimi yang penasaran dengan sang istri langsung mendekatinya. “Sayang, ada apa. Kenapa kamu tertawa geli begitu apa ada yang lucu?”
Menyadari keberadaan sang suami, membuat Hazel yang masih duduk dipinggiran tempat tidur kini menoleh kearah sang suami, lalu memperlihatkan ponsel miliknya, dimana dia masih membaca artikel tersebut.
“Oh itu,” tanggapan Jimi yang kini duduk disamping sang istri dan mengambil ponsel miliknya yang masih berada ditangan Hazel.
“Kenapa kamu baca artikel seperti itu sih, sayang?” tanya Hazel penasaran.
“Aku ingin memuaskan kamu, kamu tahu sendiri berapa kali kita bermain durasinya tidak pernah lama, aku takut kamu tidak puas, sayang,” akhirnya Jimi mengatakan kekhawatirannya.
“Ya, ampun sayang,” sambung Hazel yang kini meraih dagu sang suami, agar dia bisa menatap lekat wajah sang suami yang sangat dicintainya. “Aku sangat puas dengan permain yang kamu berikan kok,”
“Yakin?”
__ADS_1
“Yakin dong sayang, meskipun durasi yang kita mainkan tidaklah lama, tapi hubungan yang kita lakukan sungguh sangat berkualitas, percuma juga kan lama lama, tapi tidak berkualitas dan hanya menguntungkan satu belah pihak saja,”
Senyum mengembang dari bibir Jimi mendengar apa yang baru saja sang istri katakan, dia tidak mengira Hazel ternyata sangat puas dengan hubungannya diatas ranjang, meskipun durasinya tidak lama.
Dan Jimi saat ini langsung membawa Hazel kedalam pelukannya lalu mencium keningnya berkali kali. “Terima kasih sayang, lain kali kita mencoba durasi yang lebih lama, dan aku akan meminum obat kuat,”
“Untuk apa, melakukan hal itu, meskipun durasi yang kita mainkan tidak lama, tapi kita bisa melakukannya pagi, siang, sore dan malam, iya kan?” tanya Hazel.
Dan Jimi langsung menganggukkan kepalanya. “Benar juga apa yang kamu katakan, sayang,” sambung Jimi mengiyakaan apa yang baru sang istri tanyakan. “Dan hubungi aku, kapan pun dimana pun kamu ingin, aku akan datang untukmu,”
“Sekarang aku mengingingkannya sayang,” ujar Hazel, membuat Jimi langsung melepas pelukannya dan menatap lekat wajah sang istri penuh dengan gairah, karena sedari tadi pikiran Jimi sudah berada diatas tempat tidur.
Dan untuk malam ini terjadi lagi peperangan yang membawa kenikmatan untuk pasangan pengantin baru yang memiliki perbedaan yang cukup jauh.
*
*
__ADS_1
*
Dua minggu berlalu Hazel yang sudah selesai dengan ujiannya, memiliki waktu yang cukup luang sambil menunggu hasil ujian, dan perguruan tinggi yang dia inginkan juga sudah berada digenggamannya, tanpa bersusah payah, karena Jimi sang suami sudah mencarikan perguruan yang bagus untuk sang istri.
Dan hari ini Hazel yang suntuk berada di rumah, akhirnya mengunjungi rumah sang mami, karena ingin melihat ketiga adiknya yang menggemaskan.
Setelah puas dengan ke tiga adiknya yang masih banyak terlelap, kini Hazel menghampiri sang mami, yang sedang berada di ruang tengah.
“Putri mami, mendekatlah,” perintah mami Camel, saat Hazel berjalan mendekatinya. “Bagaimana rumah tangga kamu dengan Jimi, sayang? Jimi memperlakukan kamu dengan baik kan?”
“Tentu Mi, dia adalah suami yang sempurna untukku,” jawab Hazel yang sudah duduk didekat sang mami, tak lupa mengukir senyum manis dari kedua bibirnya. “Dan aku sangat bahagia bersama dengannya,”
“Baguslah sayang, dan mami akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu,”
“Terima kasih, Mi,”
“Eleh, bahagia dari mana. Semua yang Hazel ucapkan itu bohong,” sambung mami Asha yang tiba tiba menghampiri keduanya. “Mami tahu, Hazel itu tidak bahagia dengan si tua bangka itu!”
__ADS_1
Bersambung……………..