
“Grandma,” ucap Hazel lagi. Dan kini dia berjalan mendekati sang grandma dan juga grandpa nya yang berada di ruang tamu. Bukan hanya keduanya, tapi juga ada mami dan juga papinya, yang ternyata sudah terlebih dahulu berapa di rumah. Padahal Hazel paham betul kedua orang tuanya tadi masih berada di rumah sakit.
Jimi juga mengikuti langkah Hazel, dari belakang dengan perasaan malu yang menyelimutu hatinya, karena aksinya barusan dipergoki bukan hanya kedua orang tua Hazel tapi juga grandma dan juga grandpanya.
“Grandma, kapan datang?” tanya Hazel yang sudah mendekatinya. Namun, tidak dijawab oleh mami Asha yang kini menatap kearah Jimi.
Tahu, jika sang grandma sedang menatap kearah Jimi, Hazel kini meraih tangan mami Asha. “Grandma, aku bisa menjelaskan apa yang sudah terjadi,” ujar Hazel, saat dia sangat begitu yakin, mami Asha akan bertanya tanya, setelah milihatnya bermesraan dengan Jimi.
“Tidak perlu, grandma sudah di beri tahu mami dan juga papi kamu, apa yang sudah terjadi padamu dan juga Jimi,” sambung mami Asha yang kini berjalan melewati Hazel untuk mendekati Jimi.
Plak!
Tamparan mendarat disalah satu pipi Jimi, yang dilayangkan oleh mami Asha yang sudah mendekatinya. “Tante sungguh sangat menyesal padamu, Jim,” ucap mami Asha yang sudah tahu hubungan Jimi dan juga sang cucu, karena tadi, kedua orang tua Hazel yang belum lama sampai dirumah, menceritakan apa yang terjadi pada Jimi dan juga Hazel.
__ADS_1
“Maaf Tante, atas semua yang sudah terjadi, tapi aku akan bertanggung jawab pada Hazel, setelah apa yang aku lakukan padanya. Terlebih dari kita yang sama sama saling mencintai,”
“Cih, memcintai. Apa kamu tidak berkaca sebelum mencintai cucuku?!”
“Tante, cinta itu tidak memandang umur,”
“Cih, omong kosong macam apa yang kamu katakan Jim!” seru mami Asha yang entah mengapa dia tidak menyukai, jika sang cucu memiliki hubungan khusus dengan Jimi yang usianya jauh diatas Hazel. “Mulai sekarang jangan pernah dekati Hazel, dan lupakan perasan kamu padanya,”
Tentu saja ucapan mami Asha membuat semua orang yang berada di ruang tamu begitu terkejut, begitupun dengan kedua orang tua Hazel yang sudah merestui hubungan sang putri dan juga Jimi.
“Mami tidak pernah mengatakan akan merestui hubungan mereka Mel,” sambung mami Asha, memotong perkataan sang putri, dan mami Asha yang tadi menghadap Jimi, kini membalik tubuhnya untuk menghadap sang putri. “Ini semua juga karena kamu, Mel. Yang tidak memperhatikan putri kamu sendiri,”
“Kenapa Grandma menyalahkan mami? Mami tidak salah, karena aku memang mencintai om Jimi, terlepas dari apa yang sudah terjadi diantara kita,” Hazel ikut angkat bicara, karena dia sangat yakin jika sang Grandma tidak merestui hubungannya dengan Jimi.
__ADS_1
Mendengar apa yang baru saja sang cucu katakan, membuat mami Asha kini menoleh kearah Hazel. “Kamu masih kecil Zel, dan grandma tahu betul, rasa yang kamu miliki untuk Jimi tidak akan bertahan lama, kamu paham,”
“tapi aku sangat mencintai Om Jimi Grandma,”
“Mulai sekarang lupakan rasa cintamu padanya, banyak pria yang pantas untuk kamu diluar sana, bukan dengan Jimi yang lebih cocok sebagai kakek kamu,” pelecehan macam apa yang mami Asha katakan, dengan menyebut Jimi yang lebih cocok sebagai kakek Hazel.
Dan ucapan mami Asha sontak membuat mami Hazel, kini menahan senyum, tapi senyum itu pudar saat sang suami menyenggol lengannya. “Maaf, sayang. Perkataan mami membuat aku ingin tertawa,” bisik mami Hazel tepat ditelinga sang suami.
“Sttt, lebih baik kamu menasihati mami,” pinta papi Santos.
“Baik sayang,” mami Hazel kini pun mendekati mami Asha. “Mi, disini aku yang berhak atas Hazel putriku, dan aku mohon mami jangan ikut campur masalah ini, karena aku sudah merestui hubungan meraka,”
“Apa kamu sudah gila, Mel?!”
__ADS_1
Bersambung............