
Intro
Skip bagi yang dibawah umur dan juga belum menikah!!
Hampir setengah jam keduanya berada di dalam kamar mandi, tentunya hanya untuk membersihkan diri, meskipun hasrat di tubuh Jimi sudah menggebu gebu ingin segera memasukkan benda pusakannya pada lubang kenikmatan, yang sudah memenuhi kepalanya. Tapi dia masih sabar untuk tidak melakukannya di dalam kamar mandi. Yang menurut Jimi tidak estetik, mana bisa di malam pengantian dia harus mengekspos sang istri di kamar mandi, meskipun bukan pertama kalinya mereka melakukan itu.
Meskipun benda pusaka milik Jimi sudah berdiri tegak dengan sempurna, hanya dengan melihat tubub polos Hazel yang begitu menggiurkan baginya, tapi akhirnya dia bisa menahan hasrat ditubuhnya dan hanya puas dengan membantu Hazel yang sudah menjadi istrinya, membersihkan tubuhnya.
Jimi kini keluar dari dalam kamar mandi dengan membopong tubuh Hazel. Tentu saja keduanya tanpa mengenakan pakaian sehelai benang pun, ciuman terus diberikan oleh Jimi tepat di bibir Hazel, yang tentu saja langsung dibalas olehnya. Yang entah mangapa pikiran yang tadi memenuhi kepala, jika dia tidak ingin hamil dulu, yang artinya dia tidak ingin melakukan hubungan badan dengan Jimi, kini musnah sudah saat hasrat di dalam tubuhnya tidak bisa di kontrol, saat Jimi tadi di dalam kamar mandi sudah membuatnya menegang, dengan memainkan kedua bukit kembarnya, bukan hanya memainkannya, tapi Jimi juga menghisap kedua bulatan kecil yang berada di atas bukit kembarnya, yang membuat Hazel benar benar tidak bisa mengontrol hasrat didalam tubuhnya dan ingin merasakan hal lebih yang bisa meredakan hasrat ditubuhnya.
Jimi dengan perlahan merebahkan tubuh Hazel, saat sudah mendekati tempat tidur yang dipenuhi dengan taburan bunga, dan Jimi kini naik keatas tempat tidur dan langsung mengungkung tubuh sang istri, dengan senyum manis yang dia tunjukan pada Hazel, lalu Jimi menempelkan keningnya di kening sang istri.
“Sayang, apa kamu sudah siap?” tanya Jimi.
Namun, tidak dijawab oleh Hazel yang kini melingkarkan kedua tangannya dibelakang leher sang suami, dan bibirnya langsung menyambar bibir Jimi yang berada tepat di depan bibirnya. Dan Jimi membiarkan Hazel mengeskplor bibirnya, dan itu membuat Jimi benar benar tidak bisa mengontrol hasrat didalam tubuhnya.
__ADS_1
Membuat kedua tangannya langsung meremas dua bukit milik sang istri, setelah puas dengan bukit sangg istri, satu tangannya kini mengusap perut Hazel, dan terakhir berhenti tepat diatas hutan belantara yang terlihat gundul, dan tangannya yang nakal, kini memasukan jari telunjuknnya kedalam telaga yang sudah mulai mengelurkan cairan.
Tahu jika hutan belantaranya dijamah oleh jari nakal sang suami, membuat Hazel langsung melepas tautaan bibirnya. “Ah, say…… em ah,” Hazel tidak jadi meneruskan ucapannya di gantikan dengan desaahan.
Dan itu membuat Jimi semakin tidak kuat menahan hasrat di dalam tubuhnya, lalu dia mengeluarkan satu jarinya yang baru saja dia masukan di telaga milik sang istri. “Sayang aku sudah tidak tahan lagi,”
“Aku juga,” sambung Hazel.
“Baiklah kita mulai,” ujar Jimi, dan kini menegakan tubuhnya, lalu mengarahkan benda pusakanya ke telaga sang istri. Sempit, itu yang Jimi rasakan saat baru memasukan ujung kepala pusakanya, padahal ini bukan untuk yang pertama kali pusakan miliknya memasuki telaga sang istri.
“Iya sayangsebentar,” sambung Jimi yang kini membuka lebar kedua paha sang istri agar benda pusakannya masuk dengan sempurnya.
Namun, tetap saja tidak bisa langsung masuk dengan sempurna, membuat Jimi yang benar benar sudah hilang kendali mendorong benda pusakanya yang akhirnya bisa masuk ke dalam telaga sempit dan memijit benda pusakannya dengan sempurna.
“Em, ah sayang,” suara ******* keluar dari bibir Hazel, saat Jimi mulai memainkan benda pusakanya didalam sana, yang menciptakan sensasi nikmat yang tidak bisa diucapkan dengan kata kata, dan ini lebih nikmat dirasakan oleh Hazel, ketimbang yang pertama kalinya.
__ADS_1
Begitupun dengan Jimi yang juga merasakan nikmat yang luar biasa, membuatnya kini mulai memacu benda pusakannya didalam sana.
Satu detik, dua detik, satu menit, hingga kini sudah melewati sepuluh menit, membuat Jimi sudah tidak tahah lagi untuk mengeluarkan benih cinta. Apa lagi belum lama Hazel sudah menegang tandanya dia sudah mencapi puncak kenikmatan. Membuat Jimi kini memacu lebih cepat benda pusakannya, dan melenguh panjang saat benih cintanya sudah keluar dan menyiram rahim sang istri, dan dia lupa untuk mengeluarkan di luar, mengingat lagi sang istri belum ingin hamil.
Dengan perlahan Jimi melepas benda pusakannya, dan satu tangannya mengelap keringat diwajah sang istri, lalu memberikan ciuman diseluruh wajahnya. “Terima kasih sayang,” ucap Jimi.
“Iya, tapi mau lagi,”
Mendengar apa yang baru saja Hazel katakan membuat Jimi langsung menatap kearahnya. “Mampus
kamu Jim, gempor tuh lutut,” batin Jimi pada dirinya sendiri.
Bersambung…………..
Kalau masih ada yang bilang tidak panas, baca ulang lagi sambil berjemur, kalau tidak bacanya diatas kompor yang dinyalain oke.
__ADS_1