
“Iya ini mami, memangnya kamu kira siapa? Om Jimi? Tidak mungkin kan om Jimi masuk ke dalam kamar kamu?” tanya mami Hazel yang tahu jika sang sahabat tidak pernah masuk
kedalam kamar sang putri, jika sedang menginap dirumahnya.
Hazel yang sekarang sudah membalik seluruh tubuhnya untuk menghadap kearah sang mami, hanya menganggukkan kepalanya sambil mengukir senyum manis, agar sang mami tidak menanyakan apa yang baru
saja dia katakan, karena Hazel pikir yang baru mesuk ke dalam kamarnya adalah Jimi.
“Mami bilang akan menginap di rumah papi. Kenapa sekarang sudah berada di rumah?” tanya Hazel penasaran, mengingat lagi tadi sang mami mengabarinya ingin menginap di
rumah sang papi.
“Tidak Jadi sayang,” jawab mami Hazel yang kini sudah duduk dipinggiran tempat tidur sang putri. “Oh ya sayang, tadi kamu menyebut nama Jimi, dan minta sesuatu padanya. Memangnya
kamu minta apa pada dia? Mami sudah memberi tahu kamu bukan, jimi memang sangat baik padamu dan selalu memberikan hadiah padamu. Tapi mami ingin kamu membatasi diri dari Jimi,” nasihat mami Hazel, karena selama berteman dengan Jimi, dia selalu membererikan apa pun pada Hazel, meskipun sang putri tidak
pernah memintanya.
__ADS_1
“Aku hanya ingin minta Om Jimi mampir di kedai es krim Mi, tadi Om Jimi tidak mau. Dia bilang nanti sakit makan es krim malam malam. Meyebalkan kan Mi. Mana ada malam malam makan es krim bisa sakit,” jelas Hazel, meskipun penjelasannya adalah kebohongan belaka.
“Kamu tahu sendiri dia dokter sayang, sudah pasti dia akan melarang kamu, jika kamu menginginkan es krim di malam hari,”
“Tapi Om Jimi sungguh sangat menyebalkan Mi,”
“Sudah, lupakan kekesalan kamu pada Jimi, dan sekarang tidurlah,”
“Iya Mi,” sambung Hazel yang langsung merebahkan tubuhnya, dan merasa tenang karena sang mami
Papi Hazel merasa sangat bersalah, karena sudah berburuk sangka pada Jimi yang sekarang sedang
mengobrol dengannya di ruang keluarga, saat Jimi yang baru saja keluar dari dalam kamarnya untuk mengambil air minum melihat papi Hazel sedang duduk di sofa ruang keluarga seorang diri, dan Jimi pun langsung menghampirinya, dan mengajkanya berbincang, saat Jimi benar benar tidak merasakan kantuk.
“Maaf Jim, bukannya aku ingin ikut campur dalam masalah rumah tangga kamu. Tapi alangkah baiknya kamu selesaikan masalah kamu itu, bukan malah menghindar seperti ini. Kamu
ini seorang pria dan kepala rumah tangga, yang harusnya mencontohkan hal baik pada istrimu. Jika kamu seperti ini, kamu sama saja mencontohkan hal buruk
__ADS_1
pada istri kamu,” akhirnya papi Hazel menasihati Jimi yang usianya lebih matang di banding dirinya.
“Tos, aku benar benar ingin berpisah, dan mengakhiri rumah tangga dengannya,” jelas Jimi yang memang sudah yakin dengan apa yang akan dia lakukan.
“Atas dasar apa kamu ingin bercerai dengan istri kamu Jim. Jika karena kamu memiliki orang ketiga, itu namanya kamu bukan pria sejati Jim,” sambung papi Hazel yang coba untuk menebak permasalahan rumah tangga Jimi.
“Oh begitu ya Tos, jika istriku yang memiliki orang ketiga dan dia sampai mengandung anak dari pria orang lain, berarti dia juga salah kan? Jika dia salah untuk apa aku harus bertahan dengan dia,” jelas Jimi yang langsung menutup mulutnya, saat dia baru saja keceplosan mengatakan masalah yang sebenarnya dalam rumah tangganya.
“Jim, apa aku tidak salah dengar? Jadi Mita berselingkuh dengan pria lain hingga dia mengandung?” tanya mami Hazel yang baru saja mendengar ucapan Jimi. Ketika dia baru saja
turun dari lantai dua rumahnya. “Katakan padaku yang sebenarnya Jim,” pinta mami Hazel yang kini sudah duduk di sofa tidak jauh dari sang suami dan juga Jimi.
Dan Jimi pun akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangganya, yang selama ini di tutup rapat dan tidak ingin memberi tahu mami Hazel yang notabennya adalah sahabat baiknya. Karena Jimi yakin, mami Hazel bisa dengan mudah membantunya bercerai dengan
Mita setelah dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tangganya. Mengingat lagi, mami Hazel lumayan dekat dengan mama Misa.
Bersambung.............
__ADS_1