
“Om tahu kamu hanya pura pura sakit perut Zel,” ujar Jimi yang tidak percaya pada ucapan Hazel, jika dia salkit perut. “Ayo lah, om akan mewujudkan keinginan kamu kemarin malam, sebelum kita benar benar menjadi pasangan suami istri Zel,”
Jimi kembali mendekatkan wajahnya kearah Hazel, dan dia langusng menautkan keningnya saat tidak mendapat tanggapan dari Hazel yang terus meringis kesakitan, dan kini keringat dingin mulai membasahi setiap jengkal wajahnya.
Tahu ada yang tidak beres dengan Hazel, membuat Jimi kini turun dari atas tubuh Hazel, dan satu tangannya mengelap keringat yang berada diwajahnya.
“Zel, apa kamu baru saja memakan sesuatu yang tidak pernah kamu makan?” tanya Jimi penasaran,
karena dia tahu kenapa Hazel mengeluh sakit perut dan keluar keringan dingin.
“Aku baru makan pedas Om,”
“Ya ampun Zel, kenapa kamu berani makan makanan yang tidak pernah kamu coba,” ujar Jimi yang tahu jika Hazel tidak menyukai makanan pedas. “Kamu tunggu disini, om akan mengambil obat untukmu,”
Jimi yang panik dengan keadaan Hazel, langsung turun dari tempat tidur dan berlari keluar dari kamar untuk mengambil obat yang bisa diberikan dan mengobati sakit yang sedang dirasakan Hazel.
Satu menit, dua menit, tiga menit, hingga sepuluh menit setelah Jimi memberikan obat pada Hazel, tapi sakit yang dirasakan Hazel juga belum hilang yang ada kini dia menjadi semakin lemas karena menahan sakit yang luar biasa.
“Om, rasa sakitnya semakin menjadi , aku tidak kuat lagi,” ucap lirih Hazel.
__ADS_1
Tentu saja Jimi tidak mau tinggal diam, tahu apa yang harus dilakukannya, dan tidak ingin terjadi sesuatu pada gadisnya, Jimi pun langsung mengangkat tubuh Hazel dan membopongnya keluar dari kamar, dan tujuannya saat ini adalah membawanya ke rumah sakit untuk mendapat perawatan lebih lanjut.
*
*
*
Jimi bisa bernafas lega, setelah Hazel mendapat obat yang tepat dan dia sudah berada di ruang perawatan dengan salah satu lengannya sudah terpasang selang infus. Setelah beberapa perawat yang membantunya merawat Hazel meninggalkan ruangan dimana dia ada Hazel berada, kini Jimi duduk di pinggiran ranjang perawatan Hazel dan menghadap kearahnya.
“Dasar gadis nakal, kamu sudah membuat om begitu kuatir,” ucap Jimi sambil mencubit hidung Hazel yang tergeletak lemah diatas ranjang perawatan.
“Itu semua karena Om,”
“Ya karena kemarin Om, tidak mengabulkan permintaan aku, pagi hari pulang dari rumah, Om juga tidak berpamitan padaku, aku telepon Om juga tidak diangkat, itu kan namanya menyebalkan,”
“Iya maafkan Om, Om tidak mengangkat telepon dari kamu karena Om sedang menyelesaikan permasalahan
Om dengan Mita, dan akhirnya kita bisa bercerai,”
__ADS_1
Entah mengapa sejak Hazel tahu, Jimi akan berceari dengan Mita membuatnya begitu senang, dan senyum kini menghiasi bibir Hazel. Membuat Jimi yang sedari tadi melihat Hazel, kini langsung menautkan keningnya.
“Zel kenapa kamu tersenyum?” tanya Jimi ingin tahu.
“Tentu, karena mulai sekarang Om hanya akan menjadi milikku,” jawaban dari bibir Hazel yang membuat Jimi begitu bahagia, dan salah satu tangannya langsung membelai wajah Hazel.
“Kamu juga hanya milik Om, Zel,” sambung Jimi yang kini tersenyum penuh kebahagiaan. “Dan mulai saat ini, kita tidak akan lagi menyembunyikan hubungan kita pada siapa pun, oke,”
“Kok begitu Om,”
“Ya karena Om, akan segera menikahi kamu Zel,”
“Menikah? Yang benar saja Om, aku saja masih sekolah. Dan aku yakin mami dan juga papi tidak akan setuju,”
“Om yakin mereka akan setuju, apa salahnya jika kamu masih sekolah sudah menikah, itu hal wajar. Lagian kamu bentar lagi juga akan Lulus,”
“Tapi Om, aku…”
Hazel tidak jadi meneruskan ucapannya saat bibirnya, sudah disambar oleh bibir Jimi, dan Hazel yang tidak menolak dengan apa yang dilakukan Jimi, hanya pasrah dan menikmati permainan bibir Jimi, tanpa keduanya
__ADS_1
sadari jika pintu ruangan tersebut baru saja di buka dari luar.
Bersambung.....................