
“Sayang apa apaan ini?” tanya Hazel yang tadi sempat menghentikan ucapannya. Lalu dia berjalan mendekati sang suami yang juga berjalan mendekatinya, dengan satu buket bunga besar yang berada disalah satu tangannya, saking besarnya bunga tersebut, tubuh Jimi hampir tidak terlihat.
Jimi langusung menyodorkan buket bunga tersebut pada sang istri, tentu saja membuat Hazel bingung.
“Sayang, apa ini? Kamu tahu kan, hari ulang tahuku masih beberapa bulan lagi,”
“Iya aku tahu sayang, ambilah bunga ini,”
Hazel pun langsung mengambil bunga tersebut, lalu menautkan keningnya, saat sang suami kini bersimpuh dihadapannya, dengan bertumpu dengan satu lututnya. Apa lagi saat ini Jimi meraih tangan kanan Hazel, lalu memakaikan cincin yang baru saja dia ambil dari dalam kantong celananya.
“Sayang, aku tahu kamu sangat mencintaiku, tapi maukah kamu berjanji padaku akan selalu setia padaku?”
“Tidak,” sambung Hazel. Tentu saja menbuat Jimi langsung beranjak dari tempatnya.
“Kok, begitu sayang?”
“Lagian setiap hari kamu selalu bertanya seperti itu, bosan aku menjawabnya,” sambung Hazel, karena memang setiap hari Jimi selalu mengatakan pertanyaan yang sama yang baru saja Jimi tanyakan. “Lagian apa apaan ini, segala ada bunga dan juga cincin,”
“Kan, biar romatis sayang, biar tidak seperti biasanya, dan aku sungguh kecewa dengan jawaban kamu,” Jelas Jimi sambil memasang wajah sedih.
“Tidak pantas tahu, kamu begitu, malu dengan umur,”
“Ya, gagal sudah aku kalau bicara umur,” ujar Jimi yang sekarang mengukir senyum lalu membawa Hazel sang istri kedalam pelukannya. “Aku tahu kamu akan selalu setia padaku, sayang. Kamu tahu, aku melakukan ini, hanya ingin terlihat romantis olehmu,”
“Kamu tidak cocok jadi pria romantis,” Jimi pun langsung melepas pelukannya dan menatap lekat wajah sang istri.
“Jadi kamu…”
__ADS_1
“Jangan berpikir yang macam macam, meskipun kamu tidak romatis, aku mencintaimu apa adanya sayang,” sambung Hazel yang kini membelai wajah Jimi. Memang Hazel akui, sang suami tidaklah romantis seperti kebanyakan pemeran pria dalam film romantis yang selalu Hazel tonton.
Tapi entah mengapa Hazel sangat menyukai sang suami, yang bisa membuatnya nyaman saat sedang bersamanya, meskipun tidak ada kata kata gombalan yang keluar dari bibirnya, tapi perlakuannya sangatlah baik, dan mengutamakan sang istri dibanding dirinya sendiri.
“Yakin, sayang?” Hazel langsung mengangguk, membuat Jimi kembali memeluk tubuhnya. “Terima kasih sayang,”
Setelah puas memeluk dan juga menciumi seluruh wajah sang istri, kini Jimi melepas pelukannya, dan menggengam tangan sang istri dengan erat. “Sayang, aku ingin mengajak kamu kesuatu tempat,”
“Ke mana?” tanya Hazel penasaran.
“Bulan madu,”
“Hah, tapi pekerjaan kamu, bagaimana?”
“Hanya semalam, besok aku juga sudah bekerja lagi,”
*
*
*
Hazel terus menggelengkan kepalanya, saat sang suami membawanya kesebuah villa mewah milik Jimi dengan pemandangan metahari terbenam yang sangat indah, karena kebetulan Jimi tiba di villa tersebut sore hari.
“Aku kira kamu akan membawa bulan madu aku ke mana, ternyata disini,”
“Memangnya kamu mau bulan madu ke mana, sayang? Biar akhir tahun aku mengambil cuti cukup lama, untuk kita pergi bulan madu,”
__ADS_1
“Benarkah?” tanya Hazel penuh antusias.
“Apa aku pernah berbohong?”
Hazel langsung tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, lalu dia beranjak dari kursi yang didudukinya, dan beralih duduk dipangkuan Jimi, yang sedang menikmati matahari tenggelam dari balkon kamarnya, yang ada di villa tersebut.
Hazel yang duduk dipangkuan Jimi dan menghadap padanya, langsung mencium bibir sang suami penuh dengan kemesraan, dan saat Jimi akan balik mencium bibirnya, Hazel langsung melepas tautan bibirnya.
“Sayang apa kamu sedang mengujiku?”
“Bisa…” Hazel tidak jadi meneruskan ucapannya, saat Jimi sekarang memeluk erat tubuhnya, dan mencium bibirnya dengan penuh nafsu, yang tentu saja dibiarkan oleh Hazel yang selalu menikmati ciuman sang suami, yang selalu bisa membutnya tidak terkendali.
“Malam ini, aku akan memberikan kepuasan untukmu bertubi tubi, sayang,” ucap Jimi saat sudah
melepas ciumannya.
“Aku akan menerimanya dengan senang hati, sayang,” balas Hazel, dan keduanya kembali menyatukan bibir dengan disinari cahaya jingga dari matahari yang mulai terbenam.
*
*
*
Tiga bulan kemudian
Bersambung…………………..
__ADS_1