MY SUGAR BABY

MY SUGAR BABY
Bau Tanah


__ADS_3

“Kenapa sayang, ayo duduk. Mereka sudah lama manunggu kita loh,” ajak mami Asha dan menarik tangan Hazel. Namun, langsung ditepis olehnya, membuat mami Asha langsung menoleh kearah sang cucu. “Zel,”


“Aku ingin pulang,”


“Kok pulang, grandma ingin mengenalkan kamu dengan cucu sahabat grandma, sayang,”


“Aku sudah mengenalnya,” sahut Hazel, karena memang dia sudah sangat mengenal pria yang sudah duduk tidak jauh dari tempatnya berada, saat Hazel masih berdiri didepan meja dan enggan untuk duduk bergabung.


“Jika kamu sudah mengenalnya, itu kabar gembira untuk grandma,” sambung mami Asha yang langsung mengukir senyum.


“Apa maksud grandma?”


“Ya grandma ingin kamu bersama dengan Bara,” jawab mami Asha yang kini menoleh kearah Bara. “Iya kan Bara,”


Membuat Bara kini beranjak dari duduknya dan mendekati Hazel, lalu mengulurkan tangannya kehadapan Hazel. “Apa kabarmu Zel, sudah lama ya kita tidak bertemu,”


“Kabarku sangat sangat baik, Kak,” ucap Hazel tanpa mau menyalami tangan Bara, lalu ingatan Hazel kembali pada dimana dia melepas kesuciaannya untuk Jimi, dan itu atas ulah Bara saat berada di klub malam. “Oh ya Kak, terima kasih,”


Ucapan Hazel membuat Bara langsung menautkan keningnya. “Untuk apa?” tanya Bara yang begitu penasaran dengan ucapan Hazel.


“Karena Kak Bara, sekarang aku sudah menemukan cintaku, dan bahagia dengannya,”


Kini Bara langsung mengukir senyum kearah Hazel, tahu apa yang sedang hazel bicarakan. “Apa ini tentang suami kamu, siapa tuh namanya, oh iya Jimi yang sudah bau tanah itu kan?”

__ADS_1


“Kenapa dia


 tahu,” batih Hazel sambil menautkan keningnya. Ya tentu saja Bara tahu, karena mami Asha sudah memberi tahu semuanya, dan sekarang misi yang harus dia jalani adalah memisahkan Hazel gadis yang dia incar dari dulu berpisah dengan sang suami, atas perintah mami Asha yang sudah lama Bara kenal, mengingat lagi sang nenek adalah sahabat baik mami Asha.


Tentu saja perintah mami Asha membuat Bara tidak menolak sama sekali, dan dia dengan senang hati akan mengikuti perintah mami Asha untuk mendapatkan Hazel dan tidak peduli dengannya yang sudah menikah.


“Jaga bicaramu itu Kak, Ucapan Kakak sama saja menghina suamiku!” tegas Hazel yang tidak sama sekali menyukai ucapan Bara.


“Aku tidak menghina Zel, aku mengatakan yang sejujurnya. Apa kamu tidak sadar telah menikahi siapa? Kalau aku jadi kamu akau akan berpikir berkali kali lipat untuk menikah dengan pria tua itu yang tentu saja sudah bau tanah,”


Plak!


Tamparan mendarat disalah satu pipi Bara yang dilayangkan oleh Hazel, yang tidak terima jika sang suami di hina. Tentu saja kejadian itu membuat mami Asha dan juga nenek Bara langsung menatap kearahnya.


“Zel, apa yang kamu lakukan?” tanya mami Asah yang berdiri tidak jauh darinya, tak lupa satu tangannya menarik tangan Hazel.


“Bercerai dengan Jimi, dan mulailah hubungan kamu dengan Bara yang lebih cocok untuk kamu, dibanding si tua itu,”


“Kenapa Grandma senang sekali ingin menghancurkan kebahagian orang lain? apa memang grandma hobinya menghancurkan kebahagian orang. Aku benci grandma!” tegas Hazel yang langsung meninggalkan tempat tersebut.


“Grandma bagaiamana ini?” tanya Bara setelah kepergian Hazel.


“Jika kamu ingin mendapatkan cucuku kejarlah, lakukan apapun yang bisa kamu lakukan untuk mendapatkna cucuku, agar dia terlepas dari si tua bangka itu,” ujar mami Asha, membuat Bara langsung mengejar Hazel yang sudah keluar dari dalam restoran.

__ADS_1


“Sha, aku tidak suka dengan cara cucumu menampar cucuku,” ujar nenek Bara yang bernama Bertha.


“Maafkan aku Tha, itu tidak akan pernah terjadi lagi, percaya padaku,”


“Awas jika itu terjadi lagi, aku tahu cucuku sudah lama mencintai cucumu, tapi aku tidak ingin cucuku mendapat perlakuan seperti tadi lagi,”


“Aku jamin tidak akan, lebih baik kita cari cara agar cucuku dan juga cucumu bisa bersatu Tha,”


“Caranya?”


“Aku ada ide,” jawab mami Asha yang kini menarik kursi untuknya duduk.


Sementara itu, Bara terus mengejar Hazel hingga dia berada ditepian jalan untuk menunggu taksi lewat, dan Bara yang sudah mendekatinya langsung menarik tangannya.


“Zel tunggu, maafkan aku yang telah lancang berbicara seperti tadi,”


“Lepaskan tanganku!” seru Hazel dan coba untuk melepas tangannya dari tangan Bara yang masih memegang pergelangan tangannya dengan erat.


“Zel kita bisa bicara baik baik,”


“Tidak ada yang perlu kita bicarakan! Aku tidak ada urusan dengamu!"


“Jika begitu, jangan salahkan aku jika memaksa kamu,” Baraa coba menarik tangan Hazel, menuju dimana mobilnya terparkir.

__ADS_1


“Lepaskan dia!”


Bersambung…………….


__ADS_2