
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mobil yang dikendarai Vano berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Jimi.
“Terima kasih Kak,” Ucap Hazel sebelum dia membuka pintu mobil dimana dia duduk. “Yakin tidak ingin mampir? Suamiku sudah berada di rumah,” tanya Hazel, saat Jimi baru saja menghubunginya dan dia sudah berada di rumah, padahal ini masih siang.
“Lain kali saja Zel,” tolak Vano, yang merasa tidak enak. Dia memang lelaki brengsek yang sering bergonta ganti pasangan, tapi dia masih punya adab. Mana mungkin dia akan memasuki rumah pria yang sudah menjadi suami gadis yang dicintainya, yang pasti akan mendapat tanggapan negative dari pemilik rumah, berbeda lagi jika dia mengantar Hazel ke rumah orang tuanya, pasti Vano tidak akan menolak untuk mampir, mengingat lagi papi baru Hazel adalah sahabat baiknya.
“Sekali lagi terima kasih Kak,” Hazel pun kini turun dari dalam mobil, dan langsung meninggalkan Vano yang masih berada di depan gerbang.
“Zel, aku akan berdoa untuk kebahagian kamu, tapi jika suatu saat nanti kamu tidak bahagia, aku yang akan membahagiakan kamu,” entah itu ucapan yang benar atau tidak yang keluar dari mulut Vano, tapi di lubuk hatinya yang terdalam dia tidak reka jika melihat Hazel tidak bahagia, meskipun saat ini dia melihat sendiri betapa bahagianya Hazel. Namun, hidup bukan untuk hari ini, tapi untuk esok hari dan seterusnya.
Vano menghembuskan nafasnya setelah tidak lagi melihat Hazel dari pandangannya, dan dia pun segera menginjak pedal gas untuk melajukan mobilnya, tanpa menyadari jika Jimi sedang menatap mobilnya dari balkon kamar miliknya dan juga Hazel yang ada dilantai dua.
“Mbak suamiku dimana?” tanya Hazel pada sang asisten rumah tangga Jimi yang baru saja membuka pintu untuknya, karena memang Hazel yang baru dari semalam tinggal di rumah Jimi belum meminta kunci cadangan rumah tersebut.
“Pak, Jimi ada di kamarnya Bu,”
Mendengar ucapan asisten rumah tangga sang suami, Hazel menatap kearahnya. “Apa aku setua itu, hingga kamu memanggil aku Bu?” tanya Hazel yang tidak suka jika di panggil Bu oleh asisten rumah tangga Jimi.
“Bukan begitu maksudnya Bu, aku memangil majikan kami dengan sebutan Pak, dan anda istri dari Pak Jimi, tentu saja aku harus memanggil Bu,” jelas asisten tersebut.
__ADS_1
“Aku tidak ingin di panggil Bu, panggil saja seperti biasanya oke!
“Baik Nona,” asisten rumah tangga Jimi, akhirnya tetap memanggil Hazel dengan sebutan Nona seperti biasanya, saat Hazel sering main ke rumah Jimi ketika belum mejadi istrinya.
“Bagus,” sahut Hazel yang langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang ada dilantai dua rumah tersebut.
“Aku tidak menyangkan pak Jimi akan menikahi nona Hazel,” salah satu asisten rumah tangga Jimi yang lain menghampiri asisten rumah tangga Jimi yang baru saja berbincang dengan Hazel.
“Namanya juga jodoh, sudah Tuhan tentukan,”
“Iya benar juga sih, tapi sepertinya pak Jimi tidak cocok dengan dia,”
“Kamu ngomong apa sih, sudah sana kembali bekerja,”
“Terus maksud kamu Pak Jimi cocoknya dengan siapa? Kamu? Jangan mimpi,”
“Ya kali saja gitu, kaya di novel novel aku dinikahi majikanku, begitu,”
“Jangan banyak berhayal, kembali kerjakan pekerjaan kamu,”
__ADS_1
Hazel yang sudah masuk ke dalam kamarnya, langsung tersenyum, saat melihat Jimi sang suami sedang duduk dipinggiran tempat tidur, dan Hazel pun segera melangkahkan kakinya mendekati Jimi.
“Selamat siang, sayang,” sapa Hazel saat sudah berada tepat didepan Jimi, lalu Hazel melingkarkan kedua tangannya kebelakang leher sang suami. “Tumben sudah pulang sayang,”
Namun, bukannya menanggapi sapaan Hazel, Jimi sekarang melepas kedua tangan Hazel dari belakang lehernya, lalu beranjak dari duduknya.
Tentu saja Hazel langsung menautkan keningnya. “Sayang, ada apa. Kenapa wajahmu dilipat?” tanya Hazel, saat Jimi memasang muka yang tidak enak dipandang.
“Kamu pulang dengan siapa? Aku tahu itu bukan mobil kedau sahabat kamu.”
“Oh, tadi yang mengantar aku pulang itu Kak Vano,” jawab Hazel dan langsung menatap intens wajah Jimi. “Jangan bilang kamu cemburu,”
“Tentu saja aku cemburu, kamu berduaan didalam mobil dengan pria lain, bagaimana aku tidak cemburu,”
“Dasar bangkotan, masih bisa cemburu juga ternyata,” batin Hazel sambil tersenyum.
“Jangan tersenyum, aku sedeng kesal padamu,”
“Yakin kesal? Padahal aku ingin bergoyang loh,” pancing Hazel.
__ADS_1
Jimi memicingkan matanya menatap Hazel, setelah mendengar apa yang dikatakannya. “Tidak boleh!”
Bersambung………….