
Sementara itu ditempat yang berbeda Hazel sedang menikmati harinya bersama dengan Vano. Dan kali ini tidak ada jarak seperti biasanya, saat Hazel keluar dari bioskop sambil memeluk lengan Vano. Saat dia masih merasakan takut yang luar biasa, pasalnya selama ini Hazel tidak pernah menonton film horror, tapi hari ini dia memaksakan untuk melihat film tersebut.
Tentu saja mendapati Hazel masih terus memeluk lengannya membuat Vano begitu bahagia, bisa sedekat ini dengan gadis incarnya saat ini.
Vano kali ini coba untuk melepas tangan Hazel yang masih memeluk lengannya, karena dia ingin sekali kali memeluk pinggan Hazel. Namun, kini dia merasa sungguh menyesal teleh melepas tangan gadis tersebut, alih alih niatnya melepas tangan Hazel karena ingin memeluk pinggangnya sambil berjalan, sekarang Hazel malah berjalan
mendahuluinya dan masuk ke sebuah restoran khas korea.
“Dasar bodoh kamu Van,” ucap Vano pada dirinya sendiri. “Coba saja kamu tadi tidak melepas tangannya, tentu saja kamu masih bisa mencium wangi rambut dan juga wangi parfum yang menyatu dengan tubuhnya, dasar bodoh kamu Van,” batin Vano membodoh bodohi dirinya sendiri, lalu menyusul Hazel.
“Kak, mau pesan apa?” tanya Hazel, saat keduanya sudah duduk untuk memesan menu makanan.
“Sama dengan kamu,”
“Yakin? Aku pesan makanan yang super pedas loh Kak?”
“Ya, karena aku suka pedas,” jawab Vano. “Eh Zel, bukannya kamu tidak suka makanan yang pedas ya?”
__ADS_1
“Kok Kakak tahu?” tanya Hazel balik, tanpa menjawab pertanyaan dari Vano.
“Tahu dong, apa sih yang tidak aku tahu tentang kamu,” jawab Vano sembil mengukir senyum kearah Hazel yang duduk berhadapan dengannya.
“Apa papi yang memberi tahu?”
“Tidak, aku tahu sendiri,” bohong Vano, padahal memang benar dia semua tahu tentang Hazel dari papa Hazel yang notabennya adalah sahabat baiknya.
“Mengada ada,”
“Benar Zel, kamu yakin ingin memakan makanan pedas?”
“Tapi…”
Vano tidak jadi meneruskan ucapannya saat Hazel langsung menyantap makanan yang ada dihadapannya. Dan tatapannya kini tertuju pada seorang wanita yang sedang melangkahkan kakinya menuju kearahnya, wanita yang sangat dia kenal.
“Hay Vano sayang,” sapa wanita cantik dengan tinggi semampai yang kini sudah mendekati meja dimana Vano dan juga Hazel berada.
__ADS_1
“Kamu,” ucap Vano yang begitu terkejut dengan kedatangan wanita yang sangat dia kenal. Karena wanita tersebut pernah menjalin hubunan dengannya. Sebelum hubungannya kandas, karena wanita yang sekarang sedang ditatapnya memilih mengejar karirnya sebagai model di luar negeri.
Hazel yang sedang menyantap makanan yang ada dihadapnnya menoleh sekilas pada wanita yang masih berdiri disisi meja bergantian menoleh kearah Vano yang sedang menatap wanita tersebut, dan Hazel yang tidak peduli pada wanita tersebut dan ada hubungan apa dengan Vano, kini kembali menyantap makanan yang ada dihadapannya.
“Bela,”
“Iya ini aku Van, apa kabar? Aku dengar sekarang kamu sudah menjadi model papan atas, kalah dong aku yang sudah jauh jauh ke luar nengeri untuk mengejar cita citaku menjadi model tekenal,” ujar wanita tersebut yang baru saja dipanggil Bela oleh Vano.
Dan tatapan Bela kini tertuju pada Hazel yang sedang menikmati makanannya. “Siapa dia? Tidak mungkin kan dia kekasih kamu?” tanya Bela ingin tahu, pasalnya dia kembali dari luar negeri kerena ingin menjalin hubungan Kembali dengan Vano yang sudah menjadi model papan atas.
“Iya, dia kekasiku,” jawab Vano sambil meraih salah satu tangan Hazel yang ada diatas meja yang tidak mendapat penolakan dari pemilik tangan, saat Hazel sedang merasakan kepedasan.
Dan kini Vano langsung membuka air mineral dan memberikannya pada Hazel, saat dia tahu Hazel sedang kepedasan.
“Bel, boleh tinggalkan kami, aku ingin menikmati waktu dengan kekasihku,” pinta Vano.
“Kekasih matamu!” sahut Jimi yang baru saja mendekati meja dimana Hazel dan juga Vano berada.
__ADS_1
Bersambung……………..