
Mama Misa terus menggelengkan kepalanya sambil menepuk jidatnya sendiri, ketika melihat sang menantu sedang menangis di atas tempat tidurnya setelah kepulangannya dari rumah sakit, saat mengetahui jika dia sedang hamil, dan usia kandungannya sudah memasuki dua bulan.
“Ya ampun Jim, kamu mamang menikahi bocil,” ujar mama Misa saat sang putra berjalan menghampirinya yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat tidur Jimi dan juga Hazel.
“Ma, aku harus bagaimana ini, istriku sejak tadi balum juga selesai menangis, aku takut akan berpengaruh pada bayi kami,”
“Kamu tenang saja, mama yang akan urus,” mama Misa kini berjalan mendekati tempat tidur dimana Hazel sedang duduk diatasnya dengan punggung dia sandarkan disandaran tempat tidur, tak lupa terus menangis.
Saat sudah mendekati tempat tidur, kini mama Misa naik keatas dan mendekati sang menantu.
“Ish, sudah tahu enaknya kikak kikuk dari gaya a, b, c, d, e, hingga gaya lotus, masa hamil nangis. Kamu tahu kan, semua orang yang sudah berkeluarga ingin memiliki momongan?”
“Ma, aku belum siap,” sambung Hazel disela sela tangisnya.
“Hamil itu siap tidak siap kita harus senang, karena anak yang sedang kamu kandung adalah rejeki yang tidak ternilai dari Tuhan, harusnya kamu bersyukur Zel, sudah diberikan momongan di usia muda, jadi saat sudah tua nanti, kamu bisa menyaksikan anak anak kamu menikah, punya cucu dan itu yang membuat kita sebagai orang tua sangat bahagia,” nasihat mama Misa.
“Tapi aku takut Ma, jika melahirkan nanti,”
“Ya ampun Zel, untuk apa takut,”
“Apa yang kamu takutkan?”
__ADS_1
“Sakit Ma,” jawab Hazel yang masih terbayang saat dia menyaksikan sendiri sang mami melahirkan. “Lagian anak Mama, berbohong padaku, kata dia akan mengeluarkan di luar agar aku tidak hamil, nyatanya tetep didalam,” kesal Hazel sembil menatap kesal pada sang suami yang kini berjalan mendekatinya, saat Hazel sudah menghentikan tangisnya.
“Sayang, aku tidak keburu, lagian kamu juga menikmati kan?”
“Ya karena enak,”
“Ya itu buah
dari keenakan kalian, jadi terima saja,” sambung mama Misa.
“Iya sayang, terima saja, aku sudah tidak sabar ingin memiliki anak darimu,” Jimi membenarkan ucapan sang mama. “Lagian bisa kok, kamu melahirkan tanpa merasa sakit, kan ada banyak cara untuk melahirkan,”
“Benar apa yang dikatakan Jimi, kamu jangan kuatir,”
“Bisa dong Zel, apa sih sekarang yanag tidak bisa di lakukan, apalagi suami kamu dokter, dia yang lebih paham,”
Sekarang Hazel menoleh pada Jimi, yang naik keatas tempat tidur dan duduk tepat dihadapannya. “Apa iya sayang?”
“Tentu, jadi kamu jangan kuatir oke,”
Hazel yang sudah melunak dan percaya pada sang suami, kini merentangkan tangannya agar sang suami memelukanya.
__ADS_1
“Kamu tidak takut lagi kan?” tanya Jimi saat sudah memeluk sang istri, dan Hazel pun langsung menganggukan kepalanya. “Terima kasih sayang,” ucap Jimi yang kini mencium sang istri penuh kebahagian.
Namun, kebahagian itu terusik saat Hazel tiba tiba melepas pelukannya dan mendorong tubuh Jimi untuk menjauh. “Pergi sana, kamu bau sekali!” seru Hazel sambil menutup hidungnya,
Mama Misa yang masih berada diatas tempat tidur kini turun sambil tersenyum dan satu tangannya menepuk pundak sang putra.
“Puasa Jim,”
“Ah, tidak!”
Benar saja, sudah hampir satu bulan Jimi puasa dan tidak menyentuh tubuh sang istri yang selalu mengatakan dirinya bau, jangankan menyentuh untuk melakukan hubungan diatas ranjang, di cium dan dipeluk pun Hazel terus menolak.
Namun, Jimi beberapa kali mencuri kesampatan untuk memeluk tubuh sang istri saat dia sedang terlelap. Yang selalu berakhir mencium lantai, karena saat Hazel terbangun pasti langsung mendorong tubuh Jimi hingga terjatuh dari atas tempat tidur.
“Selamat pagi sayang,” sapa Jimi setiap pagi, saat di baru terbangun dari tidurnya.
“Iya, tapi jangan mendekat!” perintah Hazel sebelum Jimi mendekatinya, saat dia baru turun dari sofa bad yang berada didalam kamar, yang sudah sebulan menjadi tempat tidurnya.
“Sayang aku merindukan kamu, apa kamu tega melihat aku seperti ini,”
“Aku juga merindukan kamu, apa lagi senjata milikmu, tapi kamu bau,” ungkap Hazel yang ternyata juga merindukan sentuhan sang suami.
__ADS_1
“Yuk coba, anak kita butuh nutrisi dari senjataku, sayang”
Bersambung……………