MY SUGAR BABY

MY SUGAR BABY
Takdir Tuhan


__ADS_3

“Sekali lagi, maaf.” ucap dokter tersebut, membuat semua orang langsung menatap kearahnya. Tidak terkecuali mami Camel yang memang sudah menatapnya sedari tadi kini menarik lengan dokter tersebut.


“Dok, katakan apa yang terjadi pada mereka?”


Merasa ada yang tidak beres dengan ucapan dokter, papi Santos kini mendekati sang istri, lalu memeluk bahunya. “Sayang, tenangkan dirimu, pasti dokter akan memberi tahu, silakan Dok, beri tahu apa yang terjadi pada mereka,” pinta papi Santos.


“Iya. Dok. Cepat katakan!” sambung papa Joni yang sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan dokter tersebut.


“Pa, mama…” Mama Misa tidak jadi meneruskan ucapnnya, dan langsung memeluk tubuh sang suami, saat firasat buruknya tiba tiba muncul, mendengar berulang kata maaf dari dokter, yang mengandung banyak arti.


“Apa Dokter tuli? Cepat katakan!” kesal mami Camel karena dokter tersebut belum juga menjawab pertanyaan. Dan Mami Camel kini melangkahkan kakinya berniat untuk memasuki ruang operasi, saat sudah tidak sabar menunggu jawaban dari dokter tersebut. Namun, tangannya langung di cekal oleh sang suami yang kembali menatap dokter tersebut.


“Dok, aku mohon katakan saja, dan jangan membuat aku menebak nebak keadaan putriku dan juga suaminya,”

__ADS_1


“Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan dokter Jimi, dengan lima tembakan yang bersarang didalam tubuhnya,” perkataan dokter tersebut membuat suasana tiba tiba hening, dan tidak berselang lama, mama Misa berteriak dengan memanggil nama sang putra, sebelum dia sekarang tidak sadarkan diri. Sementara itu mulut mami Camel seakan membeku dan tidak bisa mengucapkan kata apa pun, dengan tubuh sempoyongan dan dengan sigap papi Santos langsung membawa kedalam pelukannya. Dan sekarang Mami Camel langsung menangis histeris di dalam pelukan sang suami.


Dan dokter tersebut kini, berbincang dengan papi Arthur, ketika papa Joni sudah membawa sang istri ke UGD, dan papi santos terus menenangkan sang istri yang terus menangis.


“Sayang tenangkan dirimu,” papi Santos coba untuk menenangkan sang istri yang sedari tadi masih menangis, apa lagi baru saja melihat jazad Jimi sang menantu sekaligus sahabatnya yang sudah dibawa ke ruang jenazah.


“Putri kita menjadi janda diusia yang masih muda, dan anak yang sedang di kandungnya tidak akan mengenal siapa ayahnya,” ucap mami Camel di sela sela tangisnya.


Karena sedari tadi memikirkan nasib sang putri yang masih belum sadarkan diri paska menjalini operasi pengangkatan peluru disalah satu bahunya, dan mami Camel juga memikirkan, bagaimana nanti reaksi Hazel saat mengetahui jika sang suami sudah meninggal dunia. “Jim, kamu jahat, mana janjimu padaku yang kamu ucapkan, akan selalu membahagiakan putriku, mana Jim!”


“Kanapa takdir ini sungguh jahat pada putriku, sayang. Apa salah putriku,”


“Putri kita tidak salah, sayang, dia sedang diuji untuk menjadi manusia kuat dan lebih baik dengan takdir sang suami, dan kita harus yakin, putri kita akan lulus dari ujian ini, karena Tuhan tidak akan memberi ujian melebihi kemampuan umatnya,” nasihat papi Santos yang sedikit membuat mami Camel tenang.

__ADS_1


“Sayang, apa yang akan kita katakan jika putri kita sudah tersadar?”


“Kita pikirkan nanti, lebih baik kita mengantar kepulangan jenazah Jimi ke rumah,” kata papi Santos, karena jenazah Jimi akan segera dibawa pulang, dan pemakaman akan dilakukan besok pagi, mengingat lagi ini sudah dini hari.


Setelah mengantar jenazah Jimi, kini kedua orang tua Hazel, kembali ke rumah sakit, saat mendapat kabar jika sang putri sudah tersadar. Dengan terburu buru kadua orang tua Hazel langsung menuju ruang perawatan dimana sang putri sudah dipindahkan.


Hembusan nafas kasar keluar dari bibir mami Camel, sebelum masuk kedalam ruang perawatan sang putri. “Tetap tenang, sayang. Untuk saat ini kita jangan dulu memberi tahu putri kita tentang suaminya,” papi Santos mengingatkan sang istri, membuat mami Camel langsung menganggukkan kepalanya dan langsung masuk kedalam ruang perawatan sang putri diikuti oleh suaminya dari belakang.


Mami Camel langsung mendekati ranjang perawatan dimana sang putri sedang berbaring diatasnya, dengan alat medis yang sebagian masih menempel ditubuh sang putri.


“Syukurlah kamu sudah sadar, sayang,” ucap mami Camel sambil mengukir senyum, meskipun didalam hatinya begitu pilu meratapi nasib sang putri, yang ditinggal oleh suaminya saat sedang mengandung.


Mami Camel kini membelai wajah sang putri yang begitu pucat, saat ucapannya tidak mendapat tanggapan dari sang putri, padahal Hazel sedang menatap kearahnya.

__ADS_1


“Mi, katakan padaku, jika semua omongan yang keluar dari para perawat itu bohong kan? Suamiku tidak meninggal kan, suamiku masih hidup?” pertanyaan sang putri membuat mami Camel langsung menoleh pada sang suami. “Mi, jawab!”


Bersambung…………………..


__ADS_2