MY SUGAR BABY

MY SUGAR BABY
Tuhanlah Yang Akan Menentukan


__ADS_3

Entah sudah berapa lama, mama Misa dan juga mami Camel saling menggenggam tangan, dengan sisa sisa air mata yang masih membasahi pipi keduanya. Dan keduanya masih setia menunggu didepan ruang operasi, dimana Jimi dan juga Hazel sedang menjalani operasi pengangkatan peluru.


Mengingat lagi saat acara resepsi keduanya terkena tembakan dari jarak juah, yang sampai sekarang si penembak belum juga ditemukan, meskipun polisi sudah memeriksa tempat kejadian.


“Jimi, Hazel,” ucap mama Misa kala mengingat lagi, keduanya berlumuran darah karena tembakan yang bertubi tubi tepat dihadapnnya. Mami Camel yang berada tepat disamping mama Misa tak kuat lagi untuk menahan tangis, dan dia kembali menangis untuk mengingat sang putri sudah tidak sadarkan diri saat dibawa ke rumah sakit.


Papa Joni dan juga papi Santos yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari istri mereka, kini mendekati istri mereka masing masing lalu membawanya kedalam pelukannya.


“Sayang, tenangkan dirimu, putri kita pasti baik baik saja, kamu harus percaya padaku,” ujar papi Santos untuk menenangkan sang istri.


“Benar apa yang dikatakan oleh suami kamu Mel, Hazel pasti akan baik baik saja, begitupun dengan bayi yang sedang dikandungnya,” sahut papi Arthur yang juga ikut ke rumah sakit untuk memantau keadaan sang cucu dan juga suaminya.


Mami Camel tidak menanggapi perkataan sang suami dan juga papi Arthur, dan dia terus menangis didalam dekapan sang suami, sambil merutuki dirinya sendiri, karena dia bisa menyewa orang suruhan untuk menjaga keluarganya, tapi dia lupa menyewa orang suruhan untuk menjaga keluarga sang putri. “Maafkan mami, sayang,” batin mami Camel yang kini menghentikan tangisnya lalu melepas dekapan sang suami, lalu beralih menatapnya. “Sayang, apa sudah ada kabar dari Frans?” tanya mami Camel yang sudah menyuruh asisten pribadinya untuk mencari keberadaan orang yang sudah menembak sang putri, disamping pihak polisi yang juga sedang menanganinya.


“Belum sayang, kita tunggu saja informasi dari Frans,” mami Camel pun langsung menganggukkan kepalanya.


Sementara itu disisi lain mama Misa yang bereda didalam pelukan sang suami, terus berdoa untuk sang putra dan juga sang menantu yang masih berada di dalam ruang operasi.


“Teruslah berdoa untuk mereka Ma, meskipun kita tahu, Tuhanlah yang akan menentukan semuanya,” ujar papa Joni yang merasa sang putra dan juga sang menantu tidak baik baik saja.


*

__ADS_1


*


*


Plak! Plak!


Dua kali tamparan mendarat di kedua pipi Bara yang dilayangkan oleh mami Asha. “Apa yang kamu lalukan Bar?!” tanya mami Asha penuh dengan kekesalan. “Bukan dengan cara ini memisahkan mereka, dasar bodoh!” kesal mami Asha yang sudah yakin, Bara lah yang menyewa pembunuh bayaran di resepsi pernikahan sang putri. Dan untuk satu ini, mami Asha benar benar tidak habis pikir dengan Bara yang berani melakukan hal ini, tanpa sepengetahuannya.


Namun, Bara hanya diam dan tidak menanggapi apa yang baru saja mami Asha katakan. Saat dia sedang menyesali perbuatannya, yang sudah menyuruh pembunuh bayaran untuk menghabisi hanya Jimi, tapi Hazel juga terkena tembakan.


“Kenapa kamu hanya diam, Hah!”


“Grandma, aku tidak bisa berpikir, aku mohon diamlah!” seru Bara dengan nada penekanan, membuat mami Asha langsung melotot pada Bara yang sedang duduk di sofa ruang tamu, dimana apartemennya berada.


“Grandma, aku tidak bermaksud, aku hanya tidak bisa berpikir untuk saat ini,”


“Kamu harus…”


Mami Asha tidak jadi meneruskan ucapannya saat pintu aparteman Bara dibuka dari luar, dan saat mami Asha sudah menoleh kearah pintu, dia langsung menautkan keningnya melihat seorang pria yang sudah tidak asing baginya, yang langsung menyuruh anak buahnya untuk mengamankan Bara.


“Frans,” ucap mama Misa saat Frans kini berjalan mendekatinya.

__ADS_1


“Bos Camel, pasti akan murka, jika mengetahui anda terlibat dalam kejadian ini,”


“Demi Tuhan, Frans. Aku tidak melakukan apa pun,” elak mami Asha tapi tidak langsung dipercaya begitu saja oleh Frans yang kini menarik tangan mami Asha untuk keluar dari apartemen menyusul Bara yang sudah terlebih dahulu dibawa keluar oleh anak buahnya.


*


*


*


Mami Camel terus mengumpat, saat Frans sudah memberi tahu siapa dalang dibalik penembakan Jimi dan juga Hazel. Dan dia yang masih berada di depan ruang operasi, berniat untuk menemui Frans, tapi dia urungkan saat beberapa dokter yang sudah selesai melakukan operasi kini keluar dari dalam ruang operasi, membuat mami Camel langsung menghampiri beberapa dokter tersebut.


“Dok, katakan padaku mereka baik baik saja kan?”


“Iya Dok, putra dan menantuku baik baik saja bukan?” tanya mama Misa juga yang sudah mendekati dokter tersebut.


Membuat dokter tersebut langsung menoleh pada ketiga pria yang berada di belakang mami Camel dan juga mama Misa.


“Dok, aku yang sedang bertanya, kenapa Dokter malah manatap pada mereka,” kesal mami Camel, membuat dokter tersebut kini kembali menatap pada mami Camel. “Katakan padaku, mereka baik baik saja kan, Dok?”


“Maaf,”

__ADS_1


Bersambung…………


__ADS_2