MY SUGAR BABY

MY SUGAR BABY
Selagi Aku Bisa


__ADS_3

Tiba dimana hari resepsi pernikahan Jimi dan juga Hazel di gelar, dan pesta pernikahan tersebut sangatlah megah, dan tidak sedikit para tamu undangan yang menghadiri pesta tersebut. Untung saja cuaca malam hari ini begitu cerah hingga resepsi yang mengungsung garden party wedding berjalan dengan sempurna dan tidak ada kendala apa pun.


Jimi berdansa sambil memeluk pinggang sang istri diatas panggung pelaminan dimana keduanya berada, bersamaan dengan seluruh tamu undangan yang juga sedang berdansa mengikuti lagu yang sedang diputar.


“Malam ini kamu sungguh cantik dan juga berbeda, sayang,” bisik Jimi tepat ditelinga sang istri, karena memang malam ini Hazel begitu cantik dan juga mempesona, dengan tubuh dibalut gaun pengantin warna putih tulang dengan berhiasan swarovski premium yang berada disetiap inci gaun yang dikenakannya, tentu saja gaun tersebut memiliki harga yang cukup fantastik.


“Kamu juga tampan,” balas Hazel yang kini mengahentikan dansanya, membuat Jimi langsung menatap padanya.


“Kenapa sayang? Kamu lelah?”


Hazel pun langsung mengangguk, membuat Jimi langsung menuntun sang istri menuju tempat duduk keduanya yang berada diatas pelaminan.


“Sayang, apa acaranya masih lama?” tanya Hazel yang merasa sudah sangat lelah, padahal acara tersebut baru dimulai satu jam lalu.


“Jika kamu ingin pulang, kita pulang sekarang. Biar orang tua kita yang menghandle acara ini.”


“Boleh,” kata Hazel singkat.

__ADS_1


“Oke kita pulang sekarang juga,”


“Maafkan aku ya sayang,”


“Untuk apa?” tanya Jimi ingin tahu kenapa sang istri meminta maaf padanya.


“Aku yang meminta resepsi pernikahan kita diadakan di ruang terbuka, tapi acaranya juga belum selesai aku sudah lelah dan ingin pulang,” ujar Hazel yang merasa bersalah karena memaksa Jimi untuk mengikuti keinginannya.


Membuat Jimi yang sedari menatap sang istri sambil tersenyum, kini mencubit hidung sang istri dengan gemas. “Tidak masalah sayang, aku akan selalu mewujudkan apa pun yang kamu inginkan selagi aku bisa, untuk memanfaatkan waktu yang sengat bernilai saat aku berada disisimu, sayang,” ucap Jimi yang kini beranjak dari duduknya, lalu mengulurkan tangannya kearah sang istri. “Ayo,”


“Ke mana?” tanya mama Misa dan mami Camel yang kini mendekati Jimi dan juga Hazel.


“Tidak mungkin, pasti kalian itu tidak sabar ingin anu kan?” tanya mama Misa penuh selidik, mengingat lagi dia sering mendapati keduanya sedang bercinta didalam kamar yang tidak di kunci. “Ngaku saja,”


“Biarkan saja, maklum pengantin baru, apalagi dalam masa masa istri sedang hamil, rasanya lebih nikmat, iya kan Jim?” sambung mami Camel yang kini berdiri di samping Hazel, sambil mengelus perut sang putri. “Cucu mami, berapa kali sehari papa kamu mengunjungimu,”


“Mami, apa apaan sih, malu kan,” sambung Hazel saat mendengar apa yang dikatakan oleh sang mami.

__ADS_1


“Lebih dari tiga kali Mel, dan benar apa yang kamu katakan, sensasinya lebih luar biasa,” sahut Jimi. “Jangan salahkan aku, jika putrimu aku buat hamil terus,”


“Dasar kalian,” sambung mama Misa mendapati dua sahabat sedang berbicara ubsurd.


Dan kini mama Misa juga mangelus perut sang menantu. “Zel suami kamu mengajak ke mana?” tanya mama Misa ingin tahu.


“Bukan dia yang negajak aku Ma, tapi aku yang mengajak dia untuk pulang, badanku pegal,”


“Oh itu, ya sudah sana kalian pulang, mama yang akan menghandle acara ini hingga selesai,”


“Terima kasih Ma,”


Seteleh berpamitan pada mama mertuanya dan juga sang mami, Hazel langsung melingkarkan tangannya di lengan sang istri untuk turun dari panggung pelaminan.


Namun, baru beberapa langkah melangkahkan kakinya, Jimi dan juga Hazel sama sama menghentikan langkahnya berbarengan dengan suara tembakan beruntun. Yang membuat semua orang yang menghadiri acara tersebut langsung berteriak histeris.


“Hazel!”

__ADS_1


“Jimi!” teriak mami Camel dan juga mama Misa bergantian.


Bersambung.................


__ADS_2