
“Singkirkan tanganmu!” Jimi yang sudah berada disisi kursi yang sedang duduki Hazel, kini menyikirkan tangan Vano dengan paksa, hingga pemilik tangan hampir saja hilang keseimbangan, karena kasarnya Jimi menyingkirkan tangan Vano. “Jangan pernah sekali-kali kamu menyentuh Hazel. Paham!” tegas Jimi,
Tentu saja membuat bingung Vano, pasalnya dia tahu siapa pria yang baru saja menyingkirkan tangannya dengan kasar. Karena pria tersebut adalah sahabat baik kedua orang tua Hazel, tapi kenapa sangat proktektif pada Hazel, itu yang sedang Vano pikirkan saat ini, dan tatapan matanya terus tertuju pada Jimi yang kini sedang menarik paksa tangan Hazel agar beranjak dari duduknya.
“Om, apa apaan ini?!” kesal Hazel saat baru menyadari keberadaan Jimi yang baru saja menarik tangannya agar beranjak dari duduknya. Karena tadi Hazel yang sedang menikmati makanan yang ada dihadapannya dan tidak menyadari kedatangan Jimi. Tepatnya sih bukan menikmati, tapi Hazel sedang merasakan mulut yang terbakar karena makanan pedas yang baru saja dinikmatinya.
“Kita pulang,”
“Tidak!” sahut Hazel yang kembali lagi duduk dikursinya.
“Hazel!” seru Jimi. Membuat Hazel yang sudah duduk dikursinya kembali kini menoleh kearah Jimi.
“Sejak kapan, Om berani membentak aku?” tanya Hazel penuh selidik.
Tanpa menyadari jika masih ada Bela yang baru saja melihat kejadian yang membuatnya bingung, saat dia pikir pria yang baru saja menyingkirkan tangan Vano adalah ayah gadis yang diakui Vano sebagai kekasihnya, yang tidak setuju jika putrinya memiliki hubungan dengan Vano mantan kekasihnya, tapi setelahnya Bela tambah bingung
saat gadis tersebut memanggil om pada pria yang dikira ayah dari gadis tersebut.
“Oh, aku tahu, jangan jangan meraka sedang main gula gulaan,” batin Bela yang tersenyum bahagia, karena dia masih bisa mendapatkan hati Vano kembali.
__ADS_1
“Sejak saat ini,” jawab Jimi untuk menjawab pertanyaan yang baru saja Hazel tanyakan. “Dan sekarang, ayo pulang,” ajak Jimi yang kembali menarik tangan Hazel untuk beranjak dari duduknya.
“Om, lepaskan! Aku mau pulang dengan kakak Vano,” Hazel yang sudah bisa melepas tangannya yang sedang ditarik oleh Jimi, kini segera menghampiri Vano, lalu memeluk lengannya.
Jimi yang tadi cemburu karena Vano memegang tangan Hazel, kini kecemburuan itu bertambah berlipat lipat saat melihat sang gadis pujaannya memeluk lengan Vano.
Jimi pun refleks mendekati Hazel dan menarik tangannya. “Kamu hanya milikku Zel!” tegas Jimi.
Dan ucapan Jimi, kini membuat Vano begitu bingung, lalu menahan tangan Hazel yang kini sudah tidak lagi memeluk lengannya, saat Jimi menarik tangannya untuk mendekat.
“Om, jangan kasar seperti ini,”
“Om, bukan siapa siapa Hazel, mami dan papinya saja tidak melarang aku mendekatinya, berani beraninya, Om bicara seperti itu,” sahut Vano yang merasa tidak terima dengan apa yang baru saja Jimi katakan.
“Oh, kamu tidak tahu, siapa aku. Aku…” Jimi tidak jadi meneruskan ucapannya saat mulutnya dibekap oleh tangan Hazel.
“Kita pergi,” ajak Hazel yang kini melepas tangannya yang dia gunakan untuk membekap mulut Jimi, lalu melangkahkan kakinya untuk keluar dari restoran dimana dia berada, tidak ingin Jimi keceplosan mengatakan hubungan keduanya, terlebih lagi, tempatnya kini berada sudah menjadi pusat perhatian semua pengunjung restoran tersebut.
“Awas saja jika kamu berani mendekati Hazel!” ancam Jimi sambil menunjukkan jari telunjuknya kearah Vano, sebelum dia menyusul Hazel.
__ADS_1
“Kamu yakin, gadis itu kakasih kamu Van?” tanya Bela yang masih ditempatnya, setelah kepergian Jimi dan juga Hazel. “Rugi kamu. Aku rasa mereka punya hubungan khusus,”
“Jangan mengada ada,” sambung Vano yang sekarang pergi meninggalkan Bela.
Hazel sama sekali tidak meladeni ucapan Jimi, saat keduanya sedang berada didalam mobil, hingga jimi sudah memarkirkan mobilnya tepat dihalamam rumahnya.
“Sekarang turun,” ajak Jimi, yang sudah turun terlebih dahulu dari dalam mobil dan membuka pintu mobil dimana Hazel duduk.
“Tidak mau, aku ingin pulang,”
“Turun, atau om gendong kamu!”
“Tidak mau!”
“Oh, baiklah,” Jimi langsung memaksa Hazel turun dari mobil dengan menggendong dipundaknya.
“Om, lepaskan aku!”
“Tidak, sebelum Om menjinakkan kamu,”
__ADS_1
Bersambung...............