
Hazel yang sedang duduk dipangkuan sang suami dan menghadapnya terus menciumi wajah sang suami yang sangat dia cintai, apalagi suasa sangat mendukung, dimana mereka sedang berada disebuah pantai dengan hamparan pasir putih dan juga pepohonan yang mengelilingi pantai tersebut, yang membuat air pantai menjadi biru kehijaun, dan pantai tersebut adalah tujuan bulan madu yang sudah lama Hazel inginkan.
“Sayang, apa kamu tidak bosan menciumi aku sedari tadi?” tanya Jimi sambil mengelus rambut sang istri yang belum lepas menciumi wajahnya.
Mendengar pertanyaan Jimi, membuat Hazel langsung berhenti menciumi wajah sang suami. “Tentu saja tidak,” jawab Hazel sambil memicingkan matanya untuk menatap sang suami. “Apa kamu tidak suka?”
Bukannya menjawab pertanyaan Hazel, Jimi kini menyambar bibir sang istri dengan satu tangannya mengelus perut sang istri dimana ada buah hatinya.
Lama keduanya saling balas cium, kini keduanya sama sama melepas tautan bibirnya. “Aku sangat suka, dan setiap hari aku ingin selalu seperti ini, sayang. Tapi sayangnya aku tidak bisa,”
Ucapan Jimi alhasil membuat Hazel langsung beranjak dari duduknya sambil memasang wajah murungnya.
“Kenapa tidak bisa, apa kamu sudah tidak lagi mencintai aku?” tanya Hazel yang tiba tiba menitikan air mata saat mendengar ucapan sang suami.
Senyum terukir dari kedua sudut bibir Jimi yang kini juga beranjak dari duduknya lalu menghampiri sang istri, kemudian menggenggam tangannya.
“Sampai kapan pun aku akan selalu mencintaimu, sayang,”
“Jika kamu mencintaiku, kenapa kamu mau pergi meninggalkan aku?”
__ADS_1
“Karena ini sudah saatnya aku untuk pergi, sayang, tapi percaya padaku, meskipun aku pergi dan menghilang dari pandangan kamu, aku akan selalu berada disini bersama kamu untuk selamanya,” Jimi menunjuk dada Hazel, lalu mengelus perut sang istri. “Dan saat aku hilang dari pandangan kamu, jagalah dan besarkanlah anak kita ini, aku sangat yakin, kamu mampu membesarkan anak kita tanpa ada aku disampingmu, karena kamu akan menjadi ibu yang hebat untuk anak kita ini, sayang,”
Air mata semakin deras membanjiri kedua pipi Hazel, membuat Jimi kini menghapus air mata tersebut. “Jangan menangis sayang, ini bagi aku untuk pergi terlebih dahulu,”
“Aku akan ikut denganmu, tolong bawa aku, sayang,”
“Tidak sayang, aku akan pergi sendiri, dan kamu akan tetap disini bersama dengan anak kita, mengajarkan hal baru dan pengalaman yang nanti akan dia dapatkan dengan berjalannya waktu,”
“Tidak, aku akan ikut denganmu, aku tidak bisa hidup tanpa kamu, sayang,” sambung Hazel yang kini memeluk sang suami dengan sangat erat.
“Nanti kamu akan terbiasa hidup tanpa aku dengan berjalannya waktu sayang, aku mohon jangan menangis, simpan air matamu untuk kebahagiaan yang akan menghampirimu kelak. Aku titip anak kita, karena ini saatnya aku pergi. I love you sayang,” ucap Jimi yang langsung hilang dari pandangan sang istri.
“Tidak sayang, tidak!” teriak Hazel memenuhi ruang perawatan dimana dirinya berada, sebelum kedua matanya terbuka semua.
“Sayang,” hanya itu ucapan yang keluar dari bibir mami Camel, karena tak mampu berbicara membayangkan betapa sedihnya sang putri untuk saat ini. “Sayang,” panggil mami Camel saat melihat sang putri yang sudah tidak menangis lagi seperti sebelum pingsan, dan memalingkan wajahnya.
“Mi, aku ingin menghadiri pemakaman suamiku,” pinta Hazel dengan bibir bergetar untuk menahan tangis.
“Sayang, kamu baru saja melakukan operasi,”
__ADS_1
“Aku sudah baik baik saja,”
*
*
*
Dokter akhirnya mengijinkan Hazel untuk menghadiri pemakaman sang suami, tentu saja diikuti oleh dokter dan juga perawat yang selalu memantau keadaannya.
Hazel yang sedang duduk dikursi roda, terus menyaksikan pemakaman sang suami, tanpa air mata yang sudah mengering, tapi kesedihan terlihat jelas dari wajahnya membuat semua orang yang menghadiri acara pemakaman tersebut merasa iba dengannya, dan tak terasa air mata menetes melihat Hazel.
Begitu pun dengan mama Misa yang kembali menangis melihat sang menantu, dan dia langsung mendekati Hazel saat pemakaman sang putra sudah selesai.
“Maafkan Jimi, Zel,” tangis mama Misa semakin kencang saat sudah mendekati Hazel dan bersimpuh didepan kursi roda yang didudukinya.
“Suamiku tidak memiliki salah, Ma,” sambung Hazel coba untuk tersenyum dihari pemakaman sang suami, meskipun sulit. “Ma, aku ingin kesana,” pinta Hazel yang ingin mendekati makam sang suami.
Hazel yang sudah berada disamping makam sang suami, kini memegang nisan bertuliskan nama suami yang sangat dicintainya.
__ADS_1
“Sayang, aku tidak menangis sesuai keinginan kamu, dan aku juga berjanji akan membesarkan anak kita tanpa ada kamu disampingku, dan menjadikan dia seperti kamu, yang tidak memiliki celah kejelekkan didalam dirimu,” Hazel terus mengelus nisan sang suami, tanpa menitikan air mata. “Aku ikhlas melepas kamu. Tenang disana sayang, tunggu aku datang dan kita akan bahagia selamanya disana, i love you sayang,”
TAMAT