
“Mami, sayang. Jika aku gila tentu saja aku tidak akan berada disini, tapi di rumah sakit jiwa,” sahut mami Camel pada mami Asha untuk menanggapi apa yang baru saja dia katakan. Dan sekarang mami Camel meraih tangan sang mami. “Untuk kali ini saja, mami tidak perlu ikut campur dengan urusan Hazel, biar aku dan sumaiku yang mengurusnya,”
“Tidak bisa Hazel cucu mami satu satunya, dan mami tidak ingin dia menjalin hubungan dengan Jimi!” tegas mami Asha sekali lagi.
“Ya Tuhan Mi, Hazel bukan anak kecil lagi, yang harus menuruti apa yang kita mau, dia sudah beranjak dewasa dan biarkan dia menjalani hidup yang dia inginkan, termasuk memilih Jimi untuk dicintainya,”
“Dewasa kamu bilang Mel, dia baru mau menginjak usia delapan belas tahun, kamu bilang dewasa,”
“Tapi dewasa itu bukan berpatok pada umur, Mi, lihat saja suamiku yang usianya masih muda tapi pikirannya lebih dewasa dari pada aku Mi,”
“Jangan puji suamimu, kita sedang membahas Hazel, bukan membahas suami kamu,”
“Iya aku tahu, dan aku juga tahu putriku sudah bisa berpikir dewasa Mi,”
“Tidak, mami tidak terima jika cucu mami memilih Jimi. Cukup kamu yang menikah dengan pria yang usianya dibawah kamu, tapi tidak dengan cucu mami, karena mami ingin dia mencintai pria yang seumuran dengannya, bukan dengan Jimi yang sudah tua. Kamu pikir sendiri jika dia mati, Hazel akan menjadi janda. Apa kamu mau, anak kamu menjadi janda di usia muda, tidak kan?!” tegas mami Asha sekali lagi, dan dia langsung membalik tubuhnya lalu meninggalkan ruang tamu tanpa mengatakan sepatah katapun lagi.
__ADS_1
Membuat mami Camel, hanya bisa menggelengkan kapalanya mendapati sang mami kembali pada sikap aslinya. Dan mami Camel, kini menoleh kearah pria paruh baya, dimana papi Arthur sedari tadi hanya diam dan tidak mengatakan apapun lagi, lalu mendekatinya.
“Pi, aku minta tolong pada Papi, untuk membujuk mami, agar dia merestui hubungan Hazel dan juga Jimi. Karena aku yakin, hanya papi yang bisa membujuknya,” pinta mami Camel pada sang papi.
“Untuk urusan ini papi tidak ingin ikut campur Mel, Hazel putrimu, dan hanya kamu yang berhak atas dia, jika kamu sudah merestui hubungannya dengan Jimi, ya sudah, papi tidak masalah. Hanya saja benar apa yang mami kamu katakan, Mel. Papi tidak ingin, cucu papi menjadi janda diusia muda,”
“Ya ampun Pi, itu sama saja mendoakan Jimi cepat mati,” sahut mami Camel.
“Papi tidak mengatakan itu. Sudahlah, papi ke kamar dulu, papi capek dan butuh istirahat,” ujar papi Arthur yang kini juga meninggalkan ruang tamu untuk menyusul sang istri, karena memang mereka baru saja tiba setelah melakukan penerbangan yang cukup lama dari negaranya untuk mengunjungi sang putri yang sebentar lagi akan menjalani proses persalinan.
“Mel, terima kasih kamu sudah merestui hubungan aku dan juga Hazel,” ucap Jimi saat sang sahabat kini sudah mendekatinya, dan Jimi dengan percaya diri mengatakan hal itu, saat dia yakin sang sahabat memang sudah merestui hubungannya, dari cara mami Camel berbicara pada kedua orang tuanya .
“Apa kamu senang, aku sudah merestui hubungan kalian?” tanya mami Camel.
“Tentu Mel,”
__ADS_1
“Terus kapan kamu akan menikahi Hazel?” tanyanya lagi.
“Secepatnya Mel, besok juga ayo,”
“Tidak, siapa bilang, aku bekum mau menikah,” sambung Hazel dengan pendiriannya.
Tentu saja membuat mami Camel, langsung menautkan keningnya mendengar apa yang baru saja sang putri katakan.
“Tidak bisa, kamu harus segera menikah,” sambung mami Camel, saat dia tidak percaya jika Hazel dan juga Jimi bisa kuat untuk tidak melakukan apa apa. Mengingat lagi, dia sudah tahu sang putri dan juga Jimi pernah menghabiskan malam bersama, apalagi mami Camel sudah dua kali memergoki Hazel dan juga Jimi, keduanya sedang berciuman dengan sangat mesra, yang bisa jadi, dari ciuman itu bisa merembet kemana saja. Kerena itu pengalamam pribadi mami Camel, bukan begitu saudara saudara hehehe.
“Tidak, aku tidak mau menikah,” tolak Hazel lagi.
“Jika begitu, akhiri hubungan kamu dan juga Jimi!”
Bersambung.......................
__ADS_1