
Untung saja Jimi bergerak cepat dan membawa Mita ke rumah sakit, saat dia sudah tidak sadarkan diri dengan banyaknya darah yang keluar dari pergelangan tangannya, saat Mita berniat untuk mengakhiri hidupnya, untuk menyusul sang suami yang belum lama di makamkan.
Jimi yang tadi ikut menangani Mita, kini masuk kedalam runag perawatannya, saat satu jam yang lalu dia sudah dipindah ke ruang perawatan dimana sekarang Jimi masuk kedalamnya.
Kedua orang tua Mita yang sedari tadi mendampingi sang putri di ruang perawatannya, kini menghampiri Jimi yang baru masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Jim, terima kasih. Jika bukan karena kamu, mungkin kami akan kehilangan putri kami untuk selamanya ,” ucapan terima kasih dari papa Mita, membuat Jimi langsung mengangggukan kepalanya sambil tersenyum.
“Dan Tante, minta tolong padamu sekali lagi, ajak bicara Mita, dari tadi dia hanya diam tanpa mengatakan apa pun, membuat tante jadi kuatir padanya,” pinta mama Mita, dan Jimi kini menepuk lengan wanita paruh baya tersebuat yang dulu pernah menjadi mama mertuanya.
“Tante tenang saja, aku akan bicara baik baik padanya, dan aku juga yang akan merawat dia,”
“Terima kasih Jim, kami percaya padamu,”
“Sama sama,”
“Dan selamat untuk pernikahan kamu, semoga kamu selalu bahagia dengan istrimu,” kata mama Mita yang sudah mengetahui jika Jimi sudah menikah dengan Hazel, dan dia tahu dari Jimi sendiri yang tadi menceritakannya saat sedang menunggu Mita yang belum sadarkan diri setelah mendapat penanganan.
“Amiin dan terima kasih,” sambung Jimi tak lupa mengukir senyum dan kini dia mendekati ranjang perawatan Mita.
__ADS_1
“Entahlah apa yang Mita pikirkan, sehingga dia meninggalkan Jimi yang begitu baik,” ucap mama Mita saat Jimi sudah mendekati ranjang perawatan sang putri.
“Ma, jangan ingat lagi kejadian yang sudah, mungkin ini sudah takdir mereka untuk tidak bersatu,” kata papa Mita.
“Iya Pa,”
“Lebih baik kita keluar cari makanan, kamu belum makan apa pun dari pagi, Ma. Aku tidak ingin kamu sakit, karena Mita saat ini dan seterusnya sangat membutuhkan kita,”
“Baik, Pa,” dan pasangan paruh baya tersebut langsung keluar dari dalam ruang perawatan sang putri.
Jimi yang sudah berdiri disisi ranjang perawatan Mita, tatapannya tertuju pada wajah Mita yang pucat, dengan tatapan kosong.
“Mit,” panggil Jimi.
“Mit, apa yang kamu katakan ini tidak benar,”
“Dimana yang tidak benar Jim? Aku hanya ingin menyusul suamiku,”
“Pikiran kamu sangat pendek Mit, kematian seseorang sudah ditentukan oleh Tuhan, berapa kali pun kamu ingin mengakhiri hidupmu, jika belum saatnya kamu mati, itu tidak akan pernah terjadi,”
__ADS_1
“Tapi untuk apa aku hidup, jika orang yang sangat aku cintai sudah pergi untuk selama,”
“Ada yang harus kamu cintai Mit, bayi yang ada didalam kandungan kamu,” sambung Jimi.
Membuat Mita kini langsung menangis. “Apa semua ini doa darimu untukku Jim, karena aku sudah menyia nyikan kamu dan melukai hatimu? Sehingga kebahagiaan aku satu satunya pergi dariku untuk selamanya,” ucap Mita disela sela tangisnya.
“Kenapa kamu berpikir seperti itu Mit, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan kebahagian yang sangat indah, dimana kamu nanti akan selalu bahagia bersama dengan anakmu, Mit,”
“Tapi anakku nanti lahir tanpa tahu ayahnya,”
“Dunia ini adil Mit, suatu saat nanti anak kamu akan memiliki ayah, pria yang akan datang dikemudian hari untuk mengisi hatimu,”
“Itu tidak akan pernah terjadi, sampai kapan pun hanya Jordi yang aku cintai,”
“Hidup bukan untuk saat ini saja Mit, tapi untuk kedepannya, dan aku yakin kamu akan menemukan kebahagiaan suatu saat nanti, seperti aku yang sudah menemukan kebahagiaan bersama dengan istriku, dan aku akan selalu bersyukur, karena Tuhan sudah mengirimkan dia untukku, dan aku akan menjaganya hingga aku menghembuskan nafas terakhirku nanti,” ucap Jimi yang malah menceritakan kebahagiannya dengan Hazel sang istri tanpa tahu situasi dan kondisi.
“Selamat untuk pernikahan kamu, semoga kalian bahagia,” ucapan selamat dari Mita untuk mantan suaminya, disaat dia sedang berduka.
“Terima kasih Mit. Dan kamu juga pantas untuk bahagia,” sambung Jimi sambil mengukir senyum, dan Jimi kini terus menasihati dan juga menyemangati Mita untuk tidak berputus asa dan terus menjalani hidup, mengingat lagi setiap ada kehidupan pasti ada kematian.
__ADS_1
Setelah lama berbincang dengan Mita, kini Jimi keluar dari ruang perawatannya. Dan dia yang ingin kemnbali ke ruang kerjanya, langsung menghentikan langkahnya saat melihat Hazel sang istri sudah berada didepan ruang perawatan Mita, sambil melipat kedua tangannya dan menatap kearahnya.
Bersambung………….