Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 19


__ADS_3

Sore harinya kedua orang itu akan kembali ke hotel, lalu bibinya Dewa melihat Nana tersenyum kepadanya membuat ia menyukai wanita itu.


"Manis sekali kamu wanita cantik. Siapa nama mu?".


"Nana bibi, saya sekretarisnya tuan Dewa".


"Oh, benarkah?".


"Iya bibi".


"Wah, kamu beruntung sekali bisa menjadi sekretarisnya. Bibi harap kamu bisa bertahan yah, Dewa itu anaknya baik, manis, tidak seperti yang orang lain katakan. Dan tolong jaga Dewa kami dengan baik yah".


"Iya bibi, saya akan selalu menjaga beliau sampai kapan pun".


"Benar, itu baru namanya sekretaris yang benar-benar bisa melindungi atasnya. Oh iya satu lagi Nana, berikan nomor ponsel mu kepada bibi. Nanti tolong kamu beritahu bibi yah dengan wanita mana saja Dewa berkencan, bibi takut Dewa salah memilih wanita, Dewa itu harus menikahi wanita yang setara dengan kami, bukan sembarang wanita saja".


Mendengar itu Nana pun langsung terdiam.


"Ada apa?".


"Tidak bi, kalau begitu kami permisi dulu bibi".


"Iya, kalian hati-hati di jalan yah".


"Iya bi".


Perjalanan pulang, Nana sedari tadi hanya diam saja begitu ia masuk ke dalam mobil, lalu Dewa bertanya.


"Ada apa? Kenapa kamu diam saja?".


Nana melihatnya, setelah itu ia menggeleng kepala dengan raut wajah sedih membuat Dewa semakin penasaran ada apa dengan wanita yang berada disebelahnya itu.


"Tadi kamu baik-baik saja, kenapa wajah mu berubah seperti itu?".


"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku hanya merasa lelah" Nana menatap keluar jendela kaca mobil mengingat perkataan bibi Dewa kalau pria yang berada disebelahnya itu tidak boleh menikahi wanita miskin seperti dia. Dewa harus menikahi wanita yang sama persis seperti mereka.

__ADS_1


"Ya Tuhan, jika memang Dewa tidak bisa aku miliki, apakah aku akan merasakan pata hati untuk yang kedua kalinya? Ck, menyebalkan sekali".


Hingga mereka telah tiba di hotel, Nana lalu duluan turun sedangkan Dewa, ia malah menatap Nana dengan heran ada apa dengan dia yang sebenarnya.


"Silahkan tuan" ucap sang supir.


Dewa kemudian turun dari dalam mobil, tetapi ia masih fokus memperhatikan Nana dari belakang tampa ia sadari seorang wanita tengah berjalan kearahnya dengan senyum mengembang langsung memeluknya membuat Dewa melonjak kaget melihat si wanita tersebut dengan wajah heran.


"Kamu siapa?" tanyanya.


"Uummcchh" si wanita itu bukannya menjawab, ia malah mencium bibirnya Dewa membuat Dewa semakin heran kepadanya. "Kamu tidak mengingat ku lagi Dewa? Aku ini Vanessa kekasih kamu sewaktu SMA".


Dewa mencoba untuk mengingat Vanessa, tetapi ia tidak berhasil dan malah membuatnya pusing.


"Ck, sombong sekali kamu sekarang Dewa. Setelah kamu meninggalkan ku begitu saja, sekarang kamu pura-pura tidak mengingat ku lagi. Hhhmm, dasar pria menyebalkan" ia mengeluarkan selembar foto dari dalam tas memberikan di tangan Dewa. "Kamu lihat foto usang ini, apa sekarang kamu masih belum mengingatnya?".



Begitu Dewa melihatnya, ia tersenyum mengingat kalau Vanessa pernah foto bersama dengannya sebagai sepasang kekasih untuk majalah remaja dan bukan karna mereka berpacaran saat itu. Kemudian Dewa mengembalikan foto tersebut ditangan Vanessa.


"Bagaimana bisa kamu tau aku ada disini?".


"Baik, aku bahkan tidak mengingat wajah mu lagi yang sudah begitu sangat berubah sekali".


Vanessa tersenyum manis, "Benarkah Dewa? Apa aku sekarang terlihat begitu sangat cantik dari yang dulu?".



"Wanita yang dulu begitu sangat cantik dibandingkan dengan yang sekarang".


"Hhmmsss.. Kamu sama sekali tidak berubah Dewa. Oh iya, aku dengar-dengar kedua orang tua kamu sudah meninggal dunia. Aku turut berdukacita ya Dewa, maaf aku tidak bisa hadir waktu itu".


"Tidak apa-apa, mereka sudah tenang di alam sana".


"Mmmm... Dan juga aku dengar-dengar sekarang kamu yang menggantikan posisi ayah mu di perusahaan mereka sebagai presiden? Apa itu benar Dewa?".

__ADS_1


"Mungkin saja benar".


"Wah, kamu sangat hebat sekali Dewa. Aku tidak menyangka kalau kamu akan se-berhasil ini. Terus, apa kamu tidak penasaran bagaimana kehidupan aku selama ini setelah aku pergi meninggalkan Indonesia?".


"Mmmmm, apa yang kamu lakukan selama ini?".


Vanessa tertawa lucu, "Kamu benar-benar tidak tau Dewa?".


Dewa mengangkat kedua bahunya kalau ia benar-benar tidak tau apa yang selama ini Vanessa lakukan tinggal di New York.


"Baiklah aku akan memberitahu mu. Tapi sebelum itu, coba kamu keluarkan ponsel mu nanti kamu akan tau sendiri jawabannya dari sana" tetapi Dewa sama sekali tidak menuruti perkataan Vanessa, ia malah melihat jam tangannya. "Ayo keluarkan Dewa".


"Maaf, aku tidak punya banyak waktu berlama-lama dengan mu disini. Aku harus pergi".


"Dewa tunggu!" Vanessa menahan pergelangan tangan Dewa. "Kamu mau kemana buru-buru seperti itu Dewa? Kamu tidak merindukan ku? Kita sudah sangat lama sekali tidak pernah bertemu, masa iya kamu mau pergi begitu saja? Tinggallah sebentar lagi disini bersama dengan ku".


"Aku kemari bukan untuk menemui mu. Maaf, aku harus pergi, kita bertemu lain waktu saja" Dewa lalu pergi meninggalkannya dan itu membuat Vanessa kesal karna Dewa yang dulu ia kenal tidak sedingin ini.


"Kenapa dia sangat berubah sekali? Tidakkah dia sadar kalau aku sudah bertahun-tahun menunggu waktu yang tepat untuk bertemu dengannya lagi? Tapi dia malah bersikap dingin seperti ini".


Ceklek!


Dewa masuk ke dalam apartemen, ia melihat Nana tengah terbaring lemas diatas sofa dengan wajah tertutupi menggunakan bantal.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Tidakkah kamu melihat kalau jam sudah hampir menunjukkan pukul 7 malam?".


Nana lalu membuka mata, dengan sedih ia menatap Dewa berdiri tepat di hadapannya.


"Kamu dari mana saja? Kenapa baru masuk?" tanyanya.


"Aku ada urusan sebentar. Bersiap-siaplah, kita tidak punya banyak waktu lagi".


"Benarkah?" Nana menundukkan kepala dan itu membuat Dewa heran. "Tapi kenapa urusan sebentar itu begitu sangat lama sekali aku tunggu?".


"Ada apa dengan mu?".

__ADS_1


"Hhhmmss" Nana membuang nafas panjang. "Hari ini aku sangat lelah sekali dan rasanya.. Aku ingin tidur sepanjang hari aaarrrkkkhh" ia menjatuhkan tubuh itu kembali diatas sofa.


Dewa hanya mengeleng kepala, ia lalu melepaskan jas yang melekat di tubuhnya hingga hanya kemeja putih yang tersisa. Kemudian ia menerima notifikasi dari Dela, "Dewa, apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Apa kamu benar-benar akan bersikap seperti ini terus terhadap ku😭 Tolong jangan diamkan aku Dewa, aku minta maaf, aku benar-benar salah".


__ADS_2