
Di rumah sakit Nana tak henti-hentinya menangis sesenggukan menunggu hasil pemeriksaan sang dokter. Hingga kini Thomas dan Eva tiba disana, kemudian Eva membawa tubuh Nana ke dalam pelukannya.
"Dewa mbak hiks.. hiks.. Dewa ku hiks.. hiks..".
"Kamu jangan khawatir Nana, semua akan baik-baik saja. Kamu tidak usah merasa sedih seperti ini, aku tau Dewa adalah pria kuat dan aku yakin kalau Dewa pasti tidak apa-apa".
"Benar apa kata Eva Nana" sambung Thomas. "Kamu tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja. Dewa hanya kelelahan saja".
"Tapi...
"Sshhuueeett.. Sudah, kamu jangan menangis lagi membuat Dewa sedih jika dia tau kalau kamu menangis seperti ini".
Kemudian Thomas menyuruh Eva membawa Nana keluar dari dalam sana agar Nana mendapatkan ketenangan. Sedangkan ia menunggu di depan pintu sampai dokter yang menangani Dewa keluar. Hingga beberapa menit berlalu, akhirnya sang dokter pun keluar dari dalam ruangan tersebut melihat Thomas hanya seorang diri.
"Saya adalah keluarga ya dok. Bagaimana keadaan Dewa sekarang ini?".
Sebelum menjawab pertanyaan Thomas, sang dokter terlihat menarik nafas panjang membuat Thomas langsung tau kalau saat ini keadaan Dewa tidak sedang dalam keadaan baik.
"Sebaiknya kita bicara di dalam ruangan saya".
"Biak dok".
Thomas lalu mengikuti sang dokter memasuki ruangannya, kemudian ia mendudukkan diri dan melihat si dokter kembali dengan wajah setenang mungkin.
"Begini, apakah selama ini saudara mengetahui penyakit yang pasien alami?".
"Mmmm.. Iya dok" jawab Thomas.
"Dan seperti dari hasil pemeriksaan kami, pasien sudah memasuki stadium akhir" dengan sangat berat hati sang dokter mengatakan yang sebenarnya. "Dan ini dari hasil pemeriksaan kami".
Thomas lalu tertawa sumbang menerima hasil dari pemeriksaan sang dokter dengan tangan bergetar.
"Lalu bagaimana dengan istrinya? Apakah dia mengetahui kalau keadaan suaminya seperti ini?".
Thomas tidak menjawab, ia malah meneteskan air mata sembari meremas kertas tersebut dengan sangat kuat.
__ADS_1
"Sebaiknya saudara memberitahu kepada beliau...
"Apa menurut dokter Dewa tidak bisa di selamatkan lagi?".
Dengan sangat berat hati, sang dokter mengeleng kepala. "Maaf jika saya berkata demikian. Beliau tidak bisa diselematkan lagi, dan..
"Dan apa dok?".
"Apalagi pasien sudah memasuki stadium akhir. Untuk saat ini tidak ada harapan lagi kecuali pasien mendapatkan mukjizat dari yang maha kuasa".
"Tidak!" Thomas semakin menumpahkan air matanya. "Tolong jangan berkata seperti itu dok, saya yakin Dewa masih bisa di selamatkan. Aku yakin itu dokter".
"Kita manusia tidak bisa melakukan apa-apa, jika itu sudah menjadi takdir pasien, kita hanya bisa pasrah".
Lalu Thomas pergi meninggalkan ruangan dokter, kemudian ia melihat Nana dan Eva telah berada di depan pintu ruangan Dewa saat ini mendapatkan pertolongan.
"Thomas, apa yang terjadi Thomas? Apakah semuanya baik-baik saja? Dewa tidak kenapa-napa kan Thomas? Ayo katakan yang sebenarnya" namun sampai sekarang Thomas belum juga menjawab pertanyaan Nana dan ia malah semakin menangis di hadapan kedua wanita itu membuat Nana dan Eva membulatkan mata.
"Thomas, katakan apa yang terjadi? Kenapa kamu malah menangis seperti ini?" Eva di buat penasaran dengan air mata berderai meremas kedua bahunya. "Ayo katakan Thomas, jangan membuat kami seperti ini".
Tetapi Nana tidak mendapatkan jawaban dari Dewa, pria itu bahkan tak berkutik sedetik pun, bahkan membuka mata saja Dewa terlihat enggan.
"Aarrkkhhh.. Aku mohon jawab aku Dewa! Katakan yang sebenarnya apa yang terjadi aaarrrkkkhh... Jangan membuat ku seperti ini".
"Nana" Eva langsung memeluknya.
"Aarrkkhhh.. Aaarrrkkkhh.. Kenapa tidak ada satu orang pun yang mau memberitahu aku mbak?" Nana menjerit histeris berusaha melepaskan pelukan Eva. "Aku perlu tau apa yang terjadi mbak. Kenapa, kenapa Dewa tiba-tiba seperti ini aaarrrkkkhh".
Thomas lalu menyusul kedua orang itu memasuki ruangan Dewa, kemudian bersujud di bawah bed tempat tidur Dewa.
"Maafkan aku Nana! Maafkan aku tidak bisa memberitahu kalian selama ini kalau Dewa sedang sakit".
"Apa?" Nana semakin membulatkan kedua matanya. "Ma-maksud kamu Thomas?".
"Mmmm, selama ini Dewa sudah sakit. Dan dia mengidap penyakit tumor otak stadium akhir".
__ADS_1
BBRRRAKKK...
Tidak menyangka kalau selama ini Dewa sedang sakit, Nana pun langsung jatuh pingsan ketika Thomas memberitahu yang sebenarnya.
"Thomas, Nana" ucap Eva memberitahu. Kemudian Thomas membawa tubuh Nana keluar dalam sana membawa keruang IGD. Tidak lama setelah itu sang dokter memeriksa keadaannya, lalu Eva membawa Thomas duduk diatas kursi tunggu. "Aku tau apa yang kamu rasakan, bahkan aku juga merasakannya. Tolong jangan merasa hancur seperti ini, kamu harus kuat juga untuk menguatkan Nana".
Thomas menatap Eva dengan tatapan sendu masih dengan air mata itu.
"Aku harus bagaimana Eva? Apa yang harus aku lakukan?".
"Yang harus kamu lakukan saat ini kamu harus kuat, kamu harus bisa menguatkan Nana apapun nantinya yang akan terjadi dengan Dewa".
"Aarrkkhhh" Thomas langsung meremas rambut sampai berulang-ulang kali membuat beberapa keluarga pasien melihat mereka. "Aku tidak tau harus bagaimana Eva, aku benar-benar sudah gagal".
"Sshhuueeett... Kamu tidak gagal Thomas. Takdir Dewa yang berkata seperti ini, tolong jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu harus kuat, kamu harus bisa menguatkan orang disekitar kamu".
.
Beberapa jam kemudian, Nana membuka mata, ia melihat dirinya masih berada dirumah sakit.
"Nana, kamu sudah sadar?" tanya Eva.
"Apa yang terjadi kepada ku mbak? Kenapa aku merasa sangat pusing sekali?" ia berusaha bangkit dari atas tempat tidur melihat sepasang suami itu secara bersamaan. "Dewa! Dewa dimana?".
"Dewa ada di dalam ruangannya Nana, kamu jangan bergerak dulu, tubuh mu masih butuh istirahat".
"Tidak mbak, aku harus menemui Dewa. Aku harus memastikan apakah Dewa baik-baik saja".
Hingga akhirnya mereka membiarkan Nana pergi menemui Dewa di dalam ruangannya. Kemudian Eva melihat Thomas beberapa kali menarik nafas panjang membuat ia menyentuh lengannya. Lalu mereka menyusul Nana dan begitu mereka tiba disana, Nana sedang tertawa sumbang sambil berkata.
"Hey, ayolah Dewa jangan bercanda seperti ini. Kamu pikir ini semua lucu hhhmm? Ayo buka mata mu, kamu sudah berjanji kepada ku kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan ku apapun yang terjadi. Kamu tidak melupakannya kan?".
"Thomas, Nana".
"Biarkan saja, ayo" kedua orang itu lalu pergi.
__ADS_1