
Begitu Dewa tergeletak diatas meja, beberapa dari pria itu menghampiri Siksa lalu membawa Dewa pergi dari sana menuju sebuah hotel yang tidak jauh dari tempat bar tersebut. Kemudian Siska tersenyum senang dan tak lupa membayar para pria itu dengan bayaran cukup tinggi.
Setelah itu Siska melihat tubuh Dewa yang tergeletak diatas ranjang begitu sangat gagah membuat ia naik keatas sana sembari menyentuh dada bidangnya.
"Dewa ku sayang, kenapa kamu malah tertidur seperti ini hhhmm? Kamu yakin tidak mau bersenang-senang dengan ku Dewa? Aku sudah sangat lama sekali menantikan hari-hari ini. Ayolah Dewa ku sayang, buka mata mu dan minta aku untuk melayani mu mmmmm".
Namun sampai saat ini Dewa tak kunjung-kunjung membuka mata, sedangkan Siska malah merasa aneh karna yang ia berikan di dalam anggur tersebut adalah obat perangsang bukan obat untuk membuat Dewa tertidur pulas.
"Aneh, kenapa Dewa tidak mau membuka matanya?".
Siska telah menunggu 20 menit, tetapi Dewa tak kunjung-kunjung juga membuka mata hingga akhirnya Siska merasa jenuh berpikir apa yang harus ia lakukan. Karna mau bagaimanapun malam ini Dewa harus kembali melihatnya. Namun jika kenyataannya seperti ini, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain merasa kalau rencananya sudah gagal.
"Tidak! Tidak! Ini tidak bisa di biarkan, aku harus melakukan sesuatu. Karna kalau tidak, begitu besok pagi Dewa membuka mata, dia pasti akan marah besar. Tapi sekarang apa yang harus aku lakukan? Ayo dong Siska lakukan sesuatu, kamu harus menjadi miliknya".
.
Pagi harinya Siska membuka mata, lalu melihat Dewa masih berada disebelahnya, tetapi pria itu belum juga bangun sedangkan ia bukannya menjaga Dewa ia malah tertidur pulas tepat di samping Dewa.
"Hhooaamm.. Akh, jam berapa sekarang? Ck, ternyata sudah jam 7 pagi. Tapi kenapa" Siska kembali melihat Dewa yang tertidur pulas. "Tapi kenapa Dewa belum juga membuka mata yah? Apa dia baik-baik saja?" dengan rasa penasaran Siska langsung memastikan apakah Dewa tertidur atau jatuh pingsan.
"OMG! Kenapa aku tidak bisa membangunkan Dewa?" ia mulai terlihat panik. "Dewa! Dewa! Kamu baik-baik saja Dewa? Ayo dong Dewa buka mata kamu. Tolong jangan membuat ku khawatir seperti ini" ia kembali menepuk-nepuk kedua pipi Dewa dan juga anggota tubuhnya yang lain.
Namun hasilnya sama saja, Dewa sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda pergerakan dan itu membuat Siska semakin merasa khawatir segera menelpon ambulans menuju hotel tersebut. Lalu ia memakai pakaiannya dan juga memakaikan pakaian Dewa yang sengaja ia lepas tadi malam.
Tidak lama setelah itu Siska mendengar ketukan pintu dari luar, ia pun segera membukanya melihat beberapa tenaga medis berdiri di depan pintu kamar.
__ADS_1
"Ayo silahkan masuk" ucap Siska membawa mereka masuk ke dalam kamar menunjuk kearah Dewa yang tergeletak tak berdaya diatas ranjang. Kemudian ia melihat para tenaga medis memberikan pertolongan pertama kepada Dewa. "Bagaimana keadaannya?" tanya Siska.
"Dia jatuh pingsan, kami harus membawanya kerumah sakit".
"I-iya, saya akan ikut kalian" ucap Siksa mengikuti dari belakang hingga sekarang mereka tiba di rumah sakit terdekat. Ia pun langsung melihat para tenaga medis lainnya membantu mereka membawa Dewa ke dalam ruang IGD. "Bagaimana ini? Apa yang terjadi dengan Dewa?" Siska mengigit jemari tangannya. "Tidak! Aku tidak mau sesuatu terjadi dengan Dewa".
Sambil menunggu sang dokter selesai memeriksa keadaan Dewa, ia tak henti-hentinya berjalan kesana kemari menunggu apa yang sebenarnya terjadi dengan Dewa.
"Permisi! Apakah saudara..
"Iya, saya walinya" jawab Siska langsung memotong. "Bagaimana keadaan dia dokter? Apa terjadi dengannya? Apakah dia baik-baik saja".
Sang dokter tidak menjawab, ia malah mengajak Siska masuk ke dalam ruangannya sambil menyuruh Siska duduk.
"Ada apa dokter? Kenapa dokter harus membawa saya kemari? Apa sesuatu terjadi kepadanya?".
"Iya, saya kekasihnya dok".
"Lalu bagaimana dengan orang tua pasien atau keluarganya? Bisakah saudara menghubungi mereka sekarang ini?".
Siska semakin dibuat penasaran, "Katakan saja yang sebenarnya ada apa dengan dia dok? Dia tidak memiliki orang tua lagi dan dia tidak memiliki keluarga lainnya selain saya. Jadi katakan saja yang sebenarnya".
"Begini, saya ingin memberitahu saudara menurut pemeriksaan yang baru saja kami lakukan kalau beliau mengidap kanker tumor otak stadium 3".
"Apa?" Siska langsung membulatkan kedua matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Dok.. Dokter baru saja bilang apa? Dewa mengidap tumor otak stadium 3?".
__ADS_1
"Benar" jawab sang dokter menganggukkan kepala.
"Tidak! Tidak mungkin! Dewa tidak mungkin mengidap tumor otak dokter. Saya yakin dokter pasti salah, Dewa tidak mungkin sakit begini. saya sangat yakin dokter pasti salah".
Siska mengeluarkan air mata di hadapan sang dokter seperti sedang memohon agar sang dokter mengatakan kalau Dewa baik-baik saja.
"Maafkan saya, sebagai tenaga medis saya hanya menyampaikan apa yang terlihat di monitor".
"Aarrkkhhh.. Tidak mungkin! Ini semua tidak mungkin" Ia pun semakin menangis histeris. "La-lalu apa yang harus saya lakukan dok? Apakah masih ada harapan untuk kesembuhan Dewa? Tolong jawab iya dokter, tolong jawab kalau Dewa masih bisa di selamatkan".
Sang dokter menarik nafas, "Dokter bukalah Tuhan. Sejauh ini, saya tidak bisa menjamin keselamatan pasien. Saudara hanya bisa banyak berdoa semoga ada mukjizat dari Tuhan".
"Jadi, menurut dokter dia tidak bisa di selamatkan lagi?".
"Maaf jika saya mengatakan yang sebenarnya. Bahkan tumor pasien sudah mendekati stadium akhir".
Mendengar keadaan Dewa yang semakin bertambah parah, Siska tidak bisa berkata apa-apa lagi selain pasrah dalam diamnya. Lalu ia keluar dari dalam, ia berjalan menghampiri Dewa yang terbaring lemas diatas bed tidur rumah sakit.
"Dewa" Siska menggenggam jemari tangannya. "Ma-maafkan aku Dewa. Aku benar-benar tidak tau kalau keadaan kamu seperti ini hiks.. hiks.. Tolong maafkan aku Dewa. Selama ini aku sudah bersikap egois terhadap mu bahkan aku tega menaruh obat itu di dalam minuman mu aarrkkhhh hiks.. hiks.. Tolong maafkan aku Dewa! Aku mohon tolong maafkan aku".
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
Siska mendengar ponsel Dewa berdering kembali karena dari semalam ia sengaja menyimpan ponsel Dewa di dalam tasnya.
Kemudian ia mengeluarkan ponsel tersebut dan panggilan itu berasal dari Nana sebanyak 7 kali banyaknya panggilan tak terjawab.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan wanita ini Dewa? Apakah dia tau kalau kamu sedang sakit? Apakah dia tau yang sebenarnya Dewa?".
Namun Siska tidak berniat menjawab panggilan Nana dan membiarkan ponsel Dewa berdering terus menerus sampai Nana merasa bosan.