Nafsu Sang Dewa

Nafsu Sang Dewa
Bab 63


__ADS_3

Begitu Nana kembali dari mall, ia baru bisa bernafas dengan legah melihat jam telah menunjukkan pukul 8 malam. Ia kemudian bertanya kepada salah satu pelayan apakah Dewa sudah kembali pulang atau belum. Namun tak ada diantara mereka yang tau kalau Dewa sudah pulang atau tidak.


"Itu artinya Dewa pasti belum pulang" gumam Nana. Lalu ia menaiki anak tangga masuk ke dalam kamar, dan benar sekali Dewa belum pulang melihat kamar tersebut begitu sangat sunyi tidak ada siapa-siapa di dalamnya.


"Hhhmmss.. Aku merasa sangat lelah sekali".


Nana membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan sekali-kali menarik nafas panjang sembari menatap langit-langit kamar.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...


Ia mendengar ponselnya berdering, "Siapa yang menelpon ku? Oooo, mbak Dela? Bagaimana ini? Jangan bilang dia datang kemari?" Nana langsung bangkit berdiri dari atas ranjang berlari kearah pintu untuk memastikan apakah Dela saat ini berada disana atau tidak.


"Astaga! Bagaimana ini" gumam Nana kembali mencari-cari keberadaan Dela dari lantai atas. "Tapi aku tidak melihatnya" hingga akhirnya ia masuk kembali kedalam kamar melihat ponselnya terus menerus berdering masih menerima panggilan dari orang yang sama.


"Ya Tuhan! Haruskah aku menjawab panggilan mbak Dela? Tapi aku sangat takut sekali, aku takut kalau sampai mbak Dela tau yang sebenarnya. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" sedikit lama berpikir apa yang harus ia lakukan, panggilan Dela tiba-tiba berhenti membuat Nana langsung menyambar ponselnya berharap Dela tidak akan menelponnya lagi.


"Aku mohon, aku mohon mbak Dela jangan menelpon ku lagi please".


Beberapa menit kemudian Nana pun tidak mendengar ponselnya berdering lagi, ia merasa kalau Dela saat ini pasti sudah jenuh menghubungi ponselnya.


"Akh, akhirnya dia tidak menelpon ku lagi. Tapi kenapa aku harus setakut ini dengannya? Ck, menyebalkan sekali".


Tidak lama setelah itu Nana mendengar pintu kamar mereka terbuka, dan orang yang baru saja melakukan itu adalah Dewa yang baru pulang entah dari mana Nana tidak tau.


"Dewa, kamu sudah pulang?" Nana berlari kecil menghampirinya.


"Mmmm, kenapa kamu melihat ku seperti itu?" Dewa sedikit merasa heran cara Nana melihatnya sekarang ini.


"Aku hanya khawatir saja Dewa. Bukan apa-apa" jawab Nana tersenyum manis. "Oh iya, aku ingin memberitahu kamu Dewa. Tadi mbak Dela terus-menerus menghubungi nomor ponsel ku. Apakah dia juga menelpon mu?".


"Tidak" jawab Dewa menaruh jaket hitamnya diatas sofa.


"Benarkah? Tapi kenapa dia harus menelpon kepada ku?".

__ADS_1


"Aku tidak tau".


"Kamu yakin mbak Dela tidak menelpon mu? Coba kamu lihat ponsel mu, siapa tau tampa kamu sadari kalau sebenarnya mbak Dela menelpon mu".


Dewa mengeluarkan ponselnya, tatapi tak satupun ia lihat panggilan tak terjawab di dalam sana.


"Aneh" gumam Nana.


"Apanya yang aneh?" Dewa menaiki ranjang membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.


"Yah aneh saja Dewa" balas Nana melihat suaminya itu malah menutup kedua matanya hendak tidur. "Loh, kenapa kamu tidur Dewa? Kamu tidak mau makan malam dulu?".


"Tidak, aku sudah makan dari luar".


"Dengan siapa?" Nana penasaran siapa orang yang tadi bersama dengan Dewa. Namun sayangnya Dewa tidak menjawab pertanyaannya, pria itu malah diam seperti orang yang sudah tidur. "Kamu tidur Dewa?" lagi-lagi tidak ada jawaban. "Kamu benar-benar sudah tidur Dewa?".


"Mmmmm, jangan menganggu ku" balas Dewa.


Hingga akhirnya Nana membiarkan Dewa berisitirahat. Lalu ia keluar dari dalam kamar untuk mengisi perutnya yang sudah terasa lapar, kemudian salah satu pelayan dirumah Dewa memberitahu.


"Apa?" Nana kaget mendengar si pelayan berkata demikian kalau Dela saat ini sedang menunggu dirinya di luar rumah. "Ka-kamu serius? Mbak Dela?".


"Iya nona, sedari tadi dia sudah menunggu nona disana".


"OMG! Ingin apa dia bertemu dengan ku malam seperti ini? Besok juga bisakan bertemu di kantor, tapi kenapa harus sekarang dan kenapa dia tidak mau masuk ke dalam rumah".


"Maaf nona, saya juga kurang tau. Dia hanya meminta saya menyampaikan pesan ini kepada nona".


"Baiklah bi, aku akan menemui dia" ucap Nana segera keluar dari dalam rumah dengan perasaan sangat takut apa yang akan Dela katakan nanti kepadanya. Tetapi saat Nana tiba di luar rumah, ia malah tidak menemukan siapa-siapa disana. Sedangkan kata si pelayan tadi, Dela sedang menunggu dirinya, namun kenapa ia tidak melihat Dela?.


"Aneh, mbak Dela ya kenapa tidak ada disini?".


Beberapa menit lamanya Nana menunggu sambil memanggil nama Dela, ia tak kunjung-kunjung menemukan wanita tersebut hingga akhirnya Nana masuk kembali ke dalam rumah dengan penuh pertanyaan di dalam otak kecilnya.

__ADS_1


.


Kembali beraktivitas seperti biasanya, Nana telah berada di meja kerjanya begitu juga dengan Dewa telah berada di dalam ruangannya. Kemudian Nana melihat Dela dari ujung sana berjalan kearah meja kerjanya, ia tau kalau Dela pasti ingin menghampirinya sehingga ia harus bersiap-siap pertanyaan apa yang akan wanita itu lontarkan kepadanya.


Kemudian Nana tersenyum seperti biasanya ia tunjukkan saat mereka berada di dalam kantor.


"Selamat pagi mbak Dela! Ada yang bisa aku bantu?".


Dela menatapnya dengan tatapan mata tidak suka.


"Dewa dimana?".


"Beliau ada di dalam ruangannya" jawab Nana setenang mungkin.


Tetapi tidak sampai disana saja, Dela semakin menatap Nana dengan tajam.


"Kalian berdua dari mana saja selama 1 minggu? Katakan yang sebenarnya? Apa yang kalian berdua lakukan di belakang ku?".


Nana pura-pura bingung, "Maksud mbak Dela? Tentu saja perjalanan bisnis".


"Apa? Perjalanan bisnis? Kamu bilang perjalanan bisnis?".


"Mmmm, ada apa mbak Dela? Kenapa mbak Dela bertanya seperti itu dan melihat ku seperti itu? Kalau mbak Dela tidak percaya, kenapa mbak Dela tidak tanya langsung saja kepada Dewa".


Dela menarik nafas dalam, "Aku tidak akan bertanya kepada Dewa. Karna itu aku kemari bertanya kepada mu, apa yang sebenarnya kalian berdua lakukan di belakang ku?".


Nana lalu tertawa kecil, "Menurut mbak Dela apa lagi yang kami lakukan? Dan sepertinya mbak Dela sangat penasaran sekali. Kenapa mbak Dela tidak tanya langsung kepada Dewa".


"Yah..!" Dela menggertakkan kedua gigi taringnya dihadapan Nana dengan sangat marah. "Kamu jangan bercanda dengan ku yah. Aku tau kalau selama ini kamu sudah menghasut Dewa dari ku. Kamu pikir aku tidak tau itu?".


"Terus?".


"Ingat ini! Kamu jangan pernah berani macam-macam dengan merebut Dewa dari ku. Aku bisa saja melakukan apapun kepada mu karna kamu belum tau siapa aku yang sebenarnya".

__ADS_1


Dan lagi-lagi Nana tertawa kecil dihadapan Dela, "Silahkan, kamu pikir aku juga akan takut?".


__ADS_2